Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 7


__ADS_3

Hari ini Padli gajian, ngak terasa sudah sebulan dia bekerja


di warung. Perasaannya sangat gembira, rasanya sangat berbeda kalau dapat gaji secara


langsung seperti ini. Selama ini pendapatannya dari perusahaan selalu masuk ke


rekeningnya di perusahaan, kemudian dipindah bukukan ke rekeningnya sendiri. Ada


beberapa barang yang hendak dibelinya, salah satunya hp. Hp yang non android,


harganya sekitar 100 ribuan, ngak terlalu mencolok kalau dipakainya, sehingga


komunikasinya dengan Yitno ataupun Irvan adiknya ngak terputus walaupun di


siang hari, karena selama ini hp androidnya selalu dimatikan saat siang.


Ye.. yang udah gajian ya hari ini, hayo.. mikirin apa nih,


goda Inna kepada Padli. “Inna mau dibeliin apa”?, tanya Padli. Beneran nih, mau


traktir?. He..eh.. angguk Padli. Beliin es campurnya bang Mamat boleh?, kata


Inna. Ntar ya siang nanti, nunggu agak sepian warungnya, ujar Padli.


Siang harinya ketika Padli mau keluar untuk membeli es


campur, “Abah mau es campur juga”? tanya Padli kepada Abah. Abah Cuma diam dan


hanya mengangguk saja. Padli berangkat sambil memakai sepeda si Jamal yang


kebetulan terparkir di depan warung sambil tak lupa permisi pada si Jamal.


Di kampung tersebut ngak ada yang menjual hp, walaupun ada


warung yang menjual pulsa, wah.. sepertinya aku harus ke kota kecamatan nih,


untuk berbelanja pikir Padli. Dia juga hendak membeli kelambu, soalnya ngak


tahan juga lama-lama memakai obat anti nyamuk bakar. Setelah membeli es


campurnya sebanyak 3 porsi, Padli pun segera kembali pulang ke warung. Abah


duduk di kursi di belakang meja kasir dengan semangkuk es campurnya, memang


udara siang itu cukup panas dan gerah, “sepertinya nanti malam bakalan turun


hujan”, pikir Abah sambil menyendok es campurnya. Memang es campur bang Mamat


sudah terkenal enak di kampung itu. Inna duduk di belakang steeling makanan,


dan disebelah sampingnya Padli yang di belakang steeling minuman, posisi


keduanya memang berdampingan. “Nna, besok abang mau ke kota kecamatan, Nna mau


dibeliin apalagi”? Tanya Padli.


“Udah bang, ngak usah. Nna belum kepikiran mau apa lagi”,


jawab Inna sambil menyendok es campurnya yang hampir habis. Sekilas diliriknya


es campur di mangkok Padli yang masih banyak, mau minta tapi malu rasanya. “Nna


mau abang beliin Headset ngak”?, tanya Padli. “Ngak usah lah bang, mendingan

__ADS_1


uangnya abang tabung aja dulu, siapa tau nanti perlu”, jawab Inna lagi. “Gak


apa-apa Na, kemaren abang dapat titipan uang jajan dari bang Andi, jadi gaji


abang sama sekali belum tersentuh nih”, jelas Padli dengan sedikit


menyombongkan diri. “Iya bang, ngak usah, Nna masih belum perlu kok, lagian di


hp nya kan sudah ada speakernya”, ujar Inna. Padli dian saja, namun dia bertekad


untuk tetap membelikan Inna headset.


Malam itu dia menghubungi Yitno, minta dibelikan headset


super bass yang original, dan sebuah cincin berlian, dia juga meminta Yitno


mengirimkannya ke kota Kecamatan, karena dia akan berada disana besok.


Mendengar itu malah Yitno berencana akan berangkat sendiri ke kota Kecamatan


sambil membawa beberapa dokumen yang harus ditanda tangani Padli.


Ke esokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah berangkat naik


angkot ke kota Kecamatan. Kemaren dia sudah mendapat izin dari Abah. Abah


mengizinkan dia pergi setelah dia menyelesaikan pekerjaan rutinnya di pagi


hari. Padli baru pertama kali ke kota Kecamatan, dulu sewaktu dia berjalan ke


Kampung Nelayan, dia ngak melewati kota Kecamatan, karena arahnya berbeda.


Kota itu terlihat cukup besar dan lumayan ramai, karena


android, sekaligus dengan kartunya. Setelah membeli hp, dia mencari rumah makan


yang terlihat elit, karena dia mau menunggu Yitno disana.


Yitno datang dengan menaiki mobil mewah, seorang sopir yang


memakai jass turun membukakan pintu untuknya, dia didampingi dua orang


asistennya. (Yitno mempunyai asisten yang juga mempunyai sub asisten


dibawahnya, jadi banyak asisten yang bekerja dengan Yitno. Sementara Padli


hanya punya satu asisten yaitu Yitno).


“Kok ente bisa nyasar kesinilah bro”, keluh Yitno.  Dia sudah berjalan beberapa jam dari kantornya


ke kota Kecamatan. Dia terpaksa kemari karena hendak memastikan sendiri bahwa


Padli memang menanda tangani dokumen-dokumen yang dibawanya. Padli langsung


menanda tangani dokumen-dokumennya karena sebelumnya dia sudah membaca dokumen


tersebut belalui e-mail. Setelah itu, Yitno segera memberikan bungkusan berupa


barang-barang yang di pesan Padli. “Kau serius mau memberikan headset ini ke


Inna”, tanya Yitno. Soalnya harga headset ini lebis dari 300 ribu, nanti dia


akan curiga, dari mana uang untuk membelinya, kata Yitno lagi, lagian di kota

__ADS_1


kecil ini mana ada yang menjual headset original kelas premium seperti ini.


“Santai bro, ngak bakalan ketahuan dah”, ujar Padli. Soalnya tuh cewek ngak


hobi nongkrongin toko online buat belanja, malahan setahu Padli di hp nya si


Inna tidak ada terinstal aplikasi toko online. Dia ngak bakalan tahu harga


headset ini yang sebenarnya, ujar Padli lagi. Trus cincin ini gimana?, tanya


Yitno, aku membelinya seharga hampir setengah milyar, mau disimpan dimana tuh


cincin? Trus apa aman kalau kau yang membawanya?, ujar Yitno. Cincin ini urusan


nanti bro, aku serahkan kalau saatnya tepat, kata Padli sambil tersenyum.


Kelakuan mereka menarik perhatian beberapa pengunjung rumah


makan tersebut, karena ketimpangan yang mencolok dimana orang-orang yang


terlihat rapi dan kaya malahan membungkuk di depan seorang pria yang memakai


baju kaos sederhana, dan lagi mereka terlihat akrab. Tapi karena tidak ada


satupun yang mengenal mereka akhirnya merekapun bersikap cuek.


Akhirnya Padli dan Yitno pun berpisah, Yitno berencana


mengelilingi wilayah kota Kecamatan ini sebelum kembali pulang. Sementara itu


Padli mulai sibuk mencari toko yang menjual kelambu. Padli sampai di warung


sebelum siang, Inna belum datang, yang ada Mak Lena sama Abah. Warung terlihat


sepi. “Assalamualaikum, Bah”, sapa Padli kepada Abah, kemudian langsung mencium


tangan Abah dan Mak Lena. “Waalaikum Salam” jawab Abah singkat. Padli segera


menuju bagian steeling minuman sambil gelisah menunggu Inna datang.


Setelah siang, Mak Lena pun pulang, Abah terlihat


terkantuk-kantuk di meja kasir, pelanggan masih sepi. Inna datang dan masuk ke


warung, tak lupa menyalami Abah di meja kasir. Inna terlihat rapi dengan tas


kecil yang diselempangkannya di bahu. Rupanya dia baru pulang dari acara


pertemuan dengan wali murid TK dimana dia mengajar. Inna rupanya kalau pagi


mengajar di TK Islam terpadu di dekat kantor desa, tapi ngak setiap hari, hanya


3 kali seminggu.


Edwin datang bersama teman-temannya, suasana warung langsung


terlihat ramai, Edwin memang pernah melamar Inna langsung kepada Abah, tapi di


tolak sama Abah, namun bukan berarti Edwin ngak boleh datang ke warung,


kenyataannya dia memang sering nongkrong di warung Abah.


Padli kesal karena ngak ada kesempatan berdua dengan si Inna

__ADS_1


untuk menyerahkan headsetnya.


__ADS_2