
Maghrib itu Padli sholat di rumah, menjadi Imam dari Inna dan Mak Lena, karena Abah
sholat di mushola. Setelah itu Padli kemudian melanjutkannya dengan membaca
ayat-ayat suci Al-Qur’an, memang dia selalu mengaji kalau ada kesempatan. Inna
dan Mak Lena berada di dapur, menyiapkan makan malam mereka. Mak Lena merasa
senang, setelah melihat sikap Padli dan kecerahan dari wajah Inna, hal ini membuat
dia yakin, bahwa Inna diperlakukan dengan baik selama ini.
Abah pulang, dan merekapun makan malam bersama. Setelah itu, Padli pamit mau ke
warung untuk bersantai di warung, tadi sore dia menerima tantangan catur dari
bang Mandor, mereka sepakat untuk bermain di malam hari di warung, apalagi
sudah ada papan catur besar yang telah dibawa Padli.
Padli sampai di warung, ternyata bang Mandor belum datang. Dia membuat kopi untuk
dirinya sendiri dan wak Kocu membiarkannya saja. Setelah itu merekapun asyik
mengobrol. Setelah itu bang Mandor datang dan merekapun bermain catur. Mereka
bermain dua babak, dan kembali Padli memenangkan keduanya. Bang Mandor agak
memerah mukanya, sepertinya dia masih belum terima dengan kekalahannya. Tapi
karena mie kuah yang dibuat mang Udin untuknya telah selesai, diapun
mengalihkan perhatiannya kepada makanannya. Dan begitulah hari itu berjalan.
Tak terasa waktu terus berjalan, dan sampailah waktu mereka akan kembali ke kota.
Inna memeluk Mak Lena untuk pamit setelah lebih dahulu menyalami Abah. Padli
mengatakan akan berusaha sesering mungkin untuk datang kembali ke kampung. Dia
juga merasa nyaman untuk tinggal di kampung, namun karena pekerjaannya menuntut
dia harus segera kembali ke kota. Setelah pamit kesana kemari, akhirnya Mobil
itu berjalan pelan meninggalkan warung, di ikuti lambaian tangan pelanggan
warung.
Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya sampailah mereka dirumah kembali. Inna
langsung memeluk Mama dan mengatakan kerinduannya yang dibalas dengan pelukan
juga oleh Mama. “Apa kabar Abah dan Emakmu disana Nna”, tanya Mama. “Baik kok Ma,
Abah sehat dan Emak juga sehat, nanti kapan-kapan mereka akan kesini Ma” jawab
Inna lugas. Padli hanya diam saja mendengarnya, dia tahu bahwa Abah ngak lagi
sehat, cuma mungkin Abah ngak menceritakannya kepada Inna.
Setelah membereskan barang bawaannya, akhirnya merekapun pergi untuk beristirahat.
Inna telah tertidur di kamar, selama beberapa hari di kampung membuat dia kurang
__ADS_1
tidur, sementara itu Padli asyik berenang di kolam renang luar.
Hari-haripun berlanjut seperti biasanya, ketika waktu Ramadhan tiba, mereka hanya bisa
berkumpul diwaktu makan sahur saja, sedangkan ketika berbuka hanya Inna dan
Mama saja yang berbuka bersama-sama dengan para ART. Padli berbuka di kantor,
sedangkan Irvan berbuka di luar karena ada beberapa urusannya. Namun kalau ada
kesempatan di rumah, Irvan selalu berbuka di rumah bersama mereka.
Hari itu Inna menghabiskan waktu dengan berkeliling rumah, setelah selama ini ada
beberapa kali dia melakukannya, namun masih saja ditemukan suatu tempat
“rahasia” yang belum pernah di lihatnya. Apakah itu bilik di bawah tangga,
lemari dinding di luar, tangga rahasia menuju ruangan atap atau memeriksa isi
gudang yang penuh seperti isi super market. Bahkan dia memeriksa area para ART,
tempat cuci pakaian, tempat mensterika dll. Para ART sudah terbiasa dengan
kelakuan Inna. Mereka mengatakan bahwa Inna sedang melakukan blusukan di
rumahnya sendiri. Sampai akhirnya dia kembali berada di ruang studio music.
Senyumnya mengembang memikirkan ide yang terlintas di kepalanya.
Padli telah menyelesaikan Sholat tarawihnya di kamar, dia berencana membuka laptopnya
untuk memeriksa beberapa email yang masuk. Inna menarik tangannya agar segera
tidak masuk ke ruangan ini. Dahulu ruangan ini dibuat ketika dia masih di awal
kuliah, dia membuat group Band kampus, dan dia memegang alat Bass. Tapi hal itu
sudah lama ditinggalkannya.
Inna melihat Padli melalui cermin, karena ruangan itu full cermin, sehingga bayangan
di cermin terpantul berkali-kali. Inna kemudian mencium Padli sambil matanya
melirik ke arah cermin. Setelah yakin dengan posisi dan pantulan cermin, maka dia
kemudian membuka baju dan celana Padli. Padli akhirnya paham apa kemauan Inna,
dia pun mengikuti semua kehendak Inna. Inna meminta agar Padli memasukinya dari
arah belakang (Doggy Style), namun juga Inna masih dapat melihat situasi mereka
dari segala arah karena adanya cermin. Dan akhirnya merekapun melakukannya lagi
di ruangan studio music.
(Readers.... sepertinya karakter Inna sudah agak menyimpang ya, dah ngak normal...
Bagaimana tanggapan kalian? Tolong Like, Vote dan koment nya ya readers...)
Lebaran telah tiba. Padli dan Inna tidak pulang ke kampung nelayan, melainkan hanya di
rumah saja. Ini adalah pertama kalinya Inna berlebaran tanpa didampingi oleh
__ADS_1
Abah dan Emak. Setelah Sholat Ied, mereka sungkeman dengan Mama dan menyalami
para ART yang masih tinggal, Irvan juga bergabung bersama mereka. Setelah itu mereka
pun bersiap-siap menyambut tamu yang akan datang. Yah... Padli akan
melangsungkan Openhouse di rumahnya. Mereka mengundang semua karyawan dan
beberapa relasi bisnis Padli. Yitno yang pertama datang, dia mengecek kesiapan
acara, karena perusahaan catering dipesan olehnya. Acara dilaksanakan oleh
perusahaan Catering, sehingga tidak merepotkan mereka. Teratak (Tenda) besar
dan mewah telah berdiri sejak semalam, meja-meja dan kursi telah dihiasi dan
makananpun telah tersedia. Inna banyak mengantongi angpao (Amplop lebaran) yang
akan diberikan kepada setiap anak-anak yang hadir. Dia bergerak luwes, mengatur
kesana-kemari, dan tanpa canggung menyalami ibu-ibu para istri dari karyawan,
mengobrol ke sesama mereka. Banyak dari mereka yang memuji penampilan dan
kecantikannya, sehingga menepis rumor yang beredar bahwa dia adalah gadis
kampung yang kebetulan menikah dengan pria kaya.
Setelah acara selesai, maka pada malam harinya gantian Padli dan Inna yang diundang
ke beberapa acara dari relasi bisnis Padli. Lagi-lagi penampilan Inna tidak
memalukan. Dia bisa menempatkan diri sebagai seorang istri dari seorang
pengusaha bisnis yang sukses. Pernah ada yang bertanya tentang beberapa potensi
bisnis dan proyek kepadanya namun dia menjawab “Oh.. no.. no... Aku hanyalah
seorang ibu rumah tangga, kalau masalah itu, biar suamiku saja yang
mengurusnya”, jawabnya enteng sembari tersenyum manis.
Hari-hari dalam suasana lebaranpun telah berlalu dan ini adalah hari ke empat. Inna
bersantai di rumah ditemani oleh Mama. Beberapa orang ART telah kembali
bekerja, walau masih ada yang belum datang namun kondisi rumah mulai berjalan
normal.
Mama : Nna, kamu dah lama ngak chek up ke dokter mengenai kandunganmu.
Inna : Iya Ma, memang baru sekali Nna ngecek kandungannya. Abisnya kemarenkan puasa,
dan lagi bang Padli sangat sibuk.
Mama : Kamu harus rutin chek up nya ya Nna, jadi kalau ada yang salah biar cepat ketahuan
dan dapat ditangani. Nanti Mama bilang ke Padli agar membawamu chek up.
Inna : Iya Ma
Inna kemudian mengelus-elus perutnya yang masih terlihat ramping itu.
__ADS_1