Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
MENEMUI WAK RUSDI


__ADS_3

Malam itu selepas azan Ishya, Intan mendatangi warung untuk bertemu dengan Padli. Dia masih bingung akan sikap Padli yang semudah itu memutuskan untuk menyetujui kata-kata Abah. Melihat kedatangan Intan, Padli pun keluar dari warung dan mengajak Intan untuk duduk di depan warung.


Intan : (Sedikit ketus) Bang, apa maksud abang menyetujui kata-kata Abah?


Padli : (Mukanya serius) Ntan, mengenai hal ini bukanlah sesuatu yang terburu-buru


abang pikirkan. Bahkan sebelum kemari Mama sudah berpesan agar abang pulang


dari kampung ini sambil membawamu sebagai istri. Selama ini abang sudah banyak


bertemu dengan wanita-wanita yang pantas menjadi jodoh abang, tapi entah mengapa


hati kecil abang selalu menolaknya, sewaktu Mama menyebutkan nama Intan, abang


jadi banyak berpikir mengenai hubungan kita. Memang selama dua tahun ini kita


memang hampir tidak pernah bertemu, tapi bukan berarti abang melupakan Intan.


Abang hanya mau memastikan hati abang saja.


Intan : Maksud abang apa? Intan masih belum mengerti lah.


Padli : Maksud abang, pada mulanya abang kemari untuk memantapkan hati abang, untuk


meninggalkan masa lalu bersama Inna. Abang juga mau bertemu Abah, abang mau


bilang sama Abah, kalaupun Abang nanti menikah lagi dengan Intan, bukan berarti


abang akan melupakan Abah. Abah tetaplah menjadi Abah di hati abang. Tapi tadi rupanya Abah malahan menyuruh abang menikah dengan Intan.


Intan : Sejak kapan abang mulai punya perasaan dengan Intan.


Padli : Sejujurnya abang bilang, pada awalnya abang ngak punya perasaan sama Intan.


Pilihan hati abang kepada Intan lebih kepada pemikiran rasional, abang merasa hanya Intanlah yang cocok mendampingi hidup abang. Sebagai ibu dari anak-anak abang. Tapi tadi ketika abang keluar dari kamar mandi dan melihat Intan, abang kok mulai merasakan perasaan yang sama ketika pertama kali abang bertemu dengan Inna. Jantung abang kok berdegub kencang ketika melihat Intan tadi, jadi ketika Abah mengatakan itu, maka spontan aja abang meng-iyakannya. Abang ngak mau


berbohong dengan mengatakan abang mencintai Intan. Tapi abang


bersungguh-sungguh ingin menikah dengan Intan.


Intan terdiam mencerna semua perkataan Padli. Dia mulai mengerti situasinya. Padli


yang sekarang bukanlah Padli dimasa-masa bertemu dengan Inna, Padli yang romantis dan jenaka, yang kadang bertindak seenaknya saja. Sekarang Padli adalah sesosok yang telah dewasa dalam percintaan. Padli telah mengalami penderitaan hidup, ditinggal oleh istri yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Padli : Intan, maukah Intan menjadi istri abang? Menjadi ibu dari anak-anak abang?


Maukah Intan mengerti tentang kondisi abang?


Padli menatap Intan dengan tatapan memohon, sebuah tatapan yang tak sanggup di tolak oleh Intan.


Intan : Tapi bang, Intan ngak bisa menggantikan Inna, Intan bukan Inna bang?


Padli : Intan ngak perlu menjadi Inna. Abang memang mau Intan yang sesungguhnya


menjadi istri abang, bukan Intan yang menjadi Inna.


Intan menatap mata Padli, mencari kebohongan disana, namun tak kunjung didapatinya. Mata tersebut menunjukkan ketulusan hati yang ditujukan kepadanya.


Keesokan harinya dengan mengendarai mobilnya Padli membawa Abah, Mak Lena dan Bik Surti ke kota Kecamatan untuk bertemu dengan Wak Rusdi. Wak Rusdi bertanya-tanya melihat kedatangan Abah ke rumahnya. Setelah bersalaman, merekapun duduk di ruang tamu rumah itu.


Abah : (Langsung tanpa basa basi) Jadi begini Rus, Abah kemari mau melamar si Intan untuk menjadi istri dari anak Abah ini.


Wak Rusdi : (Wak Rusdi telah mendengar tentang Padli, namun dia belum pernah


berjumpa dengan Padli) Untuk anak Abah ini? siapa dia Bah?


Mak Lena : Dia Padli, dulu dia suaminya Inna, sekarang setelah Inna tiada, dia menjadi duda. Dan kami sepakat menjodohkannya dengan si Intan.


Wak Rusdi : Oh.. jadi dia mantan menantu kalian, kok kalian yang datang? Mana


Abah : (Mulai naik darah) Rus, aku inilah keluarganya. Dia ngak punya ayah lagi.


Keluarga ayahnya pun ngak ada. Jadi akulah yang menjadi ayahnya. Apa kau ngak


percaya denganku Rus?


Wak Rusdi : I..Iya Bah, aku percaya Bah. Surti, apa si Intannya juga mau?


Bik Surti : Kami kemari karena si Intannya juga mau lah, kalau enggak, ngak mungkin


kami kemari.


Wak Rusdi : Ya sudahlah, kalau si Intannya juga mau. Jadi kapan akan dilakukan


pernikahannya.


Abah : Mereka ini sudah pada dewasa, ngak baik dilama-lamakan, jadi sebaiknya 2

__ADS_1


minggu dari sekarang saja ya, di hari Minggu.


Wak Rusdi : Terus dimana akan dibuat perayaannya?


Abah : Pad, Abah ngak mau kayak kemaren lagi ya Pad. Terlalu berlebih-lebihan, banyak sekali yang mubazir waktu itu. Kita adakan akad nikah di mushola aja, terus untuk perayaannya kita buat di halaman depan koperasi. Cukup orang-orang kampung kita aja yang di undang. Biar kali ini si Udin sama Pak Erik saja yang mengatur pestanya.


Mereka hanya mengangguk-angguk saja terhadap keputusan Abah, dan setelah berbicara beberapa saat, Abah, Mak Lena, Bik Surti dan Padli pun pamit dari rumah Wak


Rusdi. Padli mencium tangan Wak Rusli, orang yang akan menjadi wali dari Intan.


Setelah dari kota Kecamatan, mereka langsung pulang. Padli singgah di warung untuk bersantai disana.


Wak Kocu : Dari mana kau, bawa-bawa Abah dan si Surti?


Padli : (Dengan santainya) Aku udah melamar Intan ke Wak Rusdi. Abah yang jadi perantaranya.


Semua orang yang ada diwarung : Apaaa? Menikahi Intan?


Padli kemudian menceritakan segalanya kepada semua orang.


Berita tentang pernikahan Padli dengan Intan menjadi viral di kampung. Bermacam-macam


komentar mereka. Ada yang merasa kasihan kepada Intan yang hanya sebagai pengganti Inna, ada juga yang salut karena Intan berhasil mendapatkan Padli, ada yang bersyukur karena dengan pernikahan ini maka ikatan Padli dengan kampung nelayan akan terhubung kembali.


Sore itu Padli sedang mengobrol bersama Intan di teras rumah Intan.


Padli : Ntan, kalo dah nikah nanti, Intan mau abang bawa bulan madu kemana?


Intan : (Tertunduk malu) Terserah abang ajalah, Intan hanya ikut saja.


Padli : Kita umroh yuk, kita bawa aja Mak Surti, Mak Lena sama Abah.


Intan : Ayok bang, sekalian aja ajak Mama dan si Irvan?


Padli : Kalau Mama udah sering dia berangkat umroh. Kalo si Irvan, nanti abang coba ajak dia. Dia sebenarnya juga udah pernah umroh ikut bersama Mama.


Intan : Intan memang sudah mendaftarkan Emak untuk naik haji, sama dengan Abah dan


Mak lena, tapikan berangkatnya kan masih lama lagi.


Padli : Iya, tapi sebelum itu kita nanti jalan-jalan dulu ya. Abang mau ngajak Intan


untuk wisata ke pegunungan.

__ADS_1


Intan : Iya bang, Intan memang belum pernah jalan-jalan ke gunung.


Mereka masih mengobrol beberapa saat sebelum mendekati waktu maghrib dan Padli pamit untuk pulang ke rumah Abah.


__ADS_2