Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
TRAGEDI ITU TERJADI


__ADS_3

Inna sedang sibuk dengan buku catatannya, dia sibuk mencatat dan menghitung biaya


pengeluaran rumah mereka. “Huff... setiap bulannya kok susah sekali untuk turunnya


ya”, pikirnya dalam hati sambil melihat ke angka-angka di buku catatannya. Dia


sudah berusaha untuk menghemat beberapa pengeluaran, seperti biaya listrik. Dia


sudah memerintahkan untuk mematikan AC atau memadamkan listrik bila ada ruangan


yang tidak dipakai. Pompa air, Kipas Angin, lampu taman dan sebagainya. Belum


lagi biaya petugas kebersihan, keamanan komplek. “Padahal di rumah sudah


memakai jasa satpam, untuk apalagi bayar kemanan komplek”? pikirnya dalam hati.


Dia juga mengawasi pemakaian sabun, sabun cuci untuk baju, sabun mandi, sabun


cuci piring, pembersih lantai, dll. Tapi semua masih terlihat wajar, hal ini membuatnya bingung untuk mencari hal apalagi yang bisa dihemat. Dia teringat perkataan Mama, “semua biaya rutin ini sudah sejak dulu memang begitu, kalau harus dihemat lagi takutnya nanti membuat mereka ngak nyaman lho”. Inna memang sadar, untuk biaya kehidupan rumah mewah ini memang sewajarnya begitu, seharusnya Inna yang mencoba mengerti tentang keadaannya. Yah kalau ngak mau keluar uang banyak, maka ngak usah tinggal dirumah yang seperti itu.


Ngomong-ngomong soal rumah, Inna juga teringat dengan saat pertama kalinya dia


berhubungan intim di rumah itu bersama Padli, ia juga teringat ide-ide konyolnya,


berhubungan di ruang studio music, di kolam renang dalam, malahan pernah di


taman belakang ketika tengah malam.


 (Maaf ya readers... author belum sempat


menceritakan hal ini).


Sepertinya kalau mengenai hubungan intim memang selalu saja dia yang bersikap aktif dan agresif dibandingkan Padli. Padli hanya patuh saja atas semua perintahnya.


Namun hal itu membuat Inna merasa nyaman. Dia bisa sampai berkali-kali klimaks


ketika Padli mengikuti semua ide-ide konyolnya.


“Walah... kok jadi teringat sama bang Padli ya, hem... “ Inna merasa sangat menyayangi


suaminya tersebut.


“Inna.... jam berapa berangkat chek up nya?, ini dah mau siang lho” Mama berteriak dari


ruang dalam. “Ya Ma, ini dah mau berangkat”, jawab Inna sambil berteriak juga.


Inna segera membereskan segala buku catatan dan peralatan tulisnya, dan


bergegas mendatangi Mama.


“Sama siapa berangkatnya? Apa perlu Mama temani”? kata Mama sambil mencium pipi Inna. “Sama Mbak Ayu Ma, abis itu kami mau berbelanja sebentar ya Ma” jawab Inna sambil memeluk Mama. “Ya sudah, hati-hati ya” ujar


Mama. Ya Ma.

__ADS_1


Inna memandangi perutnya yang sudah membengkak, usia kehamilan sudah hampir 9 bulan, dia pun sudah terlihat susah untuk berjalan. Hasil dari pemeriksaan yang lalu


diketahui bahwa calon bayinya laki-laki. Padli sangat gembira mendengarnya,


bahkan merencanakan akan mendesain sebuah kamar bayi mereka yang bernuasa


blue.. “Yah, terserahlah, kan ini juga bayinya” pikir Inna dalam hati.


Hari itu dia duduk di depan disamping mang Didik yang memegang stir, sebab kalau


duduk di belakang Inna merasa susah berdirinya karena tempat duduknya yang


sedikit menjorok ke dalam. Mbak Ayu yang duduk di belakang dengan membawa


perlengkapan mereka. Jalanan sedikit lenggang, mang Didik mengendarai mobil


mereka dengan sedikit kencang, takut kesiangan. Namun tiba-tiba dari arah depan


terlihat sebuah truk yang berjalan oleng dengan kencang karena ban nya yang


pecah. Mang Didik spontan mengklakson dan membanting stir ke kiri. Namun truk


tersebut seperti hendak mengejar mobil mereka dan akhirnya, “Astagfirullah....


Allahu Akbar...” ucap Inna sambil menjerit.


Brugh... Mobil mereka terhempas dan terputar bertabrakan dengan truk tersebut.


*************


Padli berlari menuju ruang UGD di rumah sakit tersebut, barusan dia di telpon oleh


pihak rumah sakit yang mengabarkan kecelakaan tersebut. Sesampainya di ruang


UGD seorang dokter menghampirinya.


“Bapak Fadli”, tegur dokter tersebut.


“Iya benar Dok, apa yang terjadi dengan istri saya”? tanya Padli cemas.


“Saya mohon Bapak bersabar, tenangkan diri Bapak dulu, Istri Bapak mengalami


kecelakaan” kata dokter tersebut.


“Iya, dimana istri saya sekarang Dok?”, tanya Padli lagi.


“Maafkan kami, kami ngak sempat menolongnya, Istri bapak sudah meninggal dunia sebelum sempat dibawa ke rumah sakit, dan anak yang dikandungnya pun tidak tertolong nyawanya” kata Dokter tersebut dengan pelan.


“Apa Dok.... istri saya mana? Mana istri saya” Padli mulai berteriak-teriak.


Dokter tersebut membawa Padli ke sebuah pembaringan. Disana terlihat sesosok tubuh


yang telah di tutupi oleh kain putih panjang. Padli membuka kain tersebut dan

__ADS_1


memandangi wajah Inna yang terpejam dan membiru. Sekilas Padli juga melihat


tubuh seorang bayi yang telah di tutupi dengan kain putih disampingnya.


Padli terduduk diam di tepi pembaringan, tangannya memegang tangan Inna yang sudah dingin membeku. Dia hanya diam, tanpa teriakan, tanpa air mata yang menetes di pipinya. Tatapannya kosong, antara sadar dan tidak sadar. Pikirannya menolak menerima kenyataan yang saat ini dihadapinya.


Mama datang di temani oleh beberapa ART, dia menangis dan berteriak-teriak memanggil-manggil


nama Inna, dan tak lama kemudian, Intan dan Yitno pun datang.


Padli melihat mereka dengan heran, “Ada apa Ma?.. Intan, kenapa disini?” tanya Padli.


Seorang dokter menyuntikkan obat anastesi (obat bius) ke tubuh Padli. Perlahan-lahan


pandangan Padli mulai kabur dan menghilang.


*************


Maaf ya readers..... huhuhu... Episode yang ini author saksikan sendiri kejadian yang sebenarnya, nih tangan author gemetar saat menuliskannya...


Sekali lagi maaf...


******************


Padli terbangun, “ah ternyata cuma mimpi” pikirnya. Dia merasakan tangan Inna yang


memeluknya dari belakang, hembusan nafas Inna yang teratur membelai tengkuknya.


Padli tersenyum dan berbalik ingin menciumi pujaan hatinya itu. Tapi Inna ngak ada. Pandangannya hanya melihat bantal dan guling yang berserakan di sebelahnya.


“Na.. Nna...” panggilnya lagi. Dia memerikasa sekeliling ruangan sambil terus


memanggil-manggil. “Na... Nna... “ teriaknya . Dia memeriksa kamar mandi, ruang


ganti baju sampai akhirnya dia keluar dari kamar dan menuruni tangga ke lantai


satu. Di dapur samar-samar dia mendengar Inna sedang memasak sambil


bersenandung. “Ah... Inna disitu rupanya, apa yang dia masak”? pikir Padli. Dia merasa perutnya mulai terasa lapar.


“Na...Nna” panggilnya lagi. Di dapur tidak terlihat siapapun. Padli mulai panik, dia mulai


memanggil-manggil nama Inna sambil berkeliling rumah mencarinya. “Na...Nna”


teriaknya lagi. Dia terus saja memanggil-manggil, wajahnya mulai pucat dan keringat dingin mulai mengucur di seluruh tubuhnya. Mana Inna? Aku harus bertemu dengannya.  “Na...Nnna...” panggilnya terus menerus. Ketika sampai kembali di ruang tengah Padli merasakan sesuatu yang bergejolak dan memuncak sampai ke ubun-ubunnya... “INNAAAAAAAA..... “


teriaknya sekeras-kerasnya.


Irvan segera berlari dan memeluknya, “astagfirullah.... astagfirullah... “ ucap Irvan


di telinga Padli. Bang...bang Padli, Irvan menggucang-guncang tubuh Padli yang


sedang bersimpuh dan menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2