
Pagi itu Padli mulai menjalankan perannya sebagai karyawan
warung kopi, beberapa pelanggan sudah datang dan memesan kopi sambil makan
gorengan yang dibuat Mak Lena. Warung mulai ramai, para nelayan terbiasa minum
kopi atau teh hangat sebelum berangkat ke laut untuk mencari ikan. Mak Lenapun
terlihat sibuk dan Abah terlihat mengobrol dengan beberapa pelanggan.
“Bah, itu siapa Bah”, tanya seorang pelanggan kepada Abah
sambil menunjuk kepada Padli. Abah terdiam, baru sadar bahwa dia ngak tau
apa-apa mengenai Padli. Nanti harus ku interogasi lagi anak itu, katanya dalam
hati. Itu anak saudaraku, dia mau merantau ke kota cari kerja, tapi sebelumnya
mampir dulu ke tempatku, jadi sekalian aja kutawari kerja disini untuk
sementara, kata Abah sambil berbohong, dia merasa belum perlu menceritakan
kejadian yang sebenarnya kepada orang-orang tentang Padli. Ngak cocok dia
disini Bah, kulitnya putih dan halus, cocoknya kerja kantoran aja, komentar
pelanggan yang lain. Walaupun ke kota tapi pendidikannya rendah, yah sama aja,
paling juga Cuma jadi buruh kasar aja disana, komentar pelanggan yang lain
lagi.
Hari pun menjelang siang, warung tidak terlalu ramai, hanya
terlihat dua orang aja pelanggan yang datang. Abah sedang sibuk mengurut
kakinya dengan minyak param, kakinya sedikit ngilu karena udara dingin. Seorang
perempuan masuk dan langsung mencium tangan Abah. Padli terbengong melihatnya,
perempuan tersebut memakai Jilbab yang sederhana, namun menutupi semua
rambutnya, dan memakai kaos lengan panjang. Baju kaos nya longgar dan panjang
kebawah sampai hampir ke lutut, dia juga memakai celana panjang, sepatu dan
kaos kaki. Perempuan tersebut berkulit putih dengan wajah yang lembut, bulu
matanya yang lebat dan lentik membuat paras wajahnya sangat menawan.
Deg..deg..deg.....
Padli merasa jantungnya berdebar dengan keras, selama
hidupnya belum pernah dia melihat wanita secantik ini. Memang kalau di kota,
banyak wanita cantik, tapi tentu saja bukan kecantikan alami, kecantikan yang
sudah berbalut make up, dan gaya yang dibuat-buat untuk menjaga imej. Bagi
Padli yang baru pertama kali bertemu seorang wanita cantik yang sederhana,
membuat suprise dalam dirinya. Inna itu bukan hanya catik, tapi juga manis,
dengan gayanya yang lembut dan tatapannya dengan mata yang separuh terpejam,
__ADS_1
membuat tampilannya menjadi sangat berbeda. “Na, itu namanya Padli”, kata Abah
sambil menunjuk ke arah Padli. Dia kerja disini jagain minum dan juga dia tidur
disini kalau malam, ujar Abah lagi. Inna hanya melirik sekilas aja, sedangkan
Padli masih tetap terbengong.
Karena Inna sudah datang, Mak Lena pun bersiap-siap mau
pulang, “In, mak tadi belum buat sambal gilingnya, tolong kau buat ya”, kata
Mak Lena sambil berlalu. Ya mak, jawab Inna. Kemudian diapun berjalan menuju steeling
makanan, dan mulai bekerja.
Padli berjalan menuju Abah, dan duduk di kursi disamping
Abah. “Itu anakku, namanya Inna”, kata Abah. Dia sudah tamat sekolah, sekarang
kerjanya bantuin warung sambil sekali-kali ngajar ngaji anak-anak di kampung
sini. Abah punya 2 orang anak, kata Abah lagi, Laki-laki dan perempuan, yang
laki-laki sudah menikah dan sekarang tinggal dan bekerja di Batam, dia seumuran
dengan mu. “Pad, sebelumnya kau tinggal dimana”?, tanya Abah. Padli bingung mau
menjawab pertanyaan Abah, dalam pikirannya, kalau dia berkata jujur, bisa jadi
Abah akan tersinggung dan nanti malah mengusirnya. “Padli dari kampung Bah,
sudah lama merantau ke kota, ngak dapat kerjaan, malah jadi seperti gelandangan
aja, kesana kemari”, jawab Padli dengan berbohong. “Terus keluargamu dimana”?
Bapak sudah meninggal, sekarang tinggal ibu saja di rumah sama adik ku yang
laki-laki.
Padli merasa sedikit bersalah karena berbohong sama Abah,
tapi yah, mau gimana lagi semuanya sudah terlanjur terjadi.
Menjelang sore warung kembali ramai, sebagian nelayan ada
yang sudah pulang dari laut. Tidak lama kemudian terdengar derumman sepeda
motor yang berhenti di depan warung, motornya masih baru, belum ada plat
nomornya. Si pengendaranya turun dan memasuki warung, seorang pria seumuran
dengan Inna, tapi bergaya trendy tapi norak, sepatu bot, celana jeans, baju
kemeja dengan lengan tergulung, kacing atas terbuka, dan kacamata hitam
terselip di bajunya, dia langsung menyalami Abah dengan cara mencium tangan
Abah. Assalamualaikum Bah.. “Waalaikum salam” jawab Abah. Sepertinya Abah cukup
di hormati di kampung ini. Para pelanggan warung memandang pria tersebut dengan
tatapan tak suka, tapi mereka hanya diam saja melihat tingkah dan gaya si pria
tersebut.
__ADS_1
“Eh..Bah, siapa dia Bah”?, tanya pria tersebut kepada Abah
sambil menunjuk kepada Padli. “Ponaanku”, jawab Abah dengan singkat. Si pria
tersebut dengan gayanya langsung menyapa Inna, “eh.. adekku, tolong buatin mie
instant ama kopi ya”, katanya dengan manis. Inna hanya menundukkan kepala,
tanpa menjawab dan langsung membuat pesanan pria tersebut. Ngak lama kemudian
si pria langsung bergabung dengan para pelanggan dan mendominasi percakapan
mereka.
Dari percakapan mereka di ketahui bahwa si pria tersebut
bernama Edwin, anaknya pak Erik yang menjadi Kadus (Kepala dusun) dan juga
mempunyai banyak kapal bot di kampung ini. Para nelayan banyak yang bekerja
dengan Pak Erik sebagai nelayan harian dengan cara membawa kapal botnya Pak
Erik. Si Edwin sepertinya menyukai si Inna, karena terlihat dia sering
memandangi si Inna.
Waktu sudah menjelang maghrib, para pelanggan sudah mulai
berpulangan, Inna pun sudah mulai bersiap-siap untuk pulang. Karena di warung
sudah ada yang jaga malam, sehingga mereka ngak perlu lagi membawa
barang-barang pulang, “yah sekarang aku akan di tinggal sendiri”, ujar Padli
dalam hati. Sedari siang tadi, dia belum ada kesempatan mengobrol dengan si
Inna, walaupun pada beberapa kesempatan, dia selalu menyempatkan diri untuk
melihat si Inna. Entah kenapa, melihat si Inna sudah menjadi candu bagi Padli.
Sudah waktunya sholat maghrib, Padli mengunci pintu warung
dan bersiap ke mushola. Tadi siang dia sudah mendapat sepasang baju kaos dan
celana panjang, untungnya ukurannya pass ketika di pakai. Malam ini dia tidur
di dipan warung yang dilapisi tikar pandan. Biasanya tempat itu dipakai para
pelanggan untuk duduk berselonjor setelah makan, dipannya lumayan besar, yang
jadi masalah adalah nyamuknya yang lumayan banyak. Warung Abah memiliki dinding
separuh papan, sementara sebelah atasnya hanyalah jaring kawat biasa aja,
memang hal ini membuat ruangan dalam menjadi dingin, karena angin bebas keluar
masuk, tapi begitu juga dengan nyamuknya. Padli ngak punya uang untuk sekedar
membeli obat nyamuk bakar.
Beberapa orang menyapanya ketika Padli berjalan menuju
mushola. “Kampung yang ramah, padahal aku baru beberapa hari disini, tapi sudah
banyak yang mengenalku”, pikir Padli. Di depan terlihat Abah Sholeh berjalan
__ADS_1
menuju mushola dengan terpincang-pincang, Padli langsung menghampirinya dan mereka
beriringan menuju mushola.