Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
NASIHAT MAMA


__ADS_3

Malam itu meraka makan di rumah Padli dengan dilayani oleh para ART, Irvan juga


bergabung bersama mereka, dia terlihat berbicara dengan serius sama Intan,


entah apa yang mereka obrolkan. Sementara Bik Surti asyik dengan makanan


steaknya. “jarang-jarang makan daging lho, biasanya ikan melulu”, katanya


sambil tertawa.


Inna : Bang, rumahnya kok besar kali ya, gimana kalau ngebersihkannya ya?


Padli : Kan ada ART, mereka yang membantu membersihkannya.


Inna : Terus, kalau ART nya ngak ada gimana?


Padli : Ya ngak usah dibersihkan, tunggu aja kalau ART nya udah ada lagi. (Padli


tersenyum)


Inna : Ibu abang mana? Kok dari tadi ngak ada?


Padli : Sebentar ya Nna, nanti kita mendatanginya, soalnya dia sakit, jadi dikamar terus.


Paling juga kalau cuaca cerah pagi-pagi dia diantar sama ART untuk jalan-jalan


sebentar di taman.


Inna : Gitu ya bang, Nna hanya heran aja, kok rumah sebesar ini isinya hanya 3


orang, lebih banyak ART nya dari orang yang tinggalnya disini.


Padli : Makanya Nna, abang mau nambah anggota rumah ini, nantikan ada Nna, trus ada


anak-anak kita juga, rumah semakin ramaikan. Hehehe....


Inna : Kalau semua-semuanya udah ada yang ngerjain, terus Nna disini ngapain?


Padli : Kan nanti ada anak-anak kita, Nna kan harus merawat dan membesarkan anak-anak


kita. Mendidik mereka menjadi anak yang sholeh dan sholeha.


Inna : (Menunduk sambil tersipu) Iya bang.


Padli : Ngak usah khawatir, nanti kita sering-sering pulang ke kampung, atau Abah dan


Emak kita ajak kemari, kita bawa jalan-jalan di sini. Abah dan Emak juga belum


pernahkan ke kota ini.


Inna : Iya bang, Nna mau ajak Emak jalan-jalan ke Mall.


Setelah selesai makan, mereka pun segera mendatangi Mamanya Padli yang sedang


terbaring di kamarnya. “ Ma... ini Inna, Intan dan ini Bik Surti mamanya Intan. Mereka


disini menemani Inna, karena Abah dan Emak ngak bisa datang, Abah juga lagi


sakit”, kata Padli kepada Mamanya. Merekapun menyalami Mamanya Padli.


“Sini..sini, duduk di dekat mama, maaf ya Inna, Intan dan Surti, Mama ngak bisa


bangun, jadi tiduran aja, Mama sebenarnya kepingin datang ke kampung, cuma Mama

__ADS_1


ngak bisa, Inna dan Intan panggil Mama dengan Mama aja ya sayang,” kata Mama


sedih. “ Ya Ma, bang Padli sudah menjelaskan kepada Abah kok, kondisi Mama,


Abah ngerti, jadi dia suruh Inna yang kemari” kata Inna. “Kamu cantik sekali”,


kata Mama sambil memandang Inna dengan lekat.


“Maaf ya Padli, dan kalian juga, boleh Mama ngomong sama Inna berdua saja?” pinta Mama.


Padli, Irvan, Intan dan Bik Surtipun keluar dari kamar tersebut, meninggalkan


Inna berdua dengan Mama.


Mama : Inna, bisa kamu buka jilbabmu? Mama mau lihat.


Inna : (Segera membuka jilbabnya, dan memandangi Mama dengan malu)


Mama : Astagfirullah.... kamu cantik sekali sayang, pantesan Padli ngotot sekali


dengan mu sayang...


Inna : (tertunduk malu)


Mama : Mama mau menceritakan ini, mungkin kamu ngak akan mendengar cerita ini dari


Padli. Tapi Mama pikir kamu harus tahu.


Sewaktu muda dulu semasa kuliah, Padli itu termasuk orang yang suka gonta-ganti pacar,


kemudian dia terpikat dengan seorang wanita yang seumuran dengannya, namanya


Fatimah. Dia anak dari seorang Kyai yang terkenal. Fatimah juga sama sepertimu,


cantik kamu kok. (Mama tersenyum) Mama juga pikir kamu bukanlah seorang yang


pendiam, bahkan mungkin sedikit manja. Yang jelas tetap ada perbedaan antara


kamu dengan Fatimah. Nah Pak Kyai tersebut, karena tidak suka dengan gaya dan


sikap Padli yang sedikit ugal-ugalan, maka dia menjodohkan Fatimah dengan anak


dari kawannya yang seorang Kyai juga. Hal ini membuat Padli menjadi hancur.


Butuh proses lama sebelum dia bisa bangkit kembali, namun setelah itu, dia


menutup hatinya kepada setiap wanita. Dia menghabiskan semua waktunya dengan


bekerja keras, sangat keras, untuk mengalihkan pikirannya dari Fatimah.


Mama sudah coba dengan memperkenalkannya dengan anak dari teman-teman Mama, itu


sewaktu Mama belum sakit, tapi ngak ada satupun yang dapat menggerakkan


hatinya. Hanya kamulah yang bisa membuat Padli jatuh cinta. Mama yakin sekali. Selama


dia dikampung hampir setiap malam dia menelpon Mama, ceritanya tentang kamu


semua, karena itu Mama tahu banyak tentang kamu. Mama yakin pertemuanmu dengan


Padli adalah kehendak Allah, dan seandainya kamu dan Padli akhirnya berjodoh,


mungkin ini memang kehendakNya.

__ADS_1


Kamu harus kuat sayang, kamu harus bisa mengertiin Padli. Ada kalanya ketika dia


sangat sibuk bekerja, dia sampai lupa mengurus dirinya sendiri, disitulah


peranmu sebagai istri untuk mengingatkannya. Akan ada banyak godaan terhadap


Padli, di kota besar ini, banyak cara-cara yang dilakukan mereka untuk menggoyangkan


ikatan kalian. Kalau Padli sudah mulai melenceng, kamu jangan malah pergi,


bantu dia untuk kembali ke jalan yang sebenarnya.


Tugas-tugas kamu sebagai istri akan berat, begitu kalian menikah, maka kamulah yang


akan mengendalikan seluruh biaya rumah tangga ini. Kamu harus bijaksana, jangan


terbawa perasaan. Dan lagi kehidupan disini berbeda dengan kehidupanmu di


kampung. Kamu harus berpikir dan beradaptasi dengan kebiasaan disini.


Disini ada Bik Erni yang biasanya membantu mengurusi urusan rumah tangga, tapi dia


sudah tua, dan lagi dia sudah lama mau berhenti, dia ingin kembali ke anak dan


cucunya, namun karena ngak tega meninggalkan Mama yang sedang sakit, maka


ditahankannya saja sambil menunggu orang yang bisa menggantikannya.


Kamu bisa belajar dari si Erni, dia orangnya baik, dia pasti akan membantumu.


Kamu harus sabar ya sayang, Mama tau, kamu pasti galau, karena semua ini hal yang


baru dan datang dengan tiba-tiba kepadamu.


Inna : (Matanya berkaca-kaca) Iya Ma, sejujurnya Inna mengenal bang Padli kan waktu


di kampung, bang Padli bantuin Abah ngurusin warung, jadi Inna berpikir, akan


seperti itulah kehidupan Inna sama bang Padli. Inna takut Ma, kok jadinya


seperti ini. Tapi Inna juga ngak mau kalau harus pisah sama bang Padli.


Huhuhu.... (akhirnya Inna menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua


tangannya)


Mama : (Segera memeluk Inna, kemudian menghapus air matanya) Jangan khawatir, kan


masih ada Mama sayang.... Mama akan membantumu kok.


Akhirnya mereka berpelukan.


“Sudah ya sayang, santai aja, mumpung kamu disini bersama temanmu, kamu harus ajak


temanmu untuk jalan-jalan, biar si Padli yang akan menemani kalian. Sana, temui


mereka, kasihan mereka pasti nungguin di luar, hapus dulu air matamu”, kata


Mama. “Nanti setelah kamu menikah kita bisa puas ngobrol lagi, yang jelas Mama


mengizinkan kamu menikah dengan Padli, Mama sayang dengan mu.” Kata Mama lagi.


Mamapun akhirnya mencium pipi Inna sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2