Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 9


__ADS_3

Bang Udin pulang, dia masuk ke warung dan langsung


selonjoran di dipan setelah sebelumnya menyalami Abah. “Pad, bikinin kopi”


teriak Abah. “Itu yang namanya Padli ya Bah”, tanya bang Udin sambil menunjuk


ke Padli. “Iya, untungnya begitu kau pergi, diapun datang”, jawab Abah lagi.


“Kok bisa pulang”?, tanya Abah. “Aku dapat cuti 5 hari, setelah itu ya balik


lagi kesana”, ujar bang Udin.


Bang Udin adalah adik bungsu dari Mak Lena, dia pernah


menikah, tapi kemudian bercerai karena istrinya pergi meninggalkan rumah dan


menjadi TKI di malaysia. Untungnya saat itu bang Udin belum mempunyai anak.


Tapi kejadian itu membuatnya trauma dan sampai sekarang dia belum berniat


berumah tangga lagi. Sekarang usianya sudah lebih dari 40 tahun, sudah banyak


warga kampung yang menawarkan jodoh kepadanya, namun semuanya ditolak dengan


alasan dia sering berpergian untuk waktu yang lama, karena pekerjaan. Bang Udin


orangnya ramah, dan sedikit royal kalau dia sedang punya uang, karena itu dia


disukai warga kampung.


Inna sejak dari pagi sampai sore hari ini sedikit pendiam,


kalaupun di tanya Padli, jawabannya hanya he..em, e..eh, atau hanya


menganggukkan dan menggelengkan kepala saja. Gemes sih Padli melihatnya, namun


karena ngak biasanya, hal ini membuat Padli curiga. Padli sudah terbiasa dengan


segala tingkah-laku Inna, sehingga perubahan sedikit saja langsung dapat dirasakannya.


Padli : Nna...


Inna : Hemmm..


Padli : Kok gitu jawabnya?


Inna hanya diam


Padli : Kalau abang ada salah, bilang lah


Inna lagi-lagi hanya diam


Padli : Jadi benar ya, abang ada salah. Ya udah abang minta


maaf ya?


Inna : Ngak kok bang, ngak ada apa apa kok.


Padli : Kalau ngak ada apa apa kok dari pagi sikap Nna


begitu?


Inna : Iya bang, ngak ada apa apa, Nna lagi males aja kali.


Padli : Ya udah, maaf kalau abang nganggu ya Nna.

__ADS_1


Inna kembali hanya diam. “Walah ni cewek, lagi PMS (Premenstrual Syndrome) kali ya,” pikir Padli dalam


hati.


Abah meminta bang Udin menjaga warung seharian besok agar


Padli bisa dapat liburan, bang Udin pun setuju, dulunyapun dia yang selalu


menjaga warung menemani Mak Lena. Setelah membuka warung Padli menunggu


kedatangan bang Udin, dia berencana hendak keliling kampung sambil mencari


lapak memancing yang strategis. Diapun membawa alat pancingnya yang dibeli


setelah gajian.


Bang Udin adalah adik bungsu dari Mak Lena, dulu dia pernah


menikah tapi kemudian dia bercerai karena istrinya pergi dan menjadi TKI di Malaysia,


semenjak itu bang Udin mengalami trauma dan tidak menikah lagi. Untungnya saat


itu dia belum mempunyai anak. Banyak warga kampung yang menawarkan jodoh kepada


bang Udin, namun semua di tolaknya dengan alasan dia sering berpergian keluar


kota dengan jangka waktu yang lama karena pekerjaannya.


Bang Udinpun datang dan menyapa Padli, “Pad, apa rencanamu


hari ini”?. “Padli mau jalan-jalan keliling kampung bang, trus sekalian nyari


lapak memancing yang bagus”, ujar Padli. “Kamu jalan aja dari sini ke paluh


ujung (paluh=muara sungai), jangan lupa beli dulu nasi bungkus di warung si Leha,


bilang sama dia aku yang nyuruh, pasti dikasi nya” ujar bang Udin menjelaskan. “Trus


kalau udah dapat sampannya aku kemana bang”, tanya Udin lagi. “Ke seberang aja,


di situ, dibawah pohon kelapa, biasanya aku dapat sembilang (nama Ikan muara) disitu”,


kata bang Udin. Kemudian bang Udin menyelipkan duit 50 ribu ke kantong Padli


sambil mengatakan, “siang ini jangan pulang, makan di luar aja ya”. Padli


merasa terharu, bukan karena pemberian uangnya, melainkan karena perhatian bang


Udin kepada dirinya. Dia merasa semua keluarga Inna adalah orang yang baik.


Padli berjalan dengan santai menyusuri pelataran di pinggir


paluh. Terlihat beberapa bocah bermain dan berenang, mereka asyik melompat dan


terjun dari pelataran. Memang hal yang biasa bagi para bocah kampung Nelayan


ini, mereka sudah pandai berenang sejak kecil. Padli duduk dengan santai sambil


meresapi suasananya.


Di depan terlihat sebuah kapal boat besar melaju dengan


kencang dan menimbulkan gelombang ombak besar di paluh. Seorang bocah yang


kebetulan berada di samping tiang pelataran tersentak dan kepalanya terbentur

__ADS_1


tiang pelataran, bocah tersebut tidak sadarkan diri, tubuhnya perlahan-lahan


mulai tenggelam. Bocah-bocah yang lain tidak ada yang menyadarinya.


Padli terkejut, dia melihat bocah itu mulai tenggelam, lalu


tanpa pikir panjang diapun langsung terjun ke laut dengan memakai pakaian yang


masih lengkap. Bocah tersebut tidak meronta-ronta ketika di bawa Padli karena


sudah pingsan dan dia sudah menyelam cukup dalam juga supaya dapat mengejar


bocah tersebut yang tenggelam dan terbawa arus paluh. Ketika sampai di


permukaan beberapa orang membantunya naik ke pelataran.


Padli panik, bocah itu diam dan terbujur kaku, tidak


bernapas, kemudian Padli melakukan pertolongan darurat dengan menghembuskan


udara melalui mulut si bocah dan kemudian menekan-nekan dada untuk merangsang


pergerakan paru-paru. Akhirnya bocah tersebut tersedak dan memuntahkan air dari


mulutnya, kemudian diapun mulai menangis. Para warga yang melihatnya mulai


bernapas lega. Seorang nelayan memeluk Padli dan mengucapkan terima kasih,


terima kasih, berulang-ulang sambil menangis. Nelayan tersebut bernama Kosim,


dia adalah ayah dari bocah yang tenggelam itu, saat itu kosim sedang duduk merajut


jala dan ngak jauh dari tempat para bocah yang bermain di paluh. Para warga


semua menyalami Padli dan mengucapkan terima kasih. Pak Erik yang berada di


area pelataran pun datang, “Pad, atas nama warga kampung Nelayan sini, saya


mengucapkan terima kasih ya, karena telah menolong anaknya Pak Kosim” kata Pak


Erik yang memang menjadi Kepala Dusun.


Padli pulang ke warung dengan basah kuyub, dia berjalan


melewati pinggiran warung menuju kamar mandi belakang. Abah, bang Udin, dan


Inna memandanginya dengan terbengong. Tak lama kemudian Pak Erik datang menemui


Abah dan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Abah. Akhirnya merekapun mengerti


kenapa Padli pulang dengan basah kuyub.


Setelah selesai mandi, Padli masuk kedalam warung, bang Udin


sudah membuatkan teh manis panas untuknya, dan Inna sudah menyiapkan sepiring Mie


kuah. “memangnya kau pandai berenang Pad,? Dimana belajarnya”? tanya Abah. “Dulu


waktu kecil Bah, Padli juga tinggal di daerah tepi laut Bah, dan dari kecil juga


Padli sudah bisa berenang,” jawab Padli sambil menyendok mie kuahnya. “Tapi kau


tahu cara-cara bantu orang bernapas dari mana”? tanya bang Udin. “Kalau itu


dari Youtube”, jawab Padli singkat. Dia masih fokus dengan mie kuahnya. “Mie

__ADS_1


kuahnya terlalu sedikit, cepat sekali habisnya, sepertinya untuk ukuranku harusnya


masak 2 porsi nih”, pikir Padli.


__ADS_2