Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 10


__ADS_3

Karena kejadian kemaren membuat Padli ngak jadi pergi


memancing, maka hari ini diapun mendapat libur lagi agar dapat pergi memancing.


Mendengar itu bang Kosim mengajak Padli untuk ikut dengannya memancing. Padli


pun menyetujuinya. Dia berangkat setelah sholat subuh, langsung ke pelataran


dimana bang Kosim sudah menunggunya di atas kapal boat. Kapal tersebut berukuran


panjang ± 3,5 meter dan lebar ± 1 meter. Termaksud kecil untuk ukuran kapal boat, tapi ini


memang kapal miliknya bang Kosim. Bang Kosim menarik tali mesin boat tersebut


untuk menghidupkan mesinnya, sambil segera mengendalikan kemudinya.


Diperjalanan bang Kosim bertanya kepada Padli,


Bang Kosim : Pad, dulu kau tinggal dimana?


Padli : Aku waktu kecil tinggal di kota x bang, itu kota di


pinggiran laut, kemudian merantau ke kota besar. Karena itu aku ngak asing


dengan kehidupan nelayan disini.


Bang Kosim : Udah berapa lama kau kerja dengan Abah?


Padli : Lebih sebulanlah bang.


Bang Kosim : Kau suka ya dengan anaknya? (bang Kosim tersenyum)


Padli : Ya.. eh. Kok abang tau?


Bang Kosim : Biasalah gosip orang-orang kampung, katanya kau


sering melihat si Inna sampai terbengong gitu hahaha... wak Kocu juga bilang,


dia harus menyenggolmu dulu baru kau mau mendengar apa katanya.


Padli : Gitu ya bang, ngak sadar aku. Abisnya tu cewek manis kali


lah bang, ngak bosan-bosan aku memandangnya. (Padli pun nyengir)


Bang Kosim : Pad, kau harus gerak cepat, ngak ada pacaran dalam


kamus Abah. Siapa yang melamar si Inna untuk menikah, asalkan orangnya baik,


bisa saja langsung di nikahkan sama Abah. Aku tau, kau pun orangnya lumayan


alim, sholat ngak tinggal, ngaji pun bagus. Kata Abah siapa yang fasih dalam


mengaji maka dia termasuk orang yang alim, soalnya ngaji itu bukan bisa


belajarnya 1 atau 2 tahun. Pasti lamalah.


Padli : Entahlah bang, aku masih ragu, apa diterima ngak ya kalau


aku melamar Inna. Kalau sampai ngak, mana mungkin aku tetap kerja di warung


itu.


Bang Kosim : Iya juga ya, entahlah, tapi ini sekedar info saja ya


Pad, si Dedi anaknya Ustad Bambang, kan dia baru selesai kuliahnya di Mesir,


kemungkinan Ustad Bambang mau menjodohkan anaknya dengan si Inna.


Padli : Kok abang tau bang?


Bang Kosim : Aku ini adik sepupunya Abah. Rata-rata orang di

__ADS_1


kampung ini masih ada hubungan saudara Pad, jadi ngak akan ada rahasia-rahasia


lagi.


Padli pun hanya mengangguk lemas. Kali ini agak berat saingannya,


lulusan Mesir, gawat...


Merekapun mulai memancing, Padli dapat beberapa ekor ikan Krapu


dan Sembilang, tapi bang Kosim dapat lebih banyak lagi. Ikan-ikan tersebut


diletakkan ke dalam termos yang sudah berisi es, sehingga ikannya bisa awet.


Padli terlihat terampil dalam memasang mata kail, hal itu membuat bang Kosim


yakin bahwa Padli memang terbiasa dengan kehidupan nelayan, “yah setidaknya dia


memang hobi memancing”, pikir bang Kosim.


Menjelang siang, merekapun menyudahi acara memancingnya,


bang Kosim ngak mau mengajak Padli ke tengah laut karena khawatir Padli ngak


akan tahan dan mabuk laut.


Padli pulang ke warung dengan membawa Ikan satu termos


penuh, nanti sore dia akan meminta Inna untuk memasaknya. Warung terlihat sepi


dari pelanggan, Abah ngak ada, bang Udin malah pergi meninggalkan Inna


sendirian.


Padli meletakkan ikan-ikan tersebut di dalam kulkas setelah


sebelumnya di bersihkan di kamar mandi belakang. Inna antusias melihat hasil


Inna : Benar bang, ini semua abang yang pancing?


Padli : He..em, (Padli masih sibuk menyusun ikan-ikannya di


dalam kulkas)


Inna : Kok bisa ya,  abang kan ngak pernah mancing.


Padli berdiri dan melihat suasana warung sebelum mulai


bertanya


Padli : Nna.. ada ngak orang yang kamu sukai?


Inna : Lho.. kok nanyaknya ngak nyambung, awas bang, Nna mau


masak.


Padli pun keluar dari area makanan dan membiarkan Inna yang


berada di sana. Soalnya tempatnya sempit, ngak muat kalau berdua.


Padli : Nna... kalau ada pria miskin yang melamar Nna, Nna


terima ngak?


Inna : Nna ngak masalah, yang penting orangnya baik, tapi


itu juga kalau Abah mau menerimanya.


Padli : Kalau pria itu kaya, Nna mau?


Inna : Bang, Nna ngak pernah mikirin itu lah bang, yang

__ADS_1


penting dia baik, titik, mau kaya ataupun miskin, ngak masalah. Orang miskinkan


bisa jadi kaya, orang kayapun bisa jadi miskin, sama ajalah. Yang penting Abah


setuju.


Padli hanya nyengir mendengar jawaban Inna yang dirasanya


lucu.


Padli : Kalau abang yang ngelamar Nna, Nna mau?


Inna : Ngaklah, abang kan udah punya pacar di kampung, Nna


ngak mau di dua in...


Abah datang dengan terpincang-pincang memasuki warung, “Pad,


bikinin Abah kopi”, katanya. “Si Udin tadi dia nelpon Abah, bilangin dia udah


di kota Kecamatan, ngak pulang malam ini, ada kawannya yang pesta disana, jadi


Pat, tolong jagain warung lagi lah ya” kata Abah. “Iya, Bah”, jawab Padli.


Omongan tadi terputus, karena Abah terus duduk dimeja kasir


sampai warung tutup.


Malam harinya para mahasiswi datang untuk belajar di warung,


Intan juga hadir disana mengawasinya. Rupanya Intan adalah senior mereka di


universitas x, jadi dosen pembimbing mereka meminta Intan untuk mengawasi para


mahasiswa tersebut. Mereka terlihat sangat sibuk, karena malam ini malam


terakhir mereka di kampung ini, karena jadwal PKL nya sudah selesai, dan mereka


wajib membuat laporan hasil PKL nya. Beberapa orang banyak bertanya sama Intan


mengenai permasalahan yang di alami para nelayan seperti, penjualan ikan,


ketersediaan es batangan, bahan bakar solar, sampai kehidupan sosialnya yang


enggan untuk keluar kampung. Ada juga permasalahan perkawinan antar saudara,


walaupun bukan yang diharamkan agama, namun secara budaya membuat kampung ini


menjadi tertutup. Intan menjawab itu semua berdasarkan yang diketahuinya, dan


hasilnya lumayan bagus.


Seperti biasa, Padli pergi keluar dari warung untuk menelpon


Yitno, Intan melihat hal itu. “Duh..bang Padli, kalau dah ngobrol dengan


pacarnya yang di kampung, lamanya bisa berjam-jam. Pantesan, begitu gajian


pertama, hp dulu yang dibelinya”, pikir Intan dalam hati.


Sebenarnya Intan pun tertarik sama Padli. “Bang Padli


orangnya baik, rajin sholat, dan lucu, lagi pula kalau dekat dengan bang Padli,


rasanya semuanya jadi aman-aman aja”, pikir Intan dalam hati. Tapi dia tahu,


sahabatnya si Inna juga menyukai Padli, dan Intan merasa Inna lebih berhak


dengan Padli dari pada dia, bukankah Padli pegawainya Abah. Apalagi beredar


gosip diantara warga kampung, bahwa Padli naksir Inna. Memikirkan hal itu

__ADS_1


membuat Intan memendam perasaannya dalam-dalam kepada Padli.


__ADS_2