Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 5


__ADS_3

Hari-hari berjalan seperti biasanya, hubungan Padli dengan


Inna semakin membaik, Inna sudah terlihat lebih santai untuk mengobrol dengan


Padli. Kalau kemaren-kemaren, jangankan mengobrol, memandang Padli sajapun


enggak, hal ini kadang membuat Padli tersinggung, untungnya sekarang sudah


tidak lagi. Hehehe... Abah mulai jarang ada di warung, kebanyakan di rumah.


Suatu hari Wak Kocu (panggilan istilah dimana nama


sebenarnya adalah Ucok dan dibalik menjadi Kocu) salah satu pelanggan warung


mengajak Padli bermain catur, karena situasi warung lagi sepi Padli melayani


ajakan tersebut. Mereka bermain satu babak (1 kali pertandingan), dan setelah


setengah jam permainan Padli menang dengan telak. Wak Kocu penasaran dan


mengajak Padli bermain lagi, namun secara halus Padli menolak karena ada


beberapa pelanggan yang memasuki warung.


Sore harinya Wak Kocu datang lagi, dia melihat Padli sedang


sibuk mencuci piring, dan kondisi warung lumayan ramai, “ngak bakalan bisa si


Padli diajak bermain”, ujarnya dalam hati. Akhirnya Wak Kocu pun pulang, ngak


jadi ngajak Padli bermain catur.


Keesokan harinya, ketika tengah hari, Wak Kocu datang lagi


dan mengajak Padli bermain catur. Kondisi warung kebetulan memang lagi sepi,


jadi ngak ada alasan bagi Padli menolak ajakan tersebut. Mereka bertanding


lagi, dan hasilnya lagi-lagi Padli menang. Wak Kocu mulai menggerutu, dan


mengatakan bahwa dia lagi kurang sehat badan, sambil berpesan kepada Padli untuk


bertanding lagi nanti.


Padli garuk-garuk kepala, sambil mengatakan “Iya Wak, tapi


besok aja ya mainnya lagi”.


Inna melihatnya, tapi untungnya dia diam saja melihat hal


itu.


Sudah 5 hari Wak Kocu selalu datang di siang hari mengajak


Padli bermain catur, dan Padli selalu menang, tanpa pernah kalah sekalipun.


Pada hari ke 6, Wak Kocu datang bersama bang Mandor, bang


Mandor adalah mandor di kapal boat nya Pak Erik, dia bertugas sebagai pengawas


kapal dan juga penerima setoran sewa kapal. Padli kenal sama bang Mandor,


karena bang Mandor sesekali datang untuk minum kopi di warung Abah. Bang Mandor


memanggil Abah denga Abang, karena mereka masih punya hubungan saudara. Dan

__ADS_1


lagi usia bang Mandor juga sudah lumayan tua, sekitar 50 tahunan, tapi


penampilannya necis dan wajahnya pun garang.


Bang Mandor masuk dan langsung berseru, “mana si Padli”,


biar ku selesaikan dia sekarang.  Tanpa


basa-basi dia duduk dan mengambil papan catur yang ada di pojokan, sementara


itu Wak Kocu membantu menyusun buahnya.


Padli terpaksa melayaninya, apalagi dilihatnya Abah hanya


diam saja. Mereka duduk saling berhadapan, Padli mendapat buah putih dan tentu


saja dia yang mulai jalan pertama. Pertandingan ini memakan waktu sekitar 45


menit, dan selama itu para pelanggan ngak ada yang berani mengganggunya,


artinya selama itu juga ngak ada yang memesan minuman.


Padli menang, dan bang Mandor hanya berkomentar, “wajar, kan


baru pertama”. Hehehe... “Assalamualaikum Bang” katanya sama Abah sebelum pergi


meninggalkan warung. Wak Kocupun mengekorinya. “Waalaikum Salam”, jawab Abah


singkat. Dan semenjak itu bang Mandor ngak pernah lagi mengajaknya bermain


catur. Orang-orang mulai memiliki pandangan yang berbeda tentang Padli. Bang


Mandor memang cukup terkenal sebagai jagoan catur di kampung ini.


Padli semenjak kecil memang hobi bermain catur, malahan dia


nya. Ketika SMA dia pernah mendapat juara ke 3 tingkat Nasional untuk katagori


Amatir, dan juara umum di Universitas tempat dia kuliah. Setelah tamat kuliah


dan ayahnya meninggal dunia, dia ngak pernah lagi bermain catur, hal ini


disebabkan karena dia mewarisi perusahaan-perusahaan ayahnya, dan dia berusaha


keras untuk memajukan perusahaan-perusahaan tersebut, sehingga tidak ada waktu


untuk sekedar bermain catur.


Suatu ketika, pada hari itu, Mak Lena dan Inna ngak datang


ke warung. Hanya Abah saja yang datang, dan langsung duduk di meja kasir. “Pad,


Mak mu dan si Inna pergi kondangan di kecamatan, jadi hari ini kau sendirian


aja ya yang melayani pelanggan”, kata Abah. Iya Bah, “emangnya kapan mereka


pulang”?, tanya Padli. “Ngak lama kok, palingan ntar sore juga dah pulang”,


jawab Abah.


Hari itu bagaikan neraka bagi Padli, sialnya lagi, pelanggan


juga sedang banyak-banyak nya. Dari pagi sampai sore kerjaan Padli ngak


putus-putus. Memasak, membuatkan minuman, cuci piring, membuat bumbu, malahan

__ADS_1


Pak Erik memesan minuman yang banyak dan minta diantarkan ke pelataran boat,


dengar-dengar ada tamunya yang datang dari luar kota.


Siangnya Padli membuat nasi goreng pake sambel udang untuk


dimakan berdua dengan Abah.


Dia tidak meletakkan semua hidangannya ke atas meja,


melainkan meletakkan semua nasi dan lauk pauk sesuai porsinya ke dalam sebuah piring


dan menghidangkannya langsung ke meja kasir Abah, tak lupa segelas teh pahit


yang mempunyai tutup turut di sampingnya. Merekapun makan masing-masing, Abah


di meja kasir sedangkan Padli mojok di atas dipan dan bersandarkan dinding


sambil menatap keluar.


Setelah makan siang, Abah berbicara kepada Padli, “Pad,


kayaknya kau sudah terbiasa kerja disini ya”. Kalau udah jodoh Abah iklas kok


menyerahkan warung ini kepadamu. Deg..deg.. Padli bingung sama maksud Abah,


apakah ini hanya masalah warung atau ada kaitannya sama si Inna ya, kok ada


kata-kata jodohnya ya. “Eh, Bah, trus Abah mau ngapain kalau warung ini


diserahkan ama Padli”? tanya Padli. “Abah udah tua, dan semakin lama kayaknya


Abah dah ngak sanggup lagi ngurusin warung ini. Mak mu pun juga sudah lelah


ngurusinnya”, jawab Abah. Kau ngak usah khawatir, gini-gini Abah ngak


kekurangan kok, kebutuhan Abah juga kecil, lagian Abah masih dapat donasi dari


Yayasan, terus si Andi juga setiap bulannya selalu kok kirimin Abah duit, kata


Abah lagi. “Tapi Bah, kalau Padli sendirian, kayaknya ngak sanggup lah untuk


ngurusin warung ini”, ujar Padli. Dia sadar, bahwa mengurusi warung tidaklah se


sederhana yang terlihat, masih banyak yang harus dilakukannya lagi, pikirnya


dalam hati. “Yah, jangan sendirianlah, nantikan ada pasanganmu yang bisa


membantunya”, kata Abah lagi sambil tersenyum.


Malam itu, Padli masih kepikiran soal perkataan Abah yang


tadi siang, dia takut salah dalam menanggapi maksud dari perkataan Abah.


Ditambah lagi selama hari ini dia juga belum bertemu sama sekali dengan si


Inna, rupanya Mak Lena dan Inna langsung pulang ke rumah setelah dari kondangan


tanpa singgah dulu ke warung. Memandangi si Inna menjadi rutinitas wajib bagi


Padli. “Entah kenapa, perasaannya kok jadi rindu begini ya”, pikirnya dalam


hati. Diapun tersenyum, dan merasa terlalu Baper (terbawa perasaan).


Ah.. sudahlah, lebih baik aku mulai mengerjakan urusan

__ADS_1


kantor dulu. Tak lama kemudian, Padli pun mulai terlihat asyik dengan hp nya,


sambil sesekali menelpon kesana-sini.


__ADS_2