Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
SUASANA PAGI DI KAMPUNG NELAYAN


__ADS_3

Malam itu untuk pertama kalinya Padli memasuki kamar Inna di rumah Abah, karena


sewaktu habis pesta kemarin mereka langsung berangkat ke Bali, tanpa sempat ke


rumah Abah lagi. Padli merasa sangat capek, dia sudah menyetir mobil seharian,


kemudian ngobrol di warung sampai larut malam, dia merasa ngantuk, karena itu


dia tidur dengan memunggungi Inna. Namun Inna seakan tak mengerti kondisinya,


dari tadi dia terus saja memeluk Padli, menggesek gesekkan paha mulusnya ke


kaki Padli, menekan punggung Padli dengan buah dadanya, mengendus-endus


tengkuk Padli, sampai akhirnya Padli ngak sanggup bertahan dan segera melaksanakan


kewajibannya sebagai seorang suami. (hahaha... minum dah tuh obat)


Pagi itu sebelum Padli keluar kamar Inna meminta uang kepada Padli


Inna : Bang, Nna minta uang ya bang.


Padli : Ambil saja di dompet (setelah habis mandi, Padli masih berpakaian)


Inna : (terkejut melihat isi dompet) banyak sekali uang di dompet Abang?


Padli : Iya, ambil saja berapa yang Nna mau.


Inna : Nna ambil 300 ribu aja ya kalau begitu.


Padli : (mengambil amplop tebal berisi uang dari dalam koper) Ini Nna, nanti Nna


kasih ke Abah ya!


Inna : Wah... Ini banyak sekali bang.


Padli : Itu banyaknya lima puluh juta, kasih ke Abah, siapa tau ada perlunya nanti


Inna : Iya bang, tapi untuk Nna yang 300 ribunya tetap kan?


Padli : (Mencium Inna) jangankan 300 ribu, nyawa Abangpun boleh Nna ambil.


Inna : (Membalas ciuman Padli) Ngaklah, Nna hanya mau abang aja.


Mereka berciuman dengan mesra, untung saja Mak Lena mengetok kamar mereka


mengajak sarapan bersama, kalau enggak.... hemm...


Selesai sarapan, mereka berjalan-jalan di kampung. Banyak yang menyapa mereka,


karena kisah Padli dan Inna sudah sangat terkenal di kampung, ditambah lagi pesta


besar-besaran yang dilakukan di kampung membuat mereka semakin terkenal.


Beberapa ibu-ibu secara khusus mendatangi Inna hendak bersalaman.


“ Iya, kemaren sewaktu pesta, aku ngak bisa melihatnya dari dekat, karena ada


pagar pembatas, dan lagi sangat ramai di depan”, celetuk seorang ibu.


“Memang cantik ya, anak Abah ini.  Kata si Danang, sewaktu SMU juga dia memang


udah cantik”, celoteh seorang Ibu yang anaknya Danang pernah satu sekolah dengan Inna.


Ibu-ibu tersebut kemudian bergosip ke sesama mereka dan yang dibahas adalah pasangan

__ADS_1


Padli dan Inna.


Mereka terus saja berjalan sampai ujung jalan yang berbatasan dengan tepi laut. Inna


duduk di bawah pohon bakau besar yang sangat rindang, memperhatikan


kepiting-kepiting karsa (kepiting kecil yang hidup di lobang tanah) berlarian


kesana-kemari.


Padli memperhatikan Inna, wajah mungil Inna sangat cerah, senyumannya selalu


menghiasi bibirnya yang mungil. Inna sangat lembut, dan malu-malu kalau diluar,


malahan sedikit pendiam dan cuek. Tapi kalau udah malam dan mereka hanya berdua


saja, wuih... capek meladeninya, pikir Padli sambil tersenyum. Padli merasakan


semakin hari dia semakin sayang dengan Inna.


Ketika hari menjelang siang, mereka kembali ke rumah, Padli singgah sebentar di warung


sedangkan Inna langsung pulang ke rumah Abah. Di depan rumah dia bertemu bik Surti.


Bik Surti : Nna... terima kasih ya titipannya. (Inna menitipkan uang yang sudah


dimasukkan ke dalam amplop untuk bik Surti melalui Intan)


Inna : Iya Bik, Intan mana Bik?


Bik Surti : Ada didalam sedang beresin dapur. Oh ya Nna, kita jalan-jalan yok ke


kota kecamatan, naik mobilnya si Padli, terus minta sama suamimu untuk teraktir


kita makan sate sambil minum es campur di warung bang Dalen. Mau ngak dia ya?


dan si Dina.


Bik Surti : Iya...iya ayok, habis Dzuhur kita berangkatnya ya.


Inna : Iya.


Siang itu, Inna mengatakan rencana mereka kepada Padli, dan Padli langsung setuju,


Emakpun ternyata mau ikut bersama mereka. Tak lama kemudian mobilpun berangkat


ke kota kecamatan. Ketika sampai di depan lapangan, mobil mereka di stop oleh


Bik Sarwah dan Santi anaknya, mereka ingin ikut juga ke kota kecamatan. Rupanya


Bik Sarwah ketemu Bik Surti, yang menceritakan mau pergi ke kota kecamatan


untuk makan sate, pada mulanya Bik Sarwah hanya diam saja, namun ketika dia


menceritakannya kepada Santi, Santi ingin ikut dan akhirnya Bik Sarwah ikut


juga. Santi berteman dengan Dina. Akhirnya mobil kembali melanjutkan


perjalanan, selama dalam perjalanan mobil penuh dengan suara meriah percakapan


mereka.


Ditempat warung sate bang Dalen, Padli hanya dian saja memperhatikan para perempuan


berbicara riuh rendah. Dia melihat Inna yang begitu mencolok dengan busana

__ADS_1


muslimnya, terlihat juga Inna berebutan mengambil sisa peyek dengan Intan.


Hal ini tak lepas dari pandangan Dina.


“Bang, kok hanya dilihat saja, kan udah jadi istri Abang” ujar Dina menggoda.


Sontak Padli terkaget dan tersyum malu. “Eh... kalau mau peyek lagi ambil saja dari


tempat yang di sebelah dalam”, ujar Padli beralasan. Semua orang memandang


Padli. Mereka jelas melihat pandangan penuh cinta dari Padli kepada Inna.


“Kayak ngak ada hari lain saja”, ujar Mak Lena ikut menggoda Padli. Dan semua


orang berbicara ramai kembali. Inna hanya tersenyum saja.


Mak Lena segera memasuki kamarnya hendak beristirahat, Abah sedang berada


diwarung. Mereka baru saja sampai di rumah setelah tadi berjalan-jalan di kota


kecamatan.


“Bang, sini... sini...” kata Inna sambil melambai-lambaikan tangannya ,memanggil dari


arah kamar mandi. Padli berjalan mendekati Inna yang langsung ditarik kedalam


oleh Inna. “ Nna dari dulu pengen kali memandikan abang di kamar mandi ini,”


ujar Inna sambil membuka kancing kemeja Padli dan melepaskan celana Padli.


Padli hanya diam membiarkan Inna yang bekerja.


Inna menyuruh Padli untuk duduk di bangku plastik kecil, kemudian ia mengambil


gayung dan mulai menyirami Padli, menuangkan sampo ke rambut Padli dan mulai


mengkramasinya. Perut Inna pas terletak di depan muka Padli, ketika Inna masih


sibuk dengan sampo di kepala Padli. Padli mencium perut tersebut, membuat Inna


menggelinjang geli, namun ia masih fokus dengan rambut Padli. Setelah itu dia


mulai menyabuni seluruh tubuh Padli, dari mulai punggung belakangnya, leher,


belakang telinga, dada depan, perut sampai ke bagian “khusus” Padli. Padli


memejamkan matanya, merasakan sensasi dari tangan Inna yang menyabuni tubuhnya.


Badannya bergetar, namun dengan sekuat tenaga dia berhasil menahan dorongan


nafsunya. Padli kemudian mengambil sabun dari tangan Inna dan mulai gantian


menyabuni Inna, sekarang Inna yang malah menggigil gemetaran atas sensasi yang


dibuat Padli.


“Bang... bang, Yok bang, Nna udah ngak tahan”, desah Inna. “Gimana, kalo disini gimana


caranya?” kata Padli sambil melihat sekeliling dengan bingung. Inna sepertinya


sudah mulai kehilangan kesadarannya, Dia mulai memeluk erat Padli, mulutnya


mencari-cari bibir Padli, tangannya mulai menggapai apa saja dari tubuh Padli,


dan pada akhirnya entah bagaimana caranya, mereka melakukannya di kamar mandi

__ADS_1


di rumah Abah.


__ADS_2