Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
Episode 4


__ADS_3

Setelah sholat Ishya , Padli menemukan Kitab suci Al-Quran,


hatinya tergerak untuk membacanya, “sudah lama juga aku ngak mengaji”, pikir


Padli dalam hati. Dia membacakan ayat demi ayat dengan fasih dan suara yang


rendah, tapi cukup jelas terdengar di sekitarnya. Untungnya sudah tidak ada


orang lagi yang ada di mushola.


Malam itu Padli sendirian di warung. Suasana warung menjadi


remang-remang karena lampu utama sudah dimatikan. Untungnya karena warung


berada di pinggir jalan, cahaya dari luar masuk ke warung dan membantu


pencahayaannya. Padli berbaring di dipan, Abah membelikannya obat nyamuk bakar


setelah keduanya bertemu di depan warung selepas sholat ishya. Sepertinya Abah


memang menunggu Padli di warung.


Padli penasaran mengenai keadaan perkerjaannya, dia juga


rindu sama ibu dan adiknya, tapi yang jadi masalah hp nya padam, kehabisan


batere. Sekilas tadi dia melihat si Inna membawa cas hp, tapi sewaktu pulang


cas itu dibawanya lagi. Ngak mungkin Padli sengaja meminjam cas tersebut karena


hal itu akan membuka rahasia bahwa dia punya hp, apalagi hp nya merek Samsung


keluaran terbaru, pasti nanti akan jadi pertanyaan bagaimana dia bisa


memilikinya.


Karena belum menemukan solusinya, dan lagi diluar juga


sedang gerimis, akhirnya Padli memutuskan tidur cepat, besok dia harus bangun


pagi-pagi sekali untuk memulai aktivitasnya lagi. Apalagi dia sudah mulai rindu


untuk melihat si Inna.


Keesokan harinya, setelah membuka warung, Mak Lena pun


datang didampingi dengan Abah. “Pad, kau mulai sekarang belajar masak untuk


keperluan warung ya”, kata Abah. “Memangnya kenapa Bah”, tanya Padli. Kondisi


emakmu belakangan ini kurang sehat, jadi kalau pagi setidaknya soal makanan


masih bisa kau tangani, dan lagi si Inna bisanya hanya siang dia kemari. Jawab


Abah.


Ngak usah takut, biasanya orang-orang hanya pesan mie kuah


instan sama gorengan aja, sedangkan minumnya kan sudah biasa kau tangani, kata


Abah lagi. Akhirnya dari pagi sampai siang itu Padli belajar memasak sama Mak


Lena. Mak Lena mengajari Padli dengan sabar, dia menjelaskan bumbu-bumbu apa


aja yang harus di siapkan kalau mau memasak mie, misalnya untuk mie-hun, mie


tiaw, cara membuat bakwan, cara menggoreng pisang pakai tepung agar gurih, dll.

__ADS_1


Dan pada percobaan pertama membuat mie hun, hasilnya sangat memuaskan,


sepertinya Padli punya bakat juga dalam memasak. Dan entah kenapa, Padli sangat


menikmati itu semua.


Seorang nelayan datang membawa ikan dalam kantongan plastik,


katanya itu titipan Pak Erik untuk Abah, Abah menerimanya sambil mengucapkan


terima kasih, dan ia juga berpesan ke Mak Lena agar dimasak untuk makan siang


nanti bersama Padli.


Siang itu Mak Lena pulang lebih cepat, sedangkan Padli


sedikit gelisah menunggu Inna datang. Dan ketika Inna, gadis pujaannya datang


dia pun terlihat salah tingkah entah kenapa. “Kenapa jantungku deg deg kan gini


ya, kayak abg aja”, pikirnya dalam hati, namun matanya sekilas melihat cas hp


yang dibawa Inna. Inna yang memasak ikan nya karena Mak Lena ngak sempat,


keburu pulang deluan. Setelah siap merekapun makan bersama di meja dekat kasir.


Padli terlihat sangat antusias, karena ini pertama kalinya dia memakan hasil


masakan Inna, wuih... sedapnya, dia menyuap nasi beserta lauknya sambil


membayangkan wajah Inna, padahal si Inna duduk ngak jauh darinya. Beberapa


pelanggan masih ada, namun mereka asyik bermain catur di dipan.


Siang itu berjalan seperti biasa, dan pada sore hari nya dia


melihat Inna pulang tanpa membawa cas hp nya, Padli mengetahuinya tapi dia diam


Malam itu semuanya aman, sekarang dia mulai mencas hp nya.


Butuh waktu lima belas menit untuk bisa menghidupkan hp nya kembali, karena cas


nya tidak berdaya besar, sehingga fasilitas fast charging nya tidak dapat


digunakan. Ketika Hp nya menyala, langsung saja masuk secara beruntun panggilan


tak terjawab, wa, email, dll, dan ada juga notification dari facebook nya.


Panggilan tak terjawab di dominasi dari Yitno dan adiknya


Irvan, sedangkan wa nya kebanyakan dari Yitno yang melaporkan perkembangan


perusahaan. Hampir 2 jam Padli berkomunikasi dengan Yitno, tak lupa juga dia


menjelaskan keadaannya yang sebenarnya, sambil memohon kepada Yitno agar menggantikannya


untuk sebulan kedepan.


Yitno : Pad, kau serius nih mau disana sebulan lagi?


Padli : Iya bro, tolong ya, kali ini aku ngak bisa mundur


lagi, aku serius dengan cewek itu.


Yitno : Tapi ngak perlu sampe berlebihan seperti ini lah,


Fad. Mendingan kau pulang sekarang, trus bawa tuh Bunda ama saudara-saudaramu

__ADS_1


kesana, langsung lamar aja. Dengan status mu kujamin Bapaknya pasti akan


setuju.


Padli : Ngak yakin aku bro, Abah tu bukan orang yang


gampangan, katanya dulu dia pernah jadi guru di pesantren, jadi mentalnya sudah


mental surgawi. Ngak akan terpengaruh lagi sama harta dan status orang.


Yitno : Ya udahlah, tapi hp mu jangan mati lagilah, untung


aja ini ngak ada masalah yang krisis, kalau enggak gimana aku menghubungimu?


Padli : ginilah Yit, tolong kau kirim cas hp ku kemari,


nanti ku share lokasinya lewat wa, tapi dia harus menyamar menjadi pelanggan


warung, agar orang-orang ngak curiga.


Yitno : Okelah kalo gitu, nanti ku kirim orangnya. Sehatnya


kau disana?


Padli : Aman bro, makanan disini enak, aku santai kok


disini. Kalau malam aku bebas, jadi nanti kita chatingannya malam aja.


Yitno : Oke bro, selamat beristirahat lah, besok malam


kuhubungi lagi. By...


Setelah itu Padli juga menghubungi Irvan adiknya, dan


menjelaskan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja, tak lupa dia memesan agar


Irvan menjelaskan ke ibunya, agar ibunya tidak khawatir.


Sekarang pikiran Padli mulai tenang, dia beruntung bahwa


perusahaannya sudah stabil, kebijakan-kebijakan pada lini bawah sudah sesuai


SOP (Standart Operational Prosedure), sementara untuk kebijakan pada lini atas


sudah ditangani oleh Yitno. Ngak percuma ada Yitno disisinya, sahabatnya itu


memang dapat dipercaya. Memang dia sudah memasang keamanan berlapis pada semua


perusahaannya. Dia ngak segan-segan mengeluarkan biaya untuk audit internal


maupun external, agar semua berjalan sebagaimana mestinya.


Setelah men Cas Hp nya semalaman, dia pun meletakkan kembali


cas tersebut di steeling makanan, tempat dimana Inna meletakkannya tadi sore.


Keesokan harinya, ada sebuah mobil mewah parkir di depan


warung, seorang bapak-bapak keluar dan masuk kedalam warung. Pakaiannya


sederhana, tapi terlihat arloji dan sepatunya dari merk yang berkelas. Bapak


tersebut membawa bungkusan dalam plastik hitam dan memesan kopi. Orang yang


didalam warung banyak yang meliriknya dan bertanya-tanya siapakah dia, namun


bapak tersebut bersikap cuek, sambil memainkan hp nya. Ketika tidak ada yang

__ADS_1


memperhatikan, bapak tersebut menyelipkan bungkusan tersebut ke tangan Padli,


yang langsung dimasukkan Padli ke kantongnya.


__ADS_2