Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 8


__ADS_3

Ada yang lain rupanya di kampung Nelayan, rupanya di kampung


ini kedatangan Mahasiswa yang lagi KKN (kuliah kerja nyata) dari Universitas X,


mereka berjumlah 18 orang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 6 orang perempuan.


Yang perempuan ngekost di rumah bik Surti, yang merupakan tetanga depan rumah


dari Abah, sedangkan yang laki-laki tinggal di rumah Pak Erik karena rumah Pak


Eric besar dan banyak ruangan kosongnya. Mereka akan berada di kampung ini selama


kurang lebih 2 minggu.


Pagi itu Mak Lena ngak datang ke warung, badannya kurang


sehat, dia tinggal dirumah ditemani Abah. Karena itu, Inna sejak pagi sudah


muncul di warung untuk melayani langganan yang memesan makanan. Kebetulan hari


itu Inna juga ngak ngajar di TK. Beberapa saat kemudian rombongan mahasiswa KKN


yang perempuan memasuki warung, mereka hendak sarapan di warung Abah. Inna


memandangi mereka dengan sendu, betapa inginnya ia seperti mereka yang


melanjutkan pendidikan sampai ke tingkat universitas, ditambah lagi penampilan


para mahasiswi tersebut sangat modis dan trendy, jauh sekali dari penampilannya


yang hanya memakai kaos lengan panjang dengan jilbab kerudung sampai ke dada.


Disaat para pelanggan asyik dengan makanan mereka, Padli mendatangi


Inna sambil tersenyum dan menyerahkan sebuah bungkusan. “Apa ini bang”?, tanya


Inna sambil membuka bungkusannya. Itu abang beli semalam Nna, kebetulan di


emperan jalanan ada orang yang menjualnya, jadi sekalian aja abang beli, jawab


Padli lagi. “Ini headset kan, ini pasti mahal harganya”, ujar Inna. Ngak kok Nna,


ngak sampai 50 ribu kok harganya, ujar Padli. “Ya..tetap aja mahal bang, kan


sayang duitnya”, ujar Inna. Gak apa apa Nna, abang memang dah niat gajian


pertama ini mau beliin sesuatu untuk Nna, kan Nna selalu membantu abang di


warung, hehehe... jawab Padli sambil nyengir supaya Inna mau menerima


hadiahnya. “Nih lihat, abang juga udah membeli hp untuk abang pake”, jawab


Padli lagi. “Ya udahlah, makasih ya bang, memang dari dulu Nna pengen punya


headset ini lah”, jawab Inna sambil tersenyum. Perasaan Padli berbunga-bunga,


rasanya bahagia luar biasa. (ceiye....) “Suaranya juga enak kok bang, beda sama


punyanya si Intan”, ujar Inna lagi. Padli hanya tersenyum saja.


Sepanjang hari warung ramai terus, Pak Eric kedatangan tamu


dari kota yang mau memborong ikan hasil tangkapan kapalnya. Mereka bernegosiasi

__ADS_1


di dalam warung. Si Edwin tampak hilir mudik membawa beberapa berkas, ada juga


beberapa foto dari hasil tangkapan ikannya, foto gudang es, foto kotak fiber


untuk penyimpanan ikan, dll. Sepertinya si Edwin memang di kader sama Pak Erik


untuk menggantikannya mengelola usaha kapal boatnya.


Di sore harinya, para mahasiswa meminta Abah untuk tetap


membuka warung kopinya sampai malam, karena mau di pakai sebagai tempat pertemuan


dan belajar mereka. Mereka membawa laptop dan printer sendiri. Abahpun


menyetujuinya. Memang letak warung ini termasuk strategis di kampung itu, dan


lagi ngak jauh dari tempat kost mahasiswi yang KKN di situ.


Malam harinya para mahasiswi datang ke warung di temani


Intan anaknya Bik Surti. Bik Surti mempunyai dua orang putri, dan Intan adalah


anak bungsu dari Bik Surti. Bik Surti sudah lama menjanda, karena suaminya


meninggal karena sakit. Anak nya yang paling tua sudah menikah, dan tinggal di


kota Kecamatan.


Suatu ketika ketika ada laptop milik salah satu mahasiswi


yang bernama Erin rusak, alias ngak menyala. Erin terlihat sangat cemas, karena


semua data-datanya ada di laptop tersebut. Sudah lebih setengah jam dia


mengotak atik laptopnya. Ketika dinyalain, laptopnya hidup, tapi kurang semenit


mau menangis. Melihat itu Padli datang menawarkan bantuan, “sini coba abang


lihat laptopnya”, kata Padli. Erin pun lantas menyerahkan laptop tersebut


kepada Padli. Benar dugaan Padli, ternyata laptop tersebut overheat (panas),


itu karena kipas pendinginnya sudah penuh debu sehingga tidak bisa menurunkan


panas dari prosessor. Dengan terampil Padli membuka casing belakang laptop


tersebut, kemudian dia melepas kipas pendinginnya. Kipas tersebut dibersihkan


dengan tisu, setelah merasa cukup bersih, kipas pendingin tersebut dipasang


lagi ke laptop. Hasilnya laptop bekerja dengan sempurna, ngak mati-mati lagi.


Erin memandang laptopnya dengan bahagia. Alhamdulillah... Alhamdulillah...


teriaknya kegirangan. “Makasih ya bang, makasih ya bang”, katanya


berulang-ulang.


Kejadian itu tak lepas dari pengamatan Intan. Kok bisa ya si


Padli memperbaiki laptop, sepertinya orang ini terbiasa dengan pekerjaan itu.


Bagi Intan laptop adalah barang mahal yang dia sendiri ngak punya. Biasanya dia

__ADS_1


hanya memakai komputer rental yang ada di kota Kecamatan. Kejadian ini membuat


Intan curiga dengan Padli, apalagi latar belakang Padli yang masih misterius,


perawakannya, serta sikap dan cara berbicaranya sangat berbeda dengan kebanyakan


orang yang ada di kampung ini. Intan merasa Padli itu sedikit elegan dan ngak


cocok sebagai karyawan warung kopi.


Keesokan harinya, Intan datang menemui Inna untuk


menceritakan kejadian tadi malam. Intan dan Inna memang bersahabat sejak kecil,


mereka seumuran dan juga tetangga depan rumah. Tak lupa Intan juga menceritakan


mengenai kecurigaannya terhadap Padli. “Ngak mungkin lah Tan, kalau kamu


melihat dia memasak mie-hun, ngak mungkin kamu curiga. Dia cocok sekali sebagai


koki warung lho, hehehe.. “ jawab Inna menjelaskan. Memang kalau melihat gaya


Padli saat sedang memasak, ngak bakalan ada yang percaya bahwa dia adalah


seorang ceo dari perusahaan besar.


Tapi kejadian tersebut membekas dihati para mahasiswa dan


mahasiswi, bila ada masalah dengan laptop mereka, segera saja mereka


menghubungi Padli memohon bantuannya. Dan lagi dikampung itu mana ada toko


tempat servis laptop.


Inna mulai memperlihatkan rasa tidak sukanya. Dia melihat


sendiri para cewek-cewek mahasiswi merayu-rayu Padli untuk membantu mereka


kalau ada masalah pada laptopnya. Bahkan sampai ada yang menarik-narik tangan


Padli untuk menolongnya memperbaiki laptopnya, dan Padli menolak secara halus,


sambil mengatakan, “sabar ya, abang lagi sibuk nih, ntar malam aja ya”, jawab


Padli. “Iya bang, adek tunggu nanti malam ya bang”, jawab mahasiswi tersebut


sambil tersenyum. Inna semakin cemberut saja.


Karena lokasi warung di pakai oleh para mahasiswa, Padli


memilih berdiri di luar warung untuk menelpon Yitno, menanyakan perkembangan


perusahaan. Hampir 1 jam lamanya dia bertelepon, tentu saja memakai hp


jadulnya, sementara yang android dibukanya secara diam-diam untuk melihat email


dan wa yang masuk. Ketika telah selesai, beberapa mahasiswi menggodanya, “


Bang, nelpon lama-lama sama siapa?, kangen ya bang ama yayang di kampung sana”,


celoteh para mahasiswi. “Ngak kok, ini hanya iseng aja”, jawab Padli singkat.


Intan lagi-lagi hanya melihat saja. Keesokan harinya, Intan segera menemui

__ADS_1


Inna, “Nna, kurasa bang Padli udah mempunyai pacar dikampungnya sana”, tegas


Intan.


__ADS_2