
Setelah dua hari berlibur di Bali, Padli dan Inna kembali pulang ke rumah Padli. Mereka
menaiki pesawat komersil, karena pesawat jet perusahaan sedang di pakai untuk
keperluan kantor, tapi tentu saja mereka berada di kelas executive. Wajah Padli
tampak terlihat lelah, yah selama dua hari itu, mereka melakukan hubungan intim
hampir di setiap kesempatan. Walau kelelahan namun raut muka Padli memancarkan
aura kedewasaan, hal ini menambah pesona dirinya. Padli melihat sisi lain dari
Inna, dengan tubuhnya yang kecil ternyata Inna sangat agresif, Padli sampai
sedikit kewalahan menghadapinya. “Senang sih, tapi sepertinya aku harus meminum
obat penambah tenaga nih”, pikirnya dalam hati.
Setibanya di rumah, mereka disambut para ART yang membantu mereka membawa
barang-barang bawaan. Tak terlihat Irvan disitu, rupanya dia sedang keluar bersama
dengan kawan-kawannya. Inna meminta untuk segera bertemu Mama.
Inna : “Asalamualaikum” Ma. (Inna masuk dan memeluk Mama)
Mama : (terbaring di tempat tidur) “Walaikum salam”
Inna : Ma, Nna udah menikah dengan bang Padli Ma, Makasih ya Ma kalungnya.
Mama : Mama tahu sayang, Mama juga lihat kalian kok di TV. Kamu cantik sekali.
Inna : Tapi Mama ngak hadir disana. (Raut muka Inna sedih) Oh ya Ma, Abah dan Emak menitipkan
salam sama Mama. Kata Abah kalau suasananya udah tenang, Abah mau datang kesini
untuk bertemu Mama.
Mama : Mama mengerti kok, Abah kamukan juga sudah tua, tak mudah baginya untuk
berpergian jauh kemari. Tapi kalau mereka jadi datang, Mama juga akan sangat senang.
Setidaknya Mama berpikir harus bertemu langsung dengan mereka selagi Mama masih
sanggup.
Inna : Mama ngak akan kenapa-kenapa kok, sekarang ada Inna disamping Mama.
Mama : Makasih sayang, tapi belakangan ini Mama merasa takut, untungnya kamu udah
menikah dengan Padli, rasanya beban Mama sudah banyak berkurang. Sekarang Mama
hanya tinggal menunggu kehadiran cucu Mama saja, setelah itu Mama akan iklas
kalau Allah membawa Mama dari kalian.
Inna : Ma, jangan begitu Ma, masih banyak kok yang harus Mama lihat. Jadi Mama harus
kuat ya.
Mama : Iya sayang (sambil membelai rambut Inna), cepat berikan Mama cucu ya, apa
__ADS_1
kamu sudah melakukannya?
Inna : (tersenyum malu) Udah Ma.
Mereka masih mengobrol beberapa saat, sebelum akhirnya Inna pamit untuk membereskan
barang-barangnya.
Hari itu tak banyak yang dilakukan Inna, dia menghabiskan waktunya dengan
berkeliling rumah, bercengkrama dengan para ART dan tak lupa juga memeriksa isi
kulkas. Kulkas di dapur ada 3 unit dan besar-besar, Inna terpaksa mendongakkan
kepalanya untuk melihat isi dari bagian freezer yang terletak di sebelah atas.
Dia memeriksa sampai ke semua sudut ruangan. Sementara Padli asyik berenang di
kolam renang luar ditemani oleh Irvan yang sudah pulang.
Keesokan harinya, setelah sholat subuh berjemaah dengan Padli, dia ngak kembali tidur,
melainkan mulai bekerja. Mempersiapkan pakaian Padli, karena hari ini Padli
mulai bekerja kembali. Setelah itu dia langsung ke dapur untuk mempersiapkan
sarapan mereka, untuknya, Padli dan Irvan. Dia berencana membuat sup ayam. Dia
mendengar dari Bik Erni, kalau Mama mempunyai menu makanan yang khusus, untuk
itu dia akan mempelajarinya nanti. Setelah selesai dia menunggu mereka untuk
sarapan bersama. Akhirnya merekapun datang. Padli terlihat gagah dengan jass dan
Irvan hari ini berencana menyelesaikan urusan administrasi untuk pendaftaran masuk
universitas yang ada di Amerika. Dia sudah menyelesaikan ujian sekolahnya, dan sekarang
tinggal menunggu ijasahnya keluar.
Inna : Bang, hari ini Nna diajak Bik Erni berbelanja kebutuhan dapur. Perginya sama
mang Didik. (mang Didik adalah sopir sekaligus tukang yang ada di rumah itu,
dia bekerja di rumah Padli sudah sejak lama, dia juga yang mengurusi kebersihan
kolam renang di rumah itu.)
Padli : Jam berapa berangkatnya?
Inna : Sekitar jam 10 an, tapi siang sebelum Dzuhur udah pulang kok.
Padli : Ya udah, hati-hati saja, terus jangan terlalu capek biar nanti malam kita
bisa kerja lagi (Padli tersenyum menggoda)
Inna : (Menunduk malu) Iya bang, Nna tunggu ya.. (Inna berbicara pelan)
Setelah itu Padli berangkat ke kantor. Inna mengantar sampai ke depan dan
menyalaminya. Dia berangkat ke kantor bersama mang Parno, supir pribadinya.
__ADS_1
Inna pergi berbelanja dengan Bik Erni dan Mbak Ayu. Mereka diantar oleh mang Didik
kesebuah super market besar yang ada di kota tersebut. Selama dalam perjalanan,
Inna ngak segan-segan bertanya segalanya dengan Bik Erni, dimulai dari
kebiasaan Padli kalau dirumah, kebiasaan Irvan dan juga Mama. Mama mempunyai
perawat pribadi yang bernama Rina, Rina memang lulusan akademi perawat namun
Rina tidak tinggal di rumah itu, ketika selesai maghrib diapun pulang, karena
rumahnya masih di kota itu juga.
Bik Erni juga banyak mengajari Inna tentang memilih sayuran, buah-buahan,
bahan-bahan makanan olahan dan daging. Menjelaskan kegunaan beberapa
bahan-bahan pembuat kue dan bumbu sachet yang biasa ada di super market. Inna
menyerap itu semua, memang dia termasuk anak yang cerdas dan dapat mengerti
semua apa yang di sampaikan olek Bik Erni. Setelah berbelanja mereka pun
pulang. Sesampainya di rumah Inna segera membantu membereskan belanjaannya,
walaupun beberapa ART melarangnya namun dia bersikeras untuk tetap membantu.
Inna berjalan-jalan di dalam rumah, kemudia memasuki pintu yang menuju kolam renang
dalam. Kolam renang itu tidaklah besar, namun tertutup. “Wah kalau gini aku
bisa belajar berenang disini. Nanti ku mintalah bang Padli mengajarkanku
berenang”, pikir Inna dalam hati. Dia melanjutkan perjalanannya memasuki ruang
home theater, Inna duduk di sofanya dan kemudian menghidupkan stereo-set yang
ada disitu dan mencoba menikmati lagu yang diputarnya. Suara audio tersebut
sangatlah jernih, apalagi Inna berada di dalam ruangan kedap suara, membuat
Inna sejenak terlena. Kemudian Inna memasuki ruangan Studio Music. Ruangan itu
juga kedap suara dan dilapisi cermin di sebelah sisinya. Banyak terdapat
ala-alat music didalamnya, diantaranya Drumset, Guitar, Keyboard, Mic dan
alat-alat lain yang tidak dikenal Inna. Inna bukan tertarik pada alat musicnya
melainkan kepada cermin besar di sekeliling ruangan. Pikirannya mulai mesum
“Kalau aku bercumbu di ruangan ini sama bang Padli, gimana ya rasanya”. Diapun
menggeleng-gelengkan kepala dan segera keluar dari ruangan tersebut.
Waktu sudah menjelang sore hari, Inna membantu para ART menyirami bunga yang ada
di sekeliling rumah. Bunga bunga itu sangat cantik, Inna berpikir untuk membawa
beberapa tunas bunga tersebut untuk di tanam di rumahnya yang di kampung.
__ADS_1
Setelah itu diapun kembali ke dalam rumah untuk membersihkan diri dan bersiap untuk
sholat maghrib sambil menunggu Padli pulang dari kantornya.