Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
KEMBALI KE KAMPUNG


__ADS_3

Perjalanan kembali ke kampung tidak terasa lama, mungkin karena mereka sudah mulai


terbiasa dengan perjalanannya. Mobil langsung berhenti di depan warung, beberapa


pelanggan sudah mengenali mobil tersebut, tapi masih ada pelanggan yang belum


dan memandang heran. Mang Parno membantu menurunkan barang-barang dan


membawanya ke rumah Abah. Padli langsung menuju warung, dia melihat bang Udin


dan menyalaminya, “Udah selesai bang, kerjanya”, kata Padli. “Udah, yah ginilah


Pad, namanya juga kerja kontrakan, sebulan kerja, sebulan enggak”, kata bang


Udin sambil terkekeh. Bang Udin ngak merasa heran dengan keadaan Padli, karena


dia sudah mendengar ceritanya dari Abah. Setelah berbicara sebentar dengan bang


Udin, maka Padlipun pamit karena mau ke rumah Abah. “Bang, aku ke tempat Abah


dulu ya”, ujar Padli kemudian.


Sesampainya di rumah, Abah sudah menunggu Padli, Inna tidak terlihat mungkin sudah


ke kamarnya, Intan dan Bik Surti sudah pulang ke rumah mereka.


Abah : Pad, Abah sudah dengar dari Inna, Ibumu sudah bertemu dengan Inna, dan juga


beliau menyetujui pernikahan Inna dan kamu. Karena ngak baik bagi kalian kalau


di lama-lamakan, maka Abah mengusulkan 2 minggu dari sekarang, kita adakan


pernikahannya. Ngak usah pesta besar-besar, yang pentingkan ridho Allah, kita


undang aja jiran dan tetangga disini, makan bersama dan mereka menjadi saksi


pernikahan kalian. Bagaimana Pad?


Padli : Pestanya di rumah ini?


Abah : Iya, nanti gang di depan rumah kita tutup aja, biar nanti Bik Surti aja yang


ngurusnya, Abah dan Emak sudah ngak sanggup lagi ngurusinnya.


Padli : Bah, kalau gitu boleh ngak biar Padli aja yang ngurus pestanya, di kampung


ini juga Bah, tapi diadakan di lapangan kampung?, akad nikahnya aja yang di


rumah ini.


Abah : Kalau di lapangan kampung terpaksa buat pesta agak besar, ngak usahlah,


ngak usah berlebihan, lebih baik uangnya untuk masa depan kalian nantinya.


(Abah sepertinya masih belum mengenal Padli yang sebenarnya, dimatanya Padli itu


masihlah pegawai warung kopinya)


Mak Lena : Kalau bisa dibuat di lapangan, lebih baik lah, soalnya kan disini sempit


bang, lagian inikan untuk anak perempuan kita, setelah ini kita ngak akan ada


merayakan pesta lagi, jadi ngak apa apa lah kalau sedikit meriah. Aku malu sama

__ADS_1


besan kita Pak Amir (Mertuanya Andi), waktu pesta anaknya kan dibuat meriah


juga di rumahnya. (Mak Lena menunduk sedih)


Padli : Bah, Abah tenang aja, Padli punya kawan yang akan membantu Padli, nanti dia


bersama-sama Intan dan Bik Surti yang akan mengurusin pestanya. Abah kan nanti


jadi wali nikahnya, jadi Abah persiapkan aja untuk itu.


Abah : Yah, terserahlah... Abah memang ngak ngerti buat acara-acara seperti itu.


Padli : Iya Bah, karena tinggal 2 minggu lagi, jadi Padli tinggal disini aja dulu Bah


ya, sekalian jagain warung.


Abah : Gak apa apa kamu tinggal di warung, cuma  sekarang warung itu sudah dikelola


sama si Udin dan si Ucok (Wak Kocu), jadi Abah cuma terima setoran aja.


Padli : Yah, Bah, jadi Padli udah di pecat ya...?


Abah : Kamu selalu pergi-pergi, warungkan ngak mungkin tutup, dan lagi setelah


menikah kamukan akan tinggal di kota. (Abah bertanya heran)


Padli : Iya Bah, gak apa apa, Padli Cuma maen-maen aja tadi. Padli pamit dulu ya Bah.


Padli mencium tangan Abah dan Mak Lena, sebelum keluar dia masih melirik pintu kamar


Inna, berharap Inna keluar, namun harapannya ngak terkabulkan.


 Padli kembali ke warung, dia sudah meminta mang Parno untuk kembali ke rumah.


Sesampainya di warung, wak Kocu langsung mengajaknya bermain catur, yang langsung


Berita rencana pernikahan Inna dan Padli menjadi viral di kampung, hal ini membuat


Padli menjadi terkenal, kemanapun Padli pergi selalu saja ada orang yang


menegurnya. Bahkan ada beberapa ibu-ibu yang sengaja mendatangi warung untuk


melihat Padli secara langsung.


Hari ini adalah hari terakhir Padli bertemu dengan Inna, sebelum Inna di pingit


(tidak boleh bertemu dengan pasangan sebelum resmi menikah), mereka


menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di kampung, dan tentu saja makan


baksonya kak Piah.


Pak Erik datang menemui Padli, dan memintanya untuk membantu pembentukan koperasi


yang akan mewadahi semua nelayan yang ada di kampung tersebut. Padli menyetujui


usulan tersebut, bahkan akan memberikan bantuan modal untuk pembangunan sebuah


pabrik es mini di kampung tersebut. Bahkan dia juga berencana mendonasikan


koperasi tersebut dengan sebuah mobil pickup.


Mendengar hal tersebut Pak Erik sangat senang, dan ketika koperasinya di bentuk, maka

__ADS_1


Padli mendapat jabatan sebagai ketua dewan pembina.


Dan begitulah hari-hari berjalan sebelum pesta pernikahan, dan Padli banyak


membantu kehidupan para nelayan di kampung tersebut.


Suatu hari Ustad Bambang datang mengunjungi rumah Abah.


Abah : Silahkan diminum teh nya Pak Ustad. (Abah menawarkan)


Ustad Bambang : Iya terima kasih. Abah, saya mendengar tentang rencana pesta yang


akan dilaksanakan di lapangan kampung, dan saya juga mendengar bahwa pesta akan


dihadiri oleh Bapak Gubernur. Ini bagus lho Bah, karena dengan datangnya para


pejabat-pejabat itu setidaknya daerah sekitar kampung ini akan mendapat perhatian.


Kampung-kampung disini sangat tertinggal Bah, itu karena belum adanya


pengaspalan ke wilayah ini. Kalau hujan, jalanan becek dan berlumpur,


mobil-mobil ngak bisa masuk untuk membawa hasil laut kita kan.


Abah : Itu benar juga, tapi Pak, dari mana Bapak mendengar bahwa pestanya akan


dihadiri oleh gubernur?


Ustad Bambang : Lho Abah belum tahu ya, itu dalam proposal yang diajukan ke kecamatan


kan disebutkan undangan yang hadir. Saya lihat sendiri kok, karena saya yang


akan memimpin pembacaan doa nya.


Abah : Saya baru tahu mengenai hal ini, setau saya karena rumah saya sempit, maka


pestanya di pindahkan ke lapangan kampung, itu juga hanya mengundang warga


kampung sini aja.


Ustad Bambang : Abah coba sekali-kali keluar lah, lihat sendiri di lapangan. Itu dari


semalam sudah belasan truk kontainer masuk kampung kita membawa peralatan


macam-macam gitu? Malah ada juga ceramah dari Ustad xxx yang terkenal itu lho,


terus terang, saya berharap sekali bertemu dengannya.


Abah : Saya memang ngak ngurusin masalah pesta tersebut, karena semuanya sudah


di pegang sama si Padli dan si Surti. Tapi malahan kulihat si Padli masih santai


aja di warung.


Ustad Bambang : Ya dia kan calon mempelainya Bah, ngak mungkinlah dia yang harus


repot ngurusin itu, pasti anggotanya lah. Bah, aku tahu siapa Padli itu Bah,


Dia termasuk konglomerat di Indonesia ini Bah, kampung kita beruntung karena


kedatangannya. Siapa tahu dia mau membuka Pabrik disini, kan orang-orang


disini jadi dapat kerja, Bah.

__ADS_1


Ustad Bambang terus saja mempromosikan Padli kepada Abah, hal ini malah membuat


Abah menjadi risih mendengarnya.


__ADS_2