
Siang itu cuaca sangat cerah, udara lumayan panas, kipas
angin yang terletak di dinding sudah berputar maksimal. Inna minta dibuatkan
teh manis dingin sama Padli, yang langsung dibuat Padli, setelah Inna minum
sedikit, gantian Padli yang meminta teh manis dinginnya Inna, tentu saja Inna
menolak, tapi karena Padli yang membuat teh manisnya yah apa boleh buat.
Akhirnya Padli pun meminum teh manis yang sudah di minum Inna, “hehehe...
serasa gimana gitu”, ujar Padli sambil tersenyum lebar. Inna hanya cemberut
merasa dikerjai.
Seorang pria memasuki warung, penampilannya lumayan rapi,
pakai baju kaos berkerah, celana jeans dan sepatu. Pria tersebut membawa tas ransel
besar di punggungnya. Sebelum pria tersebut berbicara sesuatu terdengar jeritan
Inna, “bang Andi”. Inna langsung memeluk pria tersebut dengan eratnya. Padli
hampir saja spontan menarik tangan Inna untuk melepaskan Inna dari pria
tersebut, tapi melihat senyum Abah, niat tersebut di urungkannya.
Setelah melepas pelukan Inna, pria tersebut langsung mencium
tangan Abah, “Assalamualaikum Bah” katanya. Waalaikum Salam” jawab Abah sambil
mempersilakan pria tersebut untuk duduk di depannya.
“Sudah makan Ndi”? tanya Abah. “Belum Bah”, jawab Pria
tersebut. “Na, buatin makanan abangmu ni”, teriak Abah, “terus mau minum apa”?,
tanya Abah lagi. “Teh manis dingin aja Bah”, jawab pria itu lagi. “Itu siapa
Bah”? tanyanya sambil menunjuk Padli. Oh, itu pegawai baru, Pad, sini Pad, ini
Andi, abang si Inna, kata Abah memperkenalkan. Padli pun datang dan menyodorkan
tangannya untuk bersalaman, “saya Padli bang”, kata Padli. Andi pun membalas
jabat tangan Padli seraya mengucapkan, “Andi”, katanya singkat. Pad, kayaknya
kita seumuran lah, “berapa umurmu”?, tanyanya kepada Padli. “29 bang, emang
abang berapa”?, tanya Padli lagi. “30, beda tipislah kita”, jawab Andi sambil
tersenyum.
“hehe.. iya bang, saya buat minum dulu ya, tadi abang mau
teh manis dingin kan?, ntar saya buatin”, kata Padli sambil menuju steeling
minuman. Andi pun segera mengobrol sama Abah, yah diapun kangen sama Abahnya. Ngak
lama kemudian Inna pun datang dengan sepiring nasi goreng untuk abangnya,
kemudian diapun bergabung bersama mereka. Abah, Andi, Inna, sepertinya ikatan
keluarga diantara mereka cukup erat. “Kok bisa kamu tiba-tiba pulang kesini”? tanya
Abah kepada Andi. “Aku dapat kenaikan jabatan Bah, jadi manager gudang diperusahaanku,
jadi sebelum itu, maka aku harus di training dulu selama 5 hari, kebetulan
__ADS_1
tempat trainingnya di kota ini”, kata Andi menjelaskan. Tak lama kemudian, Andi
mengeluarkan bungkusan dalam ranselnya dan menyerahkannya kepada Inna, “Na, ini
abang beli di Batam, inikan yang kamu pesan”? kata Andi kepada adiknya. Inna
segera membuka bungkusan tersebut dan segera dia memeluk abangnya “makasih ya
bang”, sesuai kok dengan Hp Nna, jawabnya lagi. Isi bungkusan tersebuat adalah
casing Hp. Inna terlihat sangat bahagia sekali mendapat oleh-oleh dari abangnya.
Mereka bertiga kemudian melanjutkan obrolannya. Dari obrolan mereka Padli mengetahui
bahwa Andi bekerja di perusahaan retail miliknya yang membuka cabang di kota
Batam. Dia sendiri tidak mengenal siapa pimpinan cabang perusahaan itu, soalnya
yang berhubungan dengannya hanyalah pimpinan direksi yang berada di kantor
pusat, itupun biasanya mereka hanya berhubungan dengan kepala divisi bagian
retail yang berada di kantor Padli, karena kantor Padli membawahi banyak sekali
perusahaan, yang salah satunya ya perusahaan retail tempat Andi bekerja.
Hari sudah sore, Andi sudah pulang kerumah untuk menemui Mak
Lena, begitu juga dengan Inna dan Abah. Padli bersiap menutup warung, setelah
itu dia bergegas untuk mandi kemudian ke mushola untuk sholat maghrib. Setelah
sampai di mushola, Padli melihat Andi, tapi Abah ngak ada, sepertinya Abah
sholat dirumah. Selesai sholat maghrib, Andi mendatangi Padli untuk mengobrol.
Andi : Dah lama kerja disini, Pad?
Andi : Senang kerja disini?
Padli : Senang kok bang, Abah baek kok orangnya.
Andi : Berapa kamu digaji sama Abah?
Padli : 300 ribu bang.
Andi : Sedikit kali Abah menggajimu.
Padli : Gak pa pa bang, soalnya aku disinikan dapat makan,
dapat tempat tinggal lagi.
Andi : Sabarlah ya Pad, kalau aku sudah stabil di jabatan
baruku, nanti kau kubawa ke Batam, kerja di perusahaan tempatku bekerja,
setidaknya disana gajinya sudah UMR dan ada jenjang karier juga. Kalau kau
sungguh-sungguh bekerja disana, nanti kau bisa naik jabatan juga.
Padli : Tapi kalau aku kerja di Batam, siapa yang jaga
warungnya bang?
Andi : Jangan khawatir, nanti kita temukan solusinya, kau bukan
seorang remaja lagi Pad, setidaknya kau harus mendapatkan pekerjaan yang baik,
supaya kau bisa memenuhi kebutuhan keluargamu. Kau ngak mau terus jadi jomblo
__ADS_1
kan?
Padli : Iya bang, terima kasih ya, bang.
Sebelum pulang Andi memberikan Padli uang 100 ribu, yang
katanya untuk uang jajan. Padli menerima uang tersebut dengan suka cita.
Andi berada di kampung selama 2 hari, selama itu dia banyak
menghabiskan waktunya di warung, menggoda adiknya, bertemu teman-teman
sekampung, dll.
Padli berpikir bahwa Andi adalah seorang yang ramah, supel,
penuh perhatian dan baik hatinya. “Kedepannya aku akan menjadikan Andi sebagai
pimpinan cabang di Batam”, kata Padli dalam hati.
Malam itu Padli menghabiskan waktu dengan berbicara dengan
Yitno, pembicaraannya seputar masalah kantor dan juga perkembangan ekonomi di
Indonesia. Yitno banyak mengiriminya Email berisi konsep dan perjanjian
negosiasi dengan rekanan mereka, Padli membacanya satu persatu dengan teliti sebelum
mengambil keputusan.
Yitno : Gimana, masih betah kau disana?
Padli : Yah gitulah, aku sekarang sudah bisa masak soto, menyiangin
ikan, masak mie-hun, mie-tiaw, padahal dulu aku cuma bisa makannya aja. Hahaha...
Yitno : Kalau pulang nanti, kita buat pestalah, tapi
syaratnya kau semua yang masaknya ya, aku jadi pengen ngerasain masakanmu.
Padli : Gampang itu bro, kalau disini ikan laut mudah
didapat, dan lagi masih segar-segar. Kalau ada kesempatan kau datang kemarilah,
biar kubuatin gulai asam ikan krapu, Mak Lena yang ngajarin aku.
Yitno : Trus, hubunganmu dengan tuan putri (Inna) gimana?
Padli : Belum ada
perkembangan bro, masih begitu aja, aku belum punya keyakinan dengan Abahnya,
kalau aku jujur dan bilang statusku apa adanya, takutnya Abah malah jadi ngak
suka. Tapi abangnya si Andi rupanya kerja di retail kita di cabang Batam. Bisa
kau carikan informasi tentang dia Yit?
Yitno : Namanya Andi di retail Batam?
Padli : Iya, jabatannya yang baru adalah manager gudang.
Yitno : Oke, nanti kucarikan.
Padli : Sep, thank’s yo...
Merekapun mengakhiri pembicaraan, Padli berbaring di atas
dipan, sambil memikirkan cara meningkatkan hubungannya dengan si Inna. “Si
__ADS_1
Inna, walaupun orangnya pendiam dan sedikit dingin, ternyata kalau sama
abangnya, manjanya luar biasa”, pikir Padli dalam hati.