
Hari-hari terus berlanjut, para mahasiswa yang KKN sudah kembali ke
tempat asalnya masing-masing, tapi hari ini adalah hari yang spesial di kampung
nelayan. Yah, hari ini diadakan Pesta Laut. Pesta laut merupakan wujud dari rasa
syukur warga atas rezeki yang mereka peroleh dari Tuhan Yang Maha Pencipta akan
hasil laut. Para warga percaya dengan melakukan ritual pesta laut akan memberikan penghasilan yang
berlimpah pada mereka, selain itu juga mengharapkan keselamatan para nelayan saat
sedang mencari ikan di laut.
Acara ini dinanti-nantikan oleh warga sekitar muara sungai. Kegiatan ini dihadiri
pula oleh perangkat pemerintahan setempat, yaitu kepala Desa. Adat istiadat
seperti ini masih terus dipertahankan oleh para penduduk disekitar muara sungai.
Seperti yang diketahui, kebudayaan daerah memperkaya kebudayaan nasional.
Kebudayaan daerah yang semakin lama semakin pudar seiring perkembangan jaman.
Maka lebih baik kalau anak cucu yang meneruskannya.
Pesta Laut diadakan hanya sehari, dan waktunya pun hanya dari selepas zuhur sampai sekitar jam 5
sore. Selama itu para nelayan dilarang melaut dan dilarang menjalankan usaha
(seperti berdagang, jasa perbaikan, pertukangan) yang berlokasi di kampung itu.
Karena itu warung Abah tutup dan Padlipun libur.
Padli terlihat sibuk membantu bang Kosim menghias kapal boatnya dengan pernak-pernik kertas
minyak yang berwarna-warni. Tadi malam di warung, mereka sibuk
mempersiapkannya. Kapal bang Kosim akan membawa nampan besar yang berisi
beberapa sayuran dan buah-buah yang dibelinya sendiri di pasar kampung.
Sementara Kapal Pak Erik yang terbesar membawa 1 buah kepala sapi (orang kampung nelayan
mengatakannya lembu) yang dihiasi bunga-bunga sebagai kapal utama acara
tersebut, sedangkan daging dari sapi tersebut akan di olah untuk acara makan
bersama di lapangan kampung. Banyak kapal yang ikut dalam Pesta Laut tersebut
dengan membawa beberapa macam barang.
Inna dan Intan terlihat bermain-main di pelataran, bersama mereka juga ada beberapa
gadis-gadis warga kampung tersebut. Bagi Padli kehadiran Inna terlihat sangat
mencolok, segala tingkah lakunya selalu dalam perhatian Padli. Saat Inna
menggendong Tia anak bungsu dari bang Kosim yang baru berumur 1 tahun.
“Kayaknya dah pantaslah dia menggendong anak, wuih.. andai itu adalah anakku”,
pikir Padli dalam hati.
Ketika acara dimulai, dan semua kapal boat bergerak menuju laut, Padli mengajak Inna dan
__ADS_1
Intan untuk masuk kedalam kapal boatnya bang Kosim, namun Intan ngak ikut dan
membiarkan Inna sendiri yang Ikut. Padli hendak membantu Inna masuk ke dalam
kapal, dengan cara memegang tangannya, tapi langsung di tepis Inna sambil
mengatakan “ngak usah pegang, bisa kok sendiri”.
Selama dalam perjalanan jilbab Inna berkibar terkena angin namun ngak sampai terlepas.
Pemandangan ini membuat Padli terpana, tak henti-hentinya dia memandangi Inna,
namun Inna bersikap cuek sambil memfoto kapal-kapal yang berjalan beriringan
dengan hp nya.
Bang Kosim hanya tersenyum saja melihatnya.
Padli : Nna, fotoin abang juga lah.
Inna : Ngak, udah bosan, kan bisa lihat setiap hari.
Padli : Jadi Nna udah bosan nih lihat abang?
Inna : He..em..
Padli : Kok abang ngak bosan ya lihat Nna.
Inna hanya membuang muka, sambil melihat-lihat kapal yang ada disampingnya.
Di salah satu kapal Pak Erik, dia melihat Intan yang melambai-lambaikan tangannya.
Inna pun spontan mengambil hp nya dan memfoto Intan. Cklik..cklik...
di iringi dengan pembacaan doa oleh Ustad Bambang yang datang bersama anaknya Dedi, dan
kata pengantar dari kepala Desa. Pesta berjalan sangat meriah walau tanpa
adanya suara musik yang hingar-bingar, namun seluruh warga mengobrol dan
bersilaturahmi sesamanya. Anak-anak bermain dan berlarian sepanjang acara.
Pada kesempatan itu terlihat ustad Bambang didampingi anaknya Dedi mendatangi Abah
yang sedang duduk bersama Mak Lena, entah apa yang mereka bicarakan,
namun kemudian Abah memanggil Inna untuk datang ke tempatnya. Inna pun datang,
kemudian ia menyalami Ustad Bambang dengan merangkapkan kedua tangannya dari jauh sambil
melirik Dedi yang berada di samping Pak Ustad.
Kemudian terlihat perbincangan serius mereka, tepatnya, hanya Abah dan Ustad Bambang yang
berbicara, sedangkan Dedi hanya diam sambil sesekali melirik Inna, Inna hanya
duduk dengan pasrah disamping Abah dan Mak Lena.
Gawat...gawat,
melihat itu Padli menjadi panik, dia berniat mendatangi tempat mereka, namun
buru- buru di tahan oleh bang Kosim. “Sabar Pad, jangan tegang seperti itu,
santai aja, kalau memang jodohmu, ngak akan kemana-mana” ujar bang Kosim.
__ADS_1
“Tapi bang, kalau nanti sudah diputuskan Abah, gimana!”, ujar Padli. “Ngak akan
secepat itu, aku kenal sekali dengan Abahmu itu, dia akan memutuskan setelah berbicara
dulu dengan Andi anak sulungnya dan kami, sanak saudaranya” ujar bang Kosim lagi.
Yang penting kamu doa, Pad, minta petunjuk dari Allah SWT ya, biar dimudahkan segala urusannya.
“Iya bang, makasih ya bang, nasehatnya”, kata Padli lega.
Tak lama kemudian, pembicaraan mereka pun selesai, Abah menyalami Ustad Bambang
dan Dedi yang segera mencium tangan Abah. Ustad Bambang tersenyum dengan cerah.
Menjelang sore, acara “Pesta Laut” pun selesai. Abah, Mak Lena dan Inna di antar pulang sama
Dedi dengan mobilnya, sementara Ustad Bambang masih terlihat sibuk mengurusi
selesainya acara.
Padli berjalan gontai menuju warungnya, dia berencana mandi dan kemudian sholat maghrib di
mushola, sembari berdoa, sesuai nasehat bang Kosim.
Setelah sholat maghrib dan menyempatkan diri membaca ayat-ayat suci Al-Quran, perasaan
Padli mulai tenang, diapun berjalan menuju warung untuk beristirahat. Di depan
warung terlihat Abah sedang berdiri menunggunya. “Pad, besokpun warung kita
tutup ya, soalnya besok adalah acara gotong royong warga untuk membersihkan
kampung, Abah ngak bisa ikut acara itu, dan lagi kondisi emak mu, sedang ngak
sehat, kamu nanti bawa cangkul dan golok ya, ambil di rumah, tanya aja dengan
Inna dimana tempatnya”, ujar Abah. “Kenapa emak Bah,? Apa ngak dibawa ke rumah
sakit aja”?, Tanya Padli. “Gak apa apa kok, emakmu hanya kecapekan, seharian
ini kan terus-terusan di luar, memang dari dulu emak mu ngak bisa capek, tapi
dipaksakannya untuk masak di warung”, kata Abah. “Makanya besok kamu mewakili
keluarga untuk gotong royong ya di kampung”, pinta Abah. Iya Bah, besok akan
Padli kerjakan. “Ya udah, kamu istirahatlah dulu, soalnya besok bakalan capek
lagi. Abah ngak bisa berharap dengan si Udin, dia seenaknya saja pulang dan
pergi sesuka hatinya, kamulah harapan Abah untuk mewakili keluarga dalam hal
ini”, kata Abah. “Iya Bah” jawab Padli.
Abah pulang, Padli pun memasuki warung untuk beristirahat, tapi hatinya masih galau,
melihat sikap Abah yang begitu percaya kepadanya membuat hatinya senang, tapi
kejadian tadi siang malah membuat hatinya sangat cemas. “Apa Abah menganggapku
sebagai anaknya ya, bukan calon mantunya”, pikir Padli dalam hati.
Ah.. lebih baik tidur ajalah, Padli pun merasa malas menelpon Yitno untuk mengetahui
perkembangan perusahaannya.
__ADS_1