
Ada
gosip baru di kampung Nelayan, ibu-ibu para gosipers sudah bergunjing
kesana-sini. Padahal kejadiannya baru saja terjadi, tapi sudah menyebar ke
hampir semua ibu-ibu di kampung nelayan. Gosip ini sudah tentu menghampiri Bik
Surti, Maknya Intan. Sore itu langit mendung, Bik Surti segera bergegas
mengambil jemuran yang di jemur di depan rumah, bertemu dengan Mak Lena yang juga
akan mengambil jemurannya.
Bik Surti : Kak, Kak Lena,sini...sini. (Mak Lena lebih tua beberapa tahun
dibandingkan Bik Surti)
Mak Lena : Apa?
Bik Surti : Menurut kakak, si Padli itu orangnya gimana?
Mak Lena : Baik lah, Alim, terus memangnya kenapa Tik?
Bik Surti : Begini kak, Si Intan kan udah jadian ama si Padli, sebenarnya kan kak, Waknya
si Intan mau menjodohkan si Intan ama si Edwin, tapi kalau dah gini yah mau apa
lagi. Makanya aku tanya sama kakak tentang si Padli.
Mak Lena : Masak sih si Intan pacaran ama si Padli, kapan jadiannya ya?
Bik Surti : Ntahlah, katanya tadi pagi mereka terlihat berdua-dua an sewaktu Padli
abis pingsan.
Mak Lena : Apa? Padli pingsan? Kenapa?
Bik Surti : Apa kakak ngak tau ya, kayaknya Padli pingsan karena kecapean nyangkol,
kata-kata orang sepertinya si Padli ngak biasa kerja berat gitu.
Mak Lena : Padahal kalau di warung, kerja seharian juga ngak apa apa, kok bisa ya
dia pingsan.
Bik Surti : Yah bisalah kak, inikan kerjaannya beda. Teruskan kak, aku rencananya mau
ngirim Padli untuk kerja di grosiran uwaknya si Intan di kota Kecamatan.
Makanya sebelum itu aku bilang dulu sama kakak.
Mak Lena : Ngak bisa gitulah tik, nanti yang ngurusin warung siapa?
Bik Surti : Kalau si Intan menikah dengan Padli, yah... ngak mungkinlah kak dia kerja terus di warung
itu.
Mak Lena terdiam, hari mulai gerimis, “Tik,tik (nama panggilan Surti, bukan rintik
hujan) ... udah, cepat, nanti keburu ujan lebat,”kata Mak Lena sambil segera berlalu.
Inna terduduk lemas di pojokan rumahnya. Tanpa sadar, air mata meleleh jatuh di pipinya.
Dia yang sejak tadi berdiri di balik dinding mendengar jelas pembicaraan kedua
__ADS_1
emak-emak tersebut. Hatinya perih, yah ngak bisa disangkal, selama hampir 2
bulan kebersamaanya dengan Padli, telah menggoreskan perasaan cinta dihatinya,
dia sadar, adalah hak Padli untuk memilih, tapi kenapa harus Intan?, padahal
sebelumnya dengan jelas ia mendengar kata-kata Intan yang menyebutkan bahwa
Padli sudah mempunyai kekasih di kampungnya sana?, Apa Intan sengaja melakukan
itu agar dapat merebut Padli darinya?, kayaknya ngak mungkinlah Intan tega
berbuat itu, Inna mengenal Intan sudah sangat lama, Inna tahu, Intan bukan tipe
perempuan seperti itu. Tapi tetap saja hal ini membuat hati Inna sedih.
Siang itu di warung terlihat lenggang. Para nelayan telah kembali melaut, mengais
rezeki demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Bang Udin sudah kembali bekerja di
kota, Abah sejak pagi tidak datang. Padli sedang memandangi Inna yang segera
melengos dan membuang muka.
Padli : Nna.. abang ada salah lagi ya?
Inna : Hem.. (pura-pura tidur diatas meja sambil menutup muka)
Padli : (Berhenti sejenak).. Headsetnya bagus Nna? Apa suaranya enak?
Inna : Bagus kok, suaranya enak.
Padli : Oh gitu ya, kok ngak dibawa ke warung, kalo lagi sepi ginikan jadinya bisa
Inna : Ngak lah, headsetnya mau Nna buang. (Nada suara Inna mulai meninggi)
Padli : Lho..kok dibuang, kenapa?
Inna : Nna ngak mau punya barang dari orang yang ngak bisa dipercaya.
Padli : Ngak dipercaya? Emang siapa yang ngak bisa dipercaya?
Inna : Abang lah, abang dah punya pacar di kampung, terus goda-goda in Nna, sekarang
malah dah jadian sama Intan. Nna kecewa bang, ternyata selama ini abang hanya
mempermainkan Nna.. (Inna mulai menangis, air matanya jatuh semakin deras).
Padli : (Bingung, sambil melihat Inna yang terisak-isak)... Nna, abang ngak punya
pacar dikampung, abang ngak pernahpun punya pacar sampai saat ini, abang ngak
pacaran sama Intan, abang ngak cinta sama Intan, abang hanya sayang sama Nna,
Abang cinta sama Nna, abang ingin Nna jadi istri abang. Abang bersumpah Nna,
itulah yang abang rasakan. (Padli mengucapkan kata-kata tersebut dengan lambat,
tegas dan jelas, sambil menatap mata Inna yang juga sedang menatapnya)
Mereka berdua terdiam dan saling bertatapan.
Intan masuk ke dalam warung sambil berjalan dan melompat-lompat. “Hayoo... kalian
ngapain”, teriaknya dengan riang. Saat Intan melihat keduanya terdiam, dia pun
__ADS_1
lantas berkata “Kalian kenapa”?.
Padli berjalan menuju dipan dan duduk sambil berselonjor, tatapannya mengarah jauh
keluar jendela. Intanpun mendekati Inna, Inna hanya diam sambil membuang mukanya,
Intan menarik kursi yang tadi diduduki Padli, menggesernya mendekati kursi
Inna. Kemudian dia berbisik di dekat telinga Inna, bisik-bisik lagi.. berbisik
lagi, “lho kok itu diceritain, kan aku jadi malu” kata Inna pelan sambil menunduk
malu. Intanpun melanjutkan bisikannya ..sstststs.. “bener nih, ngak bohong”? tanya Inna pelan
sambil menatap mata Intan, Intan berbisik lagi.. sambil memeluk bahu Inna. Inna
memegang tangan Intan dan berkata, “ Maaf ya Ntan, aku dah salah paham
kepadamu”.
Padli mengernyitkan matanya sambil menggeleng gelengkan kepala, dia heran terhadap
kelakuan kedua perempuan itu, berbisik-bisik, peluk-pelukan, cekikikan,
“walah... memang perempuan adalah mahluk yang paling misterius”, pikirnya dalam
hati.
************
Tak lama pelanggan mulai berdatangan, Padli pun berjalam menuju steeling minuman,
ada pelanggan yang memesan kopi. Melihat itu Intanpun segera berdiri dan keluar
ruangan makanan sambil berkata kepada Inna “Nna, aku pulang dulu, ntar malam
aja kita lanjutin lagi ya”, Inna hanya mengangguk sambil tersenyum lebar.
Edwin masuk bersama dengan geng nya, mereka memesan kopi, dan minta dibuatkan
gorengan untuk cemilan sore. Wak Kocu menghampiri Edwin “Win, kau bilang sama
Bapak mu, beliin TV untuk warung ini, jadi kalian ngak perlu sampai mengusirku
dari rumah kalian, karena aku nonton TV” kata Wak Kocu memberi saran. Wak Kocu
tinggal sendirian di rumahnya, Istrinya sudah lama meninggal dunia,
anak-anaknya pun sudah pada besar dan tinggal terpisah darinya. Karena itu
dirumahnya ngak ada apa apa, karena rumah hanyalah sebagai tempat tidur aja
bagi wak Kocu, wak Kocu lebih sering menghabiskan waktu di warung ketimbang
dirumahnya.
Saran Wak Kocu rupanya mendapat sambutan hangat oleh pelanggan pelanggan lain. Biar
gimana, wak Kocu adalah senior bagi para pekerjanya Pak Erik. Apalagi saran ini
untuk kepentingan semua orang. Memang bagi mereka, keberadaan warung kopi ini
adalah menjadi milik bersama, karena mereka juga berkepentingan terhadap warung
kopi ini.
__ADS_1