
Waktu telah menunjukkan jam 11.30 malam, mereka tiba di Bandara Ngurah-rai Bali.
Perjalanan tersebut sangat menyenangkan bagi Inna, ketakutannya sewaktu
memasuki pesawat ternyata tidak berlangsung lama, dia malah ayik memandang ke
bawah melalui jendela pesawat, melihat petak-petak sawah yang terlihat kecil,
memandang dengan takjub batas antara lautan dengan daratan. Inna seperti anak
kecil, berteriak memanggil-manggil Padli untuk memperlihatkan sesuatu.
Untungnya mereka hanya berdua saja di dalam pesawat. Padli membiarkan saja
kelakuan Inna tersebut sambil tersenyum.
Setelah dari perjalanan panjang, merekapun memasuki hotel berbintang di Bali. Ketika
memasuki kamar hotel, Inna baru saja sadar apa yang telah terjadi, dia langsung
merasa gugup, karena seumur hidupnya baru kali ini dia berada di dalam kamar
hanya berdua dengan seorang pria yang bukan keluarganya. Dia memang sering
berduaan dengan Padli, tapi itukan di warung bukan di dalam kamar. Inna hanya
duduk terdiam di sofa kamar tersebut. Padli pun sebenarnya juga merasa gugup,
dia juga baru pertama kali ini berduaan dengan seorang wanita di dalam kamar,
namun karena dia lebih dewasa dan pengalamannya tinggal di kota besar membuat
dia lebih memahami siatuasinya. Akhirnya Padli memilih untuk mandi, dia membuka
baju dan celananya, kemudian melilitkan handuk menuju kamar mandi. Inna segera
membuang mukanya melihat hal tersebut, namun begitu tampak sekilas pandangannya
menatap tubuh suaminya tersebut, tubuh yang ramping dan atletis, dengan dada
yang bidang, pipi Inna merona seketika membayangkannya.
“ Nna, abang mandi dulu ya, abis itu Nna juga mandi. Atau Nna mau kita mandi
bersama?” tanya Padli polos. “Ngak-ngak, abang duluan aja, Nna mandi setelah
abang aja”, jawab Inna gugup.
Setelah Padli keluar dari kamar mandi, Inna pun langsung masuk ke kamar mandi dengan
membawa semua pakaian gantinya. Tak lama kemudian Inna selesai dan keluar dari
kamar mandi. Dia memakai pakaian piyama yang tipis. Lekuk-lekuk tubuhnya
tercetak di baju tersebut, walaupun dia masih memakai jilbabnya.
Padli terperangah memandanginya, perlahan dia mendekati Inna, membelai pipinya dan
melepas jilbab Inna. Inna hanya diam membeku, badannya gemetaran, teringat
pesan emak yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Padli adalah halal, dan
memang sudah menjadi haknya.
Padli memandangi wajah Inna, membelai rambutnya yang lebat yang dipotong sebahu,
melihat bulu matanya yang lentik, dengan mata yang separuh terpejam, Bibir Inna
__ADS_1
yang mungil dan tanpa sadar Padli mengecup bibir itu. Lagi lagi Inna terdiam,
dia mau memberontak, tapi tubuhnya ngak mau bergerak, malahan tanpa dapat
ditahan, diapun membalas ciuman Padli yang semakin lama semakin panas.
Titititit... Titititit.....
Ponsel Padli berbunyi, merekapun tersadar, Padli segera mengambil hp nya. Rupanya
Yitno yang menelpon, menanyakan kabar mereka dan sekaligus melaporkan Irvan
sudah diantarnya pulang, dan dia besok sudah mulai bekerja. Padli menutup
telpon dengan perasaan dongkol. Inna yang tersadar, segera ke tempat tidur,
menutup wajahnya dengan selimut karena malu. Padli tersenyum geli melihatnya.
Malam itu mereka tidur tanpa ada terjadi sesuatu.
Ketika waktu subuh, Padli terbangun, dia lantas membangunkan Inna untuk sholat subuh.
Merekapun sholat berjamaah. Karena merasa masih ngantuk Padli kembali
melanjutkan tidurnya, dia naik ke pembaringan di ikuti Inna. Inna kemudian
memeluknya dari belakang, napas Inna terasa membelai tengkuk Padli, membuat
Padli merinding sekaligus membangkitkan kejantanannya. Padli berbalik menatap
Inna, kemudian mencium bibir mungil Inna, Inna membiarkannya dengan pasrah
bahkan sedikit melawan ketika Padli mulai menciumnya dengan ganas.
Mendapat perlakuan seperti itu membuat Padli semakin berani, dia mulai menciumi
membuka kancing kemeja piyama Inna. Inna membiarkan saja semua perlakukan Padli
terhadap dirinya, dia sudah berada di antara sadar dan tidak karena rangsangan
yang diterimanya, dia mulai meringis kesakitan ketika merasakan sesuatu yang
ada di tubuh Padli menerobos masuk kedalam dirinya... Dan akhirnya mereka
melakukan hubungan suami istri, sesuatu yang sudah halal mereka lakukan.
Pagi harinya Inna terbangun, seluruh badannya terasa sakit, khususnya didaerah
pangkal pahanya, dia terkejut ketika melihat dirinya tertidur dengan badan
telanjang, hanya di tutupi oleh selimut. Langsung saja dia menarik seluruh
selimut untuk menutupi badannya dan segera berlari menuju kamar mandi, tak lupa
ia membawa pakaian gantinya. Padli terbangun karena gerakan tersebut, dia
melihat ke arah sprei yang ditiduri Inna. Terlihat ada bercak noda darah
disana. Padli hanya tersenyum, dan menyeringai, teringat akan kejadian semalam.
Inna keluar dari kamar mandi dengan tertunduk malu, tak sanggup ia melihat muka
Padli yang memandangnya dengan menggoda. Setelah mereka mandi dan berberes,
akhirnya mereka keluar kamar untuk pergi sarapan di hotel. Perut mereka memang
sudah keroncongan.
__ADS_1
Inna dan Padli berjalan bergandengan tangan menyusuri pasir pantai yang putih di
Jimbaran Beach Bali. Orang-orang melihat mereka dengan tersenyum. “Sungguh
pasangan yang serasi” pikir mereka.
Padli : Nna, masih sakit Nna badannya?
Inna : Dah ngak lagi kok bang. (Inna tertunduk malu)
Padli : Nna ngak marah kan sama abang?
Inna : Ngak kok bang, kan Nna ini istri abang.
Padli : Habisnya Nna seperti itu, abang jadi ngak tahan.
Inna : Nna pun suka kok, nanti kalau kita tidur, Nna bolehkan peluk-peluk abang?
Padli : Boleh.. boleh, tapi kalau terjadi kejadian seperti tadi subuh, gak apa apa
kan?
Inna : Ih abang, Nna kan jadi malu. (Dia berjalan mendahului Padli)
Padli menyewa sebuah kapal boat untuk mereka berkeling sepanjang pantai itu,
Inna sangat menikmatinya. Dia berdiri di anjungan kapal, jilbab hijau mudanya
berkibaran tertiup angin. Dia memandang ke arah pantai, dimana banyak
orang-orang yang bersantai di atas pasir pantai.
Inna : Pantai disini sangat Indah bang, kok beda ya dengan di kampung? Padahal
kan sama-sama tepi laut.
Padli : Kalau di kampung Nna, banyak tanaman bakaunya di pinggiran laut, sehingga
pantainya tidak berpasir seperti ini. Sebenarnya tanaman bakau tersebut sangat
penting bagi kehidupan hewani, karena disitulah ikan-ikan banyak bertelur.
Inna : Tapi disni memang cantik ya bang, juga bersih.
Padli : Pantai ini udah taraf Internasional Nna, jadi memang sangat dijaga
kebersihannya. Orang-orang ngak boleh sembarangan buang sampah disini.
Mereka berjalan-jalan di sepanjang pantai sampai akhirnya mereka memasuki restoran
seafood untuk makan siang. Menunya sangat menggugah selera, Inna menghabiskan
makanannya dengan perasaan puas. Setelah makan siang, mereka kembali ke hotel
untuk membersihkan diri dan mengerjakan sholat Dzuhur berjamaah.
Setelah sholat, Padli berbaring di pembaringan untuk sedikit melepaskan lelah,
sepanjang hari itu energinya sudah lumayan terkuras. Inna berbaring
disampingnya, kemudian memeluknya, mencium pipinya, kemudian bibir mereka
kembali berpaut. Padli kembali tak dapat menahan dirinya, dan akhirnya dia
mulai menindih Inna, menciumi seluruh wajah mungil tersebut dan kemudian
memasuki tubuh Inna. Mereka terkapar kelelahan dan tertidur sambil berpelukan.
__ADS_1