
Malam itu, Inna, Intan dan Bik Surti tidur dalam satu kamar, kamar tersebut memang
luas, walaupun sudah ditambah sebuah springbed lagi, kamar itu masih saja
luas. Kamar itu juga dilengkapi dengan kulkas yang berisi minuman dan snack,
ada juga lemari berisi beberapa kue, roti dan biskuit kaleng. Inna sedang duduk
di balkon kamar yang menghadap ke taman samping bersama Intan.
Intan : Nna, tadi sewaktu kamu keluar kamar, sepertinya kamu habis menangis ya? Apa
Mamanya bang Padli ngak suka sama kamu?
Inna : Ngak kok, Mama baik kok orangnya. Banyak yang diceritainnya, tapi dia sayang
kok sama Aku.
Intan : Jadi, kenapa nangis?
Inna : Aku terharu, jadinya sampai nangis. Mama orangnya bijaksana sekali. Aku suka
kok sama Mamanya bang Padli. (Inna tersenyum)
Intan : Syukurlah, tadinya aku dah khawatir, soalnya Mamanya walaupun sakit, masih
terlihat anggun sekali. Takutnya dia memandang rendah kita.
Inna : Syukurnya enggak, dia hanya menasehati aku, supaya bersabar dan mau ngertiin
bang Padli. Apa yang dibilangnya benar semua, aku harus cepat beradaptasi
dengan lingkungan yang baru.
Intan : Kalau itu sih memang benar, cuma tadi aku syok aja lihat rumah bang Padli.
Aku ngebayangin berapa ya biaya listrik nya perbulan? Gajiku ngak bakalan cukup
untuk membayar biaya listriknya aja dalam sebulan. (Intan tertawa)
Sekarang aku baru sadar, Headset kamu yang dibeliin bang Padli itu yang original lho,
pantesan suaranya enak, gajinya dari Abah ngak akan cukup untuk membelinya,
kalau di kota kecamatan ngak bakalan ada yang jual. Dimana ya dia mendapatkannya?
Inna : Iya ya, kok kita ngak curiga ya.. (Merekapun tertawa bersama)
Setelah mengobrol sekian lama, akhirnya merekapun pergi tidur. Bik Surti masih menonton
drama koreanya.
Paginya setelah sarapan, mereka berkeliling rumah di temani oleh Irvan, karena Padli
pergi ke kantor kelurahan untuk mengurus kepindahan Inna ke kota. Rumah
tersebut memiliki 8 kamar, mereka juga melihat kolam renang yang ada di dalam
rumah tersebut, melihat dapur yang luasnya hampir seluar rumah Inna, ada
ruangan home teater, ruangan studio music, ada gym, ruang mushola yang berada
ditengah ruangan, ruang tamu khusus, ruang pertemuan dan loby, dll. Sedangkan
di luar rumah ada kolam renang luar, taman, lapangan basket, 2 kamar paviliun
tamu (Yitno sering menginap disitu), kamar para ART, beberapa Gazebo di taman
dan garasi yang muat untuk empat mobil.
__ADS_1
Ketika hari menjelang siang, Padli pulang kerumah, dan dia langsung mengajak Inna dan
Intan untuk pergi berbelanja ke Mall. Irvan ngak ikut, dan Bik Surti masih
setia menonton drama koreanya di kamar.
Mereka memasuki sebuah butik pakaian muslim yang besar, Padli menyuruh Inna dan
Intan untuk memilih baju yang sesuai dengan selera mereka. Mulanya Inna ngak mau,
karena melihat harga yang ada di lebelnya, dia masih ngak ikhlas karena harus
membayar uang sebesar itu untuk sepotong baju, tapi Padli memaksanya, bahkan
Padli menyuruh manager butik untuk membantu mereka dalam memilih bajunya.
Hampir lebih satu jam mereka memilih baju, sebelum akhirnya mereka keluar dari
butik tersebut dengan membawa beberapa potong baju. Rasa puas terlihat dari
raut wajah mereka.
Padli juga membelikan mereka Hp merek Samsung keluaran terbaru, karena melihat
hp nya Inna sudah jadul. Intan merasa sangat sungkan, karena dia tahu harganya
pastilah sangat mahal, dia merasa diakan bukan siapa-siapanya Padli, tetapi
Padli tetap saja memaksanya.
Setelah puas berbelanja, mereka kemudian sholat Dzuhur di Mushola yang ada di Mall
tersebut, dan kemudian memasuki restoran Jepang untuk makan siang. Karena Inna
dan Intan tidak mengerti tentang menu yang ditawarkan, maka Padli membantu
memilihkannya, akhirnya mereka pun memilih Ramen, Yakiniku dan sukiyaki.
Ketika mereka melewati sebuah outlet salon dan perawatan kecantikan, Padli menyuruh
Inna dan Intan untuk memasukinya, dan membiarkan para pelayan disana untuk
melayani mereka berdua. Intan yang sangat antusias untuk masuk, karena pernah
membaca tentang ini, sedangkan Inna hanya mengikuti Intan saja. Hampir 2 jam
mereka berada di salon tersebut, sedangkan Padli menunggu dengan sabar sambil
memainkan hp nya.
Setelah mereka keluar dari salon, Padli memandang Inna dengan terpesona, Inna terlihat
sangat cantik sekali dengan baju yang baru saja dibelinya. Astagfirullah...
ucapnya beberapa kali. Kemudian dia langsung mengalihkan pandangannya, dia
takut ngak dapat menahan dirinya untuk tidak memeluk Inna dan menciumnya. Inna
tertunduk malu, sedangkan Intan tersenyum geli.
Akhirnya mereka pulang kerumah ketika waktu menjelang Maghrib. Bik Surti menyesal
karena tidak ikut berbelanja setelah melihat barang-barang bawaan mereka. Untungnya
Padli juga ingat dengan Bik Surti, Padli juga menyuruh Intan untuk memilih
beberapa potong baju, tas, sandal, sepatu dll yang mungkin dibutuhkan oleh Bik
Surti. Selain itu juga mereka membelikan oleh-oleh untuk Abah dan Emak.
__ADS_1
Setelah sholat Ishya dan makan malam, mereka pun masih berbincang-bincang di taman,
sebelum akhirnya pergi beristirahat di kamar mereka, karena besoknya mereka
akan kembali ke kampung.
Paginya mereka bersiap-siap untuk kembali ke kampung. Irvan tidak ikut, namun dia
digantikan dengan mang Parno yang memang selama ini menjadi sopir pribadinya Padli.
Sebelum itu mereka berpamit dengan Mama, “Intan, setelah ini pun kamu jangan ragu-ragu
untuk datang lagi ke rumah ini ya, kamu kan sahabatnya Inna, Mama juga sudah
menganggap kamu sebagai anak Mama. Ya Surti ya, kamu panggil saya dengan Kakak
saja, Kak Risma, datang lagi kemari ya, nanti kita nonton drama koreanya barengan
aja”, kata Mama sambil tersenyum. Bik Surti tersentuh dengan keramahan Mama,
diapun lantas memeluk Mama sambil mendoakan kesembuhan Mama. Tak lupa juga Mama
berpesan untuk menitip salam dengan Abah dan Emak, sekaligus permohonan maafnya
karena ngak bisa datang kesana.
Ketika mereka hendak keluar rumah, terlihat sebuah mobil sedan mewah memasuki
halaman rumah. Yitno datang dengan didampingi seorang asistennya, dia hendak menemui
Padli untuk menanda tangani beberapa berkas sebelum Padli kembali ke Kampung.
Padli memperkenalkan Inna dan Intan kepada Yitno. “ Nok, ini calon ku, dan ini
sahabatnya”, kata Padli memperkenalkan Inna dan Intan, sementara Bik Surti sudah
memasuki mobil. Inna dan Intan pun menyalami Yitno dari jauh. Yitno membalas
salam juga dari jauh, namun dia juga tampak terpesona melihat kedua gadis itu,
sampai akhirnya Padli menegornya. Buru-buru Yitno memberikan berkas-berkas
tersebut kepada Padli untuk ditanda tangani. Setelah selesai diapun berkata
“bro, itu cewek temannya si Inna ya, kok ente ngak bilang kalau Inna punya
teman seperti itu?” “Napa emangnya, ente usaha sendiri lah, tapi jangan
dijadiin mainan ya, kasihan, dia anak yatim” kata Padli lagi. “Ya ngak lah,
tapi lihat aja takdirnya nanti, hehehe...” kata Yitno sambil tertawa. Yitno juga
belum menikah, sama seperti Padli, walaupun kedua orang tuanya sudah lama
menyuruhnya untuk segera berumah tangga. Yitno ngak pernah serius kalau
berhubungan dengan perempuan, karena itu dia ngak pernah pacaran lama-lama. Karena
dia muda dan kaya, banyak perempuan yang menggodanya, namun semua hanya
dianggap selingan saja sama Yitno. Berbeda dengan Padli yang bersikap dingin
dengan perempuan, Yitno justru meladeni mereka dengan rayuan gombalnya,
akibatnya banyak yang sakit hati kepada Yitno.
“Nok, ntar ente tolongin aku ya, mengatur acara pestaku, mungkin akan dilaksanakan di
kampung, karena Abah ngak bakalan mau resepsi di kota”. Kata Padli. “Aman bro...”
__ADS_1
kata Yitno singkat, dan merekapun akhirnya berpisah.