Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
MAK LENA DI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Hari menjelang sore, dan Mak Lena sudah berada di ruangan ICU. Padli mengajak Abah


dan Inna untuk memasuki ruangan VIP Room rumah sakit tersebut, dia mengatakan


kepada Abah, bahwa ini adalah fasilitas yang didapat mereka, karena sebagai


pihak pengantar yang berasal dari luar kota. (Ini adalah akal-akalan Padli


saja). Ruangan tersebut bukan ruang perawatan, melainkan ruangan yang memang


khusus diperuntukkan bagi tamu VIP yang akan menginap di rumah sakit tersebut.


Sebuah Double Bed (Tempat tidur besar) berada di tengah ruangan, sofa, TV, meja


rias kaca, lemari, rak sepatu, kulkas, meja kerja, dll. Kondisinya seperti


kamar hotel berbintang. Inna terkagum-kagum melihat semua itu. Inna belum


pernah tidur di ruangan ber AC. Sementara Abah masih bingung atas semua kejadian


yang menimpanya pada hari ini.


Malam itu mereka makan di kantin rumah sakit, saat menu sudah terhidang, Abah hanya


mengambil sepiring nasi dan sepotong telur dadar saja, Abah takut karena nanti


harganya pasti mahal. Akhirnya Padli menjelaskan (terpaksa berbohong) bahwa


selama mereka berada di rumah sakit ini, segala macam biaya makan, minum, dan


juga kalau Inna mau mengambil sesuatu di mini market yang ada di dalam rumah


sakit ini, maka semuanya gratis, karena sudah termasuk biaya yang 40 juta itu.


Mendengar penjelasan Padli, barulah Abah mau mengambil lauk-lauk yang lainnya.


Yang jadi pikiran Padli adalah, kenyataan bahwa malam itu dia dan Inna akan tidur


dalam satu ruangan yang sama. Memikirkannya saja membuat Padli deg..deg..kan,


walau dia tahu bahwa ada Abah juga disitu. Ternyata Abah juga berpikiran yang


sama, dia ngak mungkin menyuruh Padli tidur diluar karena tidak ada tempat bagi


Padli tidur diluar, sementara kalau meminta Padli untuk pulang, dia ngak mau,


karena dia tergantung sekali sama Padli selama di rumah sakit. Karena selama di


rumah sakit, Padli lah yang selalu mengambil insiatif dan mengurus segalanya.


Mengambil obat di rumah sakit, mengambilkan Inna snack dan minuman, membelikan


Abah minyak urut, untuk kaki Abah yang kedinginan. Sewaktu di kamar mandi juga


Padli yang tahu menghidupkan kran air panas atau air dingin, membuat kopi memakai


coffee maker, dll.


Dan akhirnya dia memutuskan bahwa dia dan Inna tidur di kasur, dan Padli tidur di


sofa. Tetapi seorang pelayan datang dan membawa extrabed, sehingga Padli juga


dapat tidur di kasur.


 Esoknya Mak Lena dibawa ke ruangan operasi. Inna, Abah dan Padli menunggu di luar

__ADS_1


ruangan operasi dengan cemas, Abah tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan


istrinya. Dokter keluar dari ruangan operasi dan mengatakan bahwa operasi


berjalan dengan sukses. Mak Lena di bawa ke ruang perawatan di kamar VIP rumah


sakit tersebut. Mak Lena masih tertidur lelap, sisa sisa obat Anestesi (bius)


masih mempengaruhinya. Inna duduk disamping ibunya dan mengusap-usap rambut


ibunya itu dengan rasa haru dan bersyukur atas keselamatan ibunya.


Setelah beberapa hari, kondisi Mak Lena semakin pulih, dia sudah bisa duduk dan makan


bubur yang disiapkan oleh pihak rumah sakit. Abah ngak keluar-keluar dari


ruangan itu untuk menjaga dan merawat Mak Lena, padahal perawat rumah sakit


tersebut selalu standby menjaga 24 jam sehari. Hal ini membuat terciptanya


kesempatan bagi Padli dan Inna selalu berdua.


Siang itu Padli dan Inna makan berdua di kantin, sementara Abah makan di ruang


perawatan sekalian menemani Mak Lena.


Padli : Nna, Nna sering datang ke kota ini? (sambil memandangi Inna. Segala macam


perbuatan Inna membuat Padli gemas, melihat bibir mungilnya itu berbicara


membuat Padli kepingin menciumnya)


Inna : Jarang bang, seingat Nna hanya 3 kali aja Nna ke sini, yang kemaren waktu


Padli : Nna, kalau kita nanti menikah, Nna mau ngak ikut abang ke kota?


Inna : Mau bang.


Padli : Abah dan emak gimana? Trus warung gimana?


Inna : Kata Abah, kalau Nna sudah menikah, maka Abah, Emak dan warung bukan tanggung


jawab Nna lagi. Jadi biar aja Abah yang nanti memikirkannya. Memangnya nanti


kita mau kemana bang?


Bukannya nanti kita ngurusin warung terus? Nna malah mikir bagaimana caranya membesarkan


warung, soalnya kan sekarang warung mulai terasa sempit?


Padli : Ya udah... nanti aja kita pikirin. Nna... mumpung disini, beli aja paket


internetnya Nna, kan kalau di mini market itu kita dapat gratis?


Inna : Iya bang, Nna bosan juga kalau didalam terus seharian, jadinya pengen nonton


youtube.


Padli : Yok... jalan. (Padli menganggukkan kepala kepada seseorang yang berdiri tak


jauh dari mereka yang akan menyelesaikan segala macam urusan pembayaran, orang tersebut


adalah asistennya si Yitno)


Ketika mereka berjalan menuju ruang perawatan Inna bertanya

__ADS_1


Inna :  Bang, waktu di kantin tadi Nna melihat


mereka yang makan pada membayar semua di kantin, kok kita enggak ya?


Padli : Kan kita udah membayar semuanya melalui paket 40 juta itu.


Inna : Iya sih, cuma Nna penasaran kenapa mereka bisa tahu ya, padahal kan mereka


tidak pernah bertanya kepada kita?


Padli : Abangpun ngak tau Nna... (Padli bingung mau jawab apa)


Hari ini mereka akan pulang ke rumah, Inna sudah mengambil uang yang dikirim Andi,


kemudian diserahkan ke Padli untuk pembayaran biaya rumah sakitnya.


Hari itu kembali Abah menelpon Andi untuk memberi tahukan bahwa mereka akan segera


pulang ke rumah. Abah menelpon meminjam hp nya Padli.


Abah : Ndi... disini orang-orangnya ramah-ramah kok, dokternya juga baik-baik, jadi


ngak kerasa udah seminggu disini.


Andi : Gitu ya Bah, jadi selama seminggu ini kalian menginap dimana?


Abah : kami dapat kamar tunggu Ndi, bagus kali kamarnya, pake AC, trus bisa tiduran


kalau di kamar mandi (Bathtub).


Andi : Kamar tunggu?


Abah : Iya kata Padli, itu fasilitas rumah sakit yang bisa dipakai gratis, terus


kalau mau makan di kantin juga gratis.


Andi : (Andi merasa heran, kayaknya ngak mungkinlah, ah... nanti kutanya sama Inna


saja, pikir Andi) jadi ini sekarang Abah mau pulang naik apa?


Abah : Naik grab, kata si Padli ini juga sudah menjadi bagian dari fasilitas perawatan


rumah sakit.


Andi : Ah... masa iya? Tapi Emak sudah sehat kan?


Abah : Udah bisa jalan pun, udah boleh makan nasi, tapi kata dokter jangan dulu


makan yang pedas-pedas. Ya udah dulu ya Ndi, itu mobilnya udah datang, kami mau


pulang nih.


Andi : Ya Bah... (hubungan terputus)


Abah mengembalikan hp kepada Padli dan mulai berpikir bahwa selama di rumah sakit,


ternyata dia sangat tergantung kepada Padli. Padli yang mengurus semua semua


hal-hal mereka selama disana. “Yah.. ternyata anak ini dapat diandalkan juga


ya”, pikirnya dalam hati.


Abah, Mak Lena, Inna, dan Padli segera menaiki sebuah mobil sedan mewah yang di bawa


oleh asistennya Yitno, yang tentu saja menyamar sebagai sopir grab.

__ADS_1


__ADS_2