
Malam itu adalah malam Jum’at, malam acara khataman Al-qur’an nya si Inna yang akan
dilaksanakan setelah sholat Ishya. Inna sudah beberapa kali khatam Al-Qur’an,
namun kali ini dia sedikit gugup karena akan dilakukan di panggung yang di
tonton semua orang dan memakai sound system.
Dia berjalan keluar dari areal RV didampingi oleh Mbak Ningsing (Istrinya Andi) dan
Dina, menuju panggung. Gaun mahal yang dikenakannya menambah kecantikannya.
Beberapa kru TV dan para kameraman menshotingnya. Sinaran lampu sorot mengenai dirinya,
membuat kegugupannya bertambah. Di atas panggung Inna mulai melantunkan
ayat-ayat suci Al-Qur’an, mulitnya yang mungil dengan fasih membacakan
ayat-demi ayat. Kegugupannya sudah hilang, diapun larut dalam bacaannya. Semua
orang terpesona melihatnya. Ustad Bambang sampai menitikkan air mata, dia
menyesal kenapa terlambat melamar Inna. Kalau saja dia datang sebelum Abah
bertemu dengan Padli, dia yakin si Inna sudah menjadi menantunya sekarang.
Akhirnya pembacaan ayat suci Al-Qur’an telah selesai, penonton bertepuk tangan
dengan meriah, acara selanjutnya adalah penampilan vokal group dari remaja mesjid
kampung sebelah yang membawakan lagu-lagu rohani.
Inna berjalan kembali ke areal RV, para pengunjung sudah sejak tadi memadati area
lapangan kampung tersebut. Untung saja area RV sudah dipagari dengan pagar
pembatas dan di jaga oleh beberapa anggota brimob, soalnya penghuni RV adalah
anggota VIP.
Keesokan harinya adalah acara pemakaian Inai. Beberapa orang bidan penganten
membantu Inna untuk memakaikan Inai di kuku-kuku jarinya. Sekarang semua
kuku-kuku nya telah berwarna coklat ke kuning-kuningan. Pemakaian Inai memang
sudah menjadi tradisi di kampung ini bagi mereka yang hendak menikah.
Siang itu setelah Sholat Jum’at, Irvan yang telah datang sejak semalam mendatangi
Inna. Dia menyerahkan seuntai kalung Berlian titipan dari Ibunya, dan berpesan
agar Inna memakainya ketika Pesta Pernikahannya. Kalung berlian tersebut memang
di pesan Ibunya Padli sebagai tanda restunya kepada Inna sekaligus permohonan
maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan mereka. Inna sangat terharu sekali
mendapat perhatian dari calon Ibu Mertuanya, dia teringat semua akan
nasehat-nasehat yang telah disampaikan oleh calon Ibu Mertuanya itu dan
berjanji untuk menjadi istri yang berbakti kepada suaminya. Kalung berlian
tersebut sangat mahal dan ketika mendengar itu, pihak keamanan langsung
__ADS_1
meningkatkan keamanan di sekeliling Inna.
Sepanjang siang itu, pesta di isi dengan gelaran tarian adat dan pencak silat, ada juga
pertunjukan seni dan pantun “Wak Uteh”. ( Readers... lihat aja di Youtube ya).
Intan menghampiri Irvan dan mengajaknya untuk berkenalan dengan para penduduk
kampung, karena banyak dari mereka yang belum mengenal adiknya Padli tersebut.
Hal ini membuat sedikit keributan karena para gadis-gadis disitu berebutan untuk
bersalaman dengan Irvan, malahan ada emak-emak yang ngotot mengajak Irvan untuk
selfi. Mereka beranggapan Irvan lebih Macho dibandingkan Padli.
Dina : Kak, itu memang adiknya bang Padli ya, kok ngak mirip ya (Padli berkulit
putih, dan Irvan berkulit sedikit kecoklatan)
Intan : Iya, itu memang adik angkatnya, tapi sudah seperti adik kandungnya sendiri.
Gantengan mana menurutmu, Padli apa Irvan? (sambil tersenyum menggoda)
Dina : Kurasa gantengan si Irvan, ketimbang bang Padli. Kalau bang Padli mukanya
sedikit pasaran dan terlalu santai kurasa. Kalau si Irvan gayanya cool, dan
sedikit seriusan orangnya.
Intan : Iya, bang Padli memang begitu, sepertinya dia ngak ada takutnya, sama Abah
aja dia berani membantah. Eh.. Din, kamu naksir ya dengan si Irvan?
Dina : Ah..Kakak, kalau bang Padli nikah dengan kak Inna, kan artinya kami jadi
Intan : Ye... yang jadi saudara... kan kalian ngak ada hubungan darah, bisa ajalah.
Dina : Bisa apanya Kak... ngasal aja. (Dina jadi cemberut, dan Intan hanya
tertawa...)
Malam itu, setelah sholat Isya, akan dilaksanakan ceramah agama oleh Ustad Kondang
xxx. Para panitia dan jajaran keamanan terlihat sibuk mengatur para pengunjung
yang datang dengan berjubel-jubel. Ribuan orang dari berbagai daerah mendatangi
kampung tersebut untuk mendengar ceramah dari ustad kondang xxx. Ada juga para
pedagang asongan yang mengais keuntungan dari acara tersebut. Walaupun lapangan
kampung tersebut sangatlah luas, namun sekarang terasa sempit karena dihadiri
oleh ribuan orang.
Para tamu VIP seperti Bapak Bupati dan jajaran Muspida telah hadir dan duduk di
kursi VIP. Abah juga duduk di kursi VIP bersama bang Andi. Abah terlihat bangga
sekali, karena disalami oleh para pejabat-pejabat tersebut.
Acara tersebut di pandu oleh Ustad Bambang dan didampingi oleh anaknya Dedi. Pada
kesempatan itu juga Ustad Bambang memperkenalkan anaknya ke Ustad xxx seraya
__ADS_1
memohon bantuan agar di ikut sertakan kepada kegiatan ceramah Ustad xxx.
Selama ceramah berlangsung, Intan dan Yitno tampak duduk berdua sambil makan mie
goreng di ruangan dapur umum. Yitno yang tadinya kelaparan berinisiatif masuk
ke ruangan dapur umum untuk mencari makanan.
Yitno : (sambil makan) Makasih ya Ntan, kamu udah bantuin aku selama ini.
Intan : Inikan acara ku juga bang, ngak disuruh pun aku pasti akan membantu.
Yitno : Terus terang Ntan, kalau ngak ada kamu, bingung aku, aku kan ngak ada kenal
satu orangpun disini. Untung ada kamu, yang ngelobi kelapa di kebun kelapanya
Pak Misrin, kan kamu, juga yang ngajak orang-orang kampung sini untuk kerja di
acara ini, juga kamu kan? Kalau aku yang ngajak, ngak bakalan mereka percaya.
Intan : Yah... Intan kan memang lahir disini Bang, jadi orang-orang banyak kenal
dengan Intan, lagian di kampung ini sebagian orangnya ada hubungan saudara
semua. Namanya juga kampung kecil.
Yitno : Ngomong-ngomong, Ntan, cowok kamu mana? Kenalin abang lah, siapa tau nanti
ada perlunya? (Yitno tersenyum)
Intan : Cewek-cewek disini ngak ada yang namanya pacaran bang, kalau mau ya tinggal
lamar aja sama Bapaknya, kalau cocok tinggal dilaksanakan pernikahan. Begitu
kalau dikampung ini bang.
Yitno : Terus kalau si Padli itu kok bisa pacaran dengan si Inna sampai
berbulan-bulan gitu?
Intan : Mereka ngak pacaran bang, kan bang Padli memang kerja di warungnya Abah, jadi
ya hampir setiap hari mereka bersama.
Mereka terus mengobrol selama ceramah berlangsung.
Irvan dan Dina juga tampak duduk berdua di dekat RV. Dina memang menginap di RV nya
Inna, sedangkan Irvan menginap di RV nya Yitno. Irvan malah menawari Dina untuk
kuliah di kota. Mereka memang sama-sama duduk di bangku sekolah kelas 3 SMU.
Dan Padli, Padli masih berjaga di warung bersama bang Udin dan Wak Kocu sambil
bermain catur.
********************
Hai
readers.....
Bantu
saya untuk share ya, dan jangan lupa untuk vote dan koment nya kalau suka
__ADS_1
dengan cerita ini...
Terima kasih....