Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
GAJIAN KEDUA


__ADS_3

Malam itu di rumah Abah, setelah sholat ishya dan makam malam, Abah memanggil Inna


untuk duduk bersama di sofa ruang tengah rumah itu. “ Inna, kalau udah siap


cuci piringnya, kemarilah, duduk disini dengan Abah” ujar Abah. Inna datang dan


duduk di sofa di depan Abah, selain mereka ada juga Mak Lena yang sejak tadi


hanya diam.


Abah : Inna, kamu sadarkan usiamu sudah lebih 22 tahun, kalau ukuran orang kampung


disini sudah sangat pantas untukmu berumah tangga. Kemaren ketika Pak Erik


mengajukan lamaran untuk anaknya si Edwin kan kamu tolak, alasannya ngak suka.


Dan itu sudah Abah turuti kan. Jadi sekarang Ustad Bambang sudah mengajukan


lamarannya untuk anaknya si Dedi, gimana menurutmu?


Inna : Inna masih belum siap Bah untuk nikah. Nanti ajalah kalau mau ngomongin hal ini.


 Abah : Nna, sampai kapan begini terus? Apa kau mau jadi perawan tua? Lagian kan si


Dedi itu orangnya baik, alim juga, tahu mengenai agama, dia lulusan Mesir Nna,


Abah tahu ngak gampang untuk orang kuliah di Mesir. Hanya yang terbaik saja


yang bisa lulus dari sana Nna. Ilmunya pasti banyak lah.


Inna : Tapi Nna belum kenal dengannya Bah, gimana nanti kalau udah tinggal


bersama dengannya.


 Abah : Itu bisa sambil jalan Nna, Abah sendiri dengan Mak mu ini juga dulunya ngak


saling kenal kok. Dalam agama kita ngak ada istilah pacaran-pacaran Nna, kan kamu tahu juga itu.


Inna terdiam, tapi dari matanya keluar air mata yang menetes membasahi pipinya, dia


ngak mungkin melawan Abah yang sangat dihormatinya. Melihat itu Abah pun


bertanya lagi.


 Abah : Kenapa Nna.. apa ada yang merisaukan hatimu nak? (Abah berbicara lembut)


Inna : Inna suka sama bang Padli Bah. Huhuhu... (Inna menutup wajahnya dengan kedua


tangannya sambil menangis)


Abah terdiam dan Mak lena hanya menundukkan kepalanya dengan pasrah atas tindakan


suaminya.


Pembicaraan itu terputus, Inna masuk kedalam kamarnya, Abah pun keluar untuk duduk di


teras. Dia bingung, keputusan apa yang akan di ambilnya, kalau dia menolak


lamaran Ustad Bambang, dia takut menyesal nantinya. Hal ini tidak bisa di tunda


lama-lama, melihat status Dedi anaknya Ustad Bambang, tentu saja akan banyak


tawaran jodoh yang bisa diterimanya.


Sementara Padli, bukannya dia ngak yakin sama Padli, namun akan membutuhkan waktu yang

__ADS_1


lama agar Padli siap dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Baginya Padli itu


terlalu santai, kurang ambisi untuk berusaha demi masa depannya. Apalagi


sikapnya kadang sedikit kekanak-kanakan.


Sepertinya dia harus menghubungi si Andi, dalam beberapa hal, pandangan si Andi yang sudah


dewasa memberikan masukan yang baik bagi Abah. Abah sangat mempercayai anak


sulungnya itu.


Sementara itu di warung, Padli sedang gembira, Inna sudah menerima cintanya, hal ini


merupakan perkembangan yang baik, selangkah demi selangkah maju ke depan. Walau


tadinya ada kondisi kritis saat Ustad Bambang datang, tapi Alhamdulillah,


sepertinya Padli masih diberi sedikit waktu untuk melanjutkan misinya. Dan


besok dia gajian, dia berencana mentraktir Inna makan bakso di warungnya kak


Piah. Warung bakso itu sangat terkenal di kampung ini, dan lokasinya tidak jauh


dari warung Abah. Memang harganya sedikit mahal untuk ukuran orang kampung disini,


tapi gak apa apa lah. (Padli nyengir sendiri) Memang, ini akan sulit karena


harus meminta izin Abah, tapi ini juga sebagai langkah untuk melihat reaksi


Abah. Selama ini Padli kesulitan menaksir sikap Abah terhadap dirinya.


Khususnya sikap Abah terhadap hubungannya dengan si Inna.


warung biasanya sepi, tapi semenjak adanya TV terlihat beberapa pelanggan masih


duduk santai di warung sambil nonton berita di TV. Abah duduk di kursi


kerajaannya yaitu kursi meja kasir.


Padli : Nna.. (bersuara pelan) nanti malam ngebakso yuk, abang kok kepingin makan


baksonya kak Piah.


Inna : Ayok bang, Nna juga pingin. Udah lama juga ngak makan baksonya kak Piah.


Padli : Abis Ishya mau? Nanti abang jemput ke rumah. Abang udah gajian nih, jadi


nanti abang yang bayar ya.


Inna : (Mengangguk), tapi izin dulu sama Abah bang.


Padli : Iya.


Padli berdiri sambil mengawasi kondisi warung, menunggu kesempatan untuk berbicara


dengan Abah. Ketika kondisinya memungkinkan, Padli pun berjalan mendekati Abah.


Padli : Bah, Padlikan udah gajian nih.


Abah : Iya, kenapa memangnya?


Padli : Nanti malam Padli mau ngajak Inna makan Bakso di warungnya Kak Piah, boleh


Bah?

__ADS_1


Abah : Padli...Padli, uangmu itu di tabung lah, jangan diborosin terus, kemaren beli


hp, beli kelambu, sekarang gajian ini pun mau kau habis-habiskan aja, gitu!


Padli : Tapi Bah, ini kan cuma makan bakso aja, lagian perginya pun cuma berdua, ngak


banyak kali lah biayanya Bah.. (Padli memasang tampang memelas)


Abah : Justru karena cuma berdua saja, itu yang Abah ngak suka. Apa kata orang


kampung kalau melihat si Inna jalan-jalan berdua dengan orang yang bukan


muhrimnya? Malu kan Abah! (suara Abah semakin meninggi)


Padli : (terdiam sejenak) Bah, orang-orang juga tahu, kami biasanya juga berdua kalau


ada di warung ini, lagian kan Bah, ini kan cuma ke warungnya kak Piah, bukan


jauh-jauh, dari sini juga keliatan warungnya. Boleh ya Bah... (Di kampung ini


hanya Padli yang berani membantah Abah, Padli sudah menganggap Abah itu


bapaknya sendiri, karena dia sudah ngak mempunyai bapak lagi).


Abah : (Terdiam sambil memandangi Padli) Ya terserahlah..


Padli : Izin ya Bah, abis Ishya perginya.


Abah : Jangan lama-lama!


Beberapa pelanggan yang mendengar perdebatan itu merasa salut dengan perjuangan Padli.


Ke depannya, berita bahwa Padli berani melawan Abah menjadi viral di kampung itu.


Ada yang sinis dengan mengatakan bahwa Padli orang yang tak tau diuntung, sudah


diterima Abah, malah makin ngelunjak (Tak tahu diri). Tapi banyak juga yang


salut dengan keberanian Padli. Mereka menganggap Padli ternyata bukan


kaleng-kaleng (bisa di sepelekan).


Malam itu Inna deg...deg..kan menunggu Padli datang, ini adalah kencan pertama


mereka. Walaupun hampir setiap hari dia bertemu dengan Padli, namun itukan di


dalam warung, tentu saja berbeda dengan sekarang. Sejujurnya diapun salut


dengan keberanian Padli membantah ucapan Abahnya. Saat mendengar suara Padli


yang mengucapkan salam, Inna pun langsung keluar dari kamarnya, di ruang tengah


bertemu sama Abah. “Jangan pulang lama-lama” kata Abah. “Iya Bah”, jawab Inna sambil


bernapas lega. Diapun keluar menemui Padli untuk acara kencan makan bakso


mereka. Ketika diluar mereka melihat Intan yang mengangkat ke dua jempolnya ke


atas. Inna tersenyum dan kemudian tertunduk malu.


Di warung bakso kak Piah, ada bang Mandor yang menegur mereka,


“Udah berani keluar malam ya kalian, mantaplah, hehehe..” bang Mandor pun tertawa.


Akhirnya bang Mandor mentraktir mereka.

__ADS_1


__ADS_2