Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
LEBARAN DI RUMAH PADLI


__ADS_3

Maghrib itu Padli sholat di rumah, menjadi Imam dari Inna dan Mak Lena, karena Abah


sholat di mushola. Setelah itu Padli kemudian melanjutkannya dengan membaca


ayat-ayat suci Al-Qur’an, memang dia selalu mengaji kalau ada kesempatan. Inna


dan Mak Lena berada di dapur, menyiapkan makan malam mereka. Mak Lena merasa


senang, setelah melihat sikap Padli dan kecerahan dari wajah Inna, hal ini membuat


dia yakin, bahwa Inna diperlakukan dengan baik selama ini.


Abah pulang, dan merekapun makan malam bersama. Setelah itu, Padli pamit mau ke


warung untuk bersantai di warung, tadi sore dia menerima tantangan catur dari


bang Mandor, mereka sepakat untuk bermain di malam hari di warung, apalagi


sudah ada papan catur besar yang telah dibawa Padli.


Padli sampai di warung, ternyata bang Mandor belum datang. Dia membuat kopi untuk


dirinya sendiri dan wak Kocu membiarkannya saja. Setelah itu merekapun asyik


mengobrol. Setelah itu bang Mandor datang dan merekapun bermain catur. Mereka


bermain dua babak, dan kembali Padli memenangkan keduanya. Bang Mandor agak


memerah mukanya, sepertinya dia masih belum terima dengan kekalahannya. Tapi


karena mie kuah yang dibuat mang Udin untuknya telah selesai, diapun


mengalihkan perhatiannya kepada makanannya. Dan begitulah hari itu berjalan.


Tak terasa waktu terus berjalan, dan sampailah waktu mereka akan kembali ke kota.


Inna memeluk Mak Lena untuk pamit setelah lebih dahulu menyalami Abah. Padli


mengatakan akan berusaha sesering mungkin untuk datang kembali ke kampung. Dia


juga merasa nyaman untuk tinggal di kampung, namun karena pekerjaannya menuntut


dia harus segera kembali ke kota. Setelah pamit kesana kemari, akhirnya Mobil


itu berjalan pelan meninggalkan warung, di ikuti lambaian tangan pelanggan


warung.


Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya sampailah mereka dirumah kembali. Inna


langsung memeluk Mama dan mengatakan kerinduannya yang dibalas dengan pelukan


juga oleh Mama. “Apa kabar Abah dan Emakmu disana Nna”, tanya Mama. “Baik kok Ma,


Abah sehat dan Emak juga sehat, nanti kapan-kapan mereka akan kesini Ma” jawab


Inna lugas. Padli hanya diam saja mendengarnya, dia tahu bahwa Abah ngak lagi


sehat, cuma  mungkin Abah ngak menceritakannya kepada Inna.


Setelah membereskan barang bawaannya, akhirnya merekapun pergi untuk beristirahat.


Inna telah tertidur di kamar, selama beberapa hari di kampung membuat dia kurang

__ADS_1


tidur, sementara itu Padli asyik berenang di kolam renang luar.


Hari-haripun berlanjut seperti biasanya, ketika waktu Ramadhan tiba, mereka hanya bisa


berkumpul diwaktu makan sahur saja, sedangkan ketika berbuka hanya Inna dan


Mama saja yang berbuka bersama-sama dengan para ART. Padli berbuka di kantor,


sedangkan Irvan berbuka di luar karena ada beberapa urusannya. Namun kalau ada


kesempatan di rumah, Irvan selalu berbuka di rumah bersama mereka.


Hari itu Inna menghabiskan waktu dengan berkeliling rumah, setelah selama ini ada


beberapa kali dia melakukannya, namun masih saja ditemukan suatu tempat


“rahasia” yang belum pernah di lihatnya. Apakah itu bilik di bawah tangga,


lemari dinding di luar, tangga rahasia menuju ruangan atap atau memeriksa isi


gudang yang penuh seperti isi super market. Bahkan dia memeriksa area para ART,


tempat cuci pakaian, tempat mensterika dll. Para ART sudah terbiasa dengan


kelakuan Inna. Mereka mengatakan bahwa Inna sedang melakukan blusukan di


rumahnya sendiri. Sampai akhirnya dia kembali berada di ruang studio music.


Senyumnya mengembang memikirkan ide yang terlintas di kepalanya.


Padli telah menyelesaikan Sholat tarawihnya di kamar, dia berencana membuka laptopnya


untuk memeriksa beberapa email yang masuk. Inna menarik tangannya agar segera


tidak masuk ke ruangan ini. Dahulu ruangan ini dibuat ketika dia masih di awal


kuliah, dia membuat group Band kampus, dan dia memegang alat Bass. Tapi hal itu


sudah lama ditinggalkannya.


Inna melihat Padli melalui cermin, karena ruangan itu full cermin, sehingga bayangan


di cermin terpantul berkali-kali. Inna kemudian mencium Padli sambil matanya


melirik ke arah cermin. Setelah yakin dengan posisi dan pantulan cermin, maka dia


kemudian membuka baju dan celana Padli. Padli akhirnya paham apa kemauan Inna,


dia pun mengikuti semua kehendak Inna. Inna meminta agar Padli memasukinya dari


arah belakang (Doggy Style), namun juga Inna masih dapat melihat situasi mereka


dari segala arah karena adanya cermin. Dan akhirnya merekapun melakukannya lagi


di ruangan studio music.


(Readers.... sepertinya karakter Inna sudah agak menyimpang ya, dah ngak normal...


Bagaimana tanggapan kalian? Tolong Like, Vote dan koment nya ya readers...)


Lebaran telah tiba. Padli dan Inna tidak pulang ke kampung nelayan, melainkan hanya di


rumah saja. Ini adalah pertama kalinya Inna berlebaran tanpa didampingi oleh

__ADS_1


Abah dan Emak. Setelah Sholat Ied, mereka sungkeman dengan Mama dan menyalami


para ART yang masih tinggal, Irvan juga bergabung bersama mereka. Setelah itu mereka


pun bersiap-siap menyambut tamu yang akan datang. Yah... Padli akan


melangsungkan Openhouse di rumahnya. Mereka mengundang semua karyawan dan


beberapa relasi bisnis Padli. Yitno yang pertama datang, dia mengecek kesiapan


acara, karena perusahaan catering dipesan olehnya. Acara dilaksanakan oleh


perusahaan Catering, sehingga tidak merepotkan mereka. Teratak (Tenda) besar


dan mewah telah berdiri sejak semalam, meja-meja dan kursi telah dihiasi dan


makananpun telah tersedia. Inna banyak mengantongi angpao (Amplop lebaran) yang


akan diberikan kepada setiap anak-anak yang hadir. Dia bergerak luwes, mengatur


kesana-kemari, dan tanpa canggung menyalami ibu-ibu para istri dari karyawan,


mengobrol ke sesama mereka. Banyak dari mereka yang memuji penampilan dan


kecantikannya, sehingga menepis rumor yang beredar bahwa dia adalah gadis


kampung yang kebetulan menikah dengan pria kaya.


Setelah acara selesai, maka pada malam harinya gantian Padli dan Inna yang diundang


ke beberapa acara dari relasi bisnis Padli. Lagi-lagi penampilan Inna tidak


memalukan. Dia bisa menempatkan diri sebagai seorang istri dari seorang


pengusaha bisnis yang sukses. Pernah ada yang bertanya tentang beberapa potensi


bisnis dan proyek kepadanya namun dia menjawab “Oh.. no.. no... Aku hanyalah


seorang ibu rumah tangga, kalau masalah itu, biar suamiku saja yang


mengurusnya”, jawabnya enteng sembari tersenyum manis.


Hari-hari dalam suasana lebaranpun telah berlalu dan ini adalah hari ke empat. Inna


bersantai di rumah ditemani oleh Mama. Beberapa orang ART telah kembali


bekerja, walau masih ada yang belum datang namun kondisi rumah mulai berjalan


normal.


Mama : Nna, kamu dah lama ngak chek up ke dokter mengenai kandunganmu.


Inna : Iya Ma, memang baru sekali Nna ngecek kandungannya. Abisnya kemarenkan puasa,


dan lagi bang Padli sangat sibuk.


Mama : Kamu harus rutin chek up nya ya Nna, jadi kalau ada yang salah biar cepat ketahuan


dan dapat ditangani. Nanti Mama bilang ke Padli agar membawamu chek up.


Inna : Iya Ma


Inna kemudian mengelus-elus perutnya yang masih terlihat ramping itu.

__ADS_1


__ADS_2