Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
BULAN MADU DI BALI


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan jam 11.30 malam, mereka tiba di Bandara Ngurah-rai Bali.


Perjalanan tersebut sangat menyenangkan bagi Inna, ketakutannya sewaktu


memasuki pesawat ternyata tidak berlangsung lama, dia malah ayik memandang ke


bawah melalui jendela pesawat, melihat petak-petak sawah yang terlihat kecil,


memandang dengan takjub batas antara lautan dengan daratan. Inna seperti anak


kecil, berteriak memanggil-manggil Padli untuk memperlihatkan sesuatu.


Untungnya mereka hanya berdua saja di dalam pesawat. Padli membiarkan saja


kelakuan Inna tersebut sambil tersenyum.


Setelah dari perjalanan panjang, merekapun memasuki hotel berbintang di Bali. Ketika


memasuki kamar hotel, Inna baru saja sadar apa yang telah terjadi, dia langsung


merasa gugup, karena seumur hidupnya baru kali ini dia berada di dalam kamar


hanya berdua dengan seorang pria yang bukan keluarganya. Dia memang sering


berduaan dengan Padli, tapi itukan di warung bukan di dalam kamar. Inna hanya


duduk terdiam di sofa kamar tersebut. Padli pun sebenarnya juga merasa gugup,


dia juga baru pertama kali ini berduaan dengan seorang wanita di dalam kamar,


namun karena dia lebih dewasa dan pengalamannya tinggal di kota besar membuat


dia lebih memahami siatuasinya. Akhirnya Padli memilih untuk mandi, dia membuka


baju dan celananya, kemudian melilitkan handuk menuju kamar mandi. Inna segera


membuang mukanya melihat hal tersebut, namun begitu tampak sekilas pandangannya


menatap tubuh suaminya tersebut, tubuh yang ramping dan atletis, dengan dada


yang bidang, pipi Inna merona seketika membayangkannya.


“ Nna, abang mandi dulu ya, abis itu Nna juga mandi. Atau Nna mau kita mandi


bersama?” tanya Padli polos. “Ngak-ngak, abang duluan aja, Nna mandi setelah


abang aja”, jawab Inna gugup.


Setelah Padli keluar dari kamar mandi, Inna pun langsung masuk ke kamar mandi dengan


membawa semua pakaian gantinya. Tak lama kemudian Inna selesai dan keluar dari


kamar mandi. Dia memakai pakaian piyama yang tipis. Lekuk-lekuk tubuhnya


tercetak di baju tersebut, walaupun dia masih memakai jilbabnya.


Padli terperangah memandanginya, perlahan dia mendekati Inna, membelai pipinya dan


melepas jilbab Inna. Inna hanya diam membeku, badannya gemetaran, teringat


pesan emak yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Padli adalah halal, dan


memang sudah menjadi haknya.


Padli memandangi wajah Inna, membelai rambutnya yang lebat yang dipotong sebahu,


melihat bulu matanya yang lentik, dengan mata yang separuh terpejam, Bibir Inna

__ADS_1


yang mungil dan tanpa sadar Padli mengecup bibir itu. Lagi lagi Inna terdiam,


dia mau memberontak, tapi tubuhnya ngak mau bergerak, malahan tanpa dapat


ditahan, diapun membalas ciuman Padli yang semakin lama semakin panas.


Titititit...  Titititit.....


Ponsel Padli berbunyi, merekapun tersadar, Padli segera mengambil hp nya. Rupanya


Yitno yang menelpon, menanyakan kabar mereka dan sekaligus melaporkan Irvan


sudah diantarnya pulang, dan dia besok sudah mulai bekerja. Padli menutup


telpon dengan perasaan dongkol. Inna yang tersadar, segera ke tempat tidur,


menutup wajahnya dengan selimut karena malu. Padli tersenyum geli melihatnya.


Malam itu mereka tidur tanpa ada terjadi sesuatu.


Ketika waktu subuh, Padli terbangun, dia lantas membangunkan Inna untuk sholat subuh.


Merekapun sholat berjamaah. Karena merasa masih ngantuk Padli kembali


melanjutkan tidurnya, dia naik ke pembaringan di ikuti Inna. Inna kemudian


memeluknya dari belakang, napas Inna terasa membelai tengkuk Padli, membuat


Padli merinding sekaligus membangkitkan kejantanannya. Padli berbalik menatap


Inna, kemudian mencium bibir mungil Inna, Inna membiarkannya dengan pasrah


bahkan sedikit melawan ketika Padli mulai menciumnya dengan ganas.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat Padli semakin berani, dia mulai menciumi


membuka kancing kemeja piyama Inna. Inna membiarkan saja semua perlakukan Padli


terhadap dirinya, dia sudah berada di antara sadar dan tidak karena rangsangan


yang diterimanya, dia mulai meringis kesakitan ketika merasakan sesuatu yang


ada di tubuh Padli menerobos masuk kedalam dirinya... Dan akhirnya mereka


melakukan hubungan suami istri, sesuatu yang sudah halal mereka lakukan.


Pagi harinya Inna terbangun, seluruh badannya terasa sakit, khususnya didaerah


pangkal pahanya, dia terkejut ketika melihat dirinya tertidur dengan badan


telanjang, hanya di tutupi oleh selimut. Langsung saja dia menarik seluruh


selimut untuk menutupi badannya dan segera berlari menuju kamar mandi, tak lupa


ia membawa pakaian gantinya. Padli terbangun karena gerakan tersebut, dia


melihat ke arah sprei yang ditiduri Inna. Terlihat ada bercak noda darah


disana. Padli hanya tersenyum, dan menyeringai, teringat akan kejadian semalam.


Inna keluar dari kamar mandi dengan tertunduk malu, tak sanggup ia melihat muka


Padli yang memandangnya dengan menggoda. Setelah mereka mandi dan berberes,


akhirnya mereka keluar kamar untuk pergi sarapan di hotel. Perut mereka memang


sudah keroncongan.

__ADS_1


Inna dan Padli berjalan bergandengan tangan menyusuri pasir pantai yang putih di


Jimbaran Beach Bali. Orang-orang melihat mereka dengan tersenyum. “Sungguh


pasangan yang serasi” pikir mereka.


Padli : Nna, masih sakit Nna badannya?


Inna : Dah ngak lagi kok bang. (Inna tertunduk malu)


Padli : Nna ngak marah kan sama abang?


Inna : Ngak kok bang, kan Nna ini istri abang.


Padli : Habisnya Nna seperti itu, abang jadi ngak tahan.


Inna : Nna pun suka kok, nanti kalau kita tidur, Nna bolehkan peluk-peluk abang?


Padli : Boleh.. boleh, tapi kalau terjadi kejadian seperti tadi subuh, gak apa apa


kan?


Inna : Ih abang, Nna kan jadi malu. (Dia berjalan mendahului Padli)


Padli menyewa sebuah kapal boat untuk mereka berkeling sepanjang pantai itu,


Inna sangat menikmatinya. Dia berdiri di anjungan kapal, jilbab hijau mudanya


berkibaran tertiup angin. Dia memandang ke arah pantai, dimana banyak


orang-orang yang bersantai di atas pasir pantai.


Inna : Pantai disini sangat Indah bang, kok beda ya dengan di kampung? Padahal


kan sama-sama tepi laut.


Padli : Kalau di kampung Nna, banyak tanaman bakaunya di pinggiran laut, sehingga


pantainya tidak berpasir seperti ini. Sebenarnya tanaman bakau tersebut sangat


penting bagi kehidupan hewani, karena disitulah ikan-ikan banyak bertelur.


Inna : Tapi disni memang cantik ya bang, juga bersih.


Padli : Pantai ini udah taraf Internasional Nna, jadi memang sangat dijaga


kebersihannya. Orang-orang ngak boleh sembarangan buang sampah disini.


Mereka berjalan-jalan di sepanjang pantai sampai akhirnya mereka memasuki restoran


seafood untuk makan siang. Menunya sangat menggugah selera, Inna menghabiskan


makanannya dengan perasaan puas. Setelah makan siang, mereka kembali ke hotel


untuk membersihkan diri dan mengerjakan sholat Dzuhur berjamaah.


Setelah sholat, Padli berbaring di pembaringan untuk sedikit melepaskan lelah,


sepanjang hari itu energinya sudah lumayan terkuras. Inna berbaring


disampingnya, kemudian memeluknya, mencium pipinya, kemudian bibir mereka


kembali berpaut. Padli kembali tak dapat menahan dirinya, dan akhirnya dia


mulai menindih Inna, menciumi seluruh wajah mungil tersebut dan kemudian


memasuki tubuh Inna. Mereka terkapar kelelahan dan tertidur sambil berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2