
Kondisi Mama semakin lama semakin membaik, sekarang Mama sudah bisa berjalan
walau masih tertatih-tatih dan dibantu dengan sebuah tongkat. Namun ini adalah suatu
perkembangan yang luar biasa. Padli berulang kali bersyukur atas perkembangan
kesehatan Mama nya. Padli merencanakan akan membawa Mama chek up sekalian
dengan Inna. Dan ketika hasilnya diumumkan, kondisi Mama sangat baik, dokter
terus menyarankan agar Mama lebih banyak bergerak, kondisi jantung sudah
semakin sehat. Sedangkan kondisi Inna juga baik, janin sudah memasuki usia 4
bulan, Inna disuruh makan makanan bergizi dan minum susu. Merekapun keluar dari
rumah sakit dengan pandangan puas.
Hari ini Intan datang. Sesuai rencana, Intan akan bekerja sebagai guru sd di sebuah
Yayasan Pendidikan yang dimiliki oleh Yitno. Yayasan tersebut memiliki
pendidikan untuk SD, SMP dan SMU. Yayasan tersebut berbasiskan Islam dan
terlihat megah, dengan beberapa gedung untuk proses belajar mengajar. Intan
datang dengan menaiki Bus, dan akan di jemput oleh Inna dengan mobil yang
dikendarai oleh mang Didik di terminal kota.
Setelah Inna dan Intan bertemu mereka langsung pulang ke rumah Inna. Intan akan
menginap selama 2 hari disana sementara sebelum memulai pekerjaannya. Intan
selama bekerja akan tinggal di sebuah kontrakan di dekat yayasan itu.
Setelah sampai di rumah Intanpun menyalami Mama.
Mama : Intan, kamu kalau sudah mulai bekerja disana, jangan segan-segan untuk datang
kemari lagi ya.
Intan : (Intan memanggil Mama dengan Mama juga) Iya Ma, nanti Intan akan sering main
kemari, yang penting Intan mau mempelajari dulu jurusan angkot di kota ini.
Mama : Iya, itu penting juga, tapi kalau kamu memang mau datang, telpon aja, ntar
kan bisa di jemput sama mang Didik.
Intan : Makasih ya Ma, cuma Intan mau beradaptasi dulu dengan kota ini, biar
kedepannya ngak repot.
Mama : Kamu memang anak yang mandiri Intan, ya sudah, anggap saja Mama sebagai
Mama mu sendiri ya, jadi jangan segan-segan kalau ada perlu.
Intan : Iya Ma.
Mama memandangi Intan dengan cermat, sayangnya yang dia tahu bahwa Intan sudah
menolak lamaran Yitno, dan lagi kepergian Intan ke kota ini juga untuk
menghindari lamaran dari Pak Erik untuk anaknya si Edwin. Pak Erik sudah
melamar Intan melalui uwaknya, dan telah di terima oleh uwaknya tersebut.
__ADS_1
Padahal Intan sama sekali ngak suka dengan Edwin. Sebenarnya Edwin adalah pria
yang baik, cuma sikapnya yang sedikit arogan membuatnya tidak disukai oleh para gadis.
Inna dan Intan sedang berenang bersama di kolam renang dalam, mereka berdua memakai
pakaian renang yang sedikit terbuka. Tubuh Inna sedikit mungil, ramping tetapi
padat berisi, sedangkan Intan yang berbada besar dengan tubuh yang ramping
seperti body guitar. Buah dadanya berukuran besar dengan bokong yang besar dan
padat, sedikit berkebalikan dengan Inna.
Inna : (sambil berselonjoran di kolam yang dangkal) Ntan, jadi kenapa kamu menolak
bang Yitno?, setau aku, bang Yitno itu baik dan juga orangnya humoris.
Intan : Entahlah Nna, aku kok ngak sreg sama dia, sepertinya dia hanya bermain-main
saja denganku.
Inna : Masak sih, tapi yah ngak tau juga ya, soalnya aku juga ngak kenal kali
dengannya.
Intan : Bang Yitno itu baik, cuma aku melihat dia sedikit sombong dan suka
menyepelekan, lagian orang tuanya juga terlihat kurang menyukaiku.
Inna : Begitu ya, kalau itu masalahnya, yah ruwet juga. Terus kamu ada rasa ngak
sama bang Yitno?
Intan : Ngak, mau dipaksain gimanapun sepertinya ya ngak. Entahlah kalau memang udah
Padli sekarang? Apa hal-hal yang kamu takutkan dulu terjadi?
Inna : (tersenyum) Ngak kok Ntan, memang bang Padli sedikit berubah, dia sekarang
orangnya agak seriusan, ngak kayak kemaren tampangnya sedikit bloon... (tertawa
geli). Tapi dia masih sayang kok sama aku, hubungan aku sama Mama juga baik,
termasuk juga dengan Irvan. Aku juga merasa santai kok disini.
Intan : Syukurlah... semoga langgeng ya Nna.. Amin.
Selama 2 hari Intan disana, mereka selalu bersama. Inna senang karena ada sahabatnya
itu yang menemaninya, soalnya kadang dia juga merasa bosan di rumah yang sudah
lengkap dan tersedia apapun kebutuhannya itu.
Sekarang Intan sudah mulai mengajar. Dia menjadi guru agama di sekolah tersebut. Padli
telah membelikannya sebuah laptop ketika mereka bertiga berjalan-jalan di
sebuah Mall. Intan sangat senang dengan pemberian Padli tersebut. Dia menyadari
saat ini dia belum sanggup untuk membeli laptop itu, sedangkan dia memang
sangat membutuhkannya. Ketika sekarang dia sudah berdiri di depan kelas, bangga
rasanya mendengar murid-murid memanggilnya ibu guru. Selama ini dia sudah
mempelajari kurikulum mengenai pendidikan agama di sekolah tersebut, dan dia
__ADS_1
merasa sanggup untuk mengajarkannya, biar gimana juga dia adalah seorang
sarjana di bidang pendidikan agama.
Intan diterima mengajar disekolah itu atas rekomendasi langsung dari pemilik yayasan
yaitu Yitno, sehingga Intan diterima dengan baik oleh kepala sekolah dan para
guru-guru disana, dia sudah memiliki mejanya sendiri di dalam ruangan guru. Ada
juga beberapa guru pria disana yang masih lajang mencoba mendekatinya, namun
Intan masih mau fokus dengan pekerjaannya dan ngak mau berpikir mengenai hal
tersebut.
Pak Rendi yang juga sebagai guru agama untuk tingkat SMP menghampiri Intan ketika
mereka berdua sedang berada dikantin.
Rendi : “Assalamualaikum” Bu Intan (Rendi menegur sambil tersenyum)
Intan : “Waalaikum salam” Pak
Rendi : Gimana Bu, apa sudah mulai nyaman ngajar disini?
Intan : Alhamdulillah Pak, anak-anak disini baik-baik kok, saya senang ngajar disini.
Rendi : Saya dulunya juga pernah ngajar untuk SD bu, jadi kalau ada materi yang belum
ibu pahami, mudah-mudahan saya bisa membantu.
Intan : Iya, terima kasih ya Pak, sampai sekarang sih belum, tapi ngak tau
kedepannya.
Mereka masih mengobrol sampai waktu istirahat selesai, dan Rendi mohon pamit.
Intan merasakannya setelah lebih sebulan dia mengajar disitu, sepertinya Rendi serius
mendekatinya. Rendi hanya lebih tua beberapa tahun saja dibandingkan Intan, dan
dia juga masih melajang. Rendi juga berprilaku sopan, orangnya baik dan pandai
bergaul. Intan belum menemukan hal-hal yang negatif tentang Rendi selama mereka
bergaul. Hanya saja perasaan deg... deg.. kan nya belum muncul kalau bersama
Rendi. Hubungannya dengan Yitno pun berjalan baik, sekarang mereka lebih
memilih berteman dan tak pernah menyinggung soal lamaran Yitno. Intan sudah
menganggap Yitno sebagai abangnya dan begitu juga sebalik dengan Yitno.
Tak terasa waktupun berlalu. Irvan sudah berangkat ke Amerika untuk melanjutkan
pendidikan disana. Kandungan Inna sudah memasuki usia 7 bulan. Dokter sudah
menyarankan agar mereka mengurangi durasi berhungan intimnya. Hal ini membuat
Padli dan Inna tersenyum masam.
Hari-hari berlanjut seperti biasanya namun kemudian terjadi sebuah tragedi yang
mengubah jalan hidup mereka......
Hai readers..... Mohon untuk like and koment nya ya... Plisss......
__ADS_1