Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
MENCERITAKAN KEPADA ABAH


__ADS_3

Andi mengambil penerbangan pertama di pagi hari untuk pulang ke kampung nelayan.


Tadi malam dia telah menceritakan semua kejadian siangnya kepada Ningsih


istrinya. “Abah sakit Ning, jadi Abang harus pulang kampung dulu”, katanya.


“Ningsih sebenarnya kepengen ikut lah Bang, Ningsih juga kangen sama Mamak di


Kampung”, ujar Ningsih. “Ya, Abang ngerti, sabarlah dulu ya, nanti kalau ada


kesempatan lagi, kamu akan Abang ajak”, ujar Andi lagi.


Ketika sampai di warung Abah, dia tidak melihat adanya Padli disana, yang ada hanya


wak Kocu sedang memanaskan air untuk membuat minuman. “Wak, orang tu ngak ada


yang datang”? teriak Andi pada wak Kocu, “Oi.. Ndi, belum ada, mampirlah dulu”


ujar wak Kocu. Andi hanya melambai-lambaikan tangannya sambil terus berjalan ke


rumah Abah.


Sampai di rumah Abah dia melihat Padli sedang duduk di sofa ruang tamu, rambutnya


sedikit kusut dan berantakan. Dia berdiri dan menyalami Andi. ”Abah ada di


kamar, Inna yang menjaganya, bang” ujar Padli. Andi hanya menganguk saja dan


langsung pergi ke kamar Abah.


Akhirnya Abah mau keluar dari kamar, Dia duduk di meja makan ruang tengah, Inna


mendatangi Padli dan duduk di sofa ruang tamu. Abah memandang Padli dengan


tajam.


Andi mendekati Abah, dan duduk disamping Abah. Andi berbisik di dekat telinga


Abah...bisik-bisik, Abah terdiam, Andi melanjutkan bisikannya sstststs....


“ya, ngak harus begitulah..” komentar Abah dengan pelan. Andi terus saja berbisik,


sampai akhirnya Abah menatapnya “semua biaya rumah sakit”? kata abah terkejut.


Andi berbisik lagi.... , Abah terdiam tapi matanya berkaca-kaca.


Akhirnya Andi pun menghentikan bisikannya, Abah berdiri “Pad, ya sudah, kamu pulang


sekarang, bawa keluargamu kemari kita adakan pernikahan secepatnya”, kata Abah


tegas. Padli tersenyum lebar, dia lantas mencium tangan Abah dan kemudian


memandangi Inna dengan mesra, Inna pun membalas tatapannya dengan lembut.


“Sekarang geraknya, jangan lupa beresin dulu warung”, teriak Abah. Padli tersentak kaget


“Ya..ya Bah” katanya sambil berlalu. Andi hanya tersenyum saja melihat tingkah


mereka.


Padli pulang ke rumahnya hari itu juga, dia juga sudah kangen dengan ibunya.


“Ma.. Maafin Padli ya, baru sekarang Padli pulangnya”, kata Padli sambil mencium


tangan mamanya. “Ngak apa apa sayang, mama ngerti kok, lagian hampir setiap


malam kamu nelponin mama kan”, ujar mama.

__ADS_1


“Ma... mereka minta kita melakukan pernikahan secepatnya, Mama bisa ngak datang


kesana”, tanya Padli. Hem.. Mama...menghela napas dengan berat. “Bukannya Mama


ngak mau sayang, Mama pun kepingin sekali melihat kampung nelayan yang kamu


ceritakan itu, tapi lihatlah kondisi Mama, Mama ngak sanggup keluar dari rumah


ini”, jawab Mama dengan sedih. “Mama kepingin melihat calon mantu Mama, bisa


kamu bawa dia kesini sebelum kamu menikah?”, kata Mama lagi. Padli pun melihat


mamanya dan kemudian memeluk mamanya. Akan Padli usahakan ya Ma, Padli janji.


Mama terkena stroke, sehingga membuat dia tak lagi bisa berjalan, dan selang oksigen


harus terpasang di hidungnya selama 24 jam, hal ini sangat membatasi pergerakannya.


Padli tinggal di rumahnya selama dua hari, selama disana dia sama sekali tidak pernah


datang ke kantornya, hanya menghubungi Yitno melalui Hp nya saja. Dia menghabiskan


waktunya bersama Mama dan mengobrol dengan Irvan adiknya.


Padli sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampung nelayan, dia membawa salah satu


mobilnya, mobil jeep keluaran terbaru. Pakaiannya juga berubah, dia memakai


stelan baju koko dari butik terkenal, dia juga membeli banyak oleh-oleh berupa


makanan, buah-buahan, coklat-coklat mahal, minuman kaleng dan beberapa kaleng


biskuit. Setelah selesai diapun berangkat. Si Irvan ikut dengannya.


Setelah lama mengendarai mobil, merekapun sampai di kampung nelayan.


Mereka berhenti di depan warung, dan Padlipun keluar dari mobil kemudian memasuki


warung di ikuti oleh si Irvan.


Tidak ada yang menegor Padli, para pelanggan warung hanya diam memperhatikan saja,


Mereka masih belum mengerti apa yang telah terjadi. Inna terbengong saja, rupanya


baik Andi maupun Abah sama sekali belum menceritakan keadaan Padli yang


sebenarnya kepada Inna.


Padli memperkenalkan Irvan kepada Inna. “Nna, ini adikku Irvan, dia sudah kelas 3 SMU


(Kelas XII)” kata Padli memperkenalkan. Irvan menyalami Inna dari jauh. Irvan


segera mengeluarkan oleh-oleh yang mereka bawa dari mobil, semuanya di letakkan


di warung. “Bang, ini ada oleh-oleh, silakan di ambil”, kata Irvan menawarkan


ke para pelanggan. Semua pelanggan berebutan mengambilnya, bang Kosim mengambil


beberapa coklat, dan membawanya pulang untuk diberikan kepada istri dan


anaknya.


“Pad, apa ini? gimana ceritanya?” kata bang Mandor penasaran. Padlipun mulai


menceritakan kejadian yang sebenarnya, tak lupa juga dia memohon maaf atas


sikapnya selama ini, disaksikan oleh semua pelanggan dan termasuk juga Inna.

__ADS_1


Setelah Padli menceritakan yang sebenarnya barulah mereka mengerti.


“Tapi Pad, gayamu sewaktu memasak mie kok ngak canggung ya, sepertinya kamu


mempunyai bakat juga sebagai tukang masak”, ujar Wak Kocu disambut tawa para


pelanggan. Merekapun berpikir pantas saja kemaren sewaktu gotong royong, Padli


sampai pingsan, rupanya memang dia ngak pernah kerja seperti itu.


Setelah menceritakan itu semua, Padli permisi hendak menemui Abah sekaligus


memperkenalkan adiknya kepada Abah.


Sepeninggalan Padli, Inna menjadi galau, dia merasa belum siap atas perubahan


keadaan ini. Dalam bayangannya akan masa depan adalah, dia dan Padli bersama-sama


mengurus warung, mengurus anak-anak mereka dan tinggal di kampung itu selamanya.


“Apa yang akan dilakukannya kalau berada di kota besar”?, pikirnya dalam hati.


Padli dan Irvan berjalan ke rumah Abah. “Assalamualaikum” kata Padli. “Waalikum


Salam”, Mak Lena yang menjawab. Padli pun menyalami Mak Lena sambil


memperkenalkan Irvan, “Mak, ini Irvan, adik Padli”, kata Padli. Irvan lantas


menyalami Mak Lena. “Abah mana Mak”? tanya Padli lagi. Abahmu di kamar,


sebentar ya biar Mak panggilkan.


Setelah memperkenalkan Irvan kepada Abah, Padli pun mulai berbicara kepada Abah


 Padli : Bah, keluarga Padli hanyalah Mama dan Irvan, Padli memang mempunyai Paman,


adik dari Mama, tapi mereka tinggal di Perancis, agak susah kalau menyuruh


mereka datang untuk menghadiri acara pernikahan Padli. Sedangkan Mama...


(Padlipun menceritakan kondisi Mamanya yang sedang sakit stroke). Bah, Mama


berpesan, Mama ingin bertemu Inna untuk berkenalan sebelum kami menikah.


Abah : Begitu ya...hem.. permintaan ibumu itu ngak salah. Adalah haknya untuk


mengetahui siapa yang akan menjadi istri dari anaknya. Cuma kaliankan belum


menikah, ngak mungkinkan Inna pergi denganmu berdua, mendatangi Ibumu?


Apalagi jaraknya jauh begitu, terpaksa menginapkan?


Padli : Abah dan Mak kan bisa ikut juga?


Abah : Ngak usahlah, Abahpun agak kurang enak badan.


Mak Lena : Kalau kuminta si Surti dan Intan yang mengawani si Inna?


Abah : Yah.. boleh juga, tapi kamu Pad, ngak usah buru-buru, besok saja perginya ya


Padli : Iya Bah, Padli ke warung dulu ya Bah, kasihan si Inna sendirian jagain


warung.


Abah : (Mengangguk dan tersenyum saja)


Kemudian merekapun segera kembali ke warung.

__ADS_1


__ADS_2