
Setelah sampai di warung, Padli berencana memasak mie-tiaw untuk mereka, namun Inna
mengatakan bahwa dia saja yang memasaknya karena Padli pasti masih capek dari
perjalanan jauhnya.
Irvan : Enak kok mie buatan kak Iin, (Irvan memanggil Inna dengan panggilan Kak Iin) bumbunya
terasa dan pas. (Dalam hati Irvan, pantaslah abangnya ngotot sekali dengan
gadis ini, rupanya memang dia sangatlah cantik)
Padli : Hei.. Van, kalau kau merasakan buatan abang, ngak kalahlah dengan ini.
Inna : Memangnya kalau disana ngak ada yang jualan mie seperti ini?
Irvan : Ada sih kak, cuma kalau di kota biasanya yang dibanyakin cuma micin nya aja.
Inna : Kalau di kampung sini mungkin karena bumbu-bumbu seperti ini masih mudah
didapatkan, dan lagi kan resepnya turun-temurun, jadi ngak pakai micin.
Irvan : Bang, nanti Irvan keluar sebentar ya, pengen jalan-jalan aja dikampung ini.
PadliHanya mengangguk saja sambil menyendok mie nya.
Malam harinya Intan datang ke rumah Inna, mereka duduk berdua di teras rumah.
Inna : Jadikan kamu ikut ke kota besok?
Intan : Iya, Mamak tadi udah bilang, Mamak juga ikut kan.
Inna : Ntan, kalau aku nanti udah nikah, kan aku ikut bang Padli ke kota, kamu
gimana?
Intan : Akupun ngak tahu Nna, uwak mau menjodohkan aku sama bang Edwin, tapi aku ngak
suka, bang Edwin itukan orangnya kasar.
Inna terdiam, dia merasakan kegalauan sahabatnya, apalagi untuk ukuran di kampung
nelayan ini, usia mereka sudah memasuki masa pernikahan. Kalau menunggu lebih
lama lagi, mereka takutnya di bilang perawan tua.
Intan : Nna, kalau kau udah pindah ke kota, aku boleh ikut ngak? Aku kan bisa kerja
apa sajalah, dirumahmu atau melalui bang Padli, mungkin aku bisa kerja di toko?
Inna : Aku pun ngak tahu Ntan, aku ngak pernah membayangkan jadinya seperti ini,
sejujurnya akupun takut, cuma aku lebih takut lagi kalau berpisah sama bang
Padli.
Kalau nanti di kota, bang Padli jadi berubah ngak ya? Akupun bingung Ntan.
Intan : Aku percaya kok, bang Padli mencintaimu setulus hatinya. Tenang sajalah.
Sejujurnya akupun iri lho melihatmu, bang Padli itu orangnya baik, alim dan terutama kaya,
kamu beruntung lho mendapatkannya.
Inna : Ngak tau lah Ntan, tapi kan aku suka bang Padli karena dia pegawai warung
kopinya Abah.
__ADS_1
Intan : Besokkan kita ke rumah bang Padli, nanti kita bisa lihat sendiri bagaimana kehidupannya
disana. Lebih baik kau memikirkan bagaimana sikapmu kalau bertemu dengan calon
mertuamu. (Intan mengingatkan Inna)
Inna : Iya... apa Mama nya cerewet ya, apa katanya kalau melihat gadis kampung
sepertiku?
Intan : Makanya, hal ini harus kamu pikirkan juga (Intan menakut-nakuti)
Inna : (mukanya cemas) Jadi gimanalah Ntan?
Intan : Sudah...sudah, bang Padli itu kan orang alim, trus lihat tuh adiknya, alim
juga, Mama mereka pastilah wanita yang sholeh juga, karena bisa mendidik
anaknya seperti ini kan?
Inna : Ya, tapi aku takut, Mama itu seperti Abah kerasnya.
Intan : Yah.. ngak tahu juga lah.. hehehe...
Padli dan Irvan tidur berdampingan di dipan yang telah dipasang kelambu yang ada di
warung Abah. Ini pengalaman pertama Irvan tidur hanya beralaskan tikar.
Irvan : Bang, kok bisa abang tidur cuma beralaskan tikar ini saja? Ngak pegal-pegal
badan abang?
Padli : Mulanya memang van, tapi lama-lama jadi biasa aja. Ini udah mendingan karena
ada kelambunya, kalau ngak ya ngak bakalan tahan dengan nyamuknya.
ya?
Padli : He..eh.. ngak tau juga lah van, tapi abang enjoy kalau berdekatan dengannya,
ngobrol dengannya, menggodainnya, apalagi kalau ngeliat dia cemberut.. hehehe..
Irvan : Iya sih.. (sambil ngebayangin si Inna), dengan tampilannya yang sederhana
saja dia udah gitu ya, kalau di kota bakalan jadi artislah dia, bang.
Padli : Ngak bakalan jadi artislah, soalnya Abahnya? Kan kamu lihat sendiri gimana
Abahnya itu?
Irvan : Hahaha..... tapi abang kok bisa dekat dengan Abah?
Padli : Kenapa abang harus takut? Abang ngak ada berbuat salah kok, Abah mengingatkan
abang sama Papa dulu, orangnya keras tapi sebenarnya dia sangat penyayang.
Irvan : Iya juga ya bang, kalau Papa masih ada, mungkin kayak Abah juga kali ya...(Irvan
tersenyum membayangi ayah angkatnya, yang sudah dianggapnya sebagai ayahnya
sendiri)
Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya mereka berdua pun tertidur.
Keesokan harinya, mereka bersiap-siap untuk berangkat ke kota, Bik Surti membawa
banyak sekali barang, seperti hendak pergi untuk jangka waktu yang lama. Baju sampai
__ADS_1
beberapa pasang dan bahkan selimut juga dibawanya. Untung saja Padli membawa
mobil yang besar. Inna disuruh Padli jangan membawa banyak-banyak barang, hanya
yang perlu-perlu saja. Setelah berpamit dengan Abah dan Emak, serta pelanggan
warung, merekapun berangkat ke kota. Yang nyetir mobil adalah Irvan, sementara
Padli duduk disampingnya. Ini adalah perjalanan yang paling jauh yang pernah di
tempuh Inna, sekaligus perjalanan tanpa didampingi oleh orang tuanya.
Mereka sampaipun di kota, Inna terkagum-kagum melihat gedung-gedung
pencakar langit yang sangat tinggi, sedangkan Intan sudah terbiasa,
karena Intan lulusan sarjana, dan kuliah di kota juga.
Setelah menempuh perjalanan panjang, dan beberapa kali mampir untuk istirahat dan
makan, merekapun sampai di rumahnya Padli. Seorang satpam membuka gerbang yang
dibuka dengan menekan tombol di post satpam tersebut. Rumah Padli demikian
mewah dan berada di komplek perumahan elit. Inna, Intan dan Bik Surti terlihat
canggung, mereka hanya menunggu arahan dari Padli saja. Mereka memasuki pintu
utama rumah tersebut dan beberapa ART (asisten rumah tangga) langsung menyambut
mereka. “Selamat datang Tuan, apakah Tuan mau makan dulu atau langsung
beristirahat”, sapa mereka. Tidak, saya mau langsung beristirahat saja, tapi
sebelumnya saya kenalkan dulu, ini Inna, Intan dan Bik Surti. Mereka akan
menginap disini untuk beberapa hari ke depan, tolong layani mereka ya, kata
Padli menerangkan. “Bawa mereka ke kamar tamu depan ya”, perintah Padli lagi
kepada para ART. “Nna... kalian beristirahat saja dulu ya di kamar, lagiankan
sudah mau maghrib, kalau mau sholat, tanya aja arah kiblat sama mereka, setelah
Sholat, kita akan ketemu Ibuku di kamarnya ya” kata Padli kepada Inna.
Merekapun masuk kedalam mengikuti seorang ART yang memandu mereka, sementara
barang-barang mereka dibawa oleh ART yang lain.
Setelah mereka berada didalam kamar sendirian barulah Intan berkata;
Intan : Astagfirullah Nna... ini benar-benar di luar bayanganku Nna. Aku memang
mengira kalau bang Padli itu orang kaya, tapi ini bukan kaya lagi namanya Nna.
Rumahnya semewah ini, dan coba aja lihat itu, para ART nya saja memakai seragam
yang sebagus itu? Kok bisa ya bang Padli nyasar ke kampung kita.
Bik Surti : Terserah kalianlah, tadi Mak diajarin cara nonton drama korea di tv, Mak
mau puas-puasin nonton lah, hehehe... (tersenyum puas, karena selama ini dia
nonton bareng Intan di hp nya Intan, itu juga kalau lagi ada paketan)
Inna : Ntan, mandi bareng yuk, kayaknya ada pancuran tuh di kamar mandinya
__ADS_1
Intan : Ayok.