
Perjalanan kembali ke kampung tidak terasa lama, mungkin karena mereka sudah mulai
terbiasa dengan perjalanannya. Mobil langsung berhenti di depan warung, beberapa
pelanggan sudah mengenali mobil tersebut, tapi masih ada pelanggan yang belum
dan memandang heran. Mang Parno membantu menurunkan barang-barang dan
membawanya ke rumah Abah. Padli langsung menuju warung, dia melihat bang Udin
dan menyalaminya, “Udah selesai bang, kerjanya”, kata Padli. “Udah, yah ginilah
Pad, namanya juga kerja kontrakan, sebulan kerja, sebulan enggak”, kata bang
Udin sambil terkekeh. Bang Udin ngak merasa heran dengan keadaan Padli, karena
dia sudah mendengar ceritanya dari Abah. Setelah berbicara sebentar dengan bang
Udin, maka Padlipun pamit karena mau ke rumah Abah. “Bang, aku ke tempat Abah
dulu ya”, ujar Padli kemudian.
Sesampainya di rumah, Abah sudah menunggu Padli, Inna tidak terlihat mungkin sudah
ke kamarnya, Intan dan Bik Surti sudah pulang ke rumah mereka.
Abah : Pad, Abah sudah dengar dari Inna, Ibumu sudah bertemu dengan Inna, dan juga
beliau menyetujui pernikahan Inna dan kamu. Karena ngak baik bagi kalian kalau
di lama-lamakan, maka Abah mengusulkan 2 minggu dari sekarang, kita adakan
pernikahannya. Ngak usah pesta besar-besar, yang pentingkan ridho Allah, kita
undang aja jiran dan tetangga disini, makan bersama dan mereka menjadi saksi
pernikahan kalian. Bagaimana Pad?
Padli : Pestanya di rumah ini?
Abah : Iya, nanti gang di depan rumah kita tutup aja, biar nanti Bik Surti aja yang
ngurusnya, Abah dan Emak sudah ngak sanggup lagi ngurusinnya.
Padli : Bah, kalau gitu boleh ngak biar Padli aja yang ngurus pestanya, di kampung
ini juga Bah, tapi diadakan di lapangan kampung?, akad nikahnya aja yang di
rumah ini.
Abah : Kalau di lapangan kampung terpaksa buat pesta agak besar, ngak usahlah,
ngak usah berlebihan, lebih baik uangnya untuk masa depan kalian nantinya.
(Abah sepertinya masih belum mengenal Padli yang sebenarnya, dimatanya Padli itu
masihlah pegawai warung kopinya)
Mak Lena : Kalau bisa dibuat di lapangan, lebih baik lah, soalnya kan disini sempit
bang, lagian inikan untuk anak perempuan kita, setelah ini kita ngak akan ada
merayakan pesta lagi, jadi ngak apa apa lah kalau sedikit meriah. Aku malu sama
__ADS_1
besan kita Pak Amir (Mertuanya Andi), waktu pesta anaknya kan dibuat meriah
juga di rumahnya. (Mak Lena menunduk sedih)
Padli : Bah, Abah tenang aja, Padli punya kawan yang akan membantu Padli, nanti dia
bersama-sama Intan dan Bik Surti yang akan mengurusin pestanya. Abah kan nanti
jadi wali nikahnya, jadi Abah persiapkan aja untuk itu.
Abah : Yah, terserahlah... Abah memang ngak ngerti buat acara-acara seperti itu.
Padli : Iya Bah, karena tinggal 2 minggu lagi, jadi Padli tinggal disini aja dulu Bah
ya, sekalian jagain warung.
Abah : Gak apa apa kamu tinggal di warung, cuma sekarang warung itu sudah dikelola
sama si Udin dan si Ucok (Wak Kocu), jadi Abah cuma terima setoran aja.
Padli : Yah, Bah, jadi Padli udah di pecat ya...?
Abah : Kamu selalu pergi-pergi, warungkan ngak mungkin tutup, dan lagi setelah
menikah kamukan akan tinggal di kota. (Abah bertanya heran)
Padli : Iya Bah, gak apa apa, Padli Cuma maen-maen aja tadi. Padli pamit dulu ya Bah.
Padli mencium tangan Abah dan Mak Lena, sebelum keluar dia masih melirik pintu kamar
Inna, berharap Inna keluar, namun harapannya ngak terkabulkan.
Padli kembali ke warung, dia sudah meminta mang Parno untuk kembali ke rumah.
Sesampainya di warung, wak Kocu langsung mengajaknya bermain catur, yang langsung
Berita rencana pernikahan Inna dan Padli menjadi viral di kampung, hal ini membuat
Padli menjadi terkenal, kemanapun Padli pergi selalu saja ada orang yang
menegurnya. Bahkan ada beberapa ibu-ibu yang sengaja mendatangi warung untuk
melihat Padli secara langsung.
Hari ini adalah hari terakhir Padli bertemu dengan Inna, sebelum Inna di pingit
(tidak boleh bertemu dengan pasangan sebelum resmi menikah), mereka
menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di kampung, dan tentu saja makan
baksonya kak Piah.
Pak Erik datang menemui Padli, dan memintanya untuk membantu pembentukan koperasi
yang akan mewadahi semua nelayan yang ada di kampung tersebut. Padli menyetujui
usulan tersebut, bahkan akan memberikan bantuan modal untuk pembangunan sebuah
pabrik es mini di kampung tersebut. Bahkan dia juga berencana mendonasikan
koperasi tersebut dengan sebuah mobil pickup.
Mendengar hal tersebut Pak Erik sangat senang, dan ketika koperasinya di bentuk, maka
__ADS_1
Padli mendapat jabatan sebagai ketua dewan pembina.
Dan begitulah hari-hari berjalan sebelum pesta pernikahan, dan Padli banyak
membantu kehidupan para nelayan di kampung tersebut.
Suatu hari Ustad Bambang datang mengunjungi rumah Abah.
Abah : Silahkan diminum teh nya Pak Ustad. (Abah menawarkan)
Ustad Bambang : Iya terima kasih. Abah, saya mendengar tentang rencana pesta yang
akan dilaksanakan di lapangan kampung, dan saya juga mendengar bahwa pesta akan
dihadiri oleh Bapak Gubernur. Ini bagus lho Bah, karena dengan datangnya para
pejabat-pejabat itu setidaknya daerah sekitar kampung ini akan mendapat perhatian.
Kampung-kampung disini sangat tertinggal Bah, itu karena belum adanya
pengaspalan ke wilayah ini. Kalau hujan, jalanan becek dan berlumpur,
mobil-mobil ngak bisa masuk untuk membawa hasil laut kita kan.
Abah : Itu benar juga, tapi Pak, dari mana Bapak mendengar bahwa pestanya akan
dihadiri oleh gubernur?
Ustad Bambang : Lho Abah belum tahu ya, itu dalam proposal yang diajukan ke kecamatan
kan disebutkan undangan yang hadir. Saya lihat sendiri kok, karena saya yang
akan memimpin pembacaan doa nya.
Abah : Saya baru tahu mengenai hal ini, setau saya karena rumah saya sempit, maka
pestanya di pindahkan ke lapangan kampung, itu juga hanya mengundang warga
kampung sini aja.
Ustad Bambang : Abah coba sekali-kali keluar lah, lihat sendiri di lapangan. Itu dari
semalam sudah belasan truk kontainer masuk kampung kita membawa peralatan
macam-macam gitu? Malah ada juga ceramah dari Ustad xxx yang terkenal itu lho,
terus terang, saya berharap sekali bertemu dengannya.
Abah : Saya memang ngak ngurusin masalah pesta tersebut, karena semuanya sudah
di pegang sama si Padli dan si Surti. Tapi malahan kulihat si Padli masih santai
aja di warung.
Ustad Bambang : Ya dia kan calon mempelainya Bah, ngak mungkinlah dia yang harus
repot ngurusin itu, pasti anggotanya lah. Bah, aku tahu siapa Padli itu Bah,
Dia termasuk konglomerat di Indonesia ini Bah, kampung kita beruntung karena
kedatangannya. Siapa tahu dia mau membuka Pabrik disini, kan orang-orang
disini jadi dapat kerja, Bah.
__ADS_1
Ustad Bambang terus saja mempromosikan Padli kepada Abah, hal ini malah membuat
Abah menjadi risih mendengarnya.