
Dua tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Mama menasehati Padli, bahwa sesuatu
itu terserah kepada kehendak Yang Maha Kuasa, kita hanya bisa berusaha dan
bertawakal menghadapinya. Padli bukanlah orang yang cengeng, dia seorang yang
ber Iman. Dia sanggup menghadapi kenyataan ini. Dua minggu setelah kecelakaan, dia sudah kembali bekerja seperti biasanya. Malahan Mama yang terlihat sangat
depresi. Mama menghabiskan waktu berbulan-bulan mengurung diri di kamar,
menyalahkan dirinya sendiri, kenapa ngak ikut Inna chek up saat kejadian tersebut. Irvan membatalkan pendidikannya di Amerika. Dia akan kembali kuliah di Indonesia, sekalian menemani dan menjaga Padli, abangnya yang tersayang.
Irvan menilai walaupun Padli terlihat tegar, namun pikirannya masih labil.
Irvan pernah melihat Padli sarapan hanya dengan nasi putih saja sambil melamun
dan tatapannya kosong ke depan. Padahal di meja makan ada banyak lauk-pauk yang
disediakan oleh para ART. Irvan merasa inilah saatnya dia berbakti kepada abangnya yang selama ini sangat menyayanginya.
Mama sekarang sudah sembuh,dia sudah dapat berjalan sendiri tanpa tongkat. Dan Rina, perawat Mama juga sudah tidak bekerja lagi di rumah itu. Mama sekarang banyak
menghabiskan waktunya dengan mengikuti pengajian-pengajian rutin yang diadakan oleh
para sahabat-sahabatnya. Jadi mengenai kepengurusan rumah diserahkan sepenuhnya
kepada Irvan.
Malam itu Padli pulang ke rumah dengan perasaan malas. Sudah tidak ada lagi alasan
yang kuat untuk dia pulang selain hanya untuk beristirahat. Rumah mewah tersebut
semakin suram, walaupun bunga-bunga dan tanaman lain masih terlihat rapi, tapi
itu semua karena pekerjaan tukang kebunnya.
Padli segera memasuki kamarnya, dan berbaring di kasur tanpa berniat mengganti baju
atau membersihkan dirinya dulu. Pikirannya melayang jauh, teringat dengan Inna,
kampung nelayan, Abah dan Mak Lena, warung kopi...... sampai akhirnya dia
tertidur.
*****************
Pagi itu seperti biasa Padli memasuki ruang kerjanya, Yitno datang dan mengatakan
bahwa sekretaris baru Padli sudah ada, dan mulai siap bekerja hari ini. “Aku sudah mentrainingnya selama 2 minggu lho Pad, jadi mulai sekarang ente sudah ngak perlu lagi terlalu bergantung kepadaku,” kata Yitno menyakinkan.
“He..eh, suruh dia masuk” jawab Padli singkat. Sekretaris perempuan tersebut segera masuk ke ruangan Padli dan memperkenalkan dirinya. “Nama saya Sarah Pak, selanjutnya saya yang akan membantu Bapak” katanya sambil tersenyum dan
__ADS_1
menyodorkan tangannya.
Padli terkesiap melihat perempuan yang berada di depannya ini, bentuk wajahnya,
postur tubuhnya dan senyumannya mengingatkan dia akan Inna. Namun dengan dingin dia juga menyambut uluran tangan tersebut dan mempersilahkan Sarah untuk duduk di kursi yang berada di depan mejanya.
Sarah adalah gadis yang manis, penampilannya seperti gadis-gadis kantoran yang ada di kota-kota besar. Dia ngak memakai jilbab, namun pakaianya sopan sesuai standart kantor. Rambutnya hitam lurus tergerai sampai ke bahunya. Memakai kemeja putih yang ditutupi oleh jass kantor, yang warnanya sepadan dengan roknya yang
panjangnya selutut. Sarah segera duduk dengan sopan di depan Padli, sementara
Yitno sudah meninggalkan ruangan itu.
Padli : Jadi anda sudah siap untuk memulai kerja hari ini?
Sarah : Iya Pak, saya telah lulus training oleh bagian SDM.
Padli : Berapa umurmu? (Padli melihat-lihat profil file Sarah)
Sarah : 25 tahun, Pak
Padli : Penguasaan bahasa Inggris?
Sarah : Lancar Pak.
Padli : Apa saja yang di ajarkan mereka kepadamu selama 2 minggu ini?
Sarah : Saya diajarkan untuk mengenali setiap neraca-neraca keuangan perusahaan, saya
juga diajarkan membuat draf perjanjian dan negosiasi, draf kontrak kerja sama atau MOU (Memorandum of Understanding) dan lain-lain, tentu saja setelah berkoordinasi dengan bagian legal. Saya bisa menggunakan komputer, saya juga bisa menggunakan mesin fotocopy, saya akan mengatur jadwal-jadwal kerja Bapak, merapikan meja kerja dan membuatkan kopi untuk Bapak.
boleh kembali ke ruanganmu.
Sarah : Baik Pak.
Hari-haripun terus berlanjut, ternyata Sarah memang cekatan, dalam beberapa minggu saja dia telah menguasai hampir semua pekerjaannya sebagai sekretaris. Padli sangat
merasa terbantu atas kehadirannya, dan Yitno juga bisa leluasa untuk bekerja tanpa harus diganggu oleh Padli.
Siang itu, setelah sholat Dzuhur, Padli makan siang di kantornya sendirian, tadi dia telah memesan OB (office boy) untuk membelikan makanannya di kantin kantor.
Sarah : (Masuk sambil membawa makanannya sendiri) Maaf Pak, boleh makan bareng sama Bapak?
Padli : Oh iya, sini.
Sarah : (sambil tersenyum manis) Saya tadi juga pesan sama OB, terus ngeliat Bapak
makan sendiri jadi pengen nemanin aja.
Padli : Iya, gak apa apa. Pekerjaanmu apa ada kendala?
Sarah : Ngak kok Pak, saya senang kok kerja disini. Oh ya Pak, saya banyak mendengar
__ADS_1
lho cerita tentang Bapak.
Padli : (Berhenti sejenak) Cerita tentang apa?
Sarah : Karyawan lain cerita, bahwa istri Bapak meninggal dalam kecelakaan ya, yah..
saya turut prihatin saja.
Padli : Oh itu, iya memang.
Sarah : Apa ngak ada rencana membina hubungan keluarga lagi Pak? (Sarah tertunduk malu)
Padli : (sambil menatap Sarah dengan tajam) Belum ada sih.
Sarah : Belum ada yang cocok atau memang Bapak yang belum mau?
Padli : Dua-duanya, saya memang ngak mikirin hal itu kok.
Sarah : Coba deh, Bapak membuka hati Bapak, pasti banyak perempuan yang mau sama Bapak.
Padli : (Berdiri dan berjalan ke pintu) Eh, kamu ntar tolong beresin makanan ini ya, saya mau keluar dulu.
Sarah : (Huff... dasar ngak peka, yang sabar ya Ara...) Iya Pak.
*****************
Padli menelpon Yitno untuk membahas kepemilikan saham di sebuah tambang batubara yang ada di Sumetera Selatan. Kepemilikan saham mereka atas tambang tersebut hanya 26 persen, selebihnya di kuasai oleh konsorsium dari Korea. Dan sekarang mereka menawarkan sebagian saham mereka ke perusahaan Padli, sehingga perusahaan Padli akan mendominasi kepemilikan sahamnya.
Padli : Aku harus pergi ke sana melihat langsung kelapangan Nok.
Yitno : Yah... sepertinya memang harus begitu. Ini nilai transaksi yang besar lho Pad.
Padli : Kau bisa menemaniku? Atau ada Asistenmu yang bisa ku pakai?
Yitno : Aku ngak bisa bro, jadwalku juga padat. Tapi nanti coba kuperiksa ya, siapa
yang bisa menemanimu.
Padli : Oke Nok, kutunggu secepatnya, soalnya aku berangkatnya besok siang.
Yitno : Beres Bos, berapa lama disananya?
Padli : Mungkin sekitar 3 hari, aku mau melihat potensi kandungan batubaranya dulu.
Yitno : Gitu ya, ya udah, ntar kucarikan asisten untukmu ya.
Padli memang terbiasa pergi keluar kota untuk urusan kantor ditemani oleh Yitno,
baginya Yitno itu segalanya, Asistennya, wakilnya dan juga sebagai sahabatnya.
***************
__ADS_1
Hai readers... tolong ya, Like dan Votenya, dan jangan lupa komentar nya, sehingga author mengerti kekurangan dalam penulisan novel ini. Sesungguhnya like dan vote dari readers sangat berarti bagi author di masa-masa suram ini.
Terima kasih.