
Fadli segera menuju mushola, setelah berwuduk, dia pun
segera sholat maghrib berjemaah. Abah sholeh pun ada, dia berjalan dengan
terpincang-pincang dibantu tongkatnya untuk berjalan. Abah sholat dengan duduk
di kursi, sepertinya kursi tersebut memang disediakan khusus untuknya. Abah
melihat Fadli disitu, tapi dia diam tanpa komentar apapun.
Setelah sholat usai, hujanpun turun dengan derasnya, hal ini
menjadi dilema bagi Fadli, mushola sudah sepi dari pengunjung, Fadli sendirian,
uangnya ngak ada sama sekali, perutnya mulai lapar lagi, mau keluar tapi hujan
deras, mau pesan gojek, yah sama aja kehujanan, mau pesan gocar, di daerah
tersebut belum masuk wilayah yang dilayani grab atau gocar.
Akhirnya Fadli hanya terduduk di emperan mushola sambil
bermain Hpnya yang mulai lowbat. Dia bersikeras ngak mau menghubungi
asistennya, karena merasa dia pasti mampu untuk bertahan. Hahaha... malam ini,
bakalan tidur di mesjid dengan kelaparan. Walah....
Subuhpun tiba, Fadli telah selesai berwuduk, hujan sudah
lama berhenti, beberapa pengunjung masih setia mendatangi mushola untuk sholat
subuh berjemaah, walaupun udara di luar sangat dingin. Abah Sholeh pun datang,
berjalan dengan terpincang-pincang, mereka saling bertatapan, namun tidak ada
satu katapun yang keluar dari mulut mereka.
Setelah Sholat Subuh, Abah Sholeh pun mendekati Fadli, “ Nak
kamu udah makan”? katanya, Fadli hanya menggelengkan kepala. “Yuk, bantu abah
dulu, setelah itu kamu bisa makan”, ujar Abah Sholeh. Padli pun mengikuti Abah
Sholeh yang berjalan dengan terpincang-pincang.
“Kamu bantu Abah buka warung, kemudian lap semua meja dan
kursi, kemudian disusun, angkat krei (tirai dari anyaman bambu), dibelakang ada
kamar mandi umum, kamu ambil ember yang di bawah meja itu, kemudian isi air
dari kamar mandi, penuhi ember cucian piring yang ada di sini ya”, katanya
lagi. Fadli pun bergerak mengerjakan semua yang diperintahkan Abah, sambil
sesekali mendengar Abah yang berbicara kepadanya.
“Biasanya yang mengerjakan ini semua adalah si Udin (Udin
adalah adik paling kecil dari Mak Lena), Cuma sekarang si Udin udah dapet kontrak
kerja sebagai tukang bangunan di kota, baru tadi malam berangkatnya,” ujar Abah
__ADS_1
lagi. “oh ya siapa namamu”? tanya Abah kepada Fadli, Fadli pun menjawab, “nama
saya Padli Pak (selanjutnya dinamain Padli aja ya readers..), kamu panggil aja
saya Abah, nama saya Sholeh, tapi orang kampung sini memanggil saya Abah, Abah
Sholeh. Kata Abah lagi.
Tak lama kemudian Mak Lena pun datang, “Pat, Padli sini kamu”
kata Abah, ini Lena istri saya, kamu panggil aja dengan Mak Lena ya, dia yang
sebenarnya boss warung ini, kata Abah sambil tersenyum.
Assalamualaikum Mak, kata Padli sambil mencium tangan Mak
Lena. Mak Lena seumuran Ibunya Padli, dia memakai jilbab kerudung, tapi masih
terlihat sebagian rambutnya disebelah kening. Garis-garis kelelahan terlihat di
pipi dan kelopak matanya, namun senyumnya yang lembut membawa ketenangan bagi
Padli. Mak Lena hanya tersenyum membalas ucapan Padli, sepertinya dia ngak
pernah protes terhadap apapun tindakan suaminya.
“Ya udah, sebentar ya, mak beresin dulu barang-barang ini,
abis itu kalian bisa sarapan ya”, ujar Mak Lena.
“Pad”, Abah memanggil, “kamu ambil barang-barang keperluan warung
yang lain ya, itu ada di rumah, dari gang sebelah situ, kamu jalan aja sekitar
sepuluh rumah, trus rumah yang warna biru, masuk aja, ada si Inna kok di dalam,
Padli pun berjalan melalui gang di samping warung menuju
rumah yang dimaksud, setelah sampai di rumah yang berwarna biru, dia masuk
kedalam karena rumah tersebut tidak dikunci. “Nna, mana barang yang untuk
warung”, teriaknya, karena tidak terlihat seorangpun di dalam rumah tersebut,
padahal dia sama sekali belum pernah bertemu dengan sosok yang bernama Inna
ini. Ngak lama kemudian terdengar suara yang berasal dari dapur, “itu Mang,
plastik yang disamping tipi” jawab suara tersebut. Padli pun menoleh ke arah
yang dimaksud, dan memang terlihat ada beberapa kantong plastik yang berisi
perlengkapan warung disana. Padli membawa semua barang tersebut dan kembali ke
warung.
Sampai di warung, terlihat sarapan sudah tersedia di meja di
depan Abah, sepertinya Abah memang menunggu Padli untuk sarapan bersama. Mak
Lena ngak ikut sarapan, dia menyusun barang-barang yang dibawa Padli tadi. Abah
dan Padli mulai sarapan, Padli terlihat sangat bernafsu untuk makan, bisa
__ADS_1
dimengerti karena dari kemaren siang perutnya belum tersentuh makanan apapun.
“Pad, kau mau kerja disni”, Abah bertanya, “Abah ngak bisa
ngasi gajimu sesuai UMR (upah minimum regional), paling juga Abah bisa menggajimu
sebesar 300 ribu sebulan, namun gitu makanmu Abah yang tanggung, dan lagi kau
bisa tidur di warung ini, sekalian jagain warung”, kata Abah lagi. Padli
bingung sambil garuk-garuk kepala, dia menggaji ribuan karyawannya jutaan
rupiah perorangnya, eh giliran dia yang di gaji Cuma 300 ribu aja. Namun
melihat kondisi Abah, timbul rasa kasihan di hati Padli, mungkin dia bisa
bekerja disini barang sebulan aja, menunggu mang Udin selesai dari kerjaannya
di kota. Iyalah Bah, Ipad mau, “terus kerjaan Ipad apa aja”, tanya Padli.
Kalau pagi, kau buka warung, terus lap meja sekalian nyusun
bangku, isi air cucian piring, abis itu kau jaga minuman, “kau bisa kan buatin
kopi atau teh ke pelanggan kan”? tanya Abah. “Bisa Bah”, jawab Padli, soalnya
kalo dirumah pun dia terbiasa membuat minumannya sendiri, walaupun dirumahnya
sudah ada ART (asisten rumah tangga) yang bisa disuruhnya. “Ya udah, nanti kau
kukasi baju dan celana panjang punya si Udin, untuk celana dalam nanti biar
kubelikan untukmu”, kata Abah. “Sekarang kau pergilah mandi di belakang,
orang-orang dah pada mau datang”, kata Abah lagi.
Padli segera pergi ke kamar mandi, di pinggiran bak mandi
terlihat shampo ketengan yang masih berisi. “Lumayan”, ujarnya, soalnya sudah
beberapa hari dia ngak keramas, mengenai sikat gigi, sampai sekarang dia belum
sikat gigi. (ih... joroknya). Setelah mandi, diapun keluar dari kamar mandi,
uh..ah, segarnya, rambutnya masih setengah basah, begitu juga badannya, soalnya
dia ngak punya handuk. Sesampainya di warung, Abah memandanginya, kemudian
mengambil sisir dari laci meja kasir dan menyerahkannya ke Padli. Padli
menyisir rambutnya tanpa menggunakan cermin. Dia juga sudah beberapa hari ngak
bercermin. (hahaha... seperti apa mukanya ya)
Walaupun cara hidupnya berantakan, Padli merasa enjoy aja
menjalaninya, dia kelaparan, dia kedinginan, badannya kotor, hidup ngak
beraturan, sangat jauh dengan kehidupannya selama ini. Mungkin karena itu juga
sehingga dia merasa senang, karena menjalani cara hidup yang berbeda. Dia sudah
merasa jenuh akibat semua rutinitas dengan disiplin yang sangat tinggi dan
__ADS_1
tekanan yang keras yang selama ini dijalaninya, jadi ketika hidupnya berubah justru
membuatnya merasa enjoy.