Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
PERSIAPAN PESTA PERNIKAHAN


__ADS_3

Pak Erik dan mang Udin datang pagi-pagi sekali ke rumah Abah. Mereka hendak menemui Abah untuk membicarakan pelaksanaan pesta pernikahan Padli dengan Intan. Untuk sekali ini sepertinya Abah ikut campur dalam penyusunan acara. Abah ngak mau “kecolongan” lagi seperti pesta kemaren. Beberapa point yang di usulkan mang Udin di coret Abah dari dalam daftar, seperti menyewa keyboard dan sound system


untuk acara dangdutan (ini yang usul mang Udin), pesta kembang api (yang ini Pak Erik), dan lain-lain yang ngak sesuai menurut pendapat Abah. Mereka berdiskusi cukup lama, sampai akhirnya merekapun keluar dari rumah Abah dengan wajah yang cukup puas.


Padli sedang bermain catur dengan wak Kocu dan diperhatikan sama bang Mandor. Bang


Mandor belum ada nyali lagi untuk melawan Padli, dia adalah seorang pecatur jagoan dikampung ini, namun dia juga dapat menilai lawannya sendiri. Terkadang bang Mandor mempunyai masalah dengan emosinya kalau dia kalah dalam bermain catur. Karena itu, dia menunda pertandingan melawan Padli, sampai dia merasa yakin sanggup mengalahkan Padli. Sementara wak Kocu ngak peduli mau menang atau kalah, yang penting dia bisa puas bermain. Setelah main 3 babak, Padli pamit mau ke mushola untuk sholat Dzuhur. Di tengah jalan ketemu Intan yang hendak membeli bumbu dapur.


Padli : Eh... Ntan, ntar sore jalan-jalan yok ke kota kecamatan.


Intan : Mau sih bang, tapi apa boleh sama Abah?


Padli : Biar di izinin kita ajak aja si Dina


Intan : Iya bang, nanti Intan ajak si Dina


Padli : Ya udah, abang coba ngomong sama Abah ya.


Intan : Ya bang, Intan tunggu ya.


Beruntung bagi Padli, bahwa Abah juga sholat Dzuhur di mushola kampung. Selepas Sholat,


Padli mengutarakan niatnya kepada Abah.


Padli : Bah, Padli mau ajak Intan dan Dina untuk jalan-jalan ke kota Kecamatan, boleh


Bah?

__ADS_1


Abah : Jangan, kalian jangan keluar dari kampung ini. Kalo mau jalan-jalan di dalam


kampung aja.


Padli : (Pasrah) Iya Bah, kalo gitu ngajak Intan makan bakso di warung kak Piah boleh?


Abah : (Abah hanya mengangguk saja)


Padli menelpon Intan untuk memberitahukan pembatalan rencana mereka karena ngak


diizinin Abah. “Yah bang, kalo Abah ngak ngasih ya udahlah, Abah pasti punya alasan mengapa ngak mengizinkan.” Kata Intan. “Jadi gimana nih, abang pengen


ngobrol-ngobrol sama Intan.” Kata Padli. “Kita jalan-jalan aja di kampung bang, abis itu kita makan bakso di warung kak Piah, kalau kita perginya sore, orang-orang kampung ngak akan ada yang ngelarang,” kata Intan lagi. “Oke, siap bu guru, selesai Ashar abang ke rumah ya” kata Padli lagi.


Mereka berjalan-jalan menyusuri jalan sepanjang pelataran. Beberapa warga kampung menyapa mereka, namun dari sikap mereka, sepertinya mereka menganggap wajar bila Padli berjalan-jalan dengan calon istrinyanya tersebut. Setelah lelah berjalan, kemudian mereka duduk santai di atas peti fiber tempat ikan di pelatarannya mang Kosim.


Padli : Ntan, kamu kenapa menyetujui perkataan Abah?


mempunyai sedikit rasa suka sama Abang, tapikan abang kan lengket terus sama


Inna, jadi yah ngak apa apalah, terus sewaktu Inna meninggal, Intan kasihan sekali liat Abang. Orang lain mungkin ngak ngeliat, tapi Intan tau, sebenarnya abang sangat terpukul atas kepergian Inna. Intan mau menghibur, tapi takutnya orang-orang salah paham sama maksud Intan. Ya udah, Intan biarin aja, kalau


memang sudah takdirnya begitu, mau gimana lagi. Ketika Abah mengusulkan perjodohan itu, Intan takut, apa abang memang mau menerima Intan apa adanya?


Intan ngak mau dibanding-bandingkan dengan Inna. Tapi Intan juga tau, Inna juga


sangat sayang sama Abang. Intan yakin, Inna lebih mau kalau Intan yang bersama abang. Kalau orang lain mungkin Inna ngak akan ikhlas.

__ADS_1


Padli : Terima kasih ya Intan, abang janji ngak akan mengecewakan harapan Intan. Bagi


abang Inna adalah masa lalu. Abang ngak mau kalau Intan menggantikan Inna, abang


mau Intan jadi istri abang sebagai Intan yang abang kenal sebelumnya. Abang mau Intan menemani hidup abang sampai akhir hayat abang.


Intan : (Tersenyum bahagia) Iya bang.


Disaat mereka berbicara panjang lebar baru Padli tersadar keadaan yang terjadi. Selama


ini ketika dia bersama Inna, kebanyakan Inna yang berbicara, Padli hanya mendengarkan saja semua omongan Inna sambil menatap wajah Inna yang menggemaskan, terkadang dia tersenyum ketika Inna menceritakan hal-hal yang lucu. Tapi sekarang malah terbalik, justru dia yang sangat antusia berbicara, dia menceritakan hampir semua hal, baik itu msalah kantor, ataupun masalah


pribadinya. Intan dapat mengikuti semua pembicaraannya, Intan ternyata memiliki


wawasan yang luas, dia dapat mengerti semua apa yang dikatakan oleh Padli. Hal


ini membuat Padli merasa sangat nyaman.


Mama datang di hari Jum’at dua hari sebelum pesta bersama Irvan. Mama membawa


beberapa orang ART untuk melayaninya. Mama juga membawa 4 unit RV (Mobil rumah) dan mobil box berisi pakaian dan gaun muslim yang akan di pakai Intan, lengkap dengan ahli tata riasnya. Walaupun pestanya sederhana, namun Mama ingin Intan tampil cantik di hari yang bersejarah itu. Mobil rombongan tersebut parkir di halaman koperasi yang bersebelahan dengan mushola. Abah, Mak Lena dan Bik Surti sudah menunggunya, mereka bersalaman, Mama memeluk Mak Lena dan kemudian Bik Surti, “Surti, Kakak kangen lho sama kamu, nanti selesai acara ini datang ya ke rumah kakak, kita bisa ngobrol sepuasnya lho, sekarang kakak udah lumayan sehat, udah bisa jalan, nanti kakak yang bawa kamu jalan-jalan ya” kata Mama dengan senyuman yang lebar. Memang kharisma dan pesona Mama sangat terlihat oleh semua orang kampung, merekapun memandang Mama dengan perasaan segan dan kagum.


Pak Erik sudah memasang tenda besar di lapangan tersebut, panggung besar tempat


pelaminan sudah tersedia, lampu-lampu telah dipasang, meja-meja dan kursi-kursi sudah terletak disana. Tenda untuk bagian konsumsi juga sudah terpasang, karena malam Sabtu ini, akan diadakan acara pemakaian Inai, kemudian dilanjutkan besok malamnya adalah khataman Al Qur’an. Tidak ada pejabat pemerintah yang khusus di undang, namun Pak Bupati, secara langsung mengatakan akan tetap hadir ke sana. Tidak ada pagelaran tarian adat, ataupun pertunjukan seni lainnya. Namun sejak hari Jum’at itu warga kampung sudah banyak yang datang kesana, walaupun hanya mengobrol atau sekedar minum kopi, karena Pak Erik menyediakan makanan dan minuman gratis selama 3 hari itu bagi warga kampung. Seluruh emak-emak warga kampung juga terlibat di dapur umum untuk melayani warga yang hendak makan atau minum. Walaupun acara pesta ini dibilang sederhana, namun tetaplah menjadi sebuah


pesta yang meriah, dan warga kampung sangat menikmatinya.

__ADS_1


Yitno ngak bisa datang, namun dia mengirim 2 orang Asistennya, untuk membantu Padli


jika diperlukan.


__ADS_2