Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 6


__ADS_3

Siang itu cuaca sangat cerah, udara lumayan panas, kipas


angin yang terletak di dinding sudah berputar maksimal. Inna minta dibuatkan


teh manis dingin sama Padli, yang langsung dibuat Padli, setelah Inna minum


sedikit, gantian Padli yang meminta teh manis dinginnya Inna, tentu saja Inna


menolak, tapi karena Padli yang membuat teh manisnya yah apa boleh buat.


Akhirnya Padli pun meminum teh manis yang sudah di minum Inna, “hehehe...


serasa gimana gitu”, ujar Padli sambil tersenyum lebar. Inna hanya cemberut


merasa dikerjai.


Seorang pria memasuki warung, penampilannya lumayan rapi,


pakai baju kaos berkerah, celana jeans dan sepatu. Pria tersebut membawa tas ransel


besar di punggungnya. Sebelum pria tersebut berbicara sesuatu terdengar jeritan


Inna, “bang Andi”. Inna langsung memeluk pria tersebut dengan eratnya. Padli


hampir saja spontan menarik tangan Inna untuk melepaskan Inna dari pria


tersebut, tapi melihat senyum Abah, niat tersebut di urungkannya.


Setelah melepas pelukan Inna, pria tersebut langsung mencium


tangan Abah, “Assalamualaikum Bah” katanya. Waalaikum Salam” jawab Abah sambil


mempersilakan pria tersebut untuk duduk di depannya.


“Sudah makan Ndi”? tanya Abah. “Belum Bah”, jawab Pria


tersebut. “Na, buatin makanan abangmu ni”, teriak Abah, “terus mau minum apa”?,


tanya Abah lagi. “Teh manis dingin aja Bah”, jawab pria itu lagi. “Itu siapa


Bah”? tanyanya sambil menunjuk Padli. Oh, itu pegawai baru, Pad, sini Pad, ini


Andi, abang si Inna, kata Abah memperkenalkan. Padli pun datang dan menyodorkan


tangannya untuk bersalaman, “saya Padli bang”, kata Padli. Andi pun membalas


jabat tangan Padli seraya mengucapkan, “Andi”, katanya singkat. Pad, kayaknya


kita seumuran lah, “berapa umurmu”?, tanyanya kepada Padli. “29 bang, emang


abang berapa”?, tanya Padli lagi. “30, beda tipislah kita”, jawab Andi sambil


tersenyum.


“hehe.. iya bang, saya buat minum dulu ya, tadi abang mau


teh manis dingin kan?, ntar saya buatin”, kata Padli sambil menuju steeling


minuman. Andi pun segera mengobrol sama Abah, yah diapun kangen sama Abahnya. Ngak


lama kemudian Inna pun datang dengan sepiring nasi goreng untuk abangnya,


kemudian diapun bergabung bersama mereka. Abah, Andi, Inna, sepertinya ikatan


keluarga diantara mereka cukup erat. “Kok bisa kamu tiba-tiba pulang kesini”? tanya


Abah kepada Andi. “Aku dapat kenaikan jabatan Bah, jadi manager gudang diperusahaanku,


jadi sebelum itu, maka aku harus di training dulu selama 5 hari, kebetulan

__ADS_1


tempat trainingnya di kota ini”, kata Andi menjelaskan. Tak lama kemudian, Andi


mengeluarkan bungkusan dalam ranselnya dan menyerahkannya kepada Inna, “Na, ini


abang beli di Batam, inikan yang kamu pesan”? kata Andi kepada adiknya. Inna


segera membuka bungkusan tersebut dan segera dia memeluk abangnya “makasih ya


bang”, sesuai kok dengan Hp Nna, jawabnya lagi. Isi bungkusan tersebuat adalah


casing Hp. Inna terlihat sangat bahagia sekali mendapat oleh-oleh dari abangnya.


Mereka bertiga kemudian melanjutkan obrolannya. Dari obrolan mereka Padli mengetahui


bahwa Andi bekerja di perusahaan retail miliknya yang membuka cabang di kota


Batam. Dia sendiri tidak mengenal siapa pimpinan cabang perusahaan itu, soalnya


yang berhubungan dengannya hanyalah pimpinan direksi yang berada di kantor


pusat, itupun biasanya mereka hanya berhubungan dengan kepala divisi bagian


retail yang berada di kantor Padli, karena kantor Padli membawahi banyak sekali


perusahaan, yang salah satunya ya perusahaan retail tempat Andi bekerja.


Hari sudah sore, Andi sudah pulang kerumah untuk menemui Mak


Lena, begitu juga dengan Inna dan Abah. Padli bersiap menutup warung, setelah


itu dia bergegas untuk mandi kemudian ke mushola untuk sholat maghrib. Setelah


sampai di mushola, Padli melihat Andi, tapi Abah ngak ada, sepertinya Abah


sholat dirumah. Selesai sholat maghrib, Andi mendatangi Padli untuk mengobrol.


Andi : Dah lama kerja disini, Pad?


Andi : Senang kerja disini?


Padli : Senang kok bang, Abah baek kok orangnya.


Andi : Berapa kamu digaji sama Abah?


Padli : 300 ribu bang.


Andi : Sedikit kali Abah menggajimu.


Padli : Gak pa pa bang, soalnya aku disinikan dapat makan,


dapat tempat tinggal lagi.


Andi : Sabarlah ya Pad, kalau aku sudah stabil di jabatan


baruku, nanti kau kubawa ke Batam, kerja di perusahaan tempatku bekerja,


setidaknya disana gajinya sudah UMR dan ada jenjang karier juga. Kalau kau


sungguh-sungguh bekerja disana, nanti kau bisa naik jabatan juga.


Padli : Tapi kalau aku kerja di Batam, siapa yang jaga


warungnya bang?


Andi : Jangan khawatir, nanti kita temukan solusinya, kau bukan


seorang remaja lagi Pad, setidaknya kau harus mendapatkan pekerjaan yang baik,


supaya kau bisa memenuhi kebutuhan keluargamu. Kau ngak mau terus jadi jomblo

__ADS_1


kan?


Padli : Iya bang, terima kasih ya, bang.


Sebelum pulang Andi memberikan Padli uang 100 ribu, yang


katanya untuk uang jajan. Padli menerima uang tersebut dengan suka cita.


Andi berada di kampung selama 2 hari, selama itu dia banyak


menghabiskan waktunya di warung, menggoda adiknya, bertemu teman-teman


sekampung, dll.


Padli berpikir bahwa Andi adalah seorang yang ramah, supel,


penuh perhatian dan baik hatinya. “Kedepannya aku akan menjadikan Andi sebagai


pimpinan cabang di Batam”, kata Padli dalam hati.


Malam itu Padli menghabiskan waktu dengan berbicara dengan


Yitno, pembicaraannya seputar masalah kantor dan juga perkembangan ekonomi di


Indonesia. Yitno banyak mengiriminya Email berisi konsep dan perjanjian


negosiasi dengan rekanan mereka, Padli membacanya satu persatu dengan teliti sebelum


mengambil keputusan.


Yitno : Gimana, masih betah kau disana?


Padli : Yah gitulah, aku sekarang sudah bisa masak soto, menyiangin


ikan, masak mie-hun, mie-tiaw, padahal dulu aku cuma bisa makannya aja. Hahaha...


Yitno : Kalau pulang nanti, kita buat pestalah, tapi


syaratnya kau semua yang masaknya ya, aku jadi pengen ngerasain masakanmu.


Padli : Gampang itu bro, kalau disini ikan laut mudah


didapat, dan lagi masih segar-segar. Kalau ada kesempatan kau datang kemarilah,


biar kubuatin gulai asam ikan krapu, Mak Lena yang ngajarin aku.


Yitno : Trus, hubunganmu dengan tuan putri (Inna) gimana?


Padli :  Belum ada


perkembangan bro, masih begitu aja, aku belum punya keyakinan dengan Abahnya,


kalau aku jujur dan bilang statusku apa adanya, takutnya Abah malah jadi ngak


suka. Tapi abangnya si Andi rupanya kerja di retail kita di cabang Batam. Bisa


kau carikan informasi tentang dia Yit?


Yitno : Namanya Andi di retail Batam?


Padli : Iya, jabatannya yang baru adalah manager gudang.


Yitno : Oke, nanti kucarikan.


Padli : Sep, thank’s yo...


Merekapun mengakhiri pembicaraan, Padli berbaring di atas


dipan, sambil memikirkan cara meningkatkan hubungannya dengan si Inna. “Si

__ADS_1


Inna, walaupun orangnya pendiam dan sedikit dingin, ternyata kalau sama


abangnya, manjanya luar biasa”, pikir Padli dalam hati.


__ADS_2