
Andi mengambil penerbangan pertama di pagi hari untuk pulang ke kampung nelayan.
Tadi malam dia telah menceritakan semua kejadian siangnya kepada Ningsih
istrinya. “Abah sakit Ning, jadi Abang harus pulang kampung dulu”, katanya.
“Ningsih sebenarnya kepengen ikut lah Bang, Ningsih juga kangen sama Mamak di
Kampung”, ujar Ningsih. “Ya, Abang ngerti, sabarlah dulu ya, nanti kalau ada
kesempatan lagi, kamu akan Abang ajak”, ujar Andi lagi.
Ketika sampai di warung Abah, dia tidak melihat adanya Padli disana, yang ada hanya
wak Kocu sedang memanaskan air untuk membuat minuman. “Wak, orang tu ngak ada
yang datang”? teriak Andi pada wak Kocu, “Oi.. Ndi, belum ada, mampirlah dulu”
ujar wak Kocu. Andi hanya melambai-lambaikan tangannya sambil terus berjalan ke
rumah Abah.
Sampai di rumah Abah dia melihat Padli sedang duduk di sofa ruang tamu, rambutnya
sedikit kusut dan berantakan. Dia berdiri dan menyalami Andi. ”Abah ada di
kamar, Inna yang menjaganya, bang” ujar Padli. Andi hanya menganguk saja dan
langsung pergi ke kamar Abah.
Akhirnya Abah mau keluar dari kamar, Dia duduk di meja makan ruang tengah, Inna
mendatangi Padli dan duduk di sofa ruang tamu. Abah memandang Padli dengan
tajam.
Andi mendekati Abah, dan duduk disamping Abah. Andi berbisik di dekat telinga
Abah...bisik-bisik, Abah terdiam, Andi melanjutkan bisikannya sstststs....
“ya, ngak harus begitulah..” komentar Abah dengan pelan. Andi terus saja berbisik,
sampai akhirnya Abah menatapnya “semua biaya rumah sakit”? kata abah terkejut.
Andi berbisik lagi.... , Abah terdiam tapi matanya berkaca-kaca.
Akhirnya Andi pun menghentikan bisikannya, Abah berdiri “Pad, ya sudah, kamu pulang
sekarang, bawa keluargamu kemari kita adakan pernikahan secepatnya”, kata Abah
tegas. Padli tersenyum lebar, dia lantas mencium tangan Abah dan kemudian
memandangi Inna dengan mesra, Inna pun membalas tatapannya dengan lembut.
“Sekarang geraknya, jangan lupa beresin dulu warung”, teriak Abah. Padli tersentak kaget
“Ya..ya Bah” katanya sambil berlalu. Andi hanya tersenyum saja melihat tingkah
mereka.
Padli pulang ke rumahnya hari itu juga, dia juga sudah kangen dengan ibunya.
“Ma.. Maafin Padli ya, baru sekarang Padli pulangnya”, kata Padli sambil mencium
tangan mamanya. “Ngak apa apa sayang, mama ngerti kok, lagian hampir setiap
malam kamu nelponin mama kan”, ujar mama.
__ADS_1
“Ma... mereka minta kita melakukan pernikahan secepatnya, Mama bisa ngak datang
kesana”, tanya Padli. Hem.. Mama...menghela napas dengan berat. “Bukannya Mama
ngak mau sayang, Mama pun kepingin sekali melihat kampung nelayan yang kamu
ceritakan itu, tapi lihatlah kondisi Mama, Mama ngak sanggup keluar dari rumah
ini”, jawab Mama dengan sedih. “Mama kepingin melihat calon mantu Mama, bisa
kamu bawa dia kesini sebelum kamu menikah?”, kata Mama lagi. Padli pun melihat
mamanya dan kemudian memeluk mamanya. Akan Padli usahakan ya Ma, Padli janji.
Mama terkena stroke, sehingga membuat dia tak lagi bisa berjalan, dan selang oksigen
harus terpasang di hidungnya selama 24 jam, hal ini sangat membatasi pergerakannya.
Padli tinggal di rumahnya selama dua hari, selama disana dia sama sekali tidak pernah
datang ke kantornya, hanya menghubungi Yitno melalui Hp nya saja. Dia menghabiskan
waktunya bersama Mama dan mengobrol dengan Irvan adiknya.
Padli sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampung nelayan, dia membawa salah satu
mobilnya, mobil jeep keluaran terbaru. Pakaiannya juga berubah, dia memakai
stelan baju koko dari butik terkenal, dia juga membeli banyak oleh-oleh berupa
makanan, buah-buahan, coklat-coklat mahal, minuman kaleng dan beberapa kaleng
biskuit. Setelah selesai diapun berangkat. Si Irvan ikut dengannya.
Setelah lama mengendarai mobil, merekapun sampai di kampung nelayan.
Mereka berhenti di depan warung, dan Padlipun keluar dari mobil kemudian memasuki
warung di ikuti oleh si Irvan.
Tidak ada yang menegor Padli, para pelanggan warung hanya diam memperhatikan saja,
Mereka masih belum mengerti apa yang telah terjadi. Inna terbengong saja, rupanya
baik Andi maupun Abah sama sekali belum menceritakan keadaan Padli yang
sebenarnya kepada Inna.
Padli memperkenalkan Irvan kepada Inna. “Nna, ini adikku Irvan, dia sudah kelas 3 SMU
(Kelas XII)” kata Padli memperkenalkan. Irvan menyalami Inna dari jauh. Irvan
segera mengeluarkan oleh-oleh yang mereka bawa dari mobil, semuanya di letakkan
di warung. “Bang, ini ada oleh-oleh, silakan di ambil”, kata Irvan menawarkan
ke para pelanggan. Semua pelanggan berebutan mengambilnya, bang Kosim mengambil
beberapa coklat, dan membawanya pulang untuk diberikan kepada istri dan
anaknya.
“Pad, apa ini? gimana ceritanya?” kata bang Mandor penasaran. Padlipun mulai
menceritakan kejadian yang sebenarnya, tak lupa juga dia memohon maaf atas
sikapnya selama ini, disaksikan oleh semua pelanggan dan termasuk juga Inna.
__ADS_1
Setelah Padli menceritakan yang sebenarnya barulah mereka mengerti.
“Tapi Pad, gayamu sewaktu memasak mie kok ngak canggung ya, sepertinya kamu
mempunyai bakat juga sebagai tukang masak”, ujar Wak Kocu disambut tawa para
pelanggan. Merekapun berpikir pantas saja kemaren sewaktu gotong royong, Padli
sampai pingsan, rupanya memang dia ngak pernah kerja seperti itu.
Setelah menceritakan itu semua, Padli permisi hendak menemui Abah sekaligus
memperkenalkan adiknya kepada Abah.
Sepeninggalan Padli, Inna menjadi galau, dia merasa belum siap atas perubahan
keadaan ini. Dalam bayangannya akan masa depan adalah, dia dan Padli bersama-sama
mengurus warung, mengurus anak-anak mereka dan tinggal di kampung itu selamanya.
“Apa yang akan dilakukannya kalau berada di kota besar”?, pikirnya dalam hati.
Padli dan Irvan berjalan ke rumah Abah. “Assalamualaikum” kata Padli. “Waalikum
Salam”, Mak Lena yang menjawab. Padli pun menyalami Mak Lena sambil
memperkenalkan Irvan, “Mak, ini Irvan, adik Padli”, kata Padli. Irvan lantas
menyalami Mak Lena. “Abah mana Mak”? tanya Padli lagi. Abahmu di kamar,
sebentar ya biar Mak panggilkan.
Setelah memperkenalkan Irvan kepada Abah, Padli pun mulai berbicara kepada Abah
Padli : Bah, keluarga Padli hanyalah Mama dan Irvan, Padli memang mempunyai Paman,
adik dari Mama, tapi mereka tinggal di Perancis, agak susah kalau menyuruh
mereka datang untuk menghadiri acara pernikahan Padli. Sedangkan Mama...
(Padlipun menceritakan kondisi Mamanya yang sedang sakit stroke). Bah, Mama
berpesan, Mama ingin bertemu Inna untuk berkenalan sebelum kami menikah.
Abah : Begitu ya...hem.. permintaan ibumu itu ngak salah. Adalah haknya untuk
mengetahui siapa yang akan menjadi istri dari anaknya. Cuma kaliankan belum
menikah, ngak mungkinkan Inna pergi denganmu berdua, mendatangi Ibumu?
Apalagi jaraknya jauh begitu, terpaksa menginapkan?
Padli : Abah dan Mak kan bisa ikut juga?
Abah : Ngak usahlah, Abahpun agak kurang enak badan.
Mak Lena : Kalau kuminta si Surti dan Intan yang mengawani si Inna?
Abah : Yah.. boleh juga, tapi kamu Pad, ngak usah buru-buru, besok saja perginya ya
Padli : Iya Bah, Padli ke warung dulu ya Bah, kasihan si Inna sendirian jagain
warung.
Abah : (Mengangguk dan tersenyum saja)
Kemudian merekapun segera kembali ke warung.
__ADS_1