Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
MAK LENA SAKIT


__ADS_3

Pagi menjelang siang, udara cukup cerah hari ini, angin laut berhembus lembut,


memasuki ruangan warung yang terbuka. Padli telah selesai membereskan gelas


minuman bekas para pelanggan. Inna dan Abah sejak pagi tadi belum muncul, kalau


Mak Lena semakin jarang berada di warung. Tak lama kemudian Intan datang, “bang Padli


Mak Lena sakit, dari pagi tadi merintih terus sambil memegang perutnya,


jadi si Inna ngak bisa kerja hari ini, kata Abah abang sendirian aja ya jaga warungnya”  ujarnya. Padli mengernyitkan keningnya dan merasa curiga akan kondisi Mak Lena.


Dia pun segera menutup warung dan bergegas ke rumah Abah.


“Asalamualaikum Bah,” ujarnya, “Waalaikum Salam”, kata Abah. “Bah, emak apa ngak dibawa ke


rumah sakit aja Bah, kayaknya kondisinya memprihatinkan lah, pasti ada sesuatu


yang ngak beres di perut emak, Bah”, kata Padli cemas. “Abah pun bingung Pad,


Emakmu ngak pernah kerumah sakit, biasanya pergi ke bidan aja” ujar Abah.


Akhirnya Padli memutuskan akan membawa Mak Lena ke rumah sakit. Dia menyerahkan


kepengurusan warung kepada Wak Kocu, karena kasihan nanti para pelanggan akan


kebingungan jika warung tutup untuk waktu yang lama. Dia pun pergi ke lapangan


kampung, disana terlihat beberapa angkot yang parkir menunggu antrian. Padli


menghampiri salah satu angkot tersebut dan menyewanya untuk membawa emak ke


rumah sakit. Angkot sampai di depan rumah, Padli memapah emak untuk naik ke


dalam angkot, dan merekapun segera berangkat ke rumah sakit. Butuh waktu


sekitar 2 jam, untuk sampai di rumah sakit di kota Kabupaten, karena di


kecamatan mereka ngak ada rumah sakit, yang ada hanya puskesmas dan klinik


pengobatan saja. Selama dalam perjalanan Mak Lena terus-terusan merintih sambil


memegang perutnya.


Mereka sampai di rumah sakit yang cukup besar, Mak Lena dibawa ke ruang UGD, di jaga


oleh Inna, sementara itu, Padli dan Abah mengurus administrasi dan mengisi


formulir pendaftarannya. “ Pad, berapa lah biaya nya ya, Abah ngak punya uang


untuk membayarnya”, ujar Abah.


“Ngak apa apa Bah, ini kan baru pemeriksaan, masih gratis Bah,” kata Padli. (Padahal


mana ada yang gratis di rumah sakit kalau ngak punya asuransi) Abah memang ngak


punya kartu asuransi. Memang kampung nelayan tempat mereka tinggal belum


terjangkau dengan asuransi kesehatan. Tentu saja, sebelumnya Padli sudah


menelpon Yitno, agar menghubungi pihak rumah sakit dan menjamin pengobatan Mak


Lena.


Padli : Nok, aku di rumah sakit nih, Mak Lena yang sakit. Tolong kau hubungi pihak


rumah sakit untuk menjamin perawatan Mak Lena ya.


Yitno : Siap Bos... tapi apa ngak bahaya, ntar ente nanti ketahuan. Mana ada rumah


sakit yang gratis boss. (Yitno mengingatkan Padli tentang situasinya)

__ADS_1


Padli : Iya juga ya. (setelah berpikir sejenak) Begini saja, mereka tetap membayar


tapi hanya 30% dari total biayanya, terus biaya yang 30% itu biar bang Andi


yang membayarnya, jadikan terlihat seperti mereka yang membayar semua biaya


rumah sakitnya. Bang Andi kan bekerja di jaringan perusahaan kita, coba kau


cari cara agar dia bisa mendapatkan uang tersebut, namun tidak terlihat kita


yang memberikan, agar dia tidak curiga.


Yitno : Oke, aku ngerti. Aku juga akan kirim sesorang untuk stanby di sana, siapa


tahu kalau-kalau di perlukan, ya Boss...


Padli : Oke, thank’s ya (hubunganpun diputuskan)


Setelah dilakukan pemeriksaan secara mendalam, ternyata Mak Lena mengalami infeksi


usus, Mak Lena harus di operasi, karena sebagian dari ususnya harus dibuang. Total


biayanya termasuk biaya perawatan mencapai 40 juta rupiah. (tentu saja ini


adalah 30% nya) Mendengar kata operasi tersebut Inna menangis, dia sangat cemas


melihat keadaan emaknya. Abah terlihat kebingungan, dia ingin agar emak sehat


kembali tapi dia ngak tahu dari mana mendapatkan uang untuk biayanya.”Pad,


gimana ya, di rumah sakit ini, kita bisa hutang dulu ngak ya, biar emakmu tetap


di operasi, tapi bayarnya nanti kalau rumah sudah laku” ujar Abah. Abah


merencanakan menjual rumah mereka untuk biaya operasi Mak Lena. Padli memegang


tangan Abah supaya Abah tenang. “Bah, coba hubungi bang Andi, siapa tahu bang


menghubungi Andi, anaknya.


Abah : Ndi, emakmu di rumah sakit Ndi.


Andi : Sakit? Sakit apa Bah, kok bisa sampai di rumah sakit?


Abah : Tadi pagi emakmu kesakitan terus, katanya perutnya yang sakit, dia juga


demam Ndi.


Andi : Ya Allah... terus apa kata dokter Bah?


Abah : Kata dokter harus dioperasi, ususnya harus di potong.


Andi : Ya udah Bah, kalau kata dokter begitu, ya lakukan saja yang penting emak


sehat Bah.


Abah : Biayanya sampai 40 juta Ndi, Abah ngak punya uang sama sekali.


Andi : Gak apa apa Bah, biar Andi cari pinjaman disini, yang penting Emak sehat dulu


ya Bah. Turuti aja semua kata dokter ya Bah, mengenai biayanya nanti Andi kirim


melalui transfer ke rekeningnya si Inna. Mana Inna Bah? Andi mau ngomong.


Hp pun berpindah ke tangan Inna.


Setelah berbicara dengan Andi, Abah mulai terlihat tenang. Dia duduk disamping Mak Lena


yang terbaring lemah dengan selang infus yang terhubung dengan lengannya. Malam


ini Mak Lena akan berada di ruangan ICU (Intensive Care Unit), dan baru besok rencananya

__ADS_1


akan di operasi.


Dokter juga mengatakan, untung saja Mak Lena cepat dibawa ke rumah sakit, kalau


terlambat sedikit saja bisa membahayakan nyawa Mak Lena. Mendengar hal itu Abah


bersyukur atas tindakan cepat yang di ambil oleh Padli.


Andi mengusap-usap rambutnya, sejujurnya dia pun sangat bingung. Dia baru saja membeli


mobil Pickup dengan cara kredit di kantornya. Uang tabungannya sebesar 20 jt


sudah dijadikan Dp mobil tersebut. Dia berencana untuk mengambil borongan


kerjaan antar jemput sayuran selama hari sabtu dan Minggu, karena pada hari


tersebut dia libur. Kemana aku harus cari pinjaman ya, karena gajinya sudah


dipotong untuk pembayaran angsuran kredit pickup nya, jadi dia ngak mungkin


lagi dapat pinjaman dari kantor.


Telepon di ruangannya berdering, ternyata Pak Subroto yang menjadi pimpinan cabang


perusahaan memanggilnya. Andi segera datang ke ruangan Pak Subroto.


Pak Subroto : Silakan duduk Pak Andi.


Andi : Iya Pak, terima kasih.


Pak Subroto : Bagaimana dengan kerjaan? Ada kendala ngak selama ini?


Andi : Ngak kok Pak, semua sudah bisa tertangani pak.


Pak Subroto : Iya, syukurlah. Begini, saya mau memberitahukan bahwa Pak Andi


mendapat reward dari kantor pusat atas prestasi kerja selama ini sebesar 50


juta rupiah, akan di transfer langsung hari ini juga ke rekeningnya Pak Andi.


Andi : (terkejut) Reward apa Pak? Kapan diadakan pengujiannya? Selama ini ngak pernah


ada hal semacam ini?


Pak Subroto : Sejujurnya saya juga heran, kok bisa tanpa pemberitahuan ada hal


semacam ini ya, di cabang-cabang lain juga tidak ada, tapi ini ditanda tangani


langsung oleh Direktur Utama lho, jadi ngak mungkin bohongan. Ini salinan


keputusannya. (Menyerahkan salinan keputusan kepada Andi)


Andi : Saya juga heran Pak, karena saya kan menjabat sebagai Manager Gudang baru


sebulan, kok bisa dapat reward ya, saya jadi ngak enak sama yang lain.


Pak Subroto : Yah, mau gimana lagi. Ini keputusan Pusat, jadi kamu syukurin aja ya.


Ya udah selamat ya, kamu boleh kembali ke tempatmu, saya memanggil kamu cuma


mau menyampaikan ini saja.


Andi : Iya Pak, terima kasih ya Pak. (Andi tersenyum)


“Alhamdulillah...Alhamdulillah”


kata Andi ketika sudah sampai di ruangannya. Karena hari sudah sore, dan Bank


sudah tutup, Andi berencana untuk mentranfer uangnya besok ke rekeningnya si


Inna. Dia segera menelpon Padli agar menyerahkan hpnya ke Abah untuk

__ADS_1


menyampaikan berita gembira tersebut, karena Abah ngak punya Hp.


__ADS_2