
Malam itu di rumah Abah, setelah sholat ishya dan makam malam, Abah memanggil Inna
untuk duduk bersama di sofa ruang tengah rumah itu. “ Inna, kalau udah siap
cuci piringnya, kemarilah, duduk disini dengan Abah” ujar Abah. Inna datang dan
duduk di sofa di depan Abah, selain mereka ada juga Mak Lena yang sejak tadi
hanya diam.
Abah : Inna, kamu sadarkan usiamu sudah lebih 22 tahun, kalau ukuran orang kampung
disini sudah sangat pantas untukmu berumah tangga. Kemaren ketika Pak Erik
mengajukan lamaran untuk anaknya si Edwin kan kamu tolak, alasannya ngak suka.
Dan itu sudah Abah turuti kan. Jadi sekarang Ustad Bambang sudah mengajukan
lamarannya untuk anaknya si Dedi, gimana menurutmu?
Inna : Inna masih belum siap Bah untuk nikah. Nanti ajalah kalau mau ngomongin hal ini.
Abah : Nna, sampai kapan begini terus? Apa kau mau jadi perawan tua? Lagian kan si
Dedi itu orangnya baik, alim juga, tahu mengenai agama, dia lulusan Mesir Nna,
Abah tahu ngak gampang untuk orang kuliah di Mesir. Hanya yang terbaik saja
yang bisa lulus dari sana Nna. Ilmunya pasti banyak lah.
Inna : Tapi Nna belum kenal dengannya Bah, gimana nanti kalau udah tinggal
bersama dengannya.
Abah : Itu bisa sambil jalan Nna, Abah sendiri dengan Mak mu ini juga dulunya ngak
saling kenal kok. Dalam agama kita ngak ada istilah pacaran-pacaran Nna, kan kamu tahu juga itu.
Inna terdiam, tapi dari matanya keluar air mata yang menetes membasahi pipinya, dia
ngak mungkin melawan Abah yang sangat dihormatinya. Melihat itu Abah pun
bertanya lagi.
Abah : Kenapa Nna.. apa ada yang merisaukan hatimu nak? (Abah berbicara lembut)
Inna : Inna suka sama bang Padli Bah. Huhuhu... (Inna menutup wajahnya dengan kedua
tangannya sambil menangis)
Abah terdiam dan Mak lena hanya menundukkan kepalanya dengan pasrah atas tindakan
suaminya.
Pembicaraan itu terputus, Inna masuk kedalam kamarnya, Abah pun keluar untuk duduk di
teras. Dia bingung, keputusan apa yang akan di ambilnya, kalau dia menolak
lamaran Ustad Bambang, dia takut menyesal nantinya. Hal ini tidak bisa di tunda
lama-lama, melihat status Dedi anaknya Ustad Bambang, tentu saja akan banyak
tawaran jodoh yang bisa diterimanya.
Sementara Padli, bukannya dia ngak yakin sama Padli, namun akan membutuhkan waktu yang
__ADS_1
lama agar Padli siap dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Baginya Padli itu
terlalu santai, kurang ambisi untuk berusaha demi masa depannya. Apalagi
sikapnya kadang sedikit kekanak-kanakan.
Sepertinya dia harus menghubungi si Andi, dalam beberapa hal, pandangan si Andi yang sudah
dewasa memberikan masukan yang baik bagi Abah. Abah sangat mempercayai anak
sulungnya itu.
Sementara itu di warung, Padli sedang gembira, Inna sudah menerima cintanya, hal ini
merupakan perkembangan yang baik, selangkah demi selangkah maju ke depan. Walau
tadinya ada kondisi kritis saat Ustad Bambang datang, tapi Alhamdulillah,
sepertinya Padli masih diberi sedikit waktu untuk melanjutkan misinya. Dan
besok dia gajian, dia berencana mentraktir Inna makan bakso di warungnya kak
Piah. Warung bakso itu sangat terkenal di kampung ini, dan lokasinya tidak jauh
dari warung Abah. Memang harganya sedikit mahal untuk ukuran orang kampung disini,
tapi gak apa apa lah. (Padli nyengir sendiri) Memang, ini akan sulit karena
harus meminta izin Abah, tapi ini juga sebagai langkah untuk melihat reaksi
Abah. Selama ini Padli kesulitan menaksir sikap Abah terhadap dirinya.
Khususnya sikap Abah terhadap hubungannya dengan si Inna.
warung biasanya sepi, tapi semenjak adanya TV terlihat beberapa pelanggan masih
duduk santai di warung sambil nonton berita di TV. Abah duduk di kursi
kerajaannya yaitu kursi meja kasir.
Padli : Nna.. (bersuara pelan) nanti malam ngebakso yuk, abang kok kepingin makan
baksonya kak Piah.
Inna : Ayok bang, Nna juga pingin. Udah lama juga ngak makan baksonya kak Piah.
Padli : Abis Ishya mau? Nanti abang jemput ke rumah. Abang udah gajian nih, jadi
nanti abang yang bayar ya.
Inna : (Mengangguk), tapi izin dulu sama Abah bang.
Padli : Iya.
Padli berdiri sambil mengawasi kondisi warung, menunggu kesempatan untuk berbicara
dengan Abah. Ketika kondisinya memungkinkan, Padli pun berjalan mendekati Abah.
Padli : Bah, Padlikan udah gajian nih.
Abah : Iya, kenapa memangnya?
Padli : Nanti malam Padli mau ngajak Inna makan Bakso di warungnya Kak Piah, boleh
Bah?
__ADS_1
Abah : Padli...Padli, uangmu itu di tabung lah, jangan diborosin terus, kemaren beli
hp, beli kelambu, sekarang gajian ini pun mau kau habis-habiskan aja, gitu!
Padli : Tapi Bah, ini kan cuma makan bakso aja, lagian perginya pun cuma berdua, ngak
banyak kali lah biayanya Bah.. (Padli memasang tampang memelas)
Abah : Justru karena cuma berdua saja, itu yang Abah ngak suka. Apa kata orang
kampung kalau melihat si Inna jalan-jalan berdua dengan orang yang bukan
muhrimnya? Malu kan Abah! (suara Abah semakin meninggi)
Padli : (terdiam sejenak) Bah, orang-orang juga tahu, kami biasanya juga berdua kalau
ada di warung ini, lagian kan Bah, ini kan cuma ke warungnya kak Piah, bukan
jauh-jauh, dari sini juga keliatan warungnya. Boleh ya Bah... (Di kampung ini
hanya Padli yang berani membantah Abah, Padli sudah menganggap Abah itu
bapaknya sendiri, karena dia sudah ngak mempunyai bapak lagi).
Abah : (Terdiam sambil memandangi Padli) Ya terserahlah..
Padli : Izin ya Bah, abis Ishya perginya.
Abah : Jangan lama-lama!
Beberapa pelanggan yang mendengar perdebatan itu merasa salut dengan perjuangan Padli.
Ke depannya, berita bahwa Padli berani melawan Abah menjadi viral di kampung itu.
Ada yang sinis dengan mengatakan bahwa Padli orang yang tak tau diuntung, sudah
diterima Abah, malah makin ngelunjak (Tak tahu diri). Tapi banyak juga yang
salut dengan keberanian Padli. Mereka menganggap Padli ternyata bukan
kaleng-kaleng (bisa di sepelekan).
Malam itu Inna deg...deg..kan menunggu Padli datang, ini adalah kencan pertama
mereka. Walaupun hampir setiap hari dia bertemu dengan Padli, namun itukan di
dalam warung, tentu saja berbeda dengan sekarang. Sejujurnya diapun salut
dengan keberanian Padli membantah ucapan Abahnya. Saat mendengar suara Padli
yang mengucapkan salam, Inna pun langsung keluar dari kamarnya, di ruang tengah
bertemu sama Abah. “Jangan pulang lama-lama” kata Abah. “Iya Bah”, jawab Inna sambil
bernapas lega. Diapun keluar menemui Padli untuk acara kencan makan bakso
mereka. Ketika diluar mereka melihat Intan yang mengangkat ke dua jempolnya ke
atas. Inna tersenyum dan kemudian tertunduk malu.
Di warung bakso kak Piah, ada bang Mandor yang menegur mereka,
“Udah berani keluar malam ya kalian, mantaplah, hehehe..” bang Mandor pun tertawa.
Akhirnya bang Mandor mentraktir mereka.
__ADS_1