
Ada yang lain rupanya di kampung Nelayan, rupanya di kampung
ini kedatangan Mahasiswa yang lagi KKN (kuliah kerja nyata) dari Universitas X,
mereka berjumlah 18 orang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 6 orang perempuan.
Yang perempuan ngekost di rumah bik Surti, yang merupakan tetanga depan rumah
dari Abah, sedangkan yang laki-laki tinggal di rumah Pak Erik karena rumah Pak
Eric besar dan banyak ruangan kosongnya. Mereka akan berada di kampung ini selama
kurang lebih 2 minggu.
Pagi itu Mak Lena ngak datang ke warung, badannya kurang
sehat, dia tinggal dirumah ditemani Abah. Karena itu, Inna sejak pagi sudah
muncul di warung untuk melayani langganan yang memesan makanan. Kebetulan hari
itu Inna juga ngak ngajar di TK. Beberapa saat kemudian rombongan mahasiswa KKN
yang perempuan memasuki warung, mereka hendak sarapan di warung Abah. Inna
memandangi mereka dengan sendu, betapa inginnya ia seperti mereka yang
melanjutkan pendidikan sampai ke tingkat universitas, ditambah lagi penampilan
para mahasiswi tersebut sangat modis dan trendy, jauh sekali dari penampilannya
yang hanya memakai kaos lengan panjang dengan jilbab kerudung sampai ke dada.
Disaat para pelanggan asyik dengan makanan mereka, Padli mendatangi
Inna sambil tersenyum dan menyerahkan sebuah bungkusan. “Apa ini bang”?, tanya
Inna sambil membuka bungkusannya. Itu abang beli semalam Nna, kebetulan di
emperan jalanan ada orang yang menjualnya, jadi sekalian aja abang beli, jawab
Padli lagi. “Ini headset kan, ini pasti mahal harganya”, ujar Inna. Ngak kok Nna,
ngak sampai 50 ribu kok harganya, ujar Padli. “Ya..tetap aja mahal bang, kan
sayang duitnya”, ujar Inna. Gak apa apa Nna, abang memang dah niat gajian
pertama ini mau beliin sesuatu untuk Nna, kan Nna selalu membantu abang di
warung, hehehe... jawab Padli sambil nyengir supaya Inna mau menerima
hadiahnya. “Nih lihat, abang juga udah membeli hp untuk abang pake”, jawab
Padli lagi. “Ya udahlah, makasih ya bang, memang dari dulu Nna pengen punya
headset ini lah”, jawab Inna sambil tersenyum. Perasaan Padli berbunga-bunga,
rasanya bahagia luar biasa. (ceiye....) “Suaranya juga enak kok bang, beda sama
punyanya si Intan”, ujar Inna lagi. Padli hanya tersenyum saja.
Sepanjang hari warung ramai terus, Pak Eric kedatangan tamu
dari kota yang mau memborong ikan hasil tangkapan kapalnya. Mereka bernegosiasi
__ADS_1
di dalam warung. Si Edwin tampak hilir mudik membawa beberapa berkas, ada juga
beberapa foto dari hasil tangkapan ikannya, foto gudang es, foto kotak fiber
untuk penyimpanan ikan, dll. Sepertinya si Edwin memang di kader sama Pak Erik
untuk menggantikannya mengelola usaha kapal boatnya.
Di sore harinya, para mahasiswa meminta Abah untuk tetap
membuka warung kopinya sampai malam, karena mau di pakai sebagai tempat pertemuan
dan belajar mereka. Mereka membawa laptop dan printer sendiri. Abahpun
menyetujuinya. Memang letak warung ini termasuk strategis di kampung itu, dan
lagi ngak jauh dari tempat kost mahasiswi yang KKN di situ.
Malam harinya para mahasiswi datang ke warung di temani
Intan anaknya Bik Surti. Bik Surti mempunyai dua orang putri, dan Intan adalah
anak bungsu dari Bik Surti. Bik Surti sudah lama menjanda, karena suaminya
meninggal karena sakit. Anak nya yang paling tua sudah menikah, dan tinggal di
kota Kecamatan.
Suatu ketika ketika ada laptop milik salah satu mahasiswi
yang bernama Erin rusak, alias ngak menyala. Erin terlihat sangat cemas, karena
semua data-datanya ada di laptop tersebut. Sudah lebih setengah jam dia
mengotak atik laptopnya. Ketika dinyalain, laptopnya hidup, tapi kurang semenit
mau menangis. Melihat itu Padli datang menawarkan bantuan, “sini coba abang
lihat laptopnya”, kata Padli. Erin pun lantas menyerahkan laptop tersebut
kepada Padli. Benar dugaan Padli, ternyata laptop tersebut overheat (panas),
itu karena kipas pendinginnya sudah penuh debu sehingga tidak bisa menurunkan
panas dari prosessor. Dengan terampil Padli membuka casing belakang laptop
tersebut, kemudian dia melepas kipas pendinginnya. Kipas tersebut dibersihkan
dengan tisu, setelah merasa cukup bersih, kipas pendingin tersebut dipasang
lagi ke laptop. Hasilnya laptop bekerja dengan sempurna, ngak mati-mati lagi.
Erin memandang laptopnya dengan bahagia. Alhamdulillah... Alhamdulillah...
teriaknya kegirangan. “Makasih ya bang, makasih ya bang”, katanya
berulang-ulang.
Kejadian itu tak lepas dari pengamatan Intan. Kok bisa ya si
Padli memperbaiki laptop, sepertinya orang ini terbiasa dengan pekerjaan itu.
Bagi Intan laptop adalah barang mahal yang dia sendiri ngak punya. Biasanya dia
__ADS_1
hanya memakai komputer rental yang ada di kota Kecamatan. Kejadian ini membuat
Intan curiga dengan Padli, apalagi latar belakang Padli yang masih misterius,
perawakannya, serta sikap dan cara berbicaranya sangat berbeda dengan kebanyakan
orang yang ada di kampung ini. Intan merasa Padli itu sedikit elegan dan ngak
cocok sebagai karyawan warung kopi.
Keesokan harinya, Intan datang menemui Inna untuk
menceritakan kejadian tadi malam. Intan dan Inna memang bersahabat sejak kecil,
mereka seumuran dan juga tetangga depan rumah. Tak lupa Intan juga menceritakan
mengenai kecurigaannya terhadap Padli. “Ngak mungkin lah Tan, kalau kamu
melihat dia memasak mie-hun, ngak mungkin kamu curiga. Dia cocok sekali sebagai
koki warung lho, hehehe.. “ jawab Inna menjelaskan. Memang kalau melihat gaya
Padli saat sedang memasak, ngak bakalan ada yang percaya bahwa dia adalah
seorang ceo dari perusahaan besar.
Tapi kejadian tersebut membekas dihati para mahasiswa dan
mahasiswi, bila ada masalah dengan laptop mereka, segera saja mereka
menghubungi Padli memohon bantuannya. Dan lagi dikampung itu mana ada toko
tempat servis laptop.
Inna mulai memperlihatkan rasa tidak sukanya. Dia melihat
sendiri para cewek-cewek mahasiswi merayu-rayu Padli untuk membantu mereka
kalau ada masalah pada laptopnya. Bahkan sampai ada yang menarik-narik tangan
Padli untuk menolongnya memperbaiki laptopnya, dan Padli menolak secara halus,
sambil mengatakan, “sabar ya, abang lagi sibuk nih, ntar malam aja ya”, jawab
Padli. “Iya bang, adek tunggu nanti malam ya bang”, jawab mahasiswi tersebut
sambil tersenyum. Inna semakin cemberut saja.
Karena lokasi warung di pakai oleh para mahasiswa, Padli
memilih berdiri di luar warung untuk menelpon Yitno, menanyakan perkembangan
perusahaan. Hampir 1 jam lamanya dia bertelepon, tentu saja memakai hp
jadulnya, sementara yang android dibukanya secara diam-diam untuk melihat email
dan wa yang masuk. Ketika telah selesai, beberapa mahasiswi menggodanya, “
Bang, nelpon lama-lama sama siapa?, kangen ya bang ama yayang di kampung sana”,
celoteh para mahasiswi. “Ngak kok, ini hanya iseng aja”, jawab Padli singkat.
Intan lagi-lagi hanya melihat saja. Keesokan harinya, Intan segera menemui
__ADS_1
Inna, “Nna, kurasa bang Padli udah mempunyai pacar dikampungnya sana”, tegas
Intan.