
Setelah sholat Ishya , Padli menemukan Kitab suci Al-Quran,
hatinya tergerak untuk membacanya, “sudah lama juga aku ngak mengaji”, pikir
Padli dalam hati. Dia membacakan ayat demi ayat dengan fasih dan suara yang
rendah, tapi cukup jelas terdengar di sekitarnya. Untungnya sudah tidak ada
orang lagi yang ada di mushola.
Malam itu Padli sendirian di warung. Suasana warung menjadi
remang-remang karena lampu utama sudah dimatikan. Untungnya karena warung
berada di pinggir jalan, cahaya dari luar masuk ke warung dan membantu
pencahayaannya. Padli berbaring di dipan, Abah membelikannya obat nyamuk bakar
setelah keduanya bertemu di depan warung selepas sholat ishya. Sepertinya Abah
memang menunggu Padli di warung.
Padli penasaran mengenai keadaan perkerjaannya, dia juga
rindu sama ibu dan adiknya, tapi yang jadi masalah hp nya padam, kehabisan
batere. Sekilas tadi dia melihat si Inna membawa cas hp, tapi sewaktu pulang
cas itu dibawanya lagi. Ngak mungkin Padli sengaja meminjam cas tersebut karena
hal itu akan membuka rahasia bahwa dia punya hp, apalagi hp nya merek Samsung
keluaran terbaru, pasti nanti akan jadi pertanyaan bagaimana dia bisa
memilikinya.
Karena belum menemukan solusinya, dan lagi diluar juga
sedang gerimis, akhirnya Padli memutuskan tidur cepat, besok dia harus bangun
pagi-pagi sekali untuk memulai aktivitasnya lagi. Apalagi dia sudah mulai rindu
untuk melihat si Inna.
Keesokan harinya, setelah membuka warung, Mak Lena pun
datang didampingi dengan Abah. “Pad, kau mulai sekarang belajar masak untuk
keperluan warung ya”, kata Abah. “Memangnya kenapa Bah”, tanya Padli. Kondisi
emakmu belakangan ini kurang sehat, jadi kalau pagi setidaknya soal makanan
masih bisa kau tangani, dan lagi si Inna bisanya hanya siang dia kemari. Jawab
Abah.
Ngak usah takut, biasanya orang-orang hanya pesan mie kuah
instan sama gorengan aja, sedangkan minumnya kan sudah biasa kau tangani, kata
Abah lagi. Akhirnya dari pagi sampai siang itu Padli belajar memasak sama Mak
Lena. Mak Lena mengajari Padli dengan sabar, dia menjelaskan bumbu-bumbu apa
aja yang harus di siapkan kalau mau memasak mie, misalnya untuk mie-hun, mie
tiaw, cara membuat bakwan, cara menggoreng pisang pakai tepung agar gurih, dll.
__ADS_1
Dan pada percobaan pertama membuat mie hun, hasilnya sangat memuaskan,
sepertinya Padli punya bakat juga dalam memasak. Dan entah kenapa, Padli sangat
menikmati itu semua.
Seorang nelayan datang membawa ikan dalam kantongan plastik,
katanya itu titipan Pak Erik untuk Abah, Abah menerimanya sambil mengucapkan
terima kasih, dan ia juga berpesan ke Mak Lena agar dimasak untuk makan siang
nanti bersama Padli.
Siang itu Mak Lena pulang lebih cepat, sedangkan Padli
sedikit gelisah menunggu Inna datang. Dan ketika Inna, gadis pujaannya datang
dia pun terlihat salah tingkah entah kenapa. “Kenapa jantungku deg deg kan gini
ya, kayak abg aja”, pikirnya dalam hati, namun matanya sekilas melihat cas hp
yang dibawa Inna. Inna yang memasak ikan nya karena Mak Lena ngak sempat,
keburu pulang deluan. Setelah siap merekapun makan bersama di meja dekat kasir.
Padli terlihat sangat antusias, karena ini pertama kalinya dia memakan hasil
masakan Inna, wuih... sedapnya, dia menyuap nasi beserta lauknya sambil
membayangkan wajah Inna, padahal si Inna duduk ngak jauh darinya. Beberapa
pelanggan masih ada, namun mereka asyik bermain catur di dipan.
Siang itu berjalan seperti biasa, dan pada sore hari nya dia
melihat Inna pulang tanpa membawa cas hp nya, Padli mengetahuinya tapi dia diam
Malam itu semuanya aman, sekarang dia mulai mencas hp nya.
Butuh waktu lima belas menit untuk bisa menghidupkan hp nya kembali, karena cas
nya tidak berdaya besar, sehingga fasilitas fast charging nya tidak dapat
digunakan. Ketika Hp nya menyala, langsung saja masuk secara beruntun panggilan
tak terjawab, wa, email, dll, dan ada juga notification dari facebook nya.
Panggilan tak terjawab di dominasi dari Yitno dan adiknya
Irvan, sedangkan wa nya kebanyakan dari Yitno yang melaporkan perkembangan
perusahaan. Hampir 2 jam Padli berkomunikasi dengan Yitno, tak lupa juga dia
menjelaskan keadaannya yang sebenarnya, sambil memohon kepada Yitno agar menggantikannya
untuk sebulan kedepan.
Yitno : Pad, kau serius nih mau disana sebulan lagi?
Padli : Iya bro, tolong ya, kali ini aku ngak bisa mundur
lagi, aku serius dengan cewek itu.
Yitno : Tapi ngak perlu sampe berlebihan seperti ini lah,
Fad. Mendingan kau pulang sekarang, trus bawa tuh Bunda ama saudara-saudaramu
__ADS_1
kesana, langsung lamar aja. Dengan status mu kujamin Bapaknya pasti akan
setuju.
Padli : Ngak yakin aku bro, Abah tu bukan orang yang
gampangan, katanya dulu dia pernah jadi guru di pesantren, jadi mentalnya sudah
mental surgawi. Ngak akan terpengaruh lagi sama harta dan status orang.
Yitno : Ya udahlah, tapi hp mu jangan mati lagilah, untung
aja ini ngak ada masalah yang krisis, kalau enggak gimana aku menghubungimu?
Padli : ginilah Yit, tolong kau kirim cas hp ku kemari,
nanti ku share lokasinya lewat wa, tapi dia harus menyamar menjadi pelanggan
warung, agar orang-orang ngak curiga.
Yitno : Okelah kalo gitu, nanti ku kirim orangnya. Sehatnya
kau disana?
Padli : Aman bro, makanan disini enak, aku santai kok
disini. Kalau malam aku bebas, jadi nanti kita chatingannya malam aja.
Yitno : Oke bro, selamat beristirahat lah, besok malam
kuhubungi lagi. By...
Setelah itu Padli juga menghubungi Irvan adiknya, dan
menjelaskan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja, tak lupa dia memesan agar
Irvan menjelaskan ke ibunya, agar ibunya tidak khawatir.
Sekarang pikiran Padli mulai tenang, dia beruntung bahwa
perusahaannya sudah stabil, kebijakan-kebijakan pada lini bawah sudah sesuai
SOP (Standart Operational Prosedure), sementara untuk kebijakan pada lini atas
sudah ditangani oleh Yitno. Ngak percuma ada Yitno disisinya, sahabatnya itu
memang dapat dipercaya. Memang dia sudah memasang keamanan berlapis pada semua
perusahaannya. Dia ngak segan-segan mengeluarkan biaya untuk audit internal
maupun external, agar semua berjalan sebagaimana mestinya.
Setelah men Cas Hp nya semalaman, dia pun meletakkan kembali
cas tersebut di steeling makanan, tempat dimana Inna meletakkannya tadi sore.
Keesokan harinya, ada sebuah mobil mewah parkir di depan
warung, seorang bapak-bapak keluar dan masuk kedalam warung. Pakaiannya
sederhana, tapi terlihat arloji dan sepatunya dari merk yang berkelas. Bapak
tersebut membawa bungkusan dalam plastik hitam dan memesan kopi. Orang yang
didalam warung banyak yang meliriknya dan bertanya-tanya siapakah dia, namun
bapak tersebut bersikap cuek, sambil memainkan hp nya. Ketika tidak ada yang
__ADS_1
memperhatikan, bapak tersebut menyelipkan bungkusan tersebut ke tangan Padli,
yang langsung dimasukkan Padli ke kantongnya.