
Hari-hari berjalan seperti biasanya, hubungan Padli dengan
Inna semakin membaik, Inna sudah terlihat lebih santai untuk mengobrol dengan
Padli. Kalau kemaren-kemaren, jangankan mengobrol, memandang Padli sajapun
enggak, hal ini kadang membuat Padli tersinggung, untungnya sekarang sudah
tidak lagi. Hehehe... Abah mulai jarang ada di warung, kebanyakan di rumah.
Suatu hari Wak Kocu (panggilan istilah dimana nama
sebenarnya adalah Ucok dan dibalik menjadi Kocu) salah satu pelanggan warung
mengajak Padli bermain catur, karena situasi warung lagi sepi Padli melayani
ajakan tersebut. Mereka bermain satu babak (1 kali pertandingan), dan setelah
setengah jam permainan Padli menang dengan telak. Wak Kocu penasaran dan
mengajak Padli bermain lagi, namun secara halus Padli menolak karena ada
beberapa pelanggan yang memasuki warung.
Sore harinya Wak Kocu datang lagi, dia melihat Padli sedang
sibuk mencuci piring, dan kondisi warung lumayan ramai, “ngak bakalan bisa si
Padli diajak bermain”, ujarnya dalam hati. Akhirnya Wak Kocu pun pulang, ngak
jadi ngajak Padli bermain catur.
Keesokan harinya, ketika tengah hari, Wak Kocu datang lagi
dan mengajak Padli bermain catur. Kondisi warung kebetulan memang lagi sepi,
jadi ngak ada alasan bagi Padli menolak ajakan tersebut. Mereka bertanding
lagi, dan hasilnya lagi-lagi Padli menang. Wak Kocu mulai menggerutu, dan
mengatakan bahwa dia lagi kurang sehat badan, sambil berpesan kepada Padli untuk
bertanding lagi nanti.
Padli garuk-garuk kepala, sambil mengatakan “Iya Wak, tapi
besok aja ya mainnya lagi”.
Inna melihatnya, tapi untungnya dia diam saja melihat hal
itu.
Sudah 5 hari Wak Kocu selalu datang di siang hari mengajak
Padli bermain catur, dan Padli selalu menang, tanpa pernah kalah sekalipun.
Pada hari ke 6, Wak Kocu datang bersama bang Mandor, bang
Mandor adalah mandor di kapal boat nya Pak Erik, dia bertugas sebagai pengawas
kapal dan juga penerima setoran sewa kapal. Padli kenal sama bang Mandor,
karena bang Mandor sesekali datang untuk minum kopi di warung Abah. Bang Mandor
memanggil Abah denga Abang, karena mereka masih punya hubungan saudara. Dan
__ADS_1
lagi usia bang Mandor juga sudah lumayan tua, sekitar 50 tahunan, tapi
penampilannya necis dan wajahnya pun garang.
Bang Mandor masuk dan langsung berseru, “mana si Padli”,
biar ku selesaikan dia sekarang. Tanpa
basa-basi dia duduk dan mengambil papan catur yang ada di pojokan, sementara
itu Wak Kocu membantu menyusun buahnya.
Padli terpaksa melayaninya, apalagi dilihatnya Abah hanya
diam saja. Mereka duduk saling berhadapan, Padli mendapat buah putih dan tentu
saja dia yang mulai jalan pertama. Pertandingan ini memakan waktu sekitar 45
menit, dan selama itu para pelanggan ngak ada yang berani mengganggunya,
artinya selama itu juga ngak ada yang memesan minuman.
Padli menang, dan bang Mandor hanya berkomentar, “wajar, kan
baru pertama”. Hehehe... “Assalamualaikum Bang” katanya sama Abah sebelum pergi
meninggalkan warung. Wak Kocupun mengekorinya. “Waalaikum Salam”, jawab Abah
singkat. Dan semenjak itu bang Mandor ngak pernah lagi mengajaknya bermain
catur. Orang-orang mulai memiliki pandangan yang berbeda tentang Padli. Bang
Mandor memang cukup terkenal sebagai jagoan catur di kampung ini.
Padli semenjak kecil memang hobi bermain catur, malahan dia
nya. Ketika SMA dia pernah mendapat juara ke 3 tingkat Nasional untuk katagori
Amatir, dan juara umum di Universitas tempat dia kuliah. Setelah tamat kuliah
dan ayahnya meninggal dunia, dia ngak pernah lagi bermain catur, hal ini
disebabkan karena dia mewarisi perusahaan-perusahaan ayahnya, dan dia berusaha
keras untuk memajukan perusahaan-perusahaan tersebut, sehingga tidak ada waktu
untuk sekedar bermain catur.
Suatu ketika, pada hari itu, Mak Lena dan Inna ngak datang
ke warung. Hanya Abah saja yang datang, dan langsung duduk di meja kasir. “Pad,
Mak mu dan si Inna pergi kondangan di kecamatan, jadi hari ini kau sendirian
aja ya yang melayani pelanggan”, kata Abah. Iya Bah, “emangnya kapan mereka
pulang”?, tanya Padli. “Ngak lama kok, palingan ntar sore juga dah pulang”,
jawab Abah.
Hari itu bagaikan neraka bagi Padli, sialnya lagi, pelanggan
juga sedang banyak-banyak nya. Dari pagi sampai sore kerjaan Padli ngak
putus-putus. Memasak, membuatkan minuman, cuci piring, membuat bumbu, malahan
__ADS_1
Pak Erik memesan minuman yang banyak dan minta diantarkan ke pelataran boat,
dengar-dengar ada tamunya yang datang dari luar kota.
Siangnya Padli membuat nasi goreng pake sambel udang untuk
dimakan berdua dengan Abah.
Dia tidak meletakkan semua hidangannya ke atas meja,
melainkan meletakkan semua nasi dan lauk pauk sesuai porsinya ke dalam sebuah piring
dan menghidangkannya langsung ke meja kasir Abah, tak lupa segelas teh pahit
yang mempunyai tutup turut di sampingnya. Merekapun makan masing-masing, Abah
di meja kasir sedangkan Padli mojok di atas dipan dan bersandarkan dinding
sambil menatap keluar.
Setelah makan siang, Abah berbicara kepada Padli, “Pad,
kayaknya kau sudah terbiasa kerja disini ya”. Kalau udah jodoh Abah iklas kok
menyerahkan warung ini kepadamu. Deg..deg.. Padli bingung sama maksud Abah,
apakah ini hanya masalah warung atau ada kaitannya sama si Inna ya, kok ada
kata-kata jodohnya ya. “Eh, Bah, trus Abah mau ngapain kalau warung ini
diserahkan ama Padli”? tanya Padli. “Abah udah tua, dan semakin lama kayaknya
Abah dah ngak sanggup lagi ngurusin warung ini. Mak mu pun juga sudah lelah
ngurusinnya”, jawab Abah. Kau ngak usah khawatir, gini-gini Abah ngak
kekurangan kok, kebutuhan Abah juga kecil, lagian Abah masih dapat donasi dari
Yayasan, terus si Andi juga setiap bulannya selalu kok kirimin Abah duit, kata
Abah lagi. “Tapi Bah, kalau Padli sendirian, kayaknya ngak sanggup lah untuk
ngurusin warung ini”, ujar Padli. Dia sadar, bahwa mengurusi warung tidaklah se
sederhana yang terlihat, masih banyak yang harus dilakukannya lagi, pikirnya
dalam hati. “Yah, jangan sendirianlah, nantikan ada pasanganmu yang bisa
membantunya”, kata Abah lagi sambil tersenyum.
Malam itu, Padli masih kepikiran soal perkataan Abah yang
tadi siang, dia takut salah dalam menanggapi maksud dari perkataan Abah.
Ditambah lagi selama hari ini dia juga belum bertemu sama sekali dengan si
Inna, rupanya Mak Lena dan Inna langsung pulang ke rumah setelah dari kondangan
tanpa singgah dulu ke warung. Memandangi si Inna menjadi rutinitas wajib bagi
Padli. “Entah kenapa, perasaannya kok jadi rindu begini ya”, pikirnya dalam
hati. Diapun tersenyum, dan merasa terlalu Baper (terbawa perasaan).
Ah.. sudahlah, lebih baik aku mulai mengerjakan urusan
__ADS_1
kantor dulu. Tak lama kemudian, Padli pun mulai terlihat asyik dengan hp nya,
sambil sesekali menelpon kesana-sini.