
Hari ini pertama kalinya Padli kembali ke kantor setelah lebih dari 3 bulan dia
cuti. Dia memasuki lobi kantornya, dan terlihat Yitno, jajaran direksi, Kepala
Divisi dan beberapa Manager menyambutnya. Padli menyalami Yitno dan menyapa
semua hadirin kemudian mereka segera memasuki ruang aula besar untuk
mendengarkan kata sambutan dari Padli. Padli mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada para karyawannya karena mampu untuk mempertahankan
kinerja perusahaan dengan baik, tak lupa juga dia memberitahukan tentang
pernikahannya dan berjanji akan membuat sebuah perayaan kecil yang hanya
dihadiri para karyawan kantor untuk selamatan atas pernikahannya sekaligus
memperkenalkan istrinya kepada semua karyawan.
Setelah itu dia kembali keruangannya, ruangan yang sudah lama tidak dimasukinya.
Yitno terus mendapinginya selama itu.
Padli : Nok, tolong undang semua direksi dan kepala divisi, kita akan adakan rapat di
ruang rapat ya. Sekalian tolong bawakan saya semua neraca perusahaan
terafiliasi selama 3 bulan belakangan.
Yitno : Apa pokok bahasannyanya boss
Padli : Aku mau dengar permasalahan di setiap perusahaan, dan rencana ke depannya.
Jadi tolong suruh mereka untuk menyiapkan action plan mereka ya.
Yitno : Oke boss, jam berapa dimulainya?
Padli : Jam 10 an saja, oh ya aku juga minta neraca perusahaan kita ya
Yitno : Siap Boss (Yitno pun keluar dari ruangan Padli)
Hari itu hari yang melelahkan bagi Padli, seharian ini dia banyak mendengar semua
permasalah yang diajukan oleh para karyawannya, dan itu semua menunggu keputusan
darinya. Dia ingin pulang dan beristrihat di rumah. Dia sampai di rumah pukul sebelas
malam. Untungnya dia sudah makan malam di kantor. Inna menunggunya di rumah,
membawakan tas dan jas nya, dan kemudian menyiapkan baju gantinya di kamar.
Setelah mandi dan berpakaian Padli duduk di tepi pembaringan sambil memeriksa
hp nya. Inna datang dan memijit pundaknya, menciumi ubun-ubunnya dan mendengus
di belakang tengkuknya. Padli terkesiap mendapatkan rangsangan di tengkuknya,
dia berbalik dan menangkap kedua pergelangan tangan Inna, menindihnya dan
berusaha mencium bibir mungil Inna. Inna berpaling dan menghindar, tapi Padli ngak
menyerah, dia menciumi apa saja yang dapat diciumnya, sampai akhirnya Inna yang
__ADS_1
menyerah. Padli ******* bibir mungil tersebut dan di balas Inna dengan agresif.
Inna mendorong Padli dan membalikkannya sehingga dia sekarang duduk diatas
perut Padli. Inna melepas baju piayama Padli dan mulai menciumi dada bidang
tersebut. Padli memejamkan matanya, menikmati sensasi yang dilakukan Inna.
Tubuhnya bergetar, mereka langsung berciuman dengan panasnya, sampai
akhirnya Padli membuka semua pakaian Inna, dan menciumi seluruh tubuh mungil Inna,
dan .... (Ah... sudah ya readers.... nanti di blok sama yang tukang review nya)
Pagi itu kembali seperti biasanya, dan segala macam rutinitas pun berlanjut.
Inna sudah mulai mengambil alih hampir semua tanggung jawab Bik Erni, hal ini
membuat Bik Erni sangat senang. Dia sudah ngak sabar untuk kembali ke kampung
bertemu dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Ketika waktunya tiba, diapun pamit
kepada Mama dan seluruh anggota keluarga di rumah itu. Inna memeluknya erat,
sambil memohon agar Bik Erni jangan segan segan untuk datang lagi atau berlibur
di sini. Bik Erni pulang diantar mang Didik sampai terminal, tapi sebelumnya
dia sudah mendapat pesangon yang besar dari Padli.
Inna hari ini memakai gaun busana muslimnya, dia terlihat manis sekali. Ukuran
badannya yang proporsional menambah keseksianya walaupun sudah dibalut dengan
ke kantor Padli, karena akan diadakan resepsi dan acara perkenalan di kantor
Padli. Dia berjalan memasuki ruangan lobi kantor tersebut, di pintu sudah
menunggu Yitno yang mempersilahkannya masuk. Semua karyawan memandanginya
dengan berbagai ekspresi. Ada yang terpana (khusus karyawan cowok), ada yang
langsung minder, ada juga yang memandangnya dengan sinis.
Di dalam ruangan sudah menunggu Padli yang kemudian menggandeng tangan nya
untuk naik ke atas mimbar. Padli pun mengucapkan kata sambutannya sekaligus
memperkenalkan Inna kepada seluruh karyawan.
Acara selanjutnya adalah acara makan bersama, selama acara Inna banyak disalami
oleh para karyawati perusahaan yang berusaha melihat Inna dari jarak dekat.
“Pantesan si Boss sampai cuti 3 bulan, kalau seperti ini wajarlah”, celoteh
seorang karyawan. “Ku dengar istrinya si Boss orang kampung pedalaman, ngak
nyangka ya, kalau disana ada juga wanita yang cantik seperti dia” ujar karyawan
yang lain. “Mungkin dia peranakan kali”, kata yang lainya lagi. Dan begitulah
gosip-gosip beredar di kantornya Padli.
__ADS_1
Inna semakin lama semakin menguasai rumah tersebut, tak ada satu jengkalpun dari
rumah tersebut bebas dari sentuhan tangan atau campur tangannya. Dari mengatur
susunan pakaian Padli, merubah beberapa susunan perabotan rumah tangga,
mengatur tata letak alat-alat dapur, banyak sekali yang dilakukannya. Para ART
hanya diam dan membantunya saja, karena saat ini dialah Boss besar di rumah
tersebut. Dia juga sekarang yang mengatur semua biaya dan pengeluaran rumah
tangga tersebut. Pada awalnya dia sampai terkejut melihat biaya tersebut,
bayangkan saja, gaji seorang ART disini lebih besar dari pendapatan rata-rata
para nelayan di kampungnya, dia sangat stress memikirkannya. “Bagaimana kalau
uang bang Padli habis karena membayar semua karyawan di rumah ini” pikir Inna
dalam hati. Berdasarkan pemikiran tersebut, dia mendatangi Mama untuk
membicarakannya.
Inna : Ma, Nna pikir, Nna sanggup kok ngurusin rumah ini, paling Nna Cuma perlu
bantuan 1 atau 2 orang saja untuk membersihkan rumah ini sehari-hari.
Mama : Kenapa sayang?, apa yang kamu pikirkan sih?
Inna : Nna pikir ngak usah sampai 8 orang yang kerja disini, cukup 1 atau 2 orang
saja, terus ngak perlu ada satpam, Kan pagarnya sudah terkunci otomatis.
Sayangkan Ma, soalnya gaji mereka kan banyak, Nna takut uang bang Padli jadi
habis buat menggaji mereka.
Mama : Tenang saja, biar soal itu suamimu yang memikirkannya, mereka di gaji adalah
wajar karena mereka bekerja disini, dan gaji mereka sesuai dengan standart kota
ini. Inna, kamu ngak usah memikirkan berapa gaji suamimu, saat ini lebih baik
kamu menjaga dan memperbaiki yang sudah ada agar lebih baik lagi, ya sayang.
Kan Mama pernah bilang, kamu jangan membanding-bandingkan kehidupanmu yang
lama dengan disini. Kamu harus cepat beradaptasi ya.
Inna : Iya, Ma. Memang mungkin disini sudah biasa ya yang seperti ini.
Mama : Memang seperti itulah kondisinya.
Mama kemudian banyak memberikan nasehat kepada Inna.
Inna : Oh ya Ma, Nna kan udah lama juga tinggal disini. Kok Nna belum haid-haid ya,
Nna rasa selama di rumah ini Nna belum pernah haid. Mungkin karena AC ya Ma,
sehingga haid Nna ngak beraturan gini.
Mama : Sini sayang Mama peluk... (Mama hanya diam dan memeluk menantu
__ADS_1
tersayangnya ini, sebutir air mata bahagia mengalir di pipinya).