
Kejadian itu sudah beberapa waktu berlalu, Padli sudah melupakannya, namun tidak untuk Sarah. Kejadian itu adalah kesengajaan darinya. Dia tidak benar-benar kehilangan kesadaran dirinya. Memang benar dia sedikit mabuk, namun tidak sampai kehilangan kesadarannya. Sebenarnya saat pertama kali mulai bekerja, Sarah sudah jatuh hati kepada Padli. Cintanya memang tulus kepada Padli, bukan karena melihat status Padli. Hanya saja, dalam menggapai keinginannya dia
melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan. Hal ini wajar baginya, akibat
pergaulannya dan gaya hidupnya yang sedikit bebas.
Malam itu mereka bekerja lembur sampai larut malam. Ketika selesai, maka Sarah
memohon kepada Padli agar mengizinkan mang Parno sopir Padli mengantarnya
pulang, dengan alasan dia takut pulang sendirian karena sudah malam. “Pak,
mohon izin ya, pinjam mang Parno. Saya takut pulang sendirian”, pintanya. Padli
berpikir sebentar, “Ya udah, sekalian sajalah, kasihan mang Parno harus bolak balik mengantarmu terus menjemput ku lagi. Sekalian saja kita pulang bersama”,
jawab Padli.
Merekapun segera pulang menuju rumah Sarah. Sarah tinggal bersama keluarganya
yang cukup berada. Papanya adalah seorang pejabat tinggi di pemerintahan. Merekapun
tinggal di komplek perumahan yang cukup elite.
Setibanya di rumah, Sarah mendesak Padli untuk mampir ke rumahnya karena ingin
memperkenalkan kedua orang tuanya. Padli terpaksa mengikuti permintaan Sarah.
Sarah : (Sambil memperkenalkan Padli) Pa, Ma, ini Pak Padli, boss Sarah dikantor.
Padli : (sambil menyalami kedua orang tua Sarah) Maaf Pak, karena ada banyak
pekerjaan di kantor, terpaksa Sarah pulang larut malam.
Papa Sarah : Ngak apa apa kok Pak Padli, namanya juga kerja. Terima kasih ya sudah
mengantar Sarah.
Padli : Kalau begitu saya pamit dulu ya Pak.
Mama Sarah : Iya, hati-hati di jalan ya, terus kalau ada waktu senggang jangan
segan-segan untuk berkunjung.
Padli : Iya Bu, Assalamualaikum.
Papa dan Mama Sarah : (Menjawab berbarengan) Waalaikum Salam.
Sarah tersenyum memandangi Padli yang segera menaiki mobilnya.
Beberapa hari telah berlalu, ketika tiba hari Minggu, Paginya Sarah dengan mengendarai
__ADS_1
mobilnya sendiri mendatangi rumah Padli. Dia datang tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Padli. Dia mendapatkan alamat Padli dari bagian SDM kantor. Pihak SDM sama sekali tidak mencurigainya, adalah wajar bila seorang sekretaris untuk mengetahui rumah atasannya. Dan lagi pula hampir semua karyawan juga mengetahui alamat rumah Padli, karena Padli sering mengundang seluruh karyawannya untuk datang kerumahnya dalam acara openhouse sewaktu lebaran.
Sarah diantar seorang Satpam langsung ke depan pintu utama rumah Padli. Dan tak lama
kemudian Mama segera muncul.
Sarah : Asalamualaikum Bu
Mama : Waalaikum Salam
Sarah : Saya Sarah bu, saya sekretarisnya Pak Padli di kantor. Bisa saya bertemu dengan Pak Padli?
Mama : Oh Bisa, sebentar ya, saya panggilkan dulu. Kamu masuk saja ke dalam.
Mama kemudian memanggil seorang ART untuk memberitahukan kepada Padli.
Mama : Sudah lama Nak, kerja di kantornya Padli?
Sarah : Baru beberapa bulan Bu, tapi saya baru pertama kali ini kemari.
Mama : Oh... pantesan Ibu ngak pernah lihat kamu. Biasanya juga si Yitno yang sering
datang kemari untuk urusan kantor.
Sarah : Iya Bu, saya juga direkrut oleh Pak Yitno untuk menggantikannya dalam
membantu Pak Padli.
Tak lama kemudian Padli datang. Dia baru saja habis berenang di kolam renang luar.
Padli : Ya, pagi. Kok kamu tahu alamat saya? Ada apa datang kemari?
Sarah : (Sambil menyerahkan bungkusan) Ini Pak, titipan Ibu saya. Ibu saya mengucapkan terima kasih karena Bapak sudah mengantar saya pulang malam itu.
Padli : Sebenarnya wajar saya mengantar kamu pulang, kan sudah malam. Ibumu ngak usah repot-repot memberikan ini.
Sarah : Ngak apa apa Pak, saya juga memang ingin tahu rumah Bapak, jadi kalau ada
sesuatu keperluan ngak repot mencarinya lagi.
Padli : Iya, terima kasih ya.
Sarah : Iya Pak, saya pamit dulu ya Pak, Buk. Asalamualaikum
Padli dan Mama : Waalaikum salam
Sarah kemudian pulang kembali kerumahnya. Dalam hatinya dia berteriak kegirangan. Ini
jelas suatu kemajuan. Mas Padli sudah berkenalan dengan Papa dan Mama, dan aku
juga sudah mengenal Ibunya Mas Padli. “Tinggal sedikit lagi, ayo... semangat Ara”, teriaknya dalam hati.
__ADS_1
Dilain waktu Sarah dan Padli baru saja selesai dari mengunjungi salah satu kilennya, dan sekarang hendak kembali ke kantor. Karena waktu sudah memasuki jam makan siang, maka Padli membawa Sarah ke sebuah restoran yang cukup mewah untuk bersantap siang di sana.
Disaat para pelayan sudah menghidangkan makanannya, maka Sarahpun berkata :
Sarah : Pak, boleh ngak kalau di luaran gini saya memanggil Bapak dengan Mas aja.
Padli : Kenapa? Kamu risih ya kalau memanggil Pak, Pak gitu, kalau di luaran.
Sarah : Iya sih Pak, soalnya ngak santai aja kayaknya.
Padli : Ya udah, terserah kamu.
Sarah : (Sambil tersenyum manis) Mas, Mama Mas, kayaknya masih terlihat sangat cantik ya, padahal kan harusnya udah tua juga. Sepertinya memakai perawatan wajah yang mahal ya.
Padli : Setau saya ya ngak juga, cuma ada yang bilang kalau kita sering berwudhu,
maka wajah akan lebih segar setiap saat. Kan sering kena air.
Sarah : Eh... iya juga ya. Tapi rumah Mas kok keliatan sepi ya?
Padli : Memang biasanya begitu. Lagian ngapain juga dirame-ramein.
Sarah : (Sarah mengerling manja) Kalau rame kan jadinya seru sih Mas. Jadi kalau
pulang ke rumah, ngak ngebosanin gitu.
Padli : Iya juga, tapi ngak bosan-bosan amatlah.
Sarah : (Sarah kembali memancing Padli) Apa Mas ngak mau berumah tangga lagi?
Padli : Belum kepikiran lah, hal itu lihat saja nanti, mungkin memang sudah takdirnya
begitu. Eh, kamu sudah selesai? Yok kita kembali ke kantor.
Sarah : Iya Mas.
Sesampainya Sarah di ruangan kantornya dia kembali berteriak kegirangan. “Oke Sarah, dia tidak keberatan kamu panggil dengan Mas, sekarang tinggal sedikiiiiit lagi. Semangat Ara... yes”, Sarah menyemangati dirinya sendiri dan merasa apa yang telah dikerjakannya sudah mendekati keberhasilan. Dia akan terus berusaha meluluhkan hati Padli. Pernah suatu ketika sarah memohon kepada Padli untuk menemaninya ke pesta pernikahan saudaranya, namun Padli menolak dengan alasan bukan urusannya untuk terlibat masalah pribadi dengan karyawannya. Hal ini membuat semangat sarah kembali
menciut. “Oke Ara, jangan menyerah, engkau pasti bisa.... yes... semangat Ara”, Sarah kembali menyemangati dirinya.
Suatu Hari Padli sedang berjalan keluar dari sebuah Mall besar, dia melihat seorang
wanita dengan busana muslim yang sudah sangat dikenalnya. “Fatimah... “ ujarnya
dalam hati. Jantungnya langsung deg... deg... kan melihat wanita tersebut yang berjalan ke arahnya. Sepertinya hendak keluar juga dari Mall tersebut.
*************
Hai reader..... plisss dong, mana like and comentnya.
Mungkin bagi kalian para readers, untuk menekan tombol like itu berat ya... tapi Author
__ADS_1
juga capekkan untuk membuat cerita ini. Tolong hargai kerja keras author dengan
menekan tombol like nya ya....... Terima Kasih.