Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
PERGI KE BATAM


__ADS_3

Pagi itu Padli bergerak dengan cepat, dia segera membersihkan warung, mengelap meja,


mengangkat air cuci piring, dll. Setelah warung siap dibuka, dia mendatangi Wak


Kocu yang sejak tadi asyik menonton kartun di TV. “Wak, titip warung ya, aku


mau pergi ke luar kota”, ujar Padli. “Kapan baliknya”, tanya wak Kocu. “Belum


tahu”, jawab Padli singkat. Dia pun segera pergi sebelum wak Kocu bertanya lagi.


Padli pergi ke bandara, disana sudah menunggu Yitno dan beberapa asisten serta


beberapa kepala Divisi di kantornya. Tampak juga Direktur Utama dari perusahaan


retail tempat bang Andi bekerja.


Mereka berangkat ke Batam memakai pesawat jet pribadi milik perusahaan Padli.


Sesampainya di Batam, terlihat beberapa sedan mewah telah menjemputnya langsung


ke tangga pesawat.


Yitno telah menyiapkan semuanya, termasuk baju ganti yang akan di pakai Padli. Padli


memakai stelan Jas dengan dasi, jam bermerk, sepatu pantofel dari merek terkenal.


Sesampainya di kantor cabang perusahaan retail, terlihat Pak Subroto dan beberapa


karyawan menyambutnya di pintu lobi utama. Pak Subroto melakukan penyambutan


yang meriah, sebab ini adalah kejadian langka dimana Direktur Utama dan pihak


Pemegang Saham datang mengunjungi kantor cabangnya.


Pak Subroto terlihat terbungkuk-bungkuk menyalami semua tamu yang datang, dan


mempersilakannya untuk memasuki ruang rapat sekaligus ruang pertemuan di kantor


itu.


Andi melihat Padli, “wajahnya mirip sekali ya, apa itu Padli atau bukan ya”,


pikirnya dalam hati. Soalnya dia hanya sebentar bertemu Padli waktu di kampung


dulu.


Padli meminta agar dia dibiarkan sendirian di ruang pertemuan tersebut, dan juga


meminta agar  Andi segera datang ke ruangan tersebut.


Andi datang ke ruangan tersebut, membuka pintu dan tak lupa menutupnya kembali.


Di ruangan terlihat Padli sedang duduk di kursi utama. Padli berdiri dan memegang


tangan Andi.


Padli : Bang, maapin aku bang, ngak ada sama sekali niat ku untuk membohongi


semuanya, membohongi Abah, Emak, Abang juga, benar bang. Tadi malam aku udah


coba menjelaskannya pada Abah, akupun ngak tahu apa yang aku omongin, tapi Abah


marah-marah bang, sampai sesak-sesak napas gitu, aku takut bang, Aku.. aku ngak


tau lagi gimana ngomong dengan Abah. Abah nyesal telah menolak lamaran Ustad


Bambang. Bang.. tolong aku bang, aku sayang sama si Nna, Aku cinta sama dia

__ADS_1


bang, Abang tolong bilang sama Abah bang, ya bang ya.... (Padli berbicara terus


tanpa henti, kakinya sudah tertekuk ke bawah, sambil bergelantungan di tangan


Andi, air matanya mengalir deras)


Andi : (Andi terbengong, dia masih bingung atas apa yang terjadi, pikirannya masih


belum sepenuhnya menangkap apa yang di utarakan Padli) Pak... eh, Li,.. kamu


Padli kan?


Padli : Iya bang (sambil menghapus air matanya)


Andi : (Menarik napas dalam-dalam) coba ceritakan dari awal, apa yang sebenarnya


terjadi.


Padli mulai menceritakan semua kejadian yang sebenarnya, dari awal dia keluar dari


kantor karena merasa jenuh, kemudian dia terdampar di kampung nelayan, uangnya


habis dan terpaksa ngutang sama Abah. Dia juga menceritakan bahwa malam itu dia


tidur di mushola kampung, sehingga dia di ajak Abah untuk kerja di warung


kopinya Abah, dia bertemu Inna dan merasa langsung jatuh cinta, bertemu dengan


Andi, kemudian Ustad Bambang yang melamar Inna untuk anaknya dedi, tak lupa dia


juga menceritakan soal rumah sakit, dan reward yang didapat Andi. “waktu itu


kan bang, aku merasa Abah dan Emak seperti orang tua kandungku sendiri, bang.


Bapakku sudah lama meninggal bang, jadi ngak mungkin aku tega membiarkan emak


aku bang”. Kata Padli lagi.


Andi berusaha mencerna setiap perkataan Padli, sebenarnya dia sedikit kecewa


terhadap sikap Padli yang dirasanya mempermainkan keluarganya, tapi dia


memaklumi kondisi dan keadaan Padli. Apalagi dia melihat ketulusan dari semua


cerita Padli kepadanya.


Andi : (Ketenangannya sudah kembali) beginilah Pad, aku belum bisa memutuskan apa


yang harus kulakukan, jadi biarkanlah aku memikirkannya ya. Sekarang, ini masih


dalam ruang lingkup kantor, jadi mari kita sudahi dulu ya.


Padli memanggil Yitno yang standby di luar ruangan.  “Nok, minta kartu namamu”,


kata Padli. Yitnopun memberikannya. “Bang, ini Yitno, temanku.


Kalau abang perlu sesuatu, apa saja, hubungi aja dia ya Bang”,


kata Padli sambil menyerahkan kartu nama Yitno. Yitno dan Andi pun


bersalaman. “Jangan segan-segan untuk telpon ya bang” kata Yitno sambil


tersenyum lebar. Yitno juga ikut-ikutan Padli memanggil Andi dengan panggilan


Abang.


Setelah itu mereka memanggil semua peserta untuk datang ke ruang pertemuan itu.

__ADS_1


Di situ Padli mendapat kesempatan berbicara mengenai tujuan perusahaan dan visi


serta misi kedepannya. Padli kembali menjadi dirinya yang sebenarnya, omongannya


berbobot, dengan bahasa kelas atas, jelas dan tegas tapi juga santai. Terlihat jelas


kepercayaan dirinya ketika berbicara dan dalam menangani segala situasi.


“Benar-benar berbeda dari cara bicaranya yang tadi”, pikir Andi.


Setelah Padli selesai berbicara, para anggota rapat pun bertepuk tangan dengan


meriahnya. Acara dilanjutkan dengan cofee break, selama itu terlihat Padli berbicara


dengan Direktur Utama perusahaan retail tersebut didampingi oleh Yitno dan beberapa


orang kepala Divisi, tampak sesekali mereka tertawa dan tersenyum.


Pak Subroto hanya diam memandangi, dia merasa levelnya masih jauh untuk bergabung


dalam pembicaraan itu.


Setelah selesai cofee break, Padli beserta rombongannya meninggalkan kantor cabang


tersebut untuk kembali ke kantor pusat mereka. Setibanya di bandara tujuan,


Padli berpisah dengan rombongan karena dia akan kembali ke kampung nelayan.


Padli pulang dengan diantar oleh seorang asisten dan sopir.


Andi kembali keruangannya, pikirannya penuh dengan kejadian barusan, dia ngak fokus


untuk bekerja. Pak Subroto masuk ke ruangannya dan menepuk-nepuk bahu Andi.


“Pak Andi, jangan lupain saya ya, kalau Pak Andi jadi pimpinan disini, saya jangan


dijatuhin ya” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Pak, saya kan bawahan Bapak,


jabatan saya kan Bapak yang menentukan, jadi jangan ngomong begitulah Pak”


jawab Andi. “Ya..ya..ya udahlah, tapi tolong ya Pak Andi” katanya lagi. Andi


hanya tersenyum saja. Ketika Pak Subroto sampai di pintu, dia malah mendekati


Andi lagi. “Pak Andi, kan pimpinan kantor cabang yang di Bandung lagi kosong,


kalau Pak Andi mau menolong saya untuk pindah kesana....” ujarnya terputus.


“Pak, saya ngak tau caranya Pak” kata Andi tegas. Ya..ya..maaf, oke silahkan


dilanjutkan pekerjaanya ya Pak Andi. Dia pun segera keluar dari ruangan itu.


Setelah Pak Subroto keluar ruangan, Andi kembali memikirkan kejadian tadi, dia


memikirkan kepribadian Padli yang bertolak belakang. Ketika dia teringat bahwa


dia pernah memberikan Padli uang 100 ribu untuk uang jajan, diapun tersenyum,


“sudah gila aku ya, ngasi Padli uang 100 ribu”


Dan akhirnya diapun memutuskan untuk menelpon si Inna.


Inna : (sambil menagis) Bang, Abah sakit, kayaknya Abah stress karena bang Padli


pergi meninggalkan kampung.


Andi pun menelpon Yitno, minta disediakan tiket untuknya pulang ke Kampung

__ADS_1


nelayan besok pagi.


__ADS_2