Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
MENGUNGKAP KEBOHONGAN


__ADS_3

Mobil sedan mewah tersebut berjalan lambat memasuki jalanan kampung yang belum


tersentuh aspal. Beberapa pasang mata menatapnya dengan rasa penasaran, tapi


karena kaca mobil yang gelap, sehingga mereka tidak mengetahui siapa yang ada


didalamnya. Padli duduk di depan, di belakang ada Abah, Mak Lena dan Inna. Inna


duduk ditengah. Selama dalam perjalanan dia sibuk meminta diputarkan lagu dari


adelle, nikmat dirasakannya ketika mendengar suara yang bersih dari sound


system mobil mewah itu, apalagi kondisi mobil yang kedap suara menambah


kesempurnaan lagu tersebut.


Mobil sampai di depan warung, tepatnya di dekat gang masuk rumah Abah. Mobil tidak


masuk ke gang karena jalanannya yang sempit dan susah untuk berputar. Ketika


mobil berhenti, semua pasang mata yang ada di warung memperhatikannya. Abah


yang pertama turun diikuti Inna dan kemudian Mak Lena. Padli turun sambil


membawa barang-barang dan pakaian kotor mereka selama disana. Intan yang


kebetulan ada di depan rumah langsung berjalan menyambut dan memeluk Inna


sahabatnya. Bik Surti keluar dan menggandeng tangan Mak Lena, keduanya


bercerita sembari berjalan menuju rumah Abah. Mak Lena terlihat segar dan


ceria, rupanya selama ini Mak Lena sudah merasakan sakit di perutnya, namun


karena ngak tahu tentang penyakitnya dia hanya membiarkannya saja, berharap


sakitnya sembuh sendiri. Untung saja Padli cepat mengambil langkah membawa Mak


Lena ke rumah sakit, bisa dibayangkan apabila Mak Lena terlambat di operasi,


sudah pasti akan mengamcam jiwanya.


Setelah Padli meletakkan barang-barang di rumah, dia pun segera kembali ke warung.


Sesampainya di warung beribu pertanyaan dari pelanggan warung yang semuanya


dijawabnya satu-persatu. Wak Kocu datang dengan membawa laporan mengenai


keadaan warung, kopi habis, teh bubuk habis, Gula tinggal separuh, Mie Instan


habis, dan uang pendapatan warung sebesar sekian ratus ribu, dll.


Si said yang masih duduk di SMA menanyakan kepada Padli “Bang, apa itu tadi


beneran mobilnya grab? Rasanya ngak mungkinlah mobil mewah seperti itu


dijadikan mobil grab”? “Itu grab khusus dari rumah sakit,id” jawab Padli


asal-asalan. Pak Erik datang ke warung, setelah menanyakan Abah, maka Pak Erik


memutuskan untuk datang langsung ke rumah Abah. Dia sebenarnya merasa rindu


akan suasana warung setelah seminggu di tinggalkannya namun sungguh hari itu


sangat melelahkan bagi Padli.


Keesokan harinya, Padli bangun pagi-pagi sekali, dia mulai membersihkan warung,

__ADS_1


menggeser beberapa meja agar mudah di sapu dan di pell hinga ke sudut-sudut ruangan


warung. Inna datang setelah agak siang, membantu Padli dengan membuang


sisa-sisa makanan yang sudah kadaluarsa, membersihkan kulkas, dan memeriksa


bahan-bahan apa yang harus dibeli sebelum membuka kembali warung kopinya secara


penuh. Hari itu Inna belum berbelanja, dia merencanakan besok pagi berdua


dengan Intan untuk berbelanja di kota kecamatan. Masih terlihat sisa-sisa


kelelahan selama seminggu di rumah sakit pada wajahnya.


Padli :  Nna.. gimana kabar emak?


Inna : Baik bang, Mak sudah mau makan nasi putih, dan perutnya sudah sama sekali


tidak pernah sakit lagi.


Padli : Obat nya masih diminum teruskan?


Inna : Masih bang, cuma obat sirupnya udah habis, tinggal yang tabletnya saja yang


masih ada.


Padli : emak harus banyak-banyak minum air putih Nna, biar pencernaannya semakin


sembuh.


Inna : Iya bang.


Inna : (terdiam sebentar) bang, tadi malam Ustad Bambang datang menjenguk emak. Abah


sudah menolak lamaran Ustad Bambang. Abang maukan melamar Nna? (Inna tertunduk


Padli : Alhamdulillah.. Alhamdulillah Nna.. (Ingin hati Padli memeluk gadis pujaan


hatinya ini, kalau ngak ingat bahwa perbuatanya itu dilarang agama)


Padli : (tersenyum dengan cerahnya) Nanti malam abang mau ngomong langsung sama Abah.


Malam itu warung tutup lebih cepat. Setelah sholat Isya di mushola, Padli mendatangi


rumah Abah, dia melihat Abah yang sedang duduk santai di depan rumah. “


Asslalamuaikum”, sapanya. “Walaikum Salam”, Abah membalas. Padli duduk di kursi


disamping Abah.


Abah : Gimana kondisi warung?


Padli : Baik Bah, cuma banyak barang yang habis, terpaksa besok harus berbelanja


untuk kebutuhan warung. Listrik sudah di bayar sama bang Kocu, jadi sisa uang


warung tinggal segini. (Padli menyerahkan uang tersebut kepada Abah)


Abah : Masih banyak kok, cukup lah untuk berbelanja besok. Biar besok si Inna saja


yang berbelanja di kota Kecamatan.


Padli : Bah, Padli ada yang mau Padli omongin sama Abah


Abah : Yah ngomong aja lah


Padli : (diam sebentar sembari menarik nafas) Bah, Padli minta maaf Bah, selama ini

__ADS_1


Padli telah membohongi Abah. (Padli menangis sambil mencium tangan Abah)


Abah : (terkejut, dan langsung menarik tangannya dari Padli) Astaghfirullah Pad,


tega kau ya, apa selama ini Abah ada menyiksamu? Menyakitimu? Kenapa baru


sekarang kau bicara? Hah...Setelah semua yang Abah lakukan untukmu?


Abah sangat percaya samamu Pad, kau udah Abah anggap sebagai anak sendiri!


(Napas Abah mulai tersengal-sengal, Padli jadi khawatir melihat kondisi Abah).


Kok bisa kau berbicara seperti itu Pad?


Padli : Ampun Bah... sudah Bah, Abah masuk saja kedalam yuk.


Abah : (Masih dengan nada tinggi) Apa agamamu mengajarkan ini Pad? Kok tega sekali


kau.....


(Abah jatuh terduduk lemas... )


Abah : (Dengan suara pelan) Abah sudah menolak lamaran Ustad Bambang... (Abah


menangis)


Inna : (Inna datang langsung memegang Abah) Bang, Abah kenapa bang?


Padli : Nna, tolong bawa Abah masuk Nna, bawa saja langsung ke kamar, biar Abah bisa


berbaring di tempat tidur. Abang permisi dulu ya Nna..


Padlipun langsung pergi setelah memastikan bahwa Abah ngak apa-apa.


Argh..... Kacau... kacau, kok jadinya begini ya, apa aku besok langsung di pecat ya?


Padli kembali ke warung dengan langkah yang gontai dan pikiran yang galau.


Bang kosim datang ke warung, dia duduk merokok sambil menonton TV. “Pad, gimana


kabar Mak mu?” tanya bang Kosim. (Orang-orang kampung sudah menganggap Mak Lena


sebagai maknya Padli juga). “Sudah baikan bang” jawab Padli, lantas diapun


menceritakan kejadian selama di rumah sakit kepada bang Kosim. “oh, gitu ya,


terus kok tampangmu jadi galau gitu”? tanya bang Kosim lagi, “tenang aja Pad,


aku mengenal Abahmu, dia ngak akan menyerahkan anak bungsunya itu kepada orang


yang belum dikenalnya. Aku memang mendengar tentang Ustad Bambang yang


mengajukan lamaran, tapi kau menang beberapa langkah, Pad. Abah ngak akan


terpengaruh dengan status dan harta orang”, kata bang Kosim panjang lebar. Satu


lagi Pad, kuncinya ada sama si Andi, selama ini kan si Andi belum mendengar


apapun cerita tentang si Inna kan, termasuk hubunganmu dengan nya? Jadi kalau


kau bisa menarik hati si Andi, kemungkinan besar pasti bisa berhasil.


Padli mengangguk-angguk, dia berpikir sepertinya hari ini banyak kesalah pahaman yang


terjadi.


Sepertinya dia besok harus melakukan perjalanan ke Batam...

__ADS_1


Padlipun segera menelpon Yitno.


__ADS_2