Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
GOTONG ROYONG


__ADS_3

Setelah mandi dan sarapan, Padli pun berjalan menuju rumah Abah yang tak jauh dari


warungnya. “Assalamualaikum”, kata Padli. “Wakalaikum Salam”, dijawab oleh Abah.


“Mau berangkat Pad”, tegur Abah. “Iya Bah, katanya disuruh kumpul jam 7 pagi”, jawab Padli.


“Itu dibawah rak piring goloknya, kalau cangkulnya ada di samping” kata Abah lagi.


Padli pun beranjak menuju dapur tempat rak piring. Di ruang tengah terlihat bang Udin


sedang tidur lelap, rupanya dia pulang ketika waktu subuh, setelah sholat subuh


diapun langsung ketiduran. Abah membiarkan saja kelakuan adik iparnya itu. Inna


dan Mak lena tidak terlihat sama sekali. Entah mengapa, dia ingin melihat Inna


walau barang sebentar sebelum memulai kerjanya.


Setelah mendapatkan barang barangnya, Padli pun berangkat ke lapangan kampung, karena


disanalah diadakan pertemuan sebelum memulai pekerjaan gotong royongnya. Padli


terlihat keren, dia dipinjami handuk tipis yang diikatkannya di pinggang,


sebagai tempat menyelipkan golok beserta sarungnya, sedangkan cangkul di


panggulnya di bahu.


Sesampainya Padli di lapangan kampung, ternyata disana sudah ada beberapa orang warga yang


telah hadir. Mereka berbaris seperti keadaan mau upacara, dan di depannya


terlihat Pak Erik yang akan membuka  kegiatan itu.


Ada juga si Edwin yang membawa mesin pemotong rumput. Sepertinya dia sudah


terbiasa menggunakannya. Wak Kocu membawa sapu lidi dan kereta sorong. Warga lain


yang hadir membawa peralatannya masing masing.


Saudara saudara sekalian, hari ini kita akan melakukan kegiatan gotong royong


membersihkan kampung, sebagai bagian dari acara Pesta Laut semalam. Karena itu


saya mohon partisipasinya dari semua yang hadir disini untuk melaksanakan acara


ini. bla...bla..bla...


Acarapun di mulai, yang di komandoi oleh Pak Erik. Padli kebagian pekerjaan membersihkan


saluran air (parit) di dekat warungnya, saluran tersebut adalah saluran dari


tanah, yang telah penuh dengan lumpur dan tumbuh tumbuhan liar, sehingga harus


dibersihkan agar aliran air bisa berjalan.


Padli pun dengan semangat mengayunkan cangkulnya untuk membersihkan parit dari


tumbuhan liar. Di sisi seberang terlihat terlihat bang Mandor yang juga asyik


mencangkul parit. Tak terasa sudah hampir 1 jam Padli bekerja, keringatnya


mengucur deras, wajahnya yang putih memerah seperti udang rebus, napasnya mulai


tersengal sengal.


“Sudah Pad, istirahat dulu, ngak usah dipaksain lah”, kata bang Mandor sambil tersenyum.


“Ngak bang, gak apa apa kok, Padli masih kuat” jawab Padli.


Tak lama kemudian pandangan Padli mulai berkunang-kunang, dia jatuh terduduk di


pinggiran parit, semuanya mulai menjadi gelap.

__ADS_1


Padli di gendong sama bang Mandor menuju lapangan kampung, dia ditidurkan di bawah


pohon seri yang rindang, yang ada di pinggiran lapangan. Selama dalam perjalanan,


orang-orang melihatnya sambil tersenyum, ada yang bertepuk tangan, malahan


ada yang tertawa terpingkal-pingkal.


********


Setelah sadar Padli melihat dirinya ada dibawah pohon seri di pinggir lapangan. Intan


ada di dekatnya sambil memberikan minuman jus mentimun yang dingin. Intan


memang bertugas menyiapkan makanan dan minuman untuk para warga yang bergotong


royong. Karena itu dari pagi dia memang standby di meja tempat makanan dan


minuman yang terletak di pinggir lapangan itu. Selain Intan ada juga beberapa


remaja putri dan ibu-ibu yang menjaga meja hidangan itu. Setelah minum, Padli


merasa segar kembali, pandangannya mulai terbuka lebar.


Intan : Abang mau minum lagi? Biar Intan ambilkan. (Intan berbicara dengan lembut)


Padli : (Hanya mengangguk)


Intan : Nih bang, sepertinya wajah abang udah ngak pucat lagi kok.


Padli : Abang malu kali lah dek, apa kata Abah nantinya ya.


Padli meringis membayangkan kejadian yang baru saja lewat, samar-samar dia masih


mengingat kejadian itu.


Intan : Gak apa apa bang, yang pentingkan Abang sudah bekerja dengan


bersungguh-sungguh sampe pingsan begitu. (Intan tersenyum geli mengingatnya).


dikatakan Inna?


Intan : Abang suka ya sama Inna?


Padli : (melihat dengan tajam kepada Intan) Ya (sambil kepalanya mengangguk)


Intan : Tapi kan Abang udah punya pacar di kampung.


Padli : Lho kok gitu, abang ngak punya pacar kok sama sekali.


Intan : Abang setiap malam nelpon sampai berjam-jam gitu, sama siapa?


Padli : Beneranlah dek, itu kawan abang, atau mungkin juga adek laki-laki abang, tapi


yang jelas bukan pacar abang. Abang ngak punya pacar.


Intan : Astagfirullah, Intan udah bilang sama Inna bahwa abang sudah punya pacar


dikampung. Wah ini harus Intan perbaiki, nanti Inna bisa salah paham kepada


Abang.


Padli : Ya... tolong ya dek.


Intan : Ya udah bang, lamar aja Inna langsung kepada Abah, Abangkan dekat sama Abah.


Padli : Tapi Abang belum tahu perasaan Inna kepada Abang.


Intan : Inna suka kok sama Abang, Intan sudah lama kenal sama Inna, kami berteman


sejak kecil. Sewaktu Abang membelikan Inna headset, Inna terus terusan


ngomonginnya sama Intan, sampai Intan sendiri udah bosan mendengarnya. Inna

__ADS_1


ngak begitu ketika dibeliin casing hp sama bang Andi.


Padli : Gitu ya dek, tapi Abah, apa Abah mau menerima Abang.


Intan : Pasti mau lah, semua orang kampung tau kok, Abah sayang kali sama Abang. Udah


bang, lamar aja cepetan. Sebelum Ustad Bambang yang melamar deluan.


Padli : Yah gak sesederhana itu dek, masih ada urusan Abang dengan Abah yang harus


Abang selesaikan. (Padli bertekad untuk membongkar semua kebohongan ini sebelum


melamar Inna, dia berpikir karena abah orang pertama di kampung ini yang dia


bohongi, maka Abah pulalah yang harus pertama kali mendengar cerita yang


sebenarnya)


Intan : Urusan apa bang?


Padli : Gak apa apa, biasalah... (Padli hanya tersenyum)


Mereka masih mengobrol sebentar sebelum para warga yang ikut kerja gotong royong


kembali ke lapangan kampung.


Bang Mandor mendatangi Padli, “Gimana Pad, udah sehat?”, tanyanya. “Udah bang, maaf


ya bang, udah merepotkan abang”, ucap Padli. “Kau itu terlalu serius, inikan


kerja sukarela, ngak ada paksaan, ngak ada target penyelesaian, santai aja,


ngak ikut pun ngak apa apa kok, lihat aja si Udin, masih tidurpun dia, ngak ada


yang memarahinya kok”, kata bang Mandor panjang lebar. “Iya bang, jadi


malu-maluin aku ya bang” ujar Padli sambil tersenyum. Para pekerja yang lain


jadi tertawa mendengarnya.


Baiklah semuanya, kata Pak Erik. Saudara-saudara sekalian, terima kasih atas


partisipasinya dalam acara gotong royong ini, silakan dinikmati minuman dan


makanannya, dengan ini saya ucapkan “Acara Pesta Laut dan Gotong Royong” telah


resmi selesai. Sekian dan terima kasih. Para peserta pun bertepuk tangan.


Setelah menikmati makanan dan minuman, para peserta bubar dan kembali ke


tempatnya masing-masing.


Padli berjalan pulang ke warung dengan langkah gontai, tak terlihat sikap gagahnya


seperti ketika datang. Handuk tipis pemberian Abah digantung di leher,


sedangkan cangkul dan goloknya di tentengnya saja.  Ketika sampai di warung,


ternyata ada bang Udin, dia masih melanjutkan tidurnya di atas dipan.


Padli segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk sholat zuhur di mushola.


Selesai sholat zuhur, Padli mendatangi rumah Abah untuk mengembalikan golok dan cangkul


yang dipinjamnya. Abah sedang makan siang ketika Padli datang.


“Pad, dah selesai gotong royongnya”?, tanya Abah. “Udah Bah”, jawab Padli.


“Sini, makan yuk sama-sama” kata Abah.


“Inna, ambilkan piring satu lagi sama gelasnya ya”, teriak Abah. Akhirnya Inna pun


muncul, hati Padli sangat senang. “Gimana Pad, ada kendala sama pekerjaannya”?

__ADS_1


tanya Abah. (Nah Lho....) Padli menggaruk-garuk kepalanya.


__ADS_2