Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
PELAKSANAAN PESTA DI LAPANGAN KAMPUNG


__ADS_3

Malam itu adalah malam Jum’at, malam acara khataman Al-qur’an nya si Inna yang akan


dilaksanakan setelah sholat Ishya. Inna sudah beberapa kali khatam Al-Qur’an,


namun kali ini dia sedikit gugup karena akan dilakukan di panggung yang di


tonton semua orang dan memakai sound system.


Dia berjalan keluar dari areal RV didampingi oleh Mbak Ningsing (Istrinya Andi) dan


Dina, menuju panggung. Gaun mahal yang dikenakannya menambah kecantikannya.


Beberapa kru TV dan para kameraman menshotingnya. Sinaran lampu sorot mengenai dirinya,


membuat kegugupannya bertambah. Di atas panggung Inna mulai melantunkan


ayat-ayat suci Al-Qur’an, mulitnya yang mungil dengan fasih membacakan


ayat-demi ayat. Kegugupannya sudah hilang, diapun larut dalam bacaannya. Semua


orang terpesona melihatnya. Ustad Bambang sampai menitikkan air mata, dia


menyesal kenapa terlambat melamar Inna. Kalau saja dia datang sebelum Abah


bertemu dengan Padli, dia yakin si Inna sudah menjadi menantunya sekarang.


Akhirnya pembacaan ayat suci Al-Qur’an telah selesai, penonton bertepuk tangan


dengan meriah, acara selanjutnya adalah penampilan vokal group dari remaja mesjid


kampung sebelah yang membawakan lagu-lagu rohani.


Inna berjalan kembali ke areal RV, para pengunjung sudah sejak tadi memadati area


lapangan kampung tersebut. Untung saja area RV sudah dipagari dengan pagar


pembatas dan di jaga oleh beberapa anggota brimob, soalnya penghuni RV adalah


anggota VIP.


Keesokan harinya adalah acara pemakaian Inai. Beberapa orang bidan penganten


membantu Inna untuk memakaikan Inai di kuku-kuku jarinya. Sekarang semua


kuku-kuku nya telah berwarna coklat ke kuning-kuningan. Pemakaian Inai memang


sudah menjadi tradisi di kampung ini bagi mereka yang hendak menikah.


Siang itu setelah Sholat Jum’at, Irvan yang telah datang sejak semalam mendatangi


Inna. Dia menyerahkan seuntai kalung Berlian titipan dari Ibunya, dan berpesan


agar Inna memakainya ketika Pesta Pernikahannya. Kalung berlian tersebut memang


di pesan Ibunya Padli sebagai tanda restunya kepada Inna sekaligus permohonan


maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan mereka. Inna sangat terharu sekali


mendapat perhatian dari calon Ibu Mertuanya, dia teringat semua akan


nasehat-nasehat yang telah disampaikan oleh calon Ibu Mertuanya itu dan


berjanji untuk menjadi istri yang berbakti kepada suaminya. Kalung berlian


tersebut sangat mahal dan ketika mendengar itu, pihak keamanan langsung

__ADS_1


meningkatkan keamanan di sekeliling Inna.


Sepanjang siang itu, pesta di isi dengan gelaran tarian adat dan pencak silat, ada juga


pertunjukan seni dan pantun “Wak Uteh”. ( Readers... lihat aja di Youtube ya).


Intan menghampiri Irvan dan mengajaknya untuk berkenalan dengan para penduduk


kampung, karena banyak dari mereka yang belum mengenal adiknya Padli tersebut.


Hal ini membuat sedikit keributan karena para gadis-gadis disitu berebutan untuk


bersalaman dengan Irvan, malahan ada emak-emak yang ngotot mengajak Irvan untuk


selfi. Mereka beranggapan Irvan lebih Macho dibandingkan Padli.


Dina : Kak, itu memang adiknya bang Padli ya, kok ngak mirip ya (Padli berkulit


putih, dan Irvan berkulit sedikit kecoklatan)


Intan : Iya, itu memang adik angkatnya, tapi sudah seperti adik kandungnya sendiri.


Gantengan mana menurutmu, Padli apa Irvan? (sambil tersenyum menggoda)


Dina : Kurasa gantengan si Irvan, ketimbang bang Padli. Kalau bang Padli mukanya


sedikit pasaran dan terlalu santai kurasa. Kalau si Irvan gayanya cool, dan


sedikit seriusan orangnya.


Intan : Iya, bang Padli memang begitu, sepertinya dia ngak ada takutnya, sama Abah


aja dia berani membantah. Eh.. Din, kamu naksir ya dengan si Irvan?


Dina : Ah..Kakak, kalau bang Padli nikah dengan kak Inna, kan artinya kami jadi


Intan : Ye... yang jadi saudara... kan kalian ngak ada hubungan darah, bisa ajalah.


Dina : Bisa apanya Kak... ngasal aja. (Dina jadi cemberut, dan Intan hanya


tertawa...)


Malam itu, setelah sholat Isya, akan dilaksanakan ceramah agama oleh Ustad Kondang


xxx. Para panitia dan jajaran keamanan terlihat sibuk mengatur para pengunjung


yang datang dengan berjubel-jubel. Ribuan orang dari berbagai daerah mendatangi


kampung tersebut untuk mendengar ceramah dari ustad kondang xxx. Ada juga para


pedagang asongan yang mengais keuntungan dari acara tersebut. Walaupun lapangan


kampung tersebut sangatlah luas, namun sekarang terasa sempit karena dihadiri


oleh ribuan orang.


Para tamu VIP seperti Bapak Bupati dan jajaran Muspida telah hadir dan duduk di


kursi VIP. Abah juga duduk di kursi VIP bersama bang Andi. Abah terlihat bangga


sekali, karena disalami oleh para pejabat-pejabat tersebut.


Acara tersebut di pandu oleh Ustad Bambang dan didampingi oleh anaknya Dedi. Pada


kesempatan itu juga Ustad Bambang memperkenalkan anaknya ke Ustad xxx seraya

__ADS_1


memohon bantuan agar di ikut sertakan kepada kegiatan ceramah Ustad xxx.


Selama ceramah berlangsung, Intan dan Yitno tampak duduk berdua sambil makan mie


goreng di ruangan dapur umum. Yitno yang tadinya kelaparan berinisiatif masuk


ke ruangan dapur umum untuk mencari makanan.


Yitno : (sambil makan) Makasih ya Ntan, kamu udah bantuin aku selama ini.


Intan : Inikan acara ku juga bang, ngak disuruh pun aku pasti akan membantu.


Yitno : Terus terang Ntan, kalau ngak ada kamu, bingung aku, aku kan ngak ada kenal


satu orangpun disini. Untung ada kamu, yang ngelobi kelapa di kebun kelapanya


Pak Misrin, kan kamu, juga yang ngajak orang-orang kampung sini untuk kerja di


acara ini, juga kamu kan? Kalau aku yang ngajak, ngak bakalan mereka percaya.


Intan : Yah... Intan kan memang lahir disini Bang, jadi orang-orang banyak kenal


dengan Intan, lagian di kampung ini sebagian orangnya ada hubungan saudara


semua. Namanya juga kampung kecil.


Yitno : Ngomong-ngomong, Ntan, cowok kamu mana? Kenalin abang lah, siapa tau nanti


ada perlunya? (Yitno tersenyum)


Intan : Cewek-cewek disini ngak ada yang namanya pacaran bang, kalau mau ya tinggal


lamar aja sama Bapaknya, kalau cocok tinggal dilaksanakan pernikahan. Begitu


kalau dikampung ini bang.


Yitno : Terus kalau si Padli itu kok bisa pacaran dengan si Inna sampai


berbulan-bulan gitu?


Intan : Mereka ngak pacaran bang, kan bang Padli memang kerja di warungnya Abah, jadi


ya hampir setiap hari mereka bersama.


Mereka terus mengobrol selama ceramah berlangsung.


Irvan dan Dina juga tampak duduk berdua di dekat RV. Dina memang menginap di RV nya


Inna, sedangkan Irvan menginap di RV nya Yitno. Irvan malah menawari Dina untuk


kuliah di kota. Mereka memang sama-sama duduk di bangku sekolah kelas 3 SMU.


Dan Padli, Padli masih berjaga di warung bersama bang Udin dan Wak Kocu sambil


bermain catur.


********************


Hai


readers.....


Bantu


saya untuk share ya, dan jangan lupa untuk vote dan koment nya kalau suka

__ADS_1


dengan cerita ini...


Terima kasih....


__ADS_2