
Karena kejadian kemaren membuat Padli ngak jadi pergi
memancing, maka hari ini diapun mendapat libur lagi agar dapat pergi memancing.
Mendengar itu bang Kosim mengajak Padli untuk ikut dengannya memancing. Padli
pun menyetujuinya. Dia berangkat setelah sholat subuh, langsung ke pelataran
dimana bang Kosim sudah menunggunya di atas kapal boat. Kapal tersebut berukuran
panjang ± 3,5 meter dan lebar ± 1 meter. Termaksud kecil untuk ukuran kapal boat, tapi ini
memang kapal miliknya bang Kosim. Bang Kosim menarik tali mesin boat tersebut
untuk menghidupkan mesinnya, sambil segera mengendalikan kemudinya.
Diperjalanan bang Kosim bertanya kepada Padli,
Bang Kosim : Pad, dulu kau tinggal dimana?
Padli : Aku waktu kecil tinggal di kota x bang, itu kota di
pinggiran laut, kemudian merantau ke kota besar. Karena itu aku ngak asing
dengan kehidupan nelayan disini.
Bang Kosim : Udah berapa lama kau kerja dengan Abah?
Padli : Lebih sebulanlah bang.
Bang Kosim : Kau suka ya dengan anaknya? (bang Kosim tersenyum)
Padli : Ya.. eh. Kok abang tau?
Bang Kosim : Biasalah gosip orang-orang kampung, katanya kau
sering melihat si Inna sampai terbengong gitu hahaha... wak Kocu juga bilang,
dia harus menyenggolmu dulu baru kau mau mendengar apa katanya.
Padli : Gitu ya bang, ngak sadar aku. Abisnya tu cewek manis kali
lah bang, ngak bosan-bosan aku memandangnya. (Padli pun nyengir)
Bang Kosim : Pad, kau harus gerak cepat, ngak ada pacaran dalam
kamus Abah. Siapa yang melamar si Inna untuk menikah, asalkan orangnya baik,
bisa saja langsung di nikahkan sama Abah. Aku tau, kau pun orangnya lumayan
alim, sholat ngak tinggal, ngaji pun bagus. Kata Abah siapa yang fasih dalam
mengaji maka dia termasuk orang yang alim, soalnya ngaji itu bukan bisa
belajarnya 1 atau 2 tahun. Pasti lamalah.
Padli : Entahlah bang, aku masih ragu, apa diterima ngak ya kalau
aku melamar Inna. Kalau sampai ngak, mana mungkin aku tetap kerja di warung
itu.
Bang Kosim : Iya juga ya, entahlah, tapi ini sekedar info saja ya
Pad, si Dedi anaknya Ustad Bambang, kan dia baru selesai kuliahnya di Mesir,
kemungkinan Ustad Bambang mau menjodohkan anaknya dengan si Inna.
Padli : Kok abang tau bang?
Bang Kosim : Aku ini adik sepupunya Abah. Rata-rata orang di
__ADS_1
kampung ini masih ada hubungan saudara Pad, jadi ngak akan ada rahasia-rahasia
lagi.
Padli pun hanya mengangguk lemas. Kali ini agak berat saingannya,
lulusan Mesir, gawat...
Merekapun mulai memancing, Padli dapat beberapa ekor ikan Krapu
dan Sembilang, tapi bang Kosim dapat lebih banyak lagi. Ikan-ikan tersebut
diletakkan ke dalam termos yang sudah berisi es, sehingga ikannya bisa awet.
Padli terlihat terampil dalam memasang mata kail, hal itu membuat bang Kosim
yakin bahwa Padli memang terbiasa dengan kehidupan nelayan, “yah setidaknya dia
memang hobi memancing”, pikir bang Kosim.
Menjelang siang, merekapun menyudahi acara memancingnya,
bang Kosim ngak mau mengajak Padli ke tengah laut karena khawatir Padli ngak
akan tahan dan mabuk laut.
Padli pulang ke warung dengan membawa Ikan satu termos
penuh, nanti sore dia akan meminta Inna untuk memasaknya. Warung terlihat sepi
dari pelanggan, Abah ngak ada, bang Udin malah pergi meninggalkan Inna
sendirian.
Padli meletakkan ikan-ikan tersebut di dalam kulkas setelah
sebelumnya di bersihkan di kamar mandi belakang. Inna antusias melihat hasil
Inna : Benar bang, ini semua abang yang pancing?
Padli : He..em, (Padli masih sibuk menyusun ikan-ikannya di
dalam kulkas)
Inna : Kok bisa ya, abang kan ngak pernah mancing.
Padli berdiri dan melihat suasana warung sebelum mulai
bertanya
Padli : Nna.. ada ngak orang yang kamu sukai?
Inna : Lho.. kok nanyaknya ngak nyambung, awas bang, Nna mau
masak.
Padli pun keluar dari area makanan dan membiarkan Inna yang
berada di sana. Soalnya tempatnya sempit, ngak muat kalau berdua.
Padli : Nna... kalau ada pria miskin yang melamar Nna, Nna
terima ngak?
Inna : Nna ngak masalah, yang penting orangnya baik, tapi
itu juga kalau Abah mau menerimanya.
Padli : Kalau pria itu kaya, Nna mau?
Inna : Bang, Nna ngak pernah mikirin itu lah bang, yang
__ADS_1
penting dia baik, titik, mau kaya ataupun miskin, ngak masalah. Orang miskinkan
bisa jadi kaya, orang kayapun bisa jadi miskin, sama ajalah. Yang penting Abah
setuju.
Padli hanya nyengir mendengar jawaban Inna yang dirasanya
lucu.
Padli : Kalau abang yang ngelamar Nna, Nna mau?
Inna : Ngaklah, abang kan udah punya pacar di kampung, Nna
ngak mau di dua in...
Abah datang dengan terpincang-pincang memasuki warung, “Pad,
bikinin Abah kopi”, katanya. “Si Udin tadi dia nelpon Abah, bilangin dia udah
di kota Kecamatan, ngak pulang malam ini, ada kawannya yang pesta disana, jadi
Pat, tolong jagain warung lagi lah ya” kata Abah. “Iya, Bah”, jawab Padli.
Omongan tadi terputus, karena Abah terus duduk dimeja kasir
sampai warung tutup.
Malam harinya para mahasiswi datang untuk belajar di warung,
Intan juga hadir disana mengawasinya. Rupanya Intan adalah senior mereka di
universitas x, jadi dosen pembimbing mereka meminta Intan untuk mengawasi para
mahasiswa tersebut. Mereka terlihat sangat sibuk, karena malam ini malam
terakhir mereka di kampung ini, karena jadwal PKL nya sudah selesai, dan mereka
wajib membuat laporan hasil PKL nya. Beberapa orang banyak bertanya sama Intan
mengenai permasalahan yang di alami para nelayan seperti, penjualan ikan,
ketersediaan es batangan, bahan bakar solar, sampai kehidupan sosialnya yang
enggan untuk keluar kampung. Ada juga permasalahan perkawinan antar saudara,
walaupun bukan yang diharamkan agama, namun secara budaya membuat kampung ini
menjadi tertutup. Intan menjawab itu semua berdasarkan yang diketahuinya, dan
hasilnya lumayan bagus.
Seperti biasa, Padli pergi keluar dari warung untuk menelpon
Yitno, Intan melihat hal itu. “Duh..bang Padli, kalau dah ngobrol dengan
pacarnya yang di kampung, lamanya bisa berjam-jam. Pantesan, begitu gajian
pertama, hp dulu yang dibelinya”, pikir Intan dalam hati.
Sebenarnya Intan pun tertarik sama Padli. “Bang Padli
orangnya baik, rajin sholat, dan lucu, lagi pula kalau dekat dengan bang Padli,
rasanya semuanya jadi aman-aman aja”, pikir Intan dalam hati. Tapi dia tahu,
sahabatnya si Inna juga menyukai Padli, dan Intan merasa Inna lebih berhak
dengan Padli dari pada dia, bukankah Padli pegawainya Abah. Apalagi beredar
gosip diantara warga kampung, bahwa Padli naksir Inna. Memikirkan hal itu
__ADS_1
membuat Intan memendam perasaannya dalam-dalam kepada Padli.