
Hari menjelang sore, dan Mak Lena sudah berada di ruangan ICU. Padli mengajak Abah
dan Inna untuk memasuki ruangan VIP Room rumah sakit tersebut, dia mengatakan
kepada Abah, bahwa ini adalah fasilitas yang didapat mereka, karena sebagai
pihak pengantar yang berasal dari luar kota. (Ini adalah akal-akalan Padli
saja). Ruangan tersebut bukan ruang perawatan, melainkan ruangan yang memang
khusus diperuntukkan bagi tamu VIP yang akan menginap di rumah sakit tersebut.
Sebuah Double Bed (Tempat tidur besar) berada di tengah ruangan, sofa, TV, meja
rias kaca, lemari, rak sepatu, kulkas, meja kerja, dll. Kondisinya seperti
kamar hotel berbintang. Inna terkagum-kagum melihat semua itu. Inna belum
pernah tidur di ruangan ber AC. Sementara Abah masih bingung atas semua kejadian
yang menimpanya pada hari ini.
Malam itu mereka makan di kantin rumah sakit, saat menu sudah terhidang, Abah hanya
mengambil sepiring nasi dan sepotong telur dadar saja, Abah takut karena nanti
harganya pasti mahal. Akhirnya Padli menjelaskan (terpaksa berbohong) bahwa
selama mereka berada di rumah sakit ini, segala macam biaya makan, minum, dan
juga kalau Inna mau mengambil sesuatu di mini market yang ada di dalam rumah
sakit ini, maka semuanya gratis, karena sudah termasuk biaya yang 40 juta itu.
Mendengar penjelasan Padli, barulah Abah mau mengambil lauk-lauk yang lainnya.
Yang jadi pikiran Padli adalah, kenyataan bahwa malam itu dia dan Inna akan tidur
dalam satu ruangan yang sama. Memikirkannya saja membuat Padli deg..deg..kan,
walau dia tahu bahwa ada Abah juga disitu. Ternyata Abah juga berpikiran yang
sama, dia ngak mungkin menyuruh Padli tidur diluar karena tidak ada tempat bagi
Padli tidur diluar, sementara kalau meminta Padli untuk pulang, dia ngak mau,
karena dia tergantung sekali sama Padli selama di rumah sakit. Karena selama di
rumah sakit, Padli lah yang selalu mengambil insiatif dan mengurus segalanya.
Mengambil obat di rumah sakit, mengambilkan Inna snack dan minuman, membelikan
Abah minyak urut, untuk kaki Abah yang kedinginan. Sewaktu di kamar mandi juga
Padli yang tahu menghidupkan kran air panas atau air dingin, membuat kopi memakai
coffee maker, dll.
Dan akhirnya dia memutuskan bahwa dia dan Inna tidur di kasur, dan Padli tidur di
sofa. Tetapi seorang pelayan datang dan membawa extrabed, sehingga Padli juga
dapat tidur di kasur.
Esoknya Mak Lena dibawa ke ruangan operasi. Inna, Abah dan Padli menunggu di luar
__ADS_1
ruangan operasi dengan cemas, Abah tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan
istrinya. Dokter keluar dari ruangan operasi dan mengatakan bahwa operasi
berjalan dengan sukses. Mak Lena di bawa ke ruang perawatan di kamar VIP rumah
sakit tersebut. Mak Lena masih tertidur lelap, sisa sisa obat Anestesi (bius)
masih mempengaruhinya. Inna duduk disamping ibunya dan mengusap-usap rambut
ibunya itu dengan rasa haru dan bersyukur atas keselamatan ibunya.
Setelah beberapa hari, kondisi Mak Lena semakin pulih, dia sudah bisa duduk dan makan
bubur yang disiapkan oleh pihak rumah sakit. Abah ngak keluar-keluar dari
ruangan itu untuk menjaga dan merawat Mak Lena, padahal perawat rumah sakit
tersebut selalu standby menjaga 24 jam sehari. Hal ini membuat terciptanya
kesempatan bagi Padli dan Inna selalu berdua.
Siang itu Padli dan Inna makan berdua di kantin, sementara Abah makan di ruang
perawatan sekalian menemani Mak Lena.
Padli : Nna, Nna sering datang ke kota ini? (sambil memandangi Inna. Segala macam
perbuatan Inna membuat Padli gemas, melihat bibir mungilnya itu berbicara
membuat Padli kepingin menciumnya)
Inna : Jarang bang, seingat Nna hanya 3 kali aja Nna ke sini, yang kemaren waktu
Padli : Nna, kalau kita nanti menikah, Nna mau ngak ikut abang ke kota?
Inna : Mau bang.
Padli : Abah dan emak gimana? Trus warung gimana?
Inna : Kata Abah, kalau Nna sudah menikah, maka Abah, Emak dan warung bukan tanggung
jawab Nna lagi. Jadi biar aja Abah yang nanti memikirkannya. Memangnya nanti
kita mau kemana bang?
Bukannya nanti kita ngurusin warung terus? Nna malah mikir bagaimana caranya membesarkan
warung, soalnya kan sekarang warung mulai terasa sempit?
Padli : Ya udah... nanti aja kita pikirin. Nna... mumpung disini, beli aja paket
internetnya Nna, kan kalau di mini market itu kita dapat gratis?
Inna : Iya bang, Nna bosan juga kalau didalam terus seharian, jadinya pengen nonton
youtube.
Padli : Yok... jalan. (Padli menganggukkan kepala kepada seseorang yang berdiri tak
jauh dari mereka yang akan menyelesaikan segala macam urusan pembayaran, orang tersebut
adalah asistennya si Yitno)
Ketika mereka berjalan menuju ruang perawatan Inna bertanya
__ADS_1
Inna : Bang, waktu di kantin tadi Nna melihat
mereka yang makan pada membayar semua di kantin, kok kita enggak ya?
Padli : Kan kita udah membayar semuanya melalui paket 40 juta itu.
Inna : Iya sih, cuma Nna penasaran kenapa mereka bisa tahu ya, padahal kan mereka
tidak pernah bertanya kepada kita?
Padli : Abangpun ngak tau Nna... (Padli bingung mau jawab apa)
Hari ini mereka akan pulang ke rumah, Inna sudah mengambil uang yang dikirim Andi,
kemudian diserahkan ke Padli untuk pembayaran biaya rumah sakitnya.
Hari itu kembali Abah menelpon Andi untuk memberi tahukan bahwa mereka akan segera
pulang ke rumah. Abah menelpon meminjam hp nya Padli.
Abah : Ndi... disini orang-orangnya ramah-ramah kok, dokternya juga baik-baik, jadi
ngak kerasa udah seminggu disini.
Andi : Gitu ya Bah, jadi selama seminggu ini kalian menginap dimana?
Abah : kami dapat kamar tunggu Ndi, bagus kali kamarnya, pake AC, trus bisa tiduran
kalau di kamar mandi (Bathtub).
Andi : Kamar tunggu?
Abah : Iya kata Padli, itu fasilitas rumah sakit yang bisa dipakai gratis, terus
kalau mau makan di kantin juga gratis.
Andi : (Andi merasa heran, kayaknya ngak mungkinlah, ah... nanti kutanya sama Inna
saja, pikir Andi) jadi ini sekarang Abah mau pulang naik apa?
Abah : Naik grab, kata si Padli ini juga sudah menjadi bagian dari fasilitas perawatan
rumah sakit.
Andi : Ah... masa iya? Tapi Emak sudah sehat kan?
Abah : Udah bisa jalan pun, udah boleh makan nasi, tapi kata dokter jangan dulu
makan yang pedas-pedas. Ya udah dulu ya Ndi, itu mobilnya udah datang, kami mau
pulang nih.
Andi : Ya Bah... (hubungan terputus)
Abah mengembalikan hp kepada Padli dan mulai berpikir bahwa selama di rumah sakit,
ternyata dia sangat tergantung kepada Padli. Padli yang mengurus semua semua
hal-hal mereka selama disana. “Yah.. ternyata anak ini dapat diandalkan juga
ya”, pikirnya dalam hati.
Abah, Mak Lena, Inna, dan Padli segera menaiki sebuah mobil sedan mewah yang di bawa
oleh asistennya Yitno, yang tentu saja menyamar sebagai sopir grab.
__ADS_1