
Bang Udin pulang, dia masuk ke warung dan langsung
selonjoran di dipan setelah sebelumnya menyalami Abah. “Pad, bikinin kopi”
teriak Abah. “Itu yang namanya Padli ya Bah”, tanya bang Udin sambil menunjuk
ke Padli. “Iya, untungnya begitu kau pergi, diapun datang”, jawab Abah lagi.
“Kok bisa pulang”?, tanya Abah. “Aku dapat cuti 5 hari, setelah itu ya balik
lagi kesana”, ujar bang Udin.
Bang Udin adalah adik bungsu dari Mak Lena, dia pernah
menikah, tapi kemudian bercerai karena istrinya pergi meninggalkan rumah dan
menjadi TKI di malaysia. Untungnya saat itu bang Udin belum mempunyai anak.
Tapi kejadian itu membuatnya trauma dan sampai sekarang dia belum berniat
berumah tangga lagi. Sekarang usianya sudah lebih dari 40 tahun, sudah banyak
warga kampung yang menawarkan jodoh kepadanya, namun semuanya ditolak dengan
alasan dia sering berpergian untuk waktu yang lama, karena pekerjaan. Bang Udin
orangnya ramah, dan sedikit royal kalau dia sedang punya uang, karena itu dia
disukai warga kampung.
Inna sejak dari pagi sampai sore hari ini sedikit pendiam,
kalaupun di tanya Padli, jawabannya hanya he..em, e..eh, atau hanya
menganggukkan dan menggelengkan kepala saja. Gemes sih Padli melihatnya, namun
karena ngak biasanya, hal ini membuat Padli curiga. Padli sudah terbiasa dengan
segala tingkah-laku Inna, sehingga perubahan sedikit saja langsung dapat dirasakannya.
Padli : Nna...
Inna : Hemmm..
Padli : Kok gitu jawabnya?
Inna hanya diam
Padli : Kalau abang ada salah, bilang lah
Inna lagi-lagi hanya diam
Padli : Jadi benar ya, abang ada salah. Ya udah abang minta
maaf ya?
Inna : Ngak kok bang, ngak ada apa apa kok.
Padli : Kalau ngak ada apa apa kok dari pagi sikap Nna
begitu?
Inna : Iya bang, ngak ada apa apa, Nna lagi males aja kali.
Padli : Ya udah, maaf kalau abang nganggu ya Nna.
__ADS_1
Inna kembali hanya diam. “Walah ni cewek, lagi PMS (Premenstrual Syndrome) kali ya,” pikir Padli dalam
hati.
Abah meminta bang Udin menjaga warung seharian besok agar
Padli bisa dapat liburan, bang Udin pun setuju, dulunyapun dia yang selalu
menjaga warung menemani Mak Lena. Setelah membuka warung Padli menunggu
kedatangan bang Udin, dia berencana hendak keliling kampung sambil mencari
lapak memancing yang strategis. Diapun membawa alat pancingnya yang dibeli
setelah gajian.
Bang Udin adalah adik bungsu dari Mak Lena, dulu dia pernah
menikah tapi kemudian dia bercerai karena istrinya pergi dan menjadi TKI di Malaysia,
semenjak itu bang Udin mengalami trauma dan tidak menikah lagi. Untungnya saat
itu dia belum mempunyai anak. Banyak warga kampung yang menawarkan jodoh kepada
bang Udin, namun semua di tolaknya dengan alasan dia sering berpergian keluar
kota dengan jangka waktu yang lama karena pekerjaannya.
Bang Udinpun datang dan menyapa Padli, “Pad, apa rencanamu
hari ini”?. “Padli mau jalan-jalan keliling kampung bang, trus sekalian nyari
lapak memancing yang bagus”, ujar Padli. “Kamu jalan aja dari sini ke paluh
ujung (paluh=muara sungai), jangan lupa beli dulu nasi bungkus di warung si Leha,
bilang sama dia aku yang nyuruh, pasti dikasi nya” ujar bang Udin menjelaskan. “Trus
kalau udah dapat sampannya aku kemana bang”, tanya Udin lagi. “Ke seberang aja,
di situ, dibawah pohon kelapa, biasanya aku dapat sembilang (nama Ikan muara) disitu”,
kata bang Udin. Kemudian bang Udin menyelipkan duit 50 ribu ke kantong Padli
sambil mengatakan, “siang ini jangan pulang, makan di luar aja ya”. Padli
merasa terharu, bukan karena pemberian uangnya, melainkan karena perhatian bang
Udin kepada dirinya. Dia merasa semua keluarga Inna adalah orang yang baik.
Padli berjalan dengan santai menyusuri pelataran di pinggir
paluh. Terlihat beberapa bocah bermain dan berenang, mereka asyik melompat dan
terjun dari pelataran. Memang hal yang biasa bagi para bocah kampung Nelayan
ini, mereka sudah pandai berenang sejak kecil. Padli duduk dengan santai sambil
meresapi suasananya.
Di depan terlihat sebuah kapal boat besar melaju dengan
kencang dan menimbulkan gelombang ombak besar di paluh. Seorang bocah yang
kebetulan berada di samping tiang pelataran tersentak dan kepalanya terbentur
__ADS_1
tiang pelataran, bocah tersebut tidak sadarkan diri, tubuhnya perlahan-lahan
mulai tenggelam. Bocah-bocah yang lain tidak ada yang menyadarinya.
Padli terkejut, dia melihat bocah itu mulai tenggelam, lalu
tanpa pikir panjang diapun langsung terjun ke laut dengan memakai pakaian yang
masih lengkap. Bocah tersebut tidak meronta-ronta ketika di bawa Padli karena
sudah pingsan dan dia sudah menyelam cukup dalam juga supaya dapat mengejar
bocah tersebut yang tenggelam dan terbawa arus paluh. Ketika sampai di
permukaan beberapa orang membantunya naik ke pelataran.
Padli panik, bocah itu diam dan terbujur kaku, tidak
bernapas, kemudian Padli melakukan pertolongan darurat dengan menghembuskan
udara melalui mulut si bocah dan kemudian menekan-nekan dada untuk merangsang
pergerakan paru-paru. Akhirnya bocah tersebut tersedak dan memuntahkan air dari
mulutnya, kemudian diapun mulai menangis. Para warga yang melihatnya mulai
bernapas lega. Seorang nelayan memeluk Padli dan mengucapkan terima kasih,
terima kasih, berulang-ulang sambil menangis. Nelayan tersebut bernama Kosim,
dia adalah ayah dari bocah yang tenggelam itu, saat itu kosim sedang duduk merajut
jala dan ngak jauh dari tempat para bocah yang bermain di paluh. Para warga
semua menyalami Padli dan mengucapkan terima kasih. Pak Erik yang berada di
area pelataran pun datang, “Pad, atas nama warga kampung Nelayan sini, saya
mengucapkan terima kasih ya, karena telah menolong anaknya Pak Kosim” kata Pak
Erik yang memang menjadi Kepala Dusun.
Padli pulang ke warung dengan basah kuyub, dia berjalan
melewati pinggiran warung menuju kamar mandi belakang. Abah, bang Udin, dan
Inna memandanginya dengan terbengong. Tak lama kemudian Pak Erik datang menemui
Abah dan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Abah. Akhirnya merekapun mengerti
kenapa Padli pulang dengan basah kuyub.
Setelah selesai mandi, Padli masuk kedalam warung, bang Udin
sudah membuatkan teh manis panas untuknya, dan Inna sudah menyiapkan sepiring Mie
kuah. “memangnya kau pandai berenang Pad,? Dimana belajarnya”? tanya Abah. “Dulu
waktu kecil Bah, Padli juga tinggal di daerah tepi laut Bah, dan dari kecil juga
Padli sudah bisa berenang,” jawab Padli sambil menyendok mie kuahnya. “Tapi kau
tahu cara-cara bantu orang bernapas dari mana”? tanya bang Udin. “Kalau itu
dari Youtube”, jawab Padli singkat. Dia masih fokus dengan mie kuahnya. “Mie
__ADS_1
kuahnya terlalu sedikit, cepat sekali habisnya, sepertinya untuk ukuranku harusnya
masak 2 porsi nih”, pikir Padli.