
Pak Erik membelikan Abah sebuah TV Lcd 32’, untuk dipasang di warung kopi Abah.
Rupanya selama ini Wak Kocu sering numpang nonton TV di rumah Pak Eric, hal ini
membuat istrinya merasa risih, karena Wak Kocu kalau dah nonton, akan
memonopoli siaran, remote akan dipegangnya, dan sampai lama baru selesai.
Sampai pada akhirnya kejadian kemaren, dimana si Edwin disuruh emaknya mengusir
Wak Kocu. Tentu saja Edwin punya cara agar Wak Kocu meninggalkan rumahnya tanpa
membuat keributan.
Padli di suruh Abah memasang TV tersebut di dinding atas pojok ruangan, agar semua
pelanggan warung dapat melihatnya. Dan akhirnya setelah memasang instalasi listriknya
kemudian antena di letakkan di atas wuwungan atap, selesai sudah,
saatnya menghidupkan tv nya.
TV dihidupkan, namun gambarnya masih kabur, wak Kocu berinisiatif menggeser-geser
antena tv untuk mencari sinyal yang pas, dan hasilnya gambarnya masih kabur.
Si Said berkomentar bahwa antena tv nya harus diletakkan di luar memakai tiang
atau galah, tapi gimana mendapatkan tiang tersebut? Padli memandangi Abah
dengan tatapan menyerah. Abah pun hanya terdiam saja. Akhirnya bang Mandor
berkata “Pad, ambil golokmu, kita cari bambu saja sebagai tiangnya”. Padli
pergi dengan dibonceng bang Mandor untuk mencari bambu, cukup lama juga mereka
pergi sebelum akhirnya kembali dengan membawa sebatang bambu yang cukup
panjang. Antena pun di pasang di ujung bambu, dan didirikan disamping warung.
Hasilnya sangat memuaskan, wak Kocu segera mengambil remote dan menyimpannya di
kantongnya. Hal ini menjadi pertengkaran antara dia dan sesama pelanggan.
“Walah... sungguh hari yang meriah”, ujar Padli dalam hati. Disaat semua orang
terfokus pada TV, Padli mendekati Inna.
Padli : Nna.. eng.. Nna masih marah sama abang?
Inna : (Inna hanya menggeleng, sementara matanya masih menatap TV)
Padli : Abang pengen tahu jawaban Nna atas penjelasan abang semalam.
Inna : He..em..
Padli : (Padli bingung, gimana cara bertanyanya) Nna.. abang pengen tahu gimana
perasaan Nna sama abang?
Inna : (Inna hanya diam, tapi wajahnya tertunduk malu)
Padli : Nna.. eng.. kalau abang melamar Nna untuk menikah, Nna mau ngak?
Inna : (Inna hanya diam saja, tapi tampak sekilas dia menganggukan kepalanya).
__ADS_1
Padli berteriak, Yes... yeah... . Semua orang yang ada di warung segera melihatnya.
Padli terdiam sambil melihat Abah, dia lupa bahwa Abah ada disitu.
Semenjak TV ada di warung, kondisi warung semakin ramai, bermacam-macam pelanggan yang
datang, ada yang memesan segelas kopi namun duduk di warung sampai berjam-jam,
bahkan ada yang sampai duduk diluar untuk bermain catur. Warung mulai terasa
sempit. Bang Mandor meminta kepada Abah agar warung tetap buka sampai malam
hari, setidaknya sampai jam 9-10 an, Abah setuju, tapi dengan syarat diwaktu
maghrib, warung harus tutup sebentar, dan lagi hanya menjual minuman saja, yang
artinya hanya Padli saja yang melayani para pelanggan. Hal itu juga berarti
pendapatan warung semakin meningkat. Abah mulai berpikir untuk menaikkan gaji
Padli.
Siang itu Ustad Bambang datang ke warung mengunjungi Abah, dia ingin meminta jawaban
Abah atas lamarannya sewaktu Pesta Laut kemaren. Abah mempersilakannya masuk,
dan mereka duduk di sebuah meja yang dekat dengan steeling minuman.
Ustad Bambang : “Bagaimana kabarnya Bah, sehat kan”?
Abah : Alhamdulillah, Bang. (maksudnya Bambang) Cuman itulah, Mak nya si Inna
belakangan ini agak kurang sehat, makanya dia jarang datang ke warung ini.
Ustad Bambang : Udah dibawa ke rumah sakit Bah?
Ustad Bambang : Syukurlah, semoga kakak cepat sembuh.
Lalu Ustad Bambang menyerumput segelas kopi yang sudah disediakan Padli.
Ustad Bambang : Begini Bah, Si Dedi kan punya adik perempuan, si Santi, nah dia udah
punya calon untuk menikah, tapi rasanya kurang afdol (Lengkap,baik,dll,
terserah readers ajalah...) kalau melangkahi abangnya, apalagi abangnya sudah
siap untuk berumah tangga. Karena itu Bah, mengenai pembicaraan kita kemaren,
saya ingin dengar jawaban Abah.
Padli keringat dingin dan berdebar-debar menanti jawaban Abah, sementara Inna yang
juga berada di situ mencari kesibukan dengan menyusun piring di bawah steeling
makanan.
Abah : Mengenai itu, saya mohon maaf ngak bisa memberikan keputusan sekarang,
pertama karena Mak nya si Inna sedang ngak sehat, dan lagi saya belum berbicara
dengan si Andi, Abang si Intan, rasanya dia sebagai anak tertua mempunyai hak
juga dalam memutuskan perkara adiknya ini. karena itu, saya mohon Pak Ustad
agar sedikit bersabar dulu, saya janji akan memberikan jawaban secepatnya.
__ADS_1
Huff..... Padli bisa sedikit bernapas lega, dia memandangi Inna memohon bantuan moril.
Inna menatapnya dengan lembut.
Setelah mendapatkan janji dari Abah untuk memberikan jawaban secepatnya, Ustad Bambang
pun pulang, Tak lama kemudian Abah pun pulang ke rumahnya. Sepertinya dia mau
sholat zuhur di rumahnya saja.
Di TV sedang menyiarkan berita pembukaan Pabrik Pengolahan Biji Kelapa Sawit
(Pabrik CPO) di daerah Kalimantan. Terlihat Yitno berjalan berdampingan dengan
Bapak Gubernur untuk memulai acara pembukaan pabrik tersebut. Pak Gubernur
mengatakan bahwa pembukaan pabrik ini akan menyerap ratusan orang tenaga kerja
yang semuanya berasal dari daerah lokal, sehingga bisa mengurangi pengangguran
di wilayah tersebut. Yitno dengan pakaian batik mewahnya tampak
tersenyum-senyum melayani para wartawan yang sudah berkumpul untuk mengabadikan
moment tersebut. “Walah..Yit..Yit.., sandiwara aja senyummu itu”, pikir Padli,
karena Padli tahu bahwa Yitno sangat tidak suka dengan semua acara seremonial
seperti itu.
Sanbil melihat acara TV bang Mandor berkomentar, “Andai saja ada yang mau membuat
Pabrik Pengolahan Ikan untuk ekspor di wilayah ini, pasti nelayan-nelayan akan
dapat meningkatkan penghasilannya”. Komentar bang Mandor menjadi perdebatan
diantara pelanggan, ada setuju tapi ada juga yang tidak setuju dengan berbagai
macam alasannya. Ternyata kehadiran TV di warung ini memberikan suasana yang
berbeda bagi warung tersebut.
Malam harinya Padli chattingan melalui WA dengan Yitno
Yitno : Bro, mau berapa lama lagi kau disana? Dah capek kalilah aku.
Padli : Iya, aku tau bro. Sabarlah ya, sebentar lagi. Target pertama udah selesai.
Yitno : Beneran nih bro, emang bisa dengan kau yang cuma pegawai warung kopi?
Padli: Jangan sepele, walau tanpa embel-embel presiden direktur pun, kharismaku
belum berkurang, hehehe... (Padli tertawa bangga).
Yitno : Terus apa rencanamu lagi?
Padli : Tinggal Abahnya lagi, memang ini agak sedikit ruwet, karena harus membuka
identitasku, tapi aku yakin semuanya bisa selesai.
Yitno : Jangan lama-lama ya bro... aku pun mau cari calonku juga nih. Setelah kau
pulang akupun mau minta cuti juga.
Padli : Iya, amanlah itu...
__ADS_1
Merekapun memutuskan pembicaraan, dan Padli masuk ke dalam warung untuk beristirahat.