
Malam itu meraka makan di rumah Padli dengan dilayani oleh para ART, Irvan juga
bergabung bersama mereka, dia terlihat berbicara dengan serius sama Intan,
entah apa yang mereka obrolkan. Sementara Bik Surti asyik dengan makanan
steaknya. “jarang-jarang makan daging lho, biasanya ikan melulu”, katanya
sambil tertawa.
Inna : Bang, rumahnya kok besar kali ya, gimana kalau ngebersihkannya ya?
Padli : Kan ada ART, mereka yang membantu membersihkannya.
Inna : Terus, kalau ART nya ngak ada gimana?
Padli : Ya ngak usah dibersihkan, tunggu aja kalau ART nya udah ada lagi. (Padli
tersenyum)
Inna : Ibu abang mana? Kok dari tadi ngak ada?
Padli : Sebentar ya Nna, nanti kita mendatanginya, soalnya dia sakit, jadi dikamar terus.
Paling juga kalau cuaca cerah pagi-pagi dia diantar sama ART untuk jalan-jalan
sebentar di taman.
Inna : Gitu ya bang, Nna hanya heran aja, kok rumah sebesar ini isinya hanya 3
orang, lebih banyak ART nya dari orang yang tinggalnya disini.
Padli : Makanya Nna, abang mau nambah anggota rumah ini, nantikan ada Nna, trus ada
anak-anak kita juga, rumah semakin ramaikan. Hehehe....
Inna : Kalau semua-semuanya udah ada yang ngerjain, terus Nna disini ngapain?
Padli : Kan nanti ada anak-anak kita, Nna kan harus merawat dan membesarkan anak-anak
kita. Mendidik mereka menjadi anak yang sholeh dan sholeha.
Inna : (Menunduk sambil tersipu) Iya bang.
Padli : Ngak usah khawatir, nanti kita sering-sering pulang ke kampung, atau Abah dan
Emak kita ajak kemari, kita bawa jalan-jalan di sini. Abah dan Emak juga belum
pernahkan ke kota ini.
Inna : Iya bang, Nna mau ajak Emak jalan-jalan ke Mall.
Setelah selesai makan, mereka pun segera mendatangi Mamanya Padli yang sedang
terbaring di kamarnya. “ Ma... ini Inna, Intan dan ini Bik Surti mamanya Intan. Mereka
disini menemani Inna, karena Abah dan Emak ngak bisa datang, Abah juga lagi
sakit”, kata Padli kepada Mamanya. Merekapun menyalami Mamanya Padli.
“Sini..sini, duduk di dekat mama, maaf ya Inna, Intan dan Surti, Mama ngak bisa
bangun, jadi tiduran aja, Mama sebenarnya kepingin datang ke kampung, cuma Mama
__ADS_1
ngak bisa, Inna dan Intan panggil Mama dengan Mama aja ya sayang,” kata Mama
sedih. “ Ya Ma, bang Padli sudah menjelaskan kepada Abah kok, kondisi Mama,
Abah ngerti, jadi dia suruh Inna yang kemari” kata Inna. “Kamu cantik sekali”,
kata Mama sambil memandang Inna dengan lekat.
“Maaf ya Padli, dan kalian juga, boleh Mama ngomong sama Inna berdua saja?” pinta Mama.
Padli, Irvan, Intan dan Bik Surtipun keluar dari kamar tersebut, meninggalkan
Inna berdua dengan Mama.
Mama : Inna, bisa kamu buka jilbabmu? Mama mau lihat.
Inna : (Segera membuka jilbabnya, dan memandangi Mama dengan malu)
Mama : Astagfirullah.... kamu cantik sekali sayang, pantesan Padli ngotot sekali
dengan mu sayang...
Inna : (tertunduk malu)
Mama : Mama mau menceritakan ini, mungkin kamu ngak akan mendengar cerita ini dari
Padli. Tapi Mama pikir kamu harus tahu.
Sewaktu muda dulu semasa kuliah, Padli itu termasuk orang yang suka gonta-ganti pacar,
kemudian dia terpikat dengan seorang wanita yang seumuran dengannya, namanya
Fatimah. Dia anak dari seorang Kyai yang terkenal. Fatimah juga sama sepertimu,
cantik kamu kok. (Mama tersenyum) Mama juga pikir kamu bukanlah seorang yang
pendiam, bahkan mungkin sedikit manja. Yang jelas tetap ada perbedaan antara
kamu dengan Fatimah. Nah Pak Kyai tersebut, karena tidak suka dengan gaya dan
sikap Padli yang sedikit ugal-ugalan, maka dia menjodohkan Fatimah dengan anak
dari kawannya yang seorang Kyai juga. Hal ini membuat Padli menjadi hancur.
Butuh proses lama sebelum dia bisa bangkit kembali, namun setelah itu, dia
menutup hatinya kepada setiap wanita. Dia menghabiskan semua waktunya dengan
bekerja keras, sangat keras, untuk mengalihkan pikirannya dari Fatimah.
Mama sudah coba dengan memperkenalkannya dengan anak dari teman-teman Mama, itu
sewaktu Mama belum sakit, tapi ngak ada satupun yang dapat menggerakkan
hatinya. Hanya kamulah yang bisa membuat Padli jatuh cinta. Mama yakin sekali. Selama
dia dikampung hampir setiap malam dia menelpon Mama, ceritanya tentang kamu
semua, karena itu Mama tahu banyak tentang kamu. Mama yakin pertemuanmu dengan
Padli adalah kehendak Allah, dan seandainya kamu dan Padli akhirnya berjodoh,
mungkin ini memang kehendakNya.
__ADS_1
Kamu harus kuat sayang, kamu harus bisa mengertiin Padli. Ada kalanya ketika dia
sangat sibuk bekerja, dia sampai lupa mengurus dirinya sendiri, disitulah
peranmu sebagai istri untuk mengingatkannya. Akan ada banyak godaan terhadap
Padli, di kota besar ini, banyak cara-cara yang dilakukan mereka untuk menggoyangkan
ikatan kalian. Kalau Padli sudah mulai melenceng, kamu jangan malah pergi,
bantu dia untuk kembali ke jalan yang sebenarnya.
Tugas-tugas kamu sebagai istri akan berat, begitu kalian menikah, maka kamulah yang
akan mengendalikan seluruh biaya rumah tangga ini. Kamu harus bijaksana, jangan
terbawa perasaan. Dan lagi kehidupan disini berbeda dengan kehidupanmu di
kampung. Kamu harus berpikir dan beradaptasi dengan kebiasaan disini.
Disini ada Bik Erni yang biasanya membantu mengurusi urusan rumah tangga, tapi dia
sudah tua, dan lagi dia sudah lama mau berhenti, dia ingin kembali ke anak dan
cucunya, namun karena ngak tega meninggalkan Mama yang sedang sakit, maka
ditahankannya saja sambil menunggu orang yang bisa menggantikannya.
Kamu bisa belajar dari si Erni, dia orangnya baik, dia pasti akan membantumu.
Kamu harus sabar ya sayang, Mama tau, kamu pasti galau, karena semua ini hal yang
baru dan datang dengan tiba-tiba kepadamu.
Inna : (Matanya berkaca-kaca) Iya Ma, sejujurnya Inna mengenal bang Padli kan waktu
di kampung, bang Padli bantuin Abah ngurusin warung, jadi Inna berpikir, akan
seperti itulah kehidupan Inna sama bang Padli. Inna takut Ma, kok jadinya
seperti ini. Tapi Inna juga ngak mau kalau harus pisah sama bang Padli.
Huhuhu.... (akhirnya Inna menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua
tangannya)
Mama : (Segera memeluk Inna, kemudian menghapus air matanya) Jangan khawatir, kan
masih ada Mama sayang.... Mama akan membantumu kok.
Akhirnya mereka berpelukan.
“Sudah ya sayang, santai aja, mumpung kamu disini bersama temanmu, kamu harus ajak
temanmu untuk jalan-jalan, biar si Padli yang akan menemani kalian. Sana, temui
mereka, kasihan mereka pasti nungguin di luar, hapus dulu air matamu”, kata
Mama. “Nanti setelah kamu menikah kita bisa puas ngobrol lagi, yang jelas Mama
mengizinkan kamu menikah dengan Padli, Mama sayang dengan mu.” Kata Mama lagi.
Mamapun akhirnya mencium pipi Inna sambil tersenyum.
__ADS_1