
Yitno menelpon Padli dan mengatakan bahwa satu-satunya yang bisa menemaninya sebagai asisten saat ini adalah Sarah, tentu saja Padli keberatan dengan hal ini.
Padli : Nok, ente serius nih, apa ngak ada yang lain?
Yitno : Bro, ngak ada bro, asistenku semua sudah ada jadwalnya sendiri-sendiri, yang
tersisa cuma si Sarah aja.
Padli : Aku risih Nok, kalau harus jalan dengan perempuan, apalagi yang bukan muhrim.
Yitno : Aku ngerti bro, sebenarnya ada beberapa Manager yang lagi standby, tapi aku
khawatir, karena job desk nya kan beda. Ntar ente sendiri yang kerepotan disana.
Padli : (Berpikir sejenak mempertimbangkan) Okelah, tapi Nok, ini cuma sekali ini aja
ya, kalau perlu carikan aku sekretaris pria.
Yitno : Percayalah bro, ini hanya kebetulan saja, ngak akan ada lain kalinya. Oke?
Padli : Oke, tolong hubungi dia agar dia bisa bersiap-siap untuk berangkat besok.
Yitno : Oke, sep.
Padli berpikir bahwa dia harus bersikap profesional, tidak boleh terbawa sentimen
pribadinya. Ini adalah bagian dari pekerjaannya.
Siang harinya mereka, Padli dan Sarah, berangkat menuju kota Palembang dengan memakai pesawat jet perusahaan. Sarah terlihat sangat antusias dengan perjalanan ini. Penampilannya memang modis, dengan pakaian bercorak kantoran, mendampingi Padli yang justru terlihat santai dengan hanya memakai baju kaos berkerah.
Mereka sampai di kota Palembang dan langsung menuju hotel berbintang yang ada di kota itu. Padli memang memesan 2 kamar, dan mereka langsung memasuki kamar
masing-masing untuk beristirahat. Malam harinya Sarah meminta bertemu dengan
Padli di kafe hotel sekalian membahas rencana kerja untuk besok.
Sarah : (sambil membuka laptopnya) Saya baru pertama kali kemari Pak, tapi ngak
nyangka juga ya, kalau perusahaan bisa punya pesawat jet sendiri.
Padli : Memang biayanya mahal, tapi sebanding juga dengan keperluannya. Seperti ini misalnya, kalau penerbangan komersil ngak setiap hari ada jadwal ke kota ini,
padahal kita harus berangkat hari ini juga. Disitulah kegunaannya pesawat perusahaan.
__ADS_1
Sarah : Iya ya Pak. Terus apa pesawat itu bisa keluar negeri juga?
Padli : Sering malah, kita punya divisi untuk bagian luar negeri kok. Itu biasanya yang ngurusin si Yitno. Kamu juga harus punya Pasport ya, siapa tahu nanti dibutuhkan.
Sarah : Baik Pak, nanti segera saya urus. Bapak sepertinya dekat sekali dengan Pak
Yitno ya?
Padli : (tersenyum membayangkan Yitno) Dia adalah sahabatku semenjak dari kuliah
dulu. Malahan mendiang Bapakku sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
Mereka berdua mengobrol sampai larut malam, sebelum akhirnya berpisah untuk kembali ke kamar masing-masing. Entah mengapa, Padli merasa enjoy berbicara dengan Sarah. Ternyata Sarah tidak seperti dugaan sebelumnya.
Keesokan harinya mereka mulai bekerja, mereka mendatangi perusahaan tambang tersebut, berdiskusi langsung dengan Direktur perusahaan, memeriksa neraca keuangan terbaru, hasil-hasil audit, laporan inventaris, struktur organisasi, pelaksanaan SOP, mengunjungi lokasi tambang, bahkan mereka menaiki helikopter untuk melihat areal tambang dari udara.
Mereka juga bertemu dengan ketua serikat pekerja dan tokoh adat setempat, mengingat
adanya resiko konflik terhadap masyarakat.
Semua pekerjaan ini membuat mereka sangat lelah, dan ketika semuanya berakhir, mereka
pun kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum keesokan paginya kembali ke kota mereka.
berjalan-jalan diluar. Sarah memakai pakaian berupa gaum malam yang sedikit
terbuka. Sedangkan Padli tetap seperti penampilannya yang biasa dengan baju
kaos berkerahnya. Padli menyetujui ajakan Sarah, dia juga merasa sudah jenuh
setelah beberapa hari bekerja disini. Padli mengajak Sarah untuk bersantai di kafe yang ada di hotel tersebut, namun Sarah menolaknya. “Pak, jangan disini dong, bosan kan dikafe ini terus” ujarnya. Sarah kemudian membawa Padli menuju Night Club yang berada di Hotel tersebut. Padli hanya diam, dan menurut saja. Dia hanya malas untuk berdebat, dan lagi badannya sangat lelah. Night Club tersebut terlihat lenggang, walau begitu musik fullhouse nya terdengar nyaring
di telinga.
Setelah mereka berada di dalam, merekapun duduk di sofa yang berada di ruangan
VIP Night Club tersebut. Sarah memesan minuman beralkohol untuk mereka berdua.
Padli : (Memandang heran) Kamu biasa ya, minum minuman seperti ini?
Sarah : (Mulai terlihat santai) Ngak juga sih Pak, kadang-kadang aja, kalau lagi galau.
Padli : Memangnya minuman gini bisa ngilangin galau?
__ADS_1
Sarah : (Sambil menyerumput minumannya) Bapak jangan kepo gitu dong, Sarah yakin, Bapak juga sering minum-minuman seperti ini.
Padli : (Terdiam dan sedikit terbawa suasana, Padli juga meminum minumannya) Kamu biasanya pergi dengan siapa? Dengan pacarmu ya?
Sarah : (Mendekatkan telinganya sampai pipinya hampir menyentuh hidung Padli) Apa Pak?
Padli : (Segera menjauh, dan sedikit berteriak) Kamu biasa pergi dengan pacarmu ya?
Sarah : (Mulai terpengaruh alkohol) Ih... Bapak, Sarah ngak punya pacar Pak.
Sarah meminum minumannya lagi, dan lagi... sampai akhirnya dia mulai kehilangan
kesadarannya. Padli juga mulai terpengaruh, namun dia masih bisa sadar. Akhirnya Padli memutuskan untuk segera keluar dari Night Club tersebut.
Padli memapah tubuh mungil Sarah kembali ke kamar hotel mereka. Tanpa sengaja dia
menyentuh buah dada Sarah, tapi Sarah hanya diam dan pasrah atas semua tindakan
Padli. Sesampainya di kamar Sarah, Padli membaringkan tubuh Sarah di pembaringan,
namun seketika sarah menarik tangan Padli dan mereka terjatuh di atas pembaringan.
Padli jatuh menimpa Sarah, yang disambut Sarah dengan langsung memeluk Padli.
Tubuh mereka berhimpitan. Padli merasakan buah dada Sarah yang lembut menyentuh
dadanya dan kemudian Sarah langsung mencium mulut Padli dengan panasnya.
Padli segera memberontak dan meninggalkan Sarah di kamarnya sendirian. Kemudian
diapun kembali ke kamarnya sendiri. Sesampainya di kamar, Padli langsung mandi junub (Mandi wajib) dan langsung sholat tobat. Dia merasa bersalah, bukankah kejadian barusan sebagian adalah salahnya sendiri.
Keesokan harinya, mereka segera kembali ke Kota mereka, dan selama dalam perjalanan,
tak henti-hentinya Sarah memohon maaf atas kejadian semalam dengan mengalaskan
bahwa dia mabuk dan sampai lupa diri. “Pak, maafkan Sarah ya, Sarah ngak sadar, kok bisa sampai lupa diri begitu ya. Sarah janji ngak akan mengulanginya lagi” ujar Sarah sambil memohon. Padli memaafkannya, namun mengingatkan kepada Sarah untuk bersikap profesional dan bahwa hubungan mereka hanyalah antara atasan dan asistennya. Sarah memang sangat membantu dalam pekerjaan, namun hanya sebatas itu, tidak lebih. Padli justru merasa heran, kenapa dia sama sekali tidak terpengaruh sama kondisinya saat itu, dia sama sekali tidak merasa bernafsu
melihat sikap Sarah yang sudah pasrah terhadapnya. Apalagi gaya Sarah pada
waktu itu seharusnya memancing nafsu seksualnya. Tapi kenyataannya kok enggak
ya, “Apa aku sudah mulai impoten ya, karena terlalu lama menjomblo” pikirnya
__ADS_1
dalam hati.