Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
BERTEMU FATIMAH


__ADS_3

Padli terpaku memandang Fatimah dan Fatimah juga segera menundukkan wajahnya di depan Padli. “Fatimah... Fatimah kan”? tegur Padli kepada Fatimah. “Iya Mas”, jawab


Fatimah sambil tersenyum. Padli kemudian mengajak Fatimah untuk mengobrol di


sebuah kafe yang tak jauh dari tempat itu. Fatimah menolak, akhirnya mereka


hanya berdiri saja di depan pintu Mall tersebut.


Padli : Apa kabar Abah dan Bunda mu?


Fatimah : Bunda sehat Mas, tapi Abah belakangan ini sering sakit-sakitan.


Padli : Maafin Mas, ya Fatimah, karena sudah ngak berkunjung lagi ke rumahmu.


Fatimah : Ya, gak apa apa Mas.


Padli : Sekarang kamu tinggal dimana?


Fatimah : Atim tinggal di rumah yang dulu Mas, tempat Abah.


Padli : Oh, Mas pikir kamu tinggal di kota xxx, kan suamimu bekerja disana.


Fatimah : (Diam dan mengangguk saja) Selamat atas perkawinannya ya Mas, Atim lihat acaranya melalui TV. Istri Mas memang cantik sekali.


Padli : (Terdiam dan memandang ke arah lain) Mas sekarang sudah sendirian lagi, Istri


Mas meninggal karena kecelakaan.


Fatimah : (Spontan Terkejut) Astagfirullah.... maafin Atim ya Mas, Atim ngak tahu soal


itu.


Padli : Ya, baiklah, kamu mau pulang kan? Apa kamu ada yang jemput, atau bawa mobil


sendiri?


Fatimah : Atim bawa mobil kok Mas.


Padli : Oke lah, Nanti Mas akan datang menemui Abah. Rindu juga hati Mas, kan dah


lama sekali ngak ke sana.


Fatimah : Iya Mas.


Padli : Ya udah ya. Assalamualaikum.


Fatimah : Waalaikum Salam


Setelah Padli berpisah dengan Fatimah, dia pun merasa bersalah, sebab telah lama


melupakan Abah dan Mama nya Fatimah. Padahal dahulu dia sangat akrab dengan


mereka, bahkan Abah dan Mama Fatimah sudah menganggapnya sebagai anaknya


sendiri. Akhirnya Padli bertekad, bahwa dia akan mengunjungi kedua orang tua

__ADS_1


tersebut nanti.


Sedangkan Fatimah, entah kenapa dia merasa senang bahwa Padli sudah menduda. Timbul


harapannya kepada Padli dikarenakan dia juga sudah menjadi janda. Ya... dia sudah dimadu, suaminya telah menikah lagi dengan seorang rekan kerjanya. Fatimah merasa kecewa dan sakit hati. Akhirnya Fatimah minta diceraikan, dan pulang ke rumah orang tuanya. “Tapi, apa dia mau denganku yang sudah menjadi janda?, walaupun dia seorang duda, namun kalau dia mau, ngak sulit baginya mencari pasangan hidup yang masih gadis”, pikir Fatimah.


Beberapa hari kemudian Padli menyempatkan diri mengunjungi rumah Fatimah untuk


bersilaturahmi kembali dengan Abah dan Bundanya Fatimah. Rumah Fatimah bergaya


lama dengan halaman yang luas, terletak di pinggiran kota. Butuh waktu hampir satu jam bagi Padli untuk mengendarai mobil ke rumah tersebut. Diapun memasuki halaman rumah tersebut, rumah yang dulunya sangat akrab dengannya.


“Assalamualaikum” seru Padli sambil mengetok pintu rumah.


“Walaikum Salam” jawab seseorang didalam. Bunda Fatimah datang dan membukakan pintu rumah.


“Ya Allah, Padli. Sudah lama sekali ngak kemari. Sini masuk, sini” kata Bunda


Fatimah. Padli menyalaminya dan segera masuk. Bunda Fatimah sudah terlihat tua di usianya yang hampir 60 tahun.


“Kirain siapa ya datang, ntar ya Bunda panggilkan Abah”, sapa Bunda sambil berlalu ke dalam rumah memanggil Abah Fatimah.


Abah Fatimah berjalan lambat, tubuhnya yang besar membuat dirinya sudah tidak lincah


lagi seperti sewaktu mudanya dulu. Abah memakai sarung dan baju koko menyambut


kedatangan Padli. Kemudian Padlipun menyalaminya.


Abah : Sudah lama kamu ngak kemari, Abah kira kamu sudah lupa sama kami.


Abah : Yah sudahlah, yang lalu biarkan saja. Kamu sepertinya sehat ya, memang


Fatimah ada bercerita, bahwa kalian beberapa hari lalu ada bertemu. Karena itu Abah juga menunggu-nunggu kedatanganmu kemari.


Padli : Iya Bah, ketika bertemu Fatimah, Padli jadi malu, padahal Padli dulu sering datang kemari, Abah dan Bunda juga sudah seperti orang tua Padli sendiri.


Abah : Memang, Abah mengerti, namun apapun yang terjadi antara kalian tak seharusnya memutuskan tali silaturahmi antara Abah dan Bunda denganmu. Kalian sudah semakin dewasa, kamu juga sudah berkeluarga, lain kali bawalah istrimu dan


anak-anakmu kemari ya.


Padli : (Rupanya Fatimah belum menceritakan status Padli yang sekarang sudah menduda)


Maaf Bah, Istri Padli sudah meninggal dunia karena kecelakaan, sekarang Padli


sendiri lagi.


Abah : “Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un” maafkan Abah. Abah memang melihat


pernikahanmu di TV, tapi Abah belum mendengar tentang kecelakaan itu.


Padli kemudian menceritakan perihal kecelakaan tersebut kepada Abah. Setelah


mengobrol sekian lamanya, akhirnya Padli mohon pamit dan kembali pulang.


Selama dalam perjalanan Padli memikirkan banyak hal. Padli mendapat kabar dari Abah

__ADS_1


bahwa kondisi Fatimah juga seperti dirinya yang menjanda, dimana suaminya


menikah lagi dan karena tidak ingin dimadu, Fatimah memilih menuntut cerai dari suaminya. Entah mengapa mendengar Fatimah yang sudah pisah dengan suaminya,


sama sekali tidak terasa bergetar hati Padli. Dia mulai menganggap Fatimah sebagai masa lalunya saja, dan kedatangannya ke rumah Abah dan Bunda hanya sekedar menyambung tali silaturahmi yang terputus.


Hari-haripun berlanjut seperti biasa, rutinitas kerja membuat dia mulai merasa bosan. Dia


juga mulai merasa risih dengan tingkah laku Sarah yang mulai agresif terhadapnya.


Sarah mulai bertingkah agresif bukan hanya di kantor, malahan dia sudah beberapa kali


datang ke rumah Padli dengan berbagai macam alasan. Hal ini membuat Padli


merasa tidak nyaman dan berpikir akan memindahkan Sarah ke kantor cabang, jauh


darinya.


Mama menemui Padli, dan mengatakan agar Padli menikah dengan Intan. Hal ini membuat


Padli sangat terkejut. Memang sudah lama dia ngak bertemu dengan Intan, tapi


kehadiran Intan bukannya malah membuat dia teringat kepada Inna?


Akhirnya Padli hanya berjanji untuk memikirkan ucapan Mama.


Disaat kejenuhannya mulai memuncak, Padlipun menelpon Yitno untuk mengambil alih kendali perusahaan, karena dia mau cuti selama beberapa minggu.


Padli : Nok, aku minta tolong ya Nok... pliss..


Yitno : Bro, apa yang ngak kulakukan untukmu bro... tapi jangan kayak kemaren ya, ente kebablasan, pamitnya hanya 2-3 hari, ngak taunya berbulan-bulan.


Padli : Hehehe... ya ngak lah, aku bawa mobil kok, lagian aku cuma mau maen ke


kampung nelayan aja. Biar sedikit tenang perasaanku.


Yitno : Ente mau cari mojang kampung nelayan lagi ya, hehehe... tapi si Intan juga


sedang cuti tuh, dia dah pulang kampung sejak minggu lalu.


Padli : Intan, eh... kok ente tau Nok, kaliankan ngak pacarankan?


Yitno : Yah taulah, diakan kerja di yayasan pendidikanku, eh Pad, ente jangan


mempermainkan Intan ya, dia udah aku anggap sebagai adikku sendiri.


Padli : Bukannya harusnya aku yang mengatakan itu pada ente?


Yitno : Hahaha... Dia menolakku bro, tapi sudahlah, kami sekarang memang dekat, dia


orangnya enak diajak ngobrol, tapi aku sekarang menganggapnya sebagai adikku


sendiri, dan begitu juga dia, mengangapku sebagai abangnya.


Padli : He..eh.. ya udahlah. Makasih ya Nok.

__ADS_1


Yitno : Sep.


__ADS_2