
Nur Fadli Pahlevi
Seorang wiraswasta yang sukses, Presiden Directur PT.FAD
Anugerah Semesta yang merupakan Group usaha dari beberapa perusahaan. Setelah
ayahnya meninggal dan sebagai pewaris tunggal, dia mewarisi seluruh harta mendiang
ayahnya yang termasuk salah satu konglomerat di Indonesia. Perkebunan seluas
ribuan hektar di Kalimantan, pabrik Baja, pabrik alat rumah tangga dan
ditangannya bisnisnya malah makin berkembang sangat pesat, meliputi usaha
tambang batubara di Sumatera Selatan, perhotelan dan usaha retail yang ada di
hampir semua kota-kota besar di Indonesia.
Setelah tamat kulaih S1 di usianya yang baru 22 tahun, dia mulai
merintis usaha ayahnya, dengan bekerja sangat keras, sampai-sampai dia
melupakan kehidupan sosialnya. Bersama Suyitno (panggilannya Yitno) yang
merupakan sahabatnya sekaligus memegang jabatan Wakil Presiden Direktur yang
selama ini membantunya dan mendapatkan gelar sebagai “orang yang dapat
dipercaya” oleh Fadli. Yang tak lupa dilakukannya adalah sholat 5 waktu, Yah,
dia memang tergolong pemuda yang alim, itu berkat didikan orang tuanya yang
keras semenjak dia kecil.
Sekarang usianya sudah menjelang 29 tahun. Beberapa dari
karyawati di perusahaannya mulai terlihat menggodanya, bahkan bukan sekali dua
kali ibunya menasehatinya untuk mencari pendamping hidupnya, namun semua itu
ditanggapi dengan dingin olehnya.
Dia juga mempunyai adek angkat laki-laki yang bernama Irvan
Maulana, masih sekolah di SMU, orang tua Irvan telah meninggal karena
kecelakaan sewaktu Irvan masih kecil, dan saudara terdekatnya yaitu Ibu Fatimah
(Ibunda Fadli) yang masih kakak dari ibunya Irvan mengadopsinya.
Fadli sangat menyayangi adek angkatnya ini.
Arghhhh bosan, Belakangan ini dia mulai merasa jenuh dengan
segala macam rutinitas sehari-harinya. Fadli menatap keluar jendela dibalik
tirai dinding kaca ruangannya di lantai 2, cuaca sedikit mendung, memang musin
penghujan mulai tiba. Tiba tiba terlintas ide yang sangat menarik baginya.....
Setelah mengganti baju kemeja dengan kaos olah raganya, dia
pun segera membuka sepatu dan memakai sandal jepit yang biasa dipakai kalo mau
ke mushola kantor, berjalan keluar gedung kantor, tanpa ada yang memperhatikan,
terus berjalan, ketika ada sebuah angkot (angkutan perkotaan) yang berhenti
untuk menurunkan penumpang, Fadli segera naik tanpa peduli arah dan tujuan
angkot tersebut.
Setelah turun dari angkot, hari menjelang sore, dia telah
sampai di sebuah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) yang buka 24 jam, di
atas trotoar terlihat banyak pedagang makanan yang berjualan memakai gerobak
__ADS_1
dorong. Fadli pun memilih penjual Mie Pangsit dan memesan 1 porsi. Sepanjang
jalan tadi Hp nya ngak berhenti berbunyi, hihihi... mereka pasti kebingungan
kata Fadli dalam hati.
Setelah selesai makan, Fadli pun istirahat di emperan
mushola SPBU sembari menunggu maghrib, diapun membuka Hp, kemudian menghubungi
si Yitno.
Fadli : Nok, aku ada urusan pribadi, bisa kau handle dulu
pekerjaan kantor untuk 2-3 hari kedepan?
Suyitno : Siap Boss, tapi gimana kalo ada pengambilan
keputusan level A1? (keputusan yang hanya bisa di putuskan oleh jabatan
Presiden Direktur)
Fadli : Kirim ringkasan ke WA ku, kemudian kirim Detailnya
melalui E-mail agar bisa ku otorisasi.
Suyitno : Oke siap Boss.. jangan lama lama ya Boss, emang
mau kemana? kerjaanku pun dah numpuk nih.
Fadli : Ya, aku mau istirahat sebentar aja, nanti kau
kuhubungi lagi. Standby aja ya.
Suyitno : Ya udahlah, pulang bawa oleh oleh ya.
Fadli : Ya
Kemudian Fadli juga menghubungi Mang Parno yang menjadi
Fadli : Mang, mamang balik aja kerumah, bawa mobilnya, terus
besok ngak usak masuk karena aku mau keluar kota untuk 2-3 hari kedepan ya.
Mang Parno : Iya Den...
Kemudian Fadli juga menghubungi Ibunya di rumah.
Fadli : Ma, Fadli mau keluar kota dulu ya, ada kerjaan
dikit. Mungkin sekitar 2-3 hari.
Bunda Fadli : Iya, hati-hati, udara mulai dingin sekarang,
jangan lupa bawa sweter nya, dan lagi jangan keluar malam malam. Jaga
kesehatan.
Fadli : Iya Ma.
Selesai sudah, nah sekarang aku bisa santai dulu, tanpa
memikirkan urusan kantor ataupun rumah sama sekali, dan malam ini sepertinya
aku harus tidur disini, pikir Fadli dalam hati.
Pada hari ke 2, fadli sampai di sebuah muara sungai yang
berbatasan dengan pinggiran laut, sebuah kampung nelayan yang cukup ramai,
perutnya sudah lapar, karena siang ini dia belum makan apapun sama sekali,
sementara sekarang sudah pukul 3 sore. Fadli masuk ke sebuah warung kopi, dan
memesan 1 porsi Mie Instan beserta Teh Manis hangat. Penjualnya seorang ibu-ibu
(Mak Lena) yang sudah cukup berumur, sekitar 50 tahunan, dan seorang
__ADS_1
Bapak-bapak yang memakai lobe putih (peci/topi Pak Haji) dan menjaga meja kasir
yang juga sudah berumur lebih tua lagi. Kaki Bapak tersebut pincang dan dia
memakai tongkat kalo berjalan. Seperinya mereka sepasang suami istri. Fadli
makan dengan cepat dan bermaksud untuk melanjutkan perjalanan tak tentu
arahnya.
Dia melihat isi dompetnya kosong, merogoh kantong celananya,
juga tinggal duit logaman aja, tanpa sadar duitnya sudah habis, memang di
rekening Bank nya ada milyaran, tapi saat ini yang dibutuhkannya adalah uang
cash. Dan lagi sepanjang jalan tadi dia tidak ada melihat mesin ATM sama
sekali.
Ini gawat.. gimana nih... akhirnya dengan muka memelas fadli
pun berkata pada Bapak penjaga kasir.
Fadli : Pak, maaf, bisa saya utang dulu makan nya, nanti
akan saya bayar.
Abah Sholeh : Ya...ya.. ya sudahlah, sudah kuduga, pergilah,
ngak usah dipikirin. (sambil memandang Fadli yang terlihat lusuh, celana kotor
berdebu dan rambutnya awut awutan, sepertinya anak ini sudah seminggu ngak
mandi.... walah..)
Fadli : Ya Pak, terima kasih ya Pak,
Fadli pun keluar warung dengan tertunduk malu, dia kembali
berjalan. Di dekat warung terlihat pelataran yang berbatasan dengan muara sungai,
banyak perahu Bot terparkir disana. Fadli asyik melihat kegiatan para nelayan.
Ada yang mengangkat peti es ikan, menggulung jala, menguras air di dalam boat,
dll. Fadli merasa tenang, dan terbawa perasaan sendiri melihatnya, kehidupan
yang tenag dan damai, tanpa ada tekanan yang membuat orang stress. Memang
pekerjaan yang berhubungan dengan alam, lebih menyenangkan, pikirnya dalam
hati. Selama beberapa tahun belakangan ini, dia ngak pernah istirahat, selalu
bekerja, siang dan malam. Negosiasi kontrak, mengunjungi pabrik, ataupun
sekedar membaca laporan neraca bulanan dari setiap lini usahanya. Itu semua
menyita waktu dan pikirannya. Untungnya dia pandai dalam memilih karyawan yang
akan menjadi manager atau pun direktur usahanya. Dengan Tim yang solid, usahanya
berkembang, dan memiliki ribuan karyawan.
Karena itulah dia ngak punya waktu untuk kegiatan sosialnya,
berkumpul dengan teman ataupun keluarga, dia telah terjerat rutinitas pekerjaan
yang tak ada habisnya, itu semua karena ulahnya sendiri, dia perlu sebuah
tindakan paksa untuk melepaskan diri dari itu semua.
Ngak terasa waktu sudah menjelang Maghrib.
__ADS_1