
Mobil sedan mewah tersebut berjalan lambat memasuki jalanan kampung yang belum
tersentuh aspal. Beberapa pasang mata menatapnya dengan rasa penasaran, tapi
karena kaca mobil yang gelap, sehingga mereka tidak mengetahui siapa yang ada
didalamnya. Padli duduk di depan, di belakang ada Abah, Mak Lena dan Inna. Inna
duduk ditengah. Selama dalam perjalanan dia sibuk meminta diputarkan lagu dari
adelle, nikmat dirasakannya ketika mendengar suara yang bersih dari sound
system mobil mewah itu, apalagi kondisi mobil yang kedap suara menambah
kesempurnaan lagu tersebut.
Mobil sampai di depan warung, tepatnya di dekat gang masuk rumah Abah. Mobil tidak
masuk ke gang karena jalanannya yang sempit dan susah untuk berputar. Ketika
mobil berhenti, semua pasang mata yang ada di warung memperhatikannya. Abah
yang pertama turun diikuti Inna dan kemudian Mak Lena. Padli turun sambil
membawa barang-barang dan pakaian kotor mereka selama disana. Intan yang
kebetulan ada di depan rumah langsung berjalan menyambut dan memeluk Inna
sahabatnya. Bik Surti keluar dan menggandeng tangan Mak Lena, keduanya
bercerita sembari berjalan menuju rumah Abah. Mak Lena terlihat segar dan
ceria, rupanya selama ini Mak Lena sudah merasakan sakit di perutnya, namun
karena ngak tahu tentang penyakitnya dia hanya membiarkannya saja, berharap
sakitnya sembuh sendiri. Untung saja Padli cepat mengambil langkah membawa Mak
Lena ke rumah sakit, bisa dibayangkan apabila Mak Lena terlambat di operasi,
sudah pasti akan mengamcam jiwanya.
Setelah Padli meletakkan barang-barang di rumah, dia pun segera kembali ke warung.
Sesampainya di warung beribu pertanyaan dari pelanggan warung yang semuanya
dijawabnya satu-persatu. Wak Kocu datang dengan membawa laporan mengenai
keadaan warung, kopi habis, teh bubuk habis, Gula tinggal separuh, Mie Instan
habis, dan uang pendapatan warung sebesar sekian ratus ribu, dll.
Si said yang masih duduk di SMA menanyakan kepada Padli “Bang, apa itu tadi
beneran mobilnya grab? Rasanya ngak mungkinlah mobil mewah seperti itu
dijadikan mobil grab”? “Itu grab khusus dari rumah sakit,id” jawab Padli
asal-asalan. Pak Erik datang ke warung, setelah menanyakan Abah, maka Pak Erik
memutuskan untuk datang langsung ke rumah Abah. Dia sebenarnya merasa rindu
akan suasana warung setelah seminggu di tinggalkannya namun sungguh hari itu
sangat melelahkan bagi Padli.
Keesokan harinya, Padli bangun pagi-pagi sekali, dia mulai membersihkan warung,
__ADS_1
menggeser beberapa meja agar mudah di sapu dan di pell hinga ke sudut-sudut ruangan
warung. Inna datang setelah agak siang, membantu Padli dengan membuang
sisa-sisa makanan yang sudah kadaluarsa, membersihkan kulkas, dan memeriksa
bahan-bahan apa yang harus dibeli sebelum membuka kembali warung kopinya secara
penuh. Hari itu Inna belum berbelanja, dia merencanakan besok pagi berdua
dengan Intan untuk berbelanja di kota kecamatan. Masih terlihat sisa-sisa
kelelahan selama seminggu di rumah sakit pada wajahnya.
Padli : Nna.. gimana kabar emak?
Inna : Baik bang, Mak sudah mau makan nasi putih, dan perutnya sudah sama sekali
tidak pernah sakit lagi.
Padli : Obat nya masih diminum teruskan?
Inna : Masih bang, cuma obat sirupnya udah habis, tinggal yang tabletnya saja yang
masih ada.
Padli : emak harus banyak-banyak minum air putih Nna, biar pencernaannya semakin
sembuh.
Inna : Iya bang.
Inna : (terdiam sebentar) bang, tadi malam Ustad Bambang datang menjenguk emak. Abah
sudah menolak lamaran Ustad Bambang. Abang maukan melamar Nna? (Inna tertunduk
Padli : Alhamdulillah.. Alhamdulillah Nna.. (Ingin hati Padli memeluk gadis pujaan
hatinya ini, kalau ngak ingat bahwa perbuatanya itu dilarang agama)
Padli : (tersenyum dengan cerahnya) Nanti malam abang mau ngomong langsung sama Abah.
Malam itu warung tutup lebih cepat. Setelah sholat Isya di mushola, Padli mendatangi
rumah Abah, dia melihat Abah yang sedang duduk santai di depan rumah. “
Asslalamuaikum”, sapanya. “Walaikum Salam”, Abah membalas. Padli duduk di kursi
disamping Abah.
Abah : Gimana kondisi warung?
Padli : Baik Bah, cuma banyak barang yang habis, terpaksa besok harus berbelanja
untuk kebutuhan warung. Listrik sudah di bayar sama bang Kocu, jadi sisa uang
warung tinggal segini. (Padli menyerahkan uang tersebut kepada Abah)
Abah : Masih banyak kok, cukup lah untuk berbelanja besok. Biar besok si Inna saja
yang berbelanja di kota Kecamatan.
Padli : Bah, Padli ada yang mau Padli omongin sama Abah
Abah : Yah ngomong aja lah
Padli : (diam sebentar sembari menarik nafas) Bah, Padli minta maaf Bah, selama ini
__ADS_1
Padli telah membohongi Abah. (Padli menangis sambil mencium tangan Abah)
Abah : (terkejut, dan langsung menarik tangannya dari Padli) Astaghfirullah Pad,
tega kau ya, apa selama ini Abah ada menyiksamu? Menyakitimu? Kenapa baru
sekarang kau bicara? Hah...Setelah semua yang Abah lakukan untukmu?
Abah sangat percaya samamu Pad, kau udah Abah anggap sebagai anak sendiri!
(Napas Abah mulai tersengal-sengal, Padli jadi khawatir melihat kondisi Abah).
Kok bisa kau berbicara seperti itu Pad?
Padli : Ampun Bah... sudah Bah, Abah masuk saja kedalam yuk.
Abah : (Masih dengan nada tinggi) Apa agamamu mengajarkan ini Pad? Kok tega sekali
kau.....
(Abah jatuh terduduk lemas... )
Abah : (Dengan suara pelan) Abah sudah menolak lamaran Ustad Bambang... (Abah
menangis)
Inna : (Inna datang langsung memegang Abah) Bang, Abah kenapa bang?
Padli : Nna, tolong bawa Abah masuk Nna, bawa saja langsung ke kamar, biar Abah bisa
berbaring di tempat tidur. Abang permisi dulu ya Nna..
Padlipun langsung pergi setelah memastikan bahwa Abah ngak apa-apa.
Argh..... Kacau... kacau, kok jadinya begini ya, apa aku besok langsung di pecat ya?
Padli kembali ke warung dengan langkah yang gontai dan pikiran yang galau.
Bang kosim datang ke warung, dia duduk merokok sambil menonton TV. “Pad, gimana
kabar Mak mu?” tanya bang Kosim. (Orang-orang kampung sudah menganggap Mak Lena
sebagai maknya Padli juga). “Sudah baikan bang” jawab Padli, lantas diapun
menceritakan kejadian selama di rumah sakit kepada bang Kosim. “oh, gitu ya,
terus kok tampangmu jadi galau gitu”? tanya bang Kosim lagi, “tenang aja Pad,
aku mengenal Abahmu, dia ngak akan menyerahkan anak bungsunya itu kepada orang
yang belum dikenalnya. Aku memang mendengar tentang Ustad Bambang yang
mengajukan lamaran, tapi kau menang beberapa langkah, Pad. Abah ngak akan
terpengaruh dengan status dan harta orang”, kata bang Kosim panjang lebar. Satu
lagi Pad, kuncinya ada sama si Andi, selama ini kan si Andi belum mendengar
apapun cerita tentang si Inna kan, termasuk hubunganmu dengan nya? Jadi kalau
kau bisa menarik hati si Andi, kemungkinan besar pasti bisa berhasil.
Padli mengangguk-angguk, dia berpikir sepertinya hari ini banyak kesalah pahaman yang
terjadi.
Sepertinya dia besok harus melakukan perjalanan ke Batam...
__ADS_1
Padlipun segera menelpon Yitno.