Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 1


__ADS_3

Nur Fadli Pahlevi


Seorang wiraswasta yang sukses, Presiden Directur PT.FAD


Anugerah Semesta yang merupakan Group usaha dari beberapa perusahaan. Setelah


ayahnya meninggal dan sebagai pewaris tunggal, dia mewarisi seluruh harta mendiang


ayahnya yang termasuk salah satu konglomerat di Indonesia. Perkebunan seluas


ribuan hektar di Kalimantan, pabrik Baja, pabrik alat rumah tangga dan


ditangannya bisnisnya malah makin berkembang sangat pesat, meliputi usaha


tambang batubara di Sumatera Selatan, perhotelan dan usaha retail yang ada di


hampir semua kota-kota besar di Indonesia.


Setelah tamat kulaih S1 di usianya yang baru 22 tahun, dia mulai


merintis usaha ayahnya, dengan bekerja sangat keras, sampai-sampai dia


melupakan kehidupan sosialnya. Bersama Suyitno (panggilannya Yitno) yang


merupakan sahabatnya sekaligus memegang jabatan Wakil Presiden Direktur yang


selama ini membantunya dan mendapatkan gelar sebagai “orang yang dapat


dipercaya” oleh Fadli. Yang tak lupa dilakukannya adalah sholat 5 waktu, Yah,


dia memang tergolong pemuda yang alim, itu berkat didikan orang tuanya yang


keras semenjak dia kecil.


Sekarang usianya sudah menjelang 29 tahun. Beberapa dari


karyawati di perusahaannya mulai terlihat menggodanya, bahkan bukan sekali dua


kali ibunya menasehatinya untuk mencari pendamping hidupnya, namun semua itu


ditanggapi dengan dingin olehnya.


Dia juga mempunyai adek angkat laki-laki yang bernama Irvan


Maulana, masih sekolah di SMU, orang tua Irvan telah meninggal karena


kecelakaan sewaktu Irvan masih kecil, dan saudara terdekatnya yaitu Ibu Fatimah


(Ibunda Fadli) yang masih kakak dari ibunya Irvan mengadopsinya.


Fadli sangat menyayangi adek angkatnya ini.


Arghhhh bosan, Belakangan ini dia mulai merasa jenuh dengan


segala macam rutinitas sehari-harinya. Fadli menatap keluar jendela dibalik


tirai dinding kaca ruangannya di lantai 2, cuaca sedikit mendung, memang musin


penghujan mulai tiba. Tiba tiba terlintas ide yang sangat menarik baginya.....


Setelah mengganti baju kemeja dengan kaos olah raganya, dia


pun segera membuka sepatu dan memakai sandal jepit yang biasa dipakai kalo mau


ke mushola kantor, berjalan keluar gedung kantor, tanpa ada yang memperhatikan,


terus berjalan, ketika ada sebuah angkot (angkutan perkotaan) yang berhenti


untuk menurunkan penumpang, Fadli segera naik tanpa peduli arah dan tujuan


angkot tersebut.


Setelah turun dari angkot, hari menjelang sore, dia telah


sampai di sebuah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) yang buka 24 jam, di


atas trotoar terlihat banyak pedagang makanan yang berjualan memakai gerobak

__ADS_1


dorong. Fadli pun memilih penjual Mie Pangsit dan memesan 1 porsi. Sepanjang


jalan tadi Hp nya ngak berhenti berbunyi, hihihi... mereka pasti kebingungan


kata Fadli dalam hati.


Setelah selesai makan, Fadli pun istirahat di emperan


mushola SPBU sembari menunggu maghrib, diapun membuka Hp, kemudian menghubungi


si Yitno.


Fadli : Nok, aku ada urusan pribadi, bisa kau handle dulu


pekerjaan kantor untuk 2-3 hari kedepan?


Suyitno : Siap Boss, tapi gimana kalo ada pengambilan


keputusan level A1? (keputusan yang hanya bisa di putuskan oleh jabatan


Presiden Direktur)


Fadli : Kirim ringkasan ke WA ku, kemudian kirim Detailnya


melalui E-mail agar bisa ku otorisasi.


Suyitno : Oke siap Boss.. jangan lama lama ya Boss, emang


mau kemana? kerjaanku pun dah numpuk nih.


Fadli : Ya, aku mau istirahat sebentar aja, nanti kau


kuhubungi lagi. Standby aja ya.


Suyitno : Ya udahlah, pulang bawa oleh oleh ya.


Fadli : Ya


Kemudian Fadli juga menghubungi Mang Parno yang menjadi


Fadli : Mang, mamang balik aja kerumah, bawa mobilnya, terus


besok ngak usak masuk karena aku mau keluar kota untuk 2-3 hari kedepan ya.


Mang Parno : Iya Den...


Kemudian Fadli juga menghubungi Ibunya di rumah.


Fadli : Ma, Fadli mau keluar kota dulu ya, ada kerjaan


dikit. Mungkin sekitar 2-3 hari.


Bunda Fadli : Iya, hati-hati, udara mulai dingin sekarang,


jangan lupa bawa sweter nya, dan lagi jangan keluar malam malam. Jaga


kesehatan.


Fadli : Iya Ma.


Selesai sudah, nah sekarang aku bisa santai dulu, tanpa


memikirkan urusan kantor ataupun rumah sama sekali, dan malam ini sepertinya


aku harus tidur disini, pikir Fadli dalam hati.


Pada hari ke 2, fadli sampai di sebuah muara sungai yang


berbatasan dengan pinggiran laut, sebuah kampung nelayan yang cukup ramai,


perutnya sudah lapar, karena siang ini dia belum makan apapun sama sekali,


sementara sekarang sudah pukul 3 sore. Fadli masuk ke sebuah warung kopi, dan


memesan 1 porsi Mie Instan beserta Teh Manis hangat. Penjualnya seorang ibu-ibu


(Mak Lena) yang sudah cukup berumur, sekitar 50 tahunan, dan seorang

__ADS_1


Bapak-bapak yang memakai lobe putih (peci/topi Pak Haji) dan menjaga meja kasir


yang juga sudah berumur lebih tua lagi. Kaki Bapak tersebut pincang dan dia


memakai tongkat kalo berjalan. Seperinya mereka sepasang suami istri. Fadli


makan dengan cepat dan bermaksud untuk melanjutkan perjalanan tak tentu


arahnya.


Dia melihat isi dompetnya kosong, merogoh kantong celananya,


juga tinggal duit logaman aja, tanpa sadar duitnya sudah habis, memang di


rekening Bank nya ada milyaran, tapi saat ini yang dibutuhkannya adalah uang


cash. Dan lagi sepanjang jalan tadi dia tidak ada melihat mesin ATM sama


sekali.


Ini gawat.. gimana nih... akhirnya dengan muka memelas fadli


pun berkata pada Bapak penjaga kasir.


Fadli : Pak, maaf, bisa saya utang dulu makan nya, nanti


akan saya bayar.


Abah Sholeh : Ya...ya.. ya sudahlah, sudah kuduga, pergilah,


ngak usah dipikirin. (sambil memandang Fadli yang terlihat lusuh, celana kotor


berdebu dan rambutnya awut awutan, sepertinya anak ini sudah seminggu ngak


mandi.... walah..)


Fadli : Ya Pak, terima kasih ya Pak,


Fadli pun keluar warung dengan tertunduk malu, dia kembali


berjalan. Di dekat warung terlihat pelataran yang berbatasan dengan muara sungai,


banyak perahu Bot terparkir disana. Fadli asyik melihat kegiatan para nelayan.


Ada yang mengangkat peti es ikan, menggulung jala, menguras air di dalam boat,


dll. Fadli merasa tenang, dan terbawa perasaan sendiri melihatnya, kehidupan


yang tenag dan damai, tanpa ada tekanan yang membuat orang stress. Memang


pekerjaan yang berhubungan dengan alam, lebih menyenangkan, pikirnya dalam


hati. Selama beberapa tahun belakangan ini, dia ngak pernah istirahat, selalu


bekerja, siang dan malam. Negosiasi kontrak, mengunjungi pabrik, ataupun


sekedar membaca laporan neraca bulanan dari setiap lini usahanya. Itu semua


menyita waktu dan pikirannya. Untungnya dia pandai dalam memilih karyawan yang


akan menjadi manager atau pun direktur usahanya. Dengan Tim yang solid, usahanya


berkembang, dan memiliki ribuan karyawan.


Karena itulah dia ngak punya waktu untuk kegiatan sosialnya,


berkumpul dengan teman ataupun keluarga, dia telah terjerat rutinitas pekerjaan


yang tak ada habisnya, itu semua karena ulahnya sendiri, dia perlu sebuah


tindakan paksa untuk melepaskan diri dari itu semua.


Ngak terasa waktu sudah menjelang Maghrib.


 


 

__ADS_1


__ADS_2