
Padli pergi dengan mengendarai mobilnya ke kampung nelayan pagi-pagi sekali, tadi dia
sudah berpamitan sama Mama dan Irvan. Mama titip salam sama Abah, sekalian
menitipkan beberapa oleh-oleh untuk Mak Lena. Setelah Inna tiada, hubungan
mereka tetap terjalin. Setahun yang lalu Padli juga pergi ke kampung nelayan untuk menghadiri rapat anggota koperasi, dia tinggal disana selama 1 malam dan
menginap di rumah Abah. Sekarang ini kepergiannya untuk bersantai disana,
melupakan segala urusan yang membuatnya jenuh dan bosan.
Siang itu cuaca mendung, dan angin berhembus sedikit kencang, Padli sengaja membuka kaca jendela mobilnya, membiarkan angin masuk membelai wajahnya. Aroma laut yang khas menandakan bahwa dia sudah semakin dekat dengan kampung nelayan. Beberapa warga kampung yang sudah mengenalnya melambaikan tangannya yang dibalas Padli dengan melambaikan tangannya juga dan diiringi senyumannya.
Padli berhenti di depan warung kopi Abah dan segera masuk kedalamnya, mang Udin dan
Wak Kocu segera menyapanya.
Mang Udin : (Menyodorkan tangannya untuk bersalaman) Pad, apa kabarmu?
Padli : (Menyalami mang Udin dan Wak Kocu) Baik Mang, aku dari rumah langsung kemari.
Padli menyerahkan oleh-oleh yang dibelinya di jalan untuk para pelanggan warung.
Wak Kocu : Ada acara apa kemari Pad, ngak biasanya?
Padli : Ngak ada wak, pengen maen catur aja sama Uwak, gak apa apa kan aku disini
agak lama?
Wak Kocu : Hahaha... selamanya pun gak apa apa Pad, kau kan warga kampung sini juga.
Merekapun mengobrol dengan serunya, Padli rindu sama celoteh mereka tentang kehidupan nelayan. Dan baru sampai sorenya baru Padli pamit untuk ke rumah Abah.
“Asslamualaikum” seru Padli di depan rumah Abah. Mak Lena keluar dan menyambutnya, “Waalaikum Salam”, jawab Mak Lena. Padli langsung mencium tangan Mak Lena. “Abah mana Mak” tanya Padli. “Itu di kamar, baru selesai mandi”, ntar lagi juga keluar. “Apa
kabar Mama mu?”, tanya Mak Lena. “Baik Mak, Mama nitip salam sama Emak dan Abah, sekalian nitip ini, oleh-oleh dari Mama” jawab Padli sambil meletakkan barang
titipan Mama ke atas meja. “Kenapa ngak kau ajak Mamamu ke mari Pad, Mak pun kangen sama Mamamu” tanya Mak Lena lagi (Mama bertemu dengan Abah dan Mak Lena ketika menghadiri pemakaman Inna). “Mama, walaupun dah sehat, tapi kalau perjalanan jauh seperti ini masih belum sanggup Mak, mungkin lain kalilah ya Mak”, jawab Padli.
Abah keluar dari kamar dan Padlipun mencium tangan Abah.
Abah : Tadi kau ada mampir ke warung?
__ADS_1
Padli : Ada Bah, udah dari tadi siang Padli sampainya, tapi mampir diwarung agak lama
baru kemari. Ada kabar mengenai bang Andi Bah?, kapan dia pulang kemari?
Abah : Belum ada rencana katanya Pad, dia kan udah jadi Pimpinan Cabang, jadi agak
sibuk sekarang. Pad, apa rencana hidupmu? Kan ngak mungkin kamu gini-gini aja kan? Kalau Abah, Abah udah iklas akan semua yang terjadi, tapi kamu, masa depanmu gimana?
Padli : Entahlah Bah, sampai sekarang Padli belum memikirkannya.
Abah : Pad, jodoh itu bagimu adalah wanita yang mendapingi hidupmu sampai akhir
hayatmu. Bagi Inna kamu adalah jodohnya, tapi Inna bukan jodohmu Pad. Kau harus
mencari jodohmu itu. Ibadahmu akan berlipat ganda kalau kamu sudah berumah
tangga Pad. Kau kan tahu juga itu.
Padli : Iya Bah, tapi Padli masih belum ketemu orang yang cocok sama Padli Bah.
Mak Lena : (Sambil membereskan bawaan Padli) Sudah-sudah, nanti aja ngomongnya, Pad kamu pergi mandi dulu sana, Mak udah masakin kamu tuh, ntar lagi kan maghrib,
kita makan malam bersama ya.
Padli : (Bangkit dan mengambil handuk serta baju gantinya) Iya Mak, Bah Padli mandi
Setelah selesai mandi, Padli melihat Intan didapur sedang membantu Mak Lena memasak, memang selama cuti, Intan sering datang ke rumah Mak Lena membantu membersihkan rumah, hal ini wajar karena di kampung nelayan ini, hubungan antar tetangga saling terkait eratnya. Penampilan Intan sudah berbeda dari sejak dulu.
Sekarang dia tampil lebih modis dengan jilbab dan busana muslimnya, karena sudah lama juga dia tinggal di kota. Padli memandangi Intan dengan terpesona, kini dia mulai memandang Intan dengan perasaan yang lain.
Padli : Eh Intan, dah lama sampai di kampung ini?
Intan : Sekitar seminggulah Bang, Intan dapat cuti selama 14 hari. Jadi kesempatan untuk pulang kampung.
Padli : Kamu udah lama ngak kerumah. Mama nyariin kamu? Kata Mama, Mama juga rindu
sama kamu?
Intan : Iya bang, Intan sibuk ngajar, dari Senin sampai sabtu. Pas hari minggunya libur jadi pengen istirahat aja di rumah.
Padli : Oh gitu ya. Kamu sekarang sudah jadi pegawai tetap kan? Bukan kontrak lagi kan?
Intan : (Tersenyum) Iya Bang, dari awal Intan udah pegawai tetap karena ada rekomendasi
__ADS_1
dari bang Yitno.
Padli : Oh baguslah, eh abang mau sholat dulu ya.
Intan : Iya bang.
Setelah selesai sholat, merekapun makan malam bersama, Mak Lena mengajak Intan untuk makan bersama dengan mereka, dan Intanpun menyetujuinya.
Selama mereka makan berempat Abah berbicara,
Abah : Pad, usiamu semakin bertambah, Abah juga pengen punya cucu darimu. Selama ini Abah sudah menganggap kamu sebagai anak Abah sendiri. Abah rasa Mama mu pun begitu juga. Jadi Abah pikir lebih baik kalau kamu menikah saja dengan Intan.
Gimana Pad?
Padli kaget dan otomatis melihat Intan, sedangkan Intan tak kalah kagetnya, bahkan
sampai menjatuhkan sendok makannya. Mak Lena mengangguk menyetujui ide Abah.
Padli : (Spontan dan tanpa berpikir dulu) Yah kalau itu kata Abah, Padli setuju aja Bah.
Abah : (Sikapnya biasa saja, dia yakin bahwa Padli pasti setuju dengan keputusannya)
Kalau gitu, besok kau bisa antar Abah menemui Uwaknya si Intan di kota
Kecamatan, biar Abah yang ngomong sama dia.
Mak Lena : Intan, kamu setujukan sama kata Abah?
Intan : (tertunduk malu) Intan apa kata Uwak nanti ajalah Mak.
Abah : Ngak usah khawatir, Abah kenal kali sama Uwakmu itu, kalau Abah yang ngomong
pasti dia ngak berani menentangnya.
Intan merasa malu sekali, dia langsung pamit pulang setelah menghabiskan makannya.
Abah dan Mak Lena hanya tersenyum saja memandanginya. Sementara itu Padli juga pamit karena mau kewarung.
Begitu sampai di rumah Intan langsung menceritakan pembicaraan tadi kepada Emaknya, Bik Surti. Mendengar itu Bik Surti kalang kabut, dia segera mendatangi Mak Lena meminta penjelasan. Mak Lena menjelaskan keputusan Abah itu kepada Bik Surti.
Bik Surti protes kepada Abah, karena memutuskannya tanpa terlebih dahulu meminta pendapatnya. Abahpun berkata dengan sedikit keras “Surti, mendiang suamimu sudah menitipkan Intan kepadaku, jadi akupun ikut bertanggung jawab terhadap
masa depannya, sudah mendingan kau ikut saja dengan kami besok ke rumahnya si
__ADS_1
Rusdi (Uwaknya Intan)”. Bik Surtipun mengangguk lemah. Dia ngak sanggup
menentang kata-kata abah.