
Malam itu untuk pertama kalinya Padli memasuki kamar Inna di rumah Abah, karena
sewaktu habis pesta kemarin mereka langsung berangkat ke Bali, tanpa sempat ke
rumah Abah lagi. Padli merasa sangat capek, dia sudah menyetir mobil seharian,
kemudian ngobrol di warung sampai larut malam, dia merasa ngantuk, karena itu
dia tidur dengan memunggungi Inna. Namun Inna seakan tak mengerti kondisinya,
dari tadi dia terus saja memeluk Padli, menggesek gesekkan paha mulusnya ke
kaki Padli, menekan punggung Padli dengan buah dadanya, mengendus-endus
tengkuk Padli, sampai akhirnya Padli ngak sanggup bertahan dan segera melaksanakan
kewajibannya sebagai seorang suami. (hahaha... minum dah tuh obat)
Pagi itu sebelum Padli keluar kamar Inna meminta uang kepada Padli
Inna : Bang, Nna minta uang ya bang.
Padli : Ambil saja di dompet (setelah habis mandi, Padli masih berpakaian)
Inna : (terkejut melihat isi dompet) banyak sekali uang di dompet Abang?
Padli : Iya, ambil saja berapa yang Nna mau.
Inna : Nna ambil 300 ribu aja ya kalau begitu.
Padli : (mengambil amplop tebal berisi uang dari dalam koper) Ini Nna, nanti Nna
kasih ke Abah ya!
Inna : Wah... Ini banyak sekali bang.
Padli : Itu banyaknya lima puluh juta, kasih ke Abah, siapa tau ada perlunya nanti
Inna : Iya bang, tapi untuk Nna yang 300 ribunya tetap kan?
Padli : (Mencium Inna) jangankan 300 ribu, nyawa Abangpun boleh Nna ambil.
Inna : (Membalas ciuman Padli) Ngaklah, Nna hanya mau abang aja.
Mereka berciuman dengan mesra, untung saja Mak Lena mengetok kamar mereka
mengajak sarapan bersama, kalau enggak.... hemm...
Selesai sarapan, mereka berjalan-jalan di kampung. Banyak yang menyapa mereka,
karena kisah Padli dan Inna sudah sangat terkenal di kampung, ditambah lagi pesta
besar-besaran yang dilakukan di kampung membuat mereka semakin terkenal.
Beberapa ibu-ibu secara khusus mendatangi Inna hendak bersalaman.
“ Iya, kemaren sewaktu pesta, aku ngak bisa melihatnya dari dekat, karena ada
pagar pembatas, dan lagi sangat ramai di depan”, celetuk seorang ibu.
“Memang cantik ya, anak Abah ini. Kata si Danang, sewaktu SMU juga dia memang
udah cantik”, celoteh seorang Ibu yang anaknya Danang pernah satu sekolah dengan Inna.
Ibu-ibu tersebut kemudian bergosip ke sesama mereka dan yang dibahas adalah pasangan
__ADS_1
Padli dan Inna.
Mereka terus saja berjalan sampai ujung jalan yang berbatasan dengan tepi laut. Inna
duduk di bawah pohon bakau besar yang sangat rindang, memperhatikan
kepiting-kepiting karsa (kepiting kecil yang hidup di lobang tanah) berlarian
kesana-kemari.
Padli memperhatikan Inna, wajah mungil Inna sangat cerah, senyumannya selalu
menghiasi bibirnya yang mungil. Inna sangat lembut, dan malu-malu kalau diluar,
malahan sedikit pendiam dan cuek. Tapi kalau udah malam dan mereka hanya berdua
saja, wuih... capek meladeninya, pikir Padli sambil tersenyum. Padli merasakan
semakin hari dia semakin sayang dengan Inna.
Ketika hari menjelang siang, mereka kembali ke rumah, Padli singgah sebentar di warung
sedangkan Inna langsung pulang ke rumah Abah. Di depan rumah dia bertemu bik Surti.
Bik Surti : Nna... terima kasih ya titipannya. (Inna menitipkan uang yang sudah
dimasukkan ke dalam amplop untuk bik Surti melalui Intan)
Inna : Iya Bik, Intan mana Bik?
Bik Surti : Ada didalam sedang beresin dapur. Oh ya Nna, kita jalan-jalan yok ke
kota kecamatan, naik mobilnya si Padli, terus minta sama suamimu untuk teraktir
kita makan sate sambil minum es campur di warung bang Dalen. Mau ngak dia ya?
dan si Dina.
Bik Surti : Iya...iya ayok, habis Dzuhur kita berangkatnya ya.
Inna : Iya.
Siang itu, Inna mengatakan rencana mereka kepada Padli, dan Padli langsung setuju,
Emakpun ternyata mau ikut bersama mereka. Tak lama kemudian mobilpun berangkat
ke kota kecamatan. Ketika sampai di depan lapangan, mobil mereka di stop oleh
Bik Sarwah dan Santi anaknya, mereka ingin ikut juga ke kota kecamatan. Rupanya
Bik Sarwah ketemu Bik Surti, yang menceritakan mau pergi ke kota kecamatan
untuk makan sate, pada mulanya Bik Sarwah hanya diam saja, namun ketika dia
menceritakannya kepada Santi, Santi ingin ikut dan akhirnya Bik Sarwah ikut
juga. Santi berteman dengan Dina. Akhirnya mobil kembali melanjutkan
perjalanan, selama dalam perjalanan mobil penuh dengan suara meriah percakapan
mereka.
Ditempat warung sate bang Dalen, Padli hanya dian saja memperhatikan para perempuan
berbicara riuh rendah. Dia melihat Inna yang begitu mencolok dengan busana
__ADS_1
muslimnya, terlihat juga Inna berebutan mengambil sisa peyek dengan Intan.
Hal ini tak lepas dari pandangan Dina.
“Bang, kok hanya dilihat saja, kan udah jadi istri Abang” ujar Dina menggoda.
Sontak Padli terkaget dan tersyum malu. “Eh... kalau mau peyek lagi ambil saja dari
tempat yang di sebelah dalam”, ujar Padli beralasan. Semua orang memandang
Padli. Mereka jelas melihat pandangan penuh cinta dari Padli kepada Inna.
“Kayak ngak ada hari lain saja”, ujar Mak Lena ikut menggoda Padli. Dan semua
orang berbicara ramai kembali. Inna hanya tersenyum saja.
Mak Lena segera memasuki kamarnya hendak beristirahat, Abah sedang berada
diwarung. Mereka baru saja sampai di rumah setelah tadi berjalan-jalan di kota
kecamatan.
“Bang, sini... sini...” kata Inna sambil melambai-lambaikan tangannya ,memanggil dari
arah kamar mandi. Padli berjalan mendekati Inna yang langsung ditarik kedalam
oleh Inna. “ Nna dari dulu pengen kali memandikan abang di kamar mandi ini,”
ujar Inna sambil membuka kancing kemeja Padli dan melepaskan celana Padli.
Padli hanya diam membiarkan Inna yang bekerja.
Inna menyuruh Padli untuk duduk di bangku plastik kecil, kemudian ia mengambil
gayung dan mulai menyirami Padli, menuangkan sampo ke rambut Padli dan mulai
mengkramasinya. Perut Inna pas terletak di depan muka Padli, ketika Inna masih
sibuk dengan sampo di kepala Padli. Padli mencium perut tersebut, membuat Inna
menggelinjang geli, namun ia masih fokus dengan rambut Padli. Setelah itu dia
mulai menyabuni seluruh tubuh Padli, dari mulai punggung belakangnya, leher,
belakang telinga, dada depan, perut sampai ke bagian “khusus” Padli. Padli
memejamkan matanya, merasakan sensasi dari tangan Inna yang menyabuni tubuhnya.
Badannya bergetar, namun dengan sekuat tenaga dia berhasil menahan dorongan
nafsunya. Padli kemudian mengambil sabun dari tangan Inna dan mulai gantian
menyabuni Inna, sekarang Inna yang malah menggigil gemetaran atas sensasi yang
dibuat Padli.
“Bang... bang, Yok bang, Nna udah ngak tahan”, desah Inna. “Gimana, kalo disini gimana
caranya?” kata Padli sambil melihat sekeliling dengan bingung. Inna sepertinya
sudah mulai kehilangan kesadarannya, Dia mulai memeluk erat Padli, mulutnya
mencari-cari bibir Padli, tangannya mulai menggapai apa saja dari tubuh Padli,
dan pada akhirnya entah bagaimana caranya, mereka melakukannya di kamar mandi
__ADS_1
di rumah Abah.