Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 2


__ADS_3

Fadli segera menuju mushola, setelah berwuduk, dia pun


segera sholat maghrib berjemaah. Abah sholeh pun ada, dia berjalan dengan


terpincang-pincang dibantu tongkatnya untuk berjalan. Abah sholat dengan duduk


di kursi, sepertinya kursi tersebut memang disediakan khusus untuknya. Abah


melihat Fadli disitu, tapi dia diam tanpa komentar apapun.


Setelah sholat usai, hujanpun turun dengan derasnya, hal ini


menjadi dilema bagi Fadli, mushola sudah sepi dari pengunjung, Fadli sendirian,


uangnya ngak ada sama sekali, perutnya mulai lapar lagi, mau keluar tapi hujan


deras, mau pesan gojek, yah sama aja kehujanan, mau pesan gocar, di daerah


tersebut belum masuk wilayah yang dilayani grab atau gocar.


Akhirnya Fadli hanya terduduk di emperan mushola sambil


bermain Hpnya yang mulai lowbat. Dia bersikeras ngak mau menghubungi


asistennya, karena merasa dia pasti mampu untuk bertahan. Hahaha... malam ini,


bakalan tidur di mesjid dengan kelaparan. Walah....


Subuhpun tiba, Fadli telah selesai berwuduk, hujan sudah


lama berhenti, beberapa pengunjung masih setia mendatangi mushola untuk sholat


subuh berjemaah, walaupun udara di luar sangat dingin. Abah Sholeh pun datang,


berjalan dengan terpincang-pincang, mereka saling bertatapan, namun tidak ada


satu katapun yang keluar dari mulut mereka.


Setelah Sholat Subuh, Abah Sholeh pun mendekati Fadli, “ Nak


kamu udah makan”? katanya, Fadli hanya menggelengkan kepala. “Yuk, bantu abah


dulu, setelah itu kamu bisa makan”, ujar Abah Sholeh. Padli pun mengikuti Abah


Sholeh yang berjalan dengan terpincang-pincang.


“Kamu bantu Abah buka warung, kemudian lap semua meja dan


kursi, kemudian disusun, angkat krei (tirai dari anyaman bambu), dibelakang ada


kamar mandi umum, kamu ambil ember yang di bawah meja itu, kemudian isi air


dari kamar mandi, penuhi ember cucian piring yang ada di sini ya”, katanya


lagi. Fadli pun bergerak mengerjakan semua yang diperintahkan Abah, sambil


sesekali mendengar Abah yang berbicara kepadanya.


“Biasanya yang mengerjakan ini semua adalah si Udin (Udin


adalah adik paling kecil dari Mak Lena), Cuma sekarang si Udin udah dapet kontrak


kerja sebagai tukang bangunan di kota, baru tadi malam berangkatnya,” ujar Abah

__ADS_1


lagi. “oh ya siapa namamu”? tanya Abah kepada Fadli, Fadli pun menjawab, “nama


saya Padli Pak (selanjutnya dinamain Padli aja ya readers..), kamu panggil aja


saya Abah, nama saya Sholeh, tapi orang kampung sini memanggil saya Abah, Abah


Sholeh. Kata Abah lagi.


Tak lama kemudian Mak Lena pun datang, “Pat, Padli sini kamu”


kata Abah, ini Lena istri saya, kamu panggil aja dengan Mak Lena ya, dia yang


sebenarnya boss warung ini, kata Abah sambil tersenyum.


Assalamualaikum Mak, kata Padli sambil mencium tangan Mak


Lena. Mak Lena seumuran Ibunya Padli, dia memakai jilbab kerudung, tapi masih


terlihat sebagian rambutnya disebelah kening. Garis-garis kelelahan terlihat di


pipi dan kelopak matanya, namun senyumnya yang lembut membawa ketenangan bagi


Padli. Mak Lena hanya tersenyum membalas ucapan Padli, sepertinya dia ngak


pernah protes terhadap apapun tindakan suaminya.


“Ya udah, sebentar ya, mak beresin dulu barang-barang ini,


abis itu kalian bisa sarapan ya”, ujar Mak Lena.


“Pad”, Abah memanggil, “kamu ambil barang-barang keperluan warung


yang lain ya, itu ada di rumah, dari gang sebelah situ, kamu jalan aja sekitar


sepuluh rumah, trus rumah yang warna biru, masuk aja, ada si Inna kok di dalam,


Padli pun berjalan melalui gang di samping warung menuju


rumah yang dimaksud, setelah sampai di rumah yang berwarna biru, dia masuk


kedalam karena rumah tersebut tidak dikunci. “Nna, mana barang yang untuk


warung”, teriaknya, karena tidak terlihat seorangpun di dalam rumah tersebut,


padahal dia sama sekali belum pernah bertemu dengan sosok yang bernama Inna


ini. Ngak lama kemudian terdengar suara yang berasal dari dapur, “itu Mang,


plastik yang disamping tipi” jawab suara tersebut. Padli pun menoleh ke arah


yang dimaksud, dan memang terlihat ada beberapa kantong plastik yang berisi


perlengkapan warung disana. Padli membawa semua barang tersebut dan kembali ke


warung.


Sampai di warung, terlihat sarapan sudah tersedia di meja di


depan Abah, sepertinya Abah memang menunggu Padli untuk sarapan bersama. Mak


Lena ngak ikut sarapan, dia menyusun barang-barang yang dibawa Padli tadi. Abah


dan Padli mulai sarapan, Padli terlihat sangat bernafsu untuk makan, bisa

__ADS_1


dimengerti karena dari kemaren siang perutnya belum tersentuh makanan apapun.


“Pad, kau mau kerja disni”, Abah bertanya, “Abah ngak bisa


ngasi gajimu sesuai UMR (upah minimum regional), paling juga Abah bisa menggajimu


sebesar 300 ribu sebulan, namun gitu makanmu Abah yang tanggung, dan lagi kau


bisa tidur di warung ini, sekalian jagain warung”, kata Abah lagi. Padli


bingung sambil garuk-garuk kepala, dia menggaji ribuan karyawannya jutaan


rupiah perorangnya, eh giliran dia yang di gaji Cuma 300 ribu aja. Namun


melihat kondisi Abah, timbul rasa kasihan di hati Padli, mungkin dia bisa


bekerja disini barang sebulan aja, menunggu mang Udin selesai dari kerjaannya


di kota. Iyalah Bah, Ipad mau, “terus kerjaan Ipad apa aja”, tanya Padli.


Kalau pagi, kau buka warung, terus lap meja sekalian nyusun


bangku, isi air cucian piring, abis itu kau jaga minuman, “kau bisa kan buatin


kopi atau teh ke pelanggan kan”? tanya Abah. “Bisa Bah”, jawab Padli, soalnya


kalo dirumah pun dia terbiasa membuat minumannya sendiri, walaupun dirumahnya


sudah ada ART (asisten rumah tangga) yang bisa disuruhnya. “Ya udah, nanti kau


kukasi baju dan celana panjang punya si Udin, untuk celana dalam nanti biar


kubelikan untukmu”, kata Abah. “Sekarang kau pergilah mandi di belakang,


orang-orang dah pada mau datang”, kata Abah lagi.


Padli segera pergi ke kamar mandi, di pinggiran bak mandi


terlihat shampo ketengan yang masih berisi. “Lumayan”, ujarnya, soalnya sudah


beberapa hari dia ngak keramas, mengenai sikat gigi, sampai sekarang dia belum


sikat gigi. (ih... joroknya). Setelah mandi, diapun keluar dari kamar mandi,


uh..ah, segarnya, rambutnya masih setengah basah, begitu juga badannya, soalnya


dia ngak punya handuk. Sesampainya di warung, Abah memandanginya, kemudian


mengambil sisir dari laci meja kasir dan menyerahkannya ke Padli. Padli


menyisir rambutnya tanpa menggunakan cermin. Dia juga sudah beberapa hari ngak


bercermin. (hahaha... seperti apa mukanya ya)


Walaupun cara hidupnya berantakan, Padli merasa enjoy aja


menjalaninya, dia kelaparan, dia kedinginan, badannya kotor, hidup ngak


beraturan, sangat jauh dengan kehidupannya selama ini. Mungkin karena itu juga


sehingga dia merasa senang, karena menjalani cara hidup yang berbeda. Dia sudah


merasa jenuh akibat semua rutinitas dengan disiplin yang sangat tinggi dan

__ADS_1


tekanan yang keras yang selama ini dijalaninya, jadi ketika hidupnya berubah justru


membuatnya merasa enjoy.


__ADS_2