Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 3


__ADS_3

Pagi itu Padli mulai menjalankan perannya sebagai karyawan


warung kopi, beberapa pelanggan sudah datang dan memesan kopi sambil makan


gorengan yang dibuat Mak Lena. Warung mulai ramai, para nelayan terbiasa minum


kopi atau teh hangat sebelum berangkat ke laut untuk mencari ikan. Mak Lenapun


terlihat sibuk dan Abah terlihat mengobrol dengan beberapa pelanggan.


“Bah, itu siapa Bah”, tanya seorang pelanggan kepada Abah


sambil menunjuk kepada Padli. Abah terdiam, baru sadar bahwa dia ngak tau


apa-apa mengenai Padli. Nanti harus ku interogasi lagi anak itu, katanya dalam


hati. Itu anak saudaraku, dia mau merantau ke kota cari kerja, tapi sebelumnya


mampir dulu ke tempatku, jadi sekalian aja kutawari kerja disini untuk


sementara, kata Abah sambil berbohong, dia merasa belum perlu menceritakan


kejadian yang sebenarnya kepada orang-orang tentang Padli. Ngak cocok dia


disini Bah, kulitnya putih dan halus, cocoknya kerja kantoran aja, komentar


pelanggan yang lain. Walaupun ke kota tapi pendidikannya rendah, yah sama aja,


paling juga Cuma jadi buruh kasar aja disana, komentar pelanggan yang lain


lagi.


Hari pun menjelang siang, warung tidak terlalu ramai, hanya


terlihat dua orang aja pelanggan yang datang. Abah sedang sibuk mengurut


kakinya dengan minyak param, kakinya sedikit ngilu karena udara dingin. Seorang


perempuan masuk dan langsung mencium tangan Abah. Padli terbengong melihatnya,


perempuan tersebut memakai Jilbab yang sederhana, namun menutupi semua


rambutnya, dan memakai kaos lengan panjang. Baju kaos nya longgar dan panjang


kebawah sampai hampir ke lutut, dia juga memakai celana panjang, sepatu dan


kaos kaki. Perempuan tersebut berkulit putih dengan wajah yang lembut, bulu


matanya yang lebat dan lentik membuat paras wajahnya sangat menawan.


Deg..deg..deg.....


Padli merasa jantungnya berdebar dengan keras, selama


hidupnya belum pernah dia melihat wanita secantik ini. Memang kalau di kota,


banyak wanita cantik, tapi tentu saja bukan kecantikan alami, kecantikan yang


sudah berbalut make up, dan gaya yang dibuat-buat untuk menjaga imej. Bagi


Padli yang baru pertama kali bertemu seorang wanita cantik yang sederhana,


membuat suprise dalam dirinya. Inna itu bukan hanya catik, tapi juga manis,


dengan gayanya yang lembut dan tatapannya dengan mata yang separuh terpejam,

__ADS_1


membuat tampilannya menjadi sangat berbeda. “Na, itu namanya Padli”, kata Abah


sambil menunjuk ke arah Padli. Dia kerja disini jagain minum dan juga dia tidur


disini kalau malam, ujar Abah lagi. Inna hanya melirik sekilas aja, sedangkan


Padli masih tetap terbengong.


Karena Inna sudah datang, Mak Lena pun bersiap-siap mau


pulang, “In, mak tadi belum buat sambal gilingnya, tolong kau buat ya”, kata


Mak Lena sambil berlalu. Ya mak, jawab Inna. Kemudian diapun berjalan menuju steeling


makanan, dan mulai bekerja.


Padli berjalan menuju Abah, dan duduk di kursi disamping


Abah. “Itu anakku, namanya Inna”, kata Abah. Dia sudah tamat sekolah, sekarang


kerjanya bantuin warung sambil sekali-kali ngajar ngaji anak-anak di kampung


sini. Abah punya 2 orang anak, kata Abah lagi, Laki-laki dan perempuan, yang


laki-laki sudah menikah dan sekarang tinggal dan bekerja di Batam, dia seumuran


dengan mu. “Pad, sebelumnya kau tinggal dimana”?, tanya Abah. Padli bingung mau


menjawab pertanyaan Abah, dalam pikirannya, kalau dia berkata jujur, bisa jadi


Abah akan tersinggung dan nanti malah mengusirnya. “Padli dari kampung Bah,


sudah lama merantau ke kota, ngak dapat kerjaan, malah jadi seperti gelandangan


aja, kesana kemari”, jawab Padli dengan berbohong. “Terus keluargamu dimana”?


Bapak sudah meninggal, sekarang tinggal ibu saja di rumah sama adik ku yang


laki-laki.


Padli merasa sedikit bersalah karena berbohong sama Abah,


tapi yah, mau gimana lagi semuanya sudah terlanjur terjadi.


Menjelang sore warung kembali ramai, sebagian nelayan ada


yang sudah pulang dari laut. Tidak lama kemudian terdengar derumman sepeda


motor yang berhenti di depan warung, motornya masih baru, belum ada plat


nomornya. Si pengendaranya turun dan memasuki warung, seorang pria seumuran


dengan Inna, tapi bergaya trendy tapi norak, sepatu bot, celana jeans, baju


kemeja dengan lengan tergulung, kacing atas terbuka, dan kacamata hitam


terselip di bajunya, dia langsung menyalami Abah dengan cara mencium tangan


Abah. Assalamualaikum Bah.. “Waalaikum salam” jawab Abah. Sepertinya Abah cukup


di hormati di kampung ini. Para pelanggan warung memandang pria tersebut dengan


tatapan tak suka, tapi mereka hanya diam saja melihat tingkah dan gaya si pria


tersebut.

__ADS_1


“Eh..Bah, siapa dia Bah”?, tanya pria tersebut kepada Abah


sambil menunjuk kepada Padli. “Ponaanku”, jawab Abah dengan singkat. Si pria


tersebut dengan gayanya langsung menyapa Inna, “eh.. adekku, tolong buatin mie


instant ama kopi ya”, katanya dengan manis. Inna hanya menundukkan kepala,


tanpa menjawab dan langsung membuat pesanan pria tersebut. Ngak lama kemudian


si pria langsung bergabung dengan para pelanggan dan mendominasi percakapan


mereka.


Dari percakapan mereka di ketahui bahwa si pria tersebut


bernama Edwin, anaknya pak Erik yang menjadi Kadus (Kepala dusun) dan juga


mempunyai banyak kapal bot di kampung ini. Para nelayan banyak yang bekerja


dengan Pak Erik sebagai nelayan harian dengan cara membawa kapal botnya Pak


Erik. Si Edwin sepertinya menyukai si Inna, karena terlihat dia sering


memandangi si Inna.


Waktu sudah menjelang maghrib, para pelanggan sudah mulai


berpulangan, Inna pun sudah mulai bersiap-siap untuk pulang. Karena di warung


sudah ada yang jaga malam, sehingga mereka ngak perlu lagi membawa


barang-barang pulang, “yah sekarang aku akan di tinggal sendiri”, ujar Padli


dalam hati. Sedari siang tadi, dia belum ada kesempatan mengobrol dengan si


Inna, walaupun pada beberapa kesempatan, dia selalu menyempatkan diri untuk


melihat si Inna. Entah kenapa, melihat si Inna sudah menjadi candu bagi Padli.


Sudah waktunya sholat maghrib, Padli mengunci pintu warung


dan bersiap ke mushola. Tadi siang dia sudah mendapat sepasang baju kaos dan


celana panjang, untungnya ukurannya pass ketika di pakai. Malam ini dia tidur


di dipan warung yang dilapisi tikar pandan. Biasanya tempat itu dipakai para


pelanggan untuk duduk berselonjor setelah makan, dipannya lumayan besar, yang


jadi masalah adalah nyamuknya yang lumayan banyak. Warung Abah memiliki dinding


separuh papan, sementara sebelah atasnya hanyalah jaring kawat biasa aja,


memang hal ini membuat ruangan dalam menjadi dingin, karena angin bebas keluar


masuk, tapi begitu juga dengan nyamuknya. Padli ngak punya uang untuk sekedar


membeli obat nyamuk bakar.


Beberapa orang menyapanya ketika Padli berjalan menuju


mushola. “Kampung yang ramah, padahal aku baru beberapa hari disini, tapi sudah


banyak yang mengenalku”, pikir Padli. Di depan terlihat Abah Sholeh berjalan

__ADS_1


menuju mushola dengan terpincang-pincang, Padli langsung menghampirinya dan mereka


beriringan menuju mushola.


__ADS_2