Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
MEMBELI BAJU DAN KE SALON


__ADS_3

Malam itu, Inna, Intan dan Bik Surti tidur dalam satu kamar, kamar tersebut memang


luas, walaupun sudah ditambah sebuah springbed lagi, kamar itu masih saja


luas. Kamar itu juga dilengkapi dengan kulkas yang berisi minuman dan snack,


ada juga lemari berisi beberapa kue, roti dan biskuit kaleng. Inna sedang duduk


di balkon kamar yang menghadap ke taman samping bersama Intan.


Intan : Nna, tadi sewaktu kamu keluar kamar, sepertinya kamu habis menangis ya? Apa


Mamanya bang Padli ngak suka sama kamu?


Inna : Ngak kok, Mama baik kok orangnya. Banyak yang diceritainnya, tapi dia sayang


kok sama Aku.


Intan : Jadi, kenapa nangis?


Inna : Aku terharu, jadinya sampai nangis. Mama orangnya bijaksana sekali. Aku suka


kok sama Mamanya bang Padli. (Inna tersenyum)


Intan : Syukurlah, tadinya aku dah khawatir, soalnya Mamanya walaupun sakit, masih


terlihat anggun sekali. Takutnya dia memandang rendah kita.


Inna : Syukurnya enggak, dia hanya menasehati aku, supaya bersabar dan mau ngertiin


bang Padli. Apa yang dibilangnya benar semua, aku harus cepat beradaptasi


dengan lingkungan yang baru.


Intan : Kalau itu sih memang benar, cuma tadi aku syok aja lihat rumah bang Padli.


Aku ngebayangin berapa ya biaya listrik nya perbulan? Gajiku ngak bakalan cukup


untuk membayar biaya listriknya aja dalam sebulan. (Intan tertawa)


Sekarang aku baru sadar, Headset kamu yang dibeliin bang Padli itu yang original lho,


pantesan suaranya enak, gajinya dari Abah ngak akan cukup untuk membelinya,


kalau di kota kecamatan ngak bakalan ada yang jual. Dimana ya dia mendapatkannya?


Inna : Iya ya, kok kita ngak curiga ya.. (Merekapun tertawa bersama)


Setelah mengobrol sekian lama, akhirnya merekapun pergi tidur. Bik Surti masih menonton


drama koreanya.


Paginya setelah sarapan, mereka berkeliling rumah di temani oleh Irvan, karena Padli


pergi ke kantor kelurahan untuk mengurus kepindahan Inna ke kota. Rumah


tersebut memiliki 8 kamar, mereka juga melihat kolam renang yang ada di dalam


rumah tersebut, melihat dapur yang luasnya hampir seluar rumah Inna, ada


ruangan home teater, ruangan studio music, ada gym, ruang mushola yang berada


ditengah ruangan, ruang tamu khusus, ruang pertemuan dan loby, dll. Sedangkan


di luar rumah ada kolam renang luar, taman, lapangan basket, 2 kamar paviliun


tamu (Yitno sering menginap disitu), kamar para ART, beberapa Gazebo di taman


dan garasi yang muat untuk empat mobil.

__ADS_1


Ketika hari menjelang siang, Padli pulang kerumah, dan dia langsung mengajak Inna dan


Intan untuk pergi berbelanja ke Mall. Irvan ngak ikut, dan Bik Surti masih


setia menonton drama koreanya di kamar.


Mereka memasuki sebuah butik pakaian muslim yang besar, Padli menyuruh Inna dan


Intan untuk memilih baju yang sesuai dengan selera mereka. Mulanya Inna ngak mau,


karena melihat harga yang ada di lebelnya, dia masih ngak ikhlas karena harus


membayar uang sebesar itu untuk sepotong baju, tapi Padli memaksanya, bahkan


Padli menyuruh manager butik untuk membantu mereka dalam memilih bajunya.


Hampir lebih satu jam mereka memilih baju, sebelum akhirnya mereka keluar dari


butik tersebut dengan membawa beberapa potong baju. Rasa puas terlihat dari


raut wajah mereka.


Padli juga membelikan mereka Hp merek Samsung keluaran terbaru, karena melihat


hp nya Inna sudah jadul. Intan merasa sangat sungkan, karena dia tahu harganya


pastilah sangat mahal, dia merasa diakan bukan siapa-siapanya Padli, tetapi


Padli tetap saja memaksanya.


Setelah puas berbelanja, mereka kemudian sholat Dzuhur di Mushola yang ada di Mall


tersebut, dan kemudian memasuki restoran Jepang untuk makan siang. Karena Inna


dan Intan tidak mengerti tentang menu yang ditawarkan, maka Padli membantu


memilihkannya, akhirnya mereka pun memilih Ramen, Yakiniku dan sukiyaki.


Ketika mereka melewati sebuah outlet salon dan perawatan kecantikan, Padli menyuruh


Inna dan Intan untuk memasukinya, dan membiarkan para pelayan disana untuk


melayani mereka berdua. Intan yang sangat antusias untuk masuk, karena pernah


membaca tentang ini, sedangkan Inna hanya mengikuti Intan saja. Hampir 2 jam


mereka berada di salon tersebut, sedangkan Padli menunggu dengan sabar sambil


memainkan hp nya.


Setelah mereka keluar dari salon, Padli memandang Inna dengan terpesona, Inna terlihat


sangat cantik sekali dengan baju yang baru saja dibelinya. Astagfirullah...


ucapnya beberapa kali. Kemudian dia langsung mengalihkan pandangannya, dia


takut ngak dapat menahan dirinya untuk tidak memeluk Inna dan menciumnya. Inna


tertunduk malu, sedangkan Intan tersenyum geli.


Akhirnya mereka pulang kerumah ketika waktu menjelang Maghrib. Bik Surti menyesal


karena tidak ikut berbelanja setelah melihat barang-barang bawaan mereka. Untungnya


Padli juga ingat dengan Bik Surti, Padli juga menyuruh Intan untuk memilih


beberapa potong baju, tas, sandal, sepatu dll yang mungkin dibutuhkan oleh Bik


Surti. Selain itu juga mereka membelikan oleh-oleh untuk Abah dan Emak.

__ADS_1


Setelah sholat Ishya dan makan malam, mereka pun masih berbincang-bincang di taman,


sebelum akhirnya pergi beristirahat di kamar mereka, karena besoknya mereka


akan kembali ke kampung.


Paginya mereka bersiap-siap untuk kembali ke kampung. Irvan tidak ikut, namun dia


digantikan dengan mang Parno yang memang selama ini menjadi sopir pribadinya Padli.


Sebelum itu mereka berpamit dengan Mama, “Intan, setelah ini pun kamu jangan ragu-ragu


untuk datang lagi ke rumah ini ya, kamu kan sahabatnya Inna, Mama juga sudah


menganggap kamu sebagai anak Mama. Ya Surti ya, kamu panggil saya dengan Kakak


saja, Kak Risma, datang lagi kemari ya, nanti kita nonton drama koreanya barengan


aja”, kata Mama sambil tersenyum. Bik Surti tersentuh dengan keramahan Mama,


diapun lantas memeluk Mama sambil mendoakan kesembuhan Mama. Tak lupa juga Mama


berpesan untuk menitip salam dengan Abah dan Emak, sekaligus permohonan maafnya


karena ngak bisa datang kesana.


Ketika mereka hendak keluar rumah, terlihat sebuah mobil sedan mewah memasuki


halaman rumah. Yitno datang dengan didampingi seorang asistennya, dia hendak menemui


Padli untuk menanda tangani beberapa berkas sebelum Padli kembali ke Kampung.


Padli memperkenalkan Inna dan Intan kepada Yitno. “ Nok, ini calon ku, dan ini


sahabatnya”, kata Padli memperkenalkan Inna dan Intan, sementara Bik Surti sudah


memasuki mobil. Inna dan Intan pun menyalami Yitno dari jauh. Yitno membalas


salam juga dari jauh, namun dia juga tampak terpesona melihat kedua gadis itu,


sampai akhirnya Padli menegornya. Buru-buru Yitno memberikan berkas-berkas


tersebut kepada Padli untuk ditanda tangani. Setelah selesai diapun berkata


“bro, itu cewek temannya si Inna ya, kok ente ngak bilang kalau Inna punya


teman seperti itu?” “Napa emangnya, ente usaha sendiri lah, tapi jangan


dijadiin mainan ya, kasihan, dia anak yatim” kata Padli lagi. “Ya ngak lah,


tapi lihat aja takdirnya nanti, hehehe...” kata Yitno sambil tertawa. Yitno juga


belum menikah, sama seperti Padli, walaupun kedua orang tuanya sudah lama


menyuruhnya untuk segera berumah tangga. Yitno ngak pernah serius kalau


berhubungan dengan perempuan, karena itu dia ngak pernah pacaran lama-lama. Karena


dia muda dan kaya, banyak perempuan yang menggodanya, namun semua hanya


dianggap selingan saja sama Yitno. Berbeda dengan Padli yang bersikap dingin


dengan perempuan, Yitno justru meladeni mereka dengan rayuan gombalnya,


akibatnya banyak yang sakit hati kepada Yitno.


“Nok, ntar ente tolongin aku ya, mengatur acara pestaku, mungkin akan dilaksanakan di


kampung, karena Abah ngak bakalan mau resepsi di kota”. Kata Padli. “Aman bro...”

__ADS_1


kata Yitno singkat, dan merekapun akhirnya berpisah.


__ADS_2