Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
PULANG KE KAMPUNG


__ADS_3

Hari Jum’at telah tiba, paginya Padli tetap pergi ke kantor seperti biasa, namun


rencananya dia akan kembali sebelum sholat Jum’at. Padli juga meminta Inna


berbelanja oleh-oleh untuk Abah, Emak dan anggota warung, tak lupa Padli


memesan agar Inna membeli papan catur yang besar untuk warung. Setelah Padli


berangkat, Inna pun bersiap-siap untuk pergi berbelanja. Dia membawa Mbak Ayu


untuk menemaninya, mereka pergi ke sebuah Mall besar diantar sama mang Didik.


Inna banyak membeli barang seperti, sandal, kain sarung, baju koko dan sajadah untuk


Abah. Sedangkan Emak dibelikannya Jilbab, mukena dan baju. Dia juga membeli


seprei, sarung bantal dan guling, handuk, taplak meja, karpet kecil untuk di


letakkan di depan tv, bantal kursi untuk di sofa, tempat kue dan gelas untuk


tamu, karena sebentar lagikan lebaran, pikirnya. Dia juga membeli kipas angin


untuk di kamar Abah serta 4 buah lampu cas untuk berjaga jika listrik padam.


Untuk Intan, dia membelikan seperangkat alat kecantikan dan makeup. Kalau bik


Surti, hem... apa ya, ngak taulah, ntar dikasinya duit ajalah. Tapi Inna


berpikir kembali, dia ngak punya duit, Padli ngak pernah memberinya duit,


maksudnya duit cash. Memang selama ini semua kebutuhannya terpenuhi, tapi tetap


saja dia ngak punya duit, Padli hanya memberikan sebuah kartu ATM untuk


dipergunakannya. “Mungkin setibanya di kampung, dia bisa meminta sama Padli


agar diberi uang 200-300 ribu, rasanya ngak mungkin Padli ngak memberikan,”


pikirnya dalam hati.


Setelah membeli banyak belanjaan lainnya akhirnya dia pun pulang. Sempat terpikirkan


olehnya apakah uang di ATM nya cukup ngak ya untuk membayar semua belanjaannya,


namun untungnya cukup. Dia ngak tahu bahwa uang yang ada di ATM nya ada ratusan


juta rupiah.


Padli sudah pulang dari sholat Jum’at, dan semua oleh-oleh sudah dimasukkan ke dalam


mobil, termasuk juga koper dan perlengkapan mereka selama berada di kampung.


Kini saatnya untuk pamit sama Mama.


Mama merasa sedih, namun dipaksakannya untuk tersenyum, dia ngak boleh terlihat


sedih di depan Inna. Belakangan ini dia merasakan sekali akan kehadiran Inna.


Rumah yang selama ini suram, menjadi cerah karena kedatangan Inna, setiap hari


ada saja yang dibuat Inna, seperti memperbaiki kolam ikan di halaman belakang,


walaupun Inna hanya menyuruh-nyuruh saja, namun kan tetap saja atas perintahnya

__ADS_1


sehingga kolam ikan tersebut diperbaiki. Suaranya selalu saja mengisi rumah


tersebut. Mama sangat menyayangi menantu kecilnya ini.


Setelah pamit sama Mama, mobil tersebutpun bergerak meninggalkan rumah mewah


tersebut. Padli ngak membawa sopir, dia memutuskan untuk menyetir sendiri mobilnya.


Yah... ini adalah perjalan pertama mereka berdua di mobil, karena biasanya


mereka selalu membawa sopir, atau paling ngak ada orang lain yang berada di


mobil itu.


Inna : Bang, nanti kalau udah sampai di kampung, Nna boleh ngak minta uang 200 ribu


untuk pegangan Nna?


Padli : (tesenyum geli mendengar permintaan Inna. Padli berpikir positif, mungkin


Inna ngak ngerti ambil uang cash memakai kartu ATM) Boleh, nanti ambil saja


uangnya di dompet abang sebanyak yang Nna perlukan.


Inna : Ya, soalnya Nna terpikir sama bik Surti, dia selama ini selalu membantu kami,


jadi Nna pingin memberinya uang.


Padli : Iya, gak apa apa. Nna, kalau dah sampe kampung kita nanti ngebakso yuk?


Inna : Ayok bang, bakso kak Piah kan, Nna pun jadi pengen ngerasainnya lagi.


Padli : Perlu izin Abah ngak ya? (Padli tersenyum teringat dulu)


Merekapun tertawa bersama.....


(Reader..... tolong vote, like and comment nya ya Pliss....)


Abah sudah mengetahui kedatangan mereka, karena Inna telah menelpon Intan.


(Abah ngak punya Hp dan ngak mau diberi Hp). Kemudian Abah memberitahukan


ke mang Udin, dan mang Udin menceritakan kepada para pelanggan, akibatnya


kedatangan Padli dan Inna menjadi viral di kampung tersebut.


Mobil mereka telah parkir di seberang warung, Padli dan Inna segera turun. Mereka


berjalan bergandengan menuju warung. Inna terlihat cantik memakai busana muslim


dari butik terkenal, sedangkan Padli masih memakai baju koko yang dipakainya


ketika sholat Jum’at tadi. Padli kemudian menyalami semua pelanggan warung,


kemudian dia mengeluarkan oleh-oleh yang dibeli Inna untuk para pelanggan


warung. Inna sudah lebih dulu berjalan pulang ke rumahnya, dia sangat rindu


sama Abah dan Emaknya.


Bang Mandor : Makin cantik saja kulihat si Inna ya Pad, kau kasih apa dia sampai


bisa seperti itu?

__ADS_1


Padli : (tertawa geli) Bang, dari dulu juga dia udah cantik kok bang.


Wak Kocu : Tapi hebat juga kau ya, bisa meluluhkan hati Abah.


Padli : Uwak kan tau sendiri perjuangan ku, sampai pingsan aku disuruh Abah ikut


gotong royong.


Merekapun tertawa terbahak-bahak. Setelah berbasa-basi sebentar, Padli pamit untuk


pulang ke rumah Abah, tak lupa ia membawa oleh-oleh yang akan dibawa ke rumah.


Padli : “Assalamualikum”


Abah : “Waalaikum Salam”


Padli : (Mencium tangan Abah dan Mak Lena) Bah, Mama titip salam sama Abah dan Emak.


Abah : Iya, “Waalaikum Salam”. Apa kabar Emak mu?


Padli : Baik Bah, belakangan ini Mama semakin sehat Bah, mungkin masakan Inna cocok


kali ya Bah sama Mama. (Padli tersenyum)


Abah : Syukur lah,  Abah yang sekarang ini masih kurang sehat, tapi ngak apa apa,


sakit karena tua lah. Abah kemaren ada janji untuk pergi ke kota mau ketemu sama emak mu,


tapi sepertinya masih belum bisa. Belum sanggup Abah kalau pergi sejauh itu.


Padli : Bah, Abah harus segera sehat Bah, apa Abah mau Padli bawa ke rumah sakit?


Biar di periksa sakitnya apa, jadi bisa disembuhkan.


Abah : Ngak usahlah Pad, dari dulu Abah ngak pernah ke rumah sakit. Ini nanti juga


baik sendiri. Ini karena kaki Abah, kadang ngilu kalau udara dingin.


Padli merasa sedih akan kondisi Abah, namun dia mengerti karena Abah masih berpikir


secara tradisional, bukannya ngak percaya sama dokter, namun sebisa mungkin


tidak berurusan dengan dokterlah. Padli takut, kalau terlalu mendesak Abah,


malahan Abah semakin ngak mau. Setelah mengobrol sesaat Padli pun pamit mau ke


kamar mandi untuk membersihkan diri. Di ruang tengah tampak Inna dan Emak sibuk


membongkar oleh-oleh yang dibawa mereka. Abah dan Mak Lena sudah tahu bahwa


Inna sudah hamil, karena Inna sudah menelpon Mak Lena melalui hp nya Intan.


Setelah Padli mandi, merekapun mulai makan malam bersama, masakan seafood ala


kampung nelayan. Ada cumi, udang yang disambel oleh Mak Lena, ada juga gulai terong.


Mak Lena memang pandai memasak, Padli makan dengan lahapnya.


Setelah itu, karena waktunya masih belum terlalu malam, Padli pamit mau ke warung untuk


mengobrol dengan mang Udin dan yang lainnya, sedangkan Inna sudah mojok


berduaan di teras bersama Intan.

__ADS_1


__ADS_2