
Hari ini Padli gajian, ngak terasa sudah sebulan dia bekerja
di warung. Perasaannya sangat gembira, rasanya sangat berbeda kalau dapat gaji secara
langsung seperti ini. Selama ini pendapatannya dari perusahaan selalu masuk ke
rekeningnya di perusahaan, kemudian dipindah bukukan ke rekeningnya sendiri. Ada
beberapa barang yang hendak dibelinya, salah satunya hp. Hp yang non android,
harganya sekitar 100 ribuan, ngak terlalu mencolok kalau dipakainya, sehingga
komunikasinya dengan Yitno ataupun Irvan adiknya ngak terputus walaupun di
siang hari, karena selama ini hp androidnya selalu dimatikan saat siang.
Ye.. yang udah gajian ya hari ini, hayo.. mikirin apa nih,
goda Inna kepada Padli. “Inna mau dibeliin apa”?, tanya Padli. Beneran nih, mau
traktir?. He..eh.. angguk Padli. Beliin es campurnya bang Mamat boleh?, kata
Inna. Ntar ya siang nanti, nunggu agak sepian warungnya, ujar Padli.
Siang harinya ketika Padli mau keluar untuk membeli es
campur, “Abah mau es campur juga”? tanya Padli kepada Abah. Abah Cuma diam dan
hanya mengangguk saja. Padli berangkat sambil memakai sepeda si Jamal yang
kebetulan terparkir di depan warung sambil tak lupa permisi pada si Jamal.
Di kampung tersebut ngak ada yang menjual hp, walaupun ada
warung yang menjual pulsa, wah.. sepertinya aku harus ke kota kecamatan nih,
untuk berbelanja pikir Padli. Dia juga hendak membeli kelambu, soalnya ngak
tahan juga lama-lama memakai obat anti nyamuk bakar. Setelah membeli es
campurnya sebanyak 3 porsi, Padli pun segera kembali pulang ke warung. Abah
duduk di kursi di belakang meja kasir dengan semangkuk es campurnya, memang
udara siang itu cukup panas dan gerah, “sepertinya nanti malam bakalan turun
hujan”, pikir Abah sambil menyendok es campurnya. Memang es campur bang Mamat
sudah terkenal enak di kampung itu. Inna duduk di belakang steeling makanan,
dan disebelah sampingnya Padli yang di belakang steeling minuman, posisi
keduanya memang berdampingan. “Nna, besok abang mau ke kota kecamatan, Nna mau
dibeliin apalagi”? Tanya Padli.
“Udah bang, ngak usah. Nna belum kepikiran mau apa lagi”,
jawab Inna sambil menyendok es campurnya yang hampir habis. Sekilas diliriknya
es campur di mangkok Padli yang masih banyak, mau minta tapi malu rasanya. “Nna
mau abang beliin Headset ngak”?, tanya Padli. “Ngak usah lah bang, mendingan
__ADS_1
uangnya abang tabung aja dulu, siapa tau nanti perlu”, jawab Inna lagi. “Gak
apa-apa Na, kemaren abang dapat titipan uang jajan dari bang Andi, jadi gaji
abang sama sekali belum tersentuh nih”, jelas Padli dengan sedikit
menyombongkan diri. “Iya bang, ngak usah, Nna masih belum perlu kok, lagian di
hp nya kan sudah ada speakernya”, ujar Inna. Padli dian saja, namun dia bertekad
untuk tetap membelikan Inna headset.
Malam itu dia menghubungi Yitno, minta dibelikan headset
super bass yang original, dan sebuah cincin berlian, dia juga meminta Yitno
mengirimkannya ke kota Kecamatan, karena dia akan berada disana besok.
Mendengar itu malah Yitno berencana akan berangkat sendiri ke kota Kecamatan
sambil membawa beberapa dokumen yang harus ditanda tangani Padli.
Ke esokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah berangkat naik
angkot ke kota Kecamatan. Kemaren dia sudah mendapat izin dari Abah. Abah
mengizinkan dia pergi setelah dia menyelesaikan pekerjaan rutinnya di pagi
hari. Padli baru pertama kali ke kota Kecamatan, dulu sewaktu dia berjalan ke
Kampung Nelayan, dia ngak melewati kota Kecamatan, karena arahnya berbeda.
Kota itu terlihat cukup besar dan lumayan ramai, karena
android, sekaligus dengan kartunya. Setelah membeli hp, dia mencari rumah makan
yang terlihat elit, karena dia mau menunggu Yitno disana.
Yitno datang dengan menaiki mobil mewah, seorang sopir yang
memakai jass turun membukakan pintu untuknya, dia didampingi dua orang
asistennya. (Yitno mempunyai asisten yang juga mempunyai sub asisten
dibawahnya, jadi banyak asisten yang bekerja dengan Yitno. Sementara Padli
hanya punya satu asisten yaitu Yitno).
“Kok ente bisa nyasar kesinilah bro”, keluh Yitno. Dia sudah berjalan beberapa jam dari kantornya
ke kota Kecamatan. Dia terpaksa kemari karena hendak memastikan sendiri bahwa
Padli memang menanda tangani dokumen-dokumen yang dibawanya. Padli langsung
menanda tangani dokumen-dokumennya karena sebelumnya dia sudah membaca dokumen
tersebut belalui e-mail. Setelah itu, Yitno segera memberikan bungkusan berupa
barang-barang yang di pesan Padli. “Kau serius mau memberikan headset ini ke
Inna”, tanya Yitno. Soalnya harga headset ini lebis dari 300 ribu, nanti dia
akan curiga, dari mana uang untuk membelinya, kata Yitno lagi, lagian di kota
__ADS_1
kecil ini mana ada yang menjual headset original kelas premium seperti ini.
“Santai bro, ngak bakalan ketahuan dah”, ujar Padli. Soalnya tuh cewek ngak
hobi nongkrongin toko online buat belanja, malahan setahu Padli di hp nya si
Inna tidak ada terinstal aplikasi toko online. Dia ngak bakalan tahu harga
headset ini yang sebenarnya, ujar Padli lagi. Trus cincin ini gimana?, tanya
Yitno, aku membelinya seharga hampir setengah milyar, mau disimpan dimana tuh
cincin? Trus apa aman kalau kau yang membawanya?, ujar Yitno. Cincin ini urusan
nanti bro, aku serahkan kalau saatnya tepat, kata Padli sambil tersenyum.
Kelakuan mereka menarik perhatian beberapa pengunjung rumah
makan tersebut, karena ketimpangan yang mencolok dimana orang-orang yang
terlihat rapi dan kaya malahan membungkuk di depan seorang pria yang memakai
baju kaos sederhana, dan lagi mereka terlihat akrab. Tapi karena tidak ada
satupun yang mengenal mereka akhirnya merekapun bersikap cuek.
Akhirnya Padli dan Yitno pun berpisah, Yitno berencana
mengelilingi wilayah kota Kecamatan ini sebelum kembali pulang. Sementara itu
Padli mulai sibuk mencari toko yang menjual kelambu. Padli sampai di warung
sebelum siang, Inna belum datang, yang ada Mak Lena sama Abah. Warung terlihat
sepi. “Assalamualaikum, Bah”, sapa Padli kepada Abah, kemudian langsung mencium
tangan Abah dan Mak Lena. “Waalaikum Salam” jawab Abah singkat. Padli segera
menuju bagian steeling minuman sambil gelisah menunggu Inna datang.
Setelah siang, Mak Lena pun pulang, Abah terlihat
terkantuk-kantuk di meja kasir, pelanggan masih sepi. Inna datang dan masuk ke
warung, tak lupa menyalami Abah di meja kasir. Inna terlihat rapi dengan tas
kecil yang diselempangkannya di bahu. Rupanya dia baru pulang dari acara
pertemuan dengan wali murid TK dimana dia mengajar. Inna rupanya kalau pagi
mengajar di TK Islam terpadu di dekat kantor desa, tapi ngak setiap hari, hanya
3 kali seminggu.
Edwin datang bersama teman-temannya, suasana warung langsung
terlihat ramai, Edwin memang pernah melamar Inna langsung kepada Abah, tapi di
tolak sama Abah, namun bukan berarti Edwin ngak boleh datang ke warung,
kenyataannya dia memang sering nongkrong di warung Abah.
Padli kesal karena ngak ada kesempatan berdua dengan si Inna
__ADS_1
untuk menyerahkan headsetnya.