
Hari Jum’at telah tiba, paginya Padli tetap pergi ke kantor seperti biasa, namun
rencananya dia akan kembali sebelum sholat Jum’at. Padli juga meminta Inna
berbelanja oleh-oleh untuk Abah, Emak dan anggota warung, tak lupa Padli
memesan agar Inna membeli papan catur yang besar untuk warung. Setelah Padli
berangkat, Inna pun bersiap-siap untuk pergi berbelanja. Dia membawa Mbak Ayu
untuk menemaninya, mereka pergi ke sebuah Mall besar diantar sama mang Didik.
Inna banyak membeli barang seperti, sandal, kain sarung, baju koko dan sajadah untuk
Abah. Sedangkan Emak dibelikannya Jilbab, mukena dan baju. Dia juga membeli
seprei, sarung bantal dan guling, handuk, taplak meja, karpet kecil untuk di
letakkan di depan tv, bantal kursi untuk di sofa, tempat kue dan gelas untuk
tamu, karena sebentar lagikan lebaran, pikirnya. Dia juga membeli kipas angin
untuk di kamar Abah serta 4 buah lampu cas untuk berjaga jika listrik padam.
Untuk Intan, dia membelikan seperangkat alat kecantikan dan makeup. Kalau bik
Surti, hem... apa ya, ngak taulah, ntar dikasinya duit ajalah. Tapi Inna
berpikir kembali, dia ngak punya duit, Padli ngak pernah memberinya duit,
maksudnya duit cash. Memang selama ini semua kebutuhannya terpenuhi, tapi tetap
saja dia ngak punya duit, Padli hanya memberikan sebuah kartu ATM untuk
dipergunakannya. “Mungkin setibanya di kampung, dia bisa meminta sama Padli
agar diberi uang 200-300 ribu, rasanya ngak mungkin Padli ngak memberikan,”
pikirnya dalam hati.
Setelah membeli banyak belanjaan lainnya akhirnya dia pun pulang. Sempat terpikirkan
olehnya apakah uang di ATM nya cukup ngak ya untuk membayar semua belanjaannya,
namun untungnya cukup. Dia ngak tahu bahwa uang yang ada di ATM nya ada ratusan
juta rupiah.
Padli sudah pulang dari sholat Jum’at, dan semua oleh-oleh sudah dimasukkan ke dalam
mobil, termasuk juga koper dan perlengkapan mereka selama berada di kampung.
Kini saatnya untuk pamit sama Mama.
Mama merasa sedih, namun dipaksakannya untuk tersenyum, dia ngak boleh terlihat
sedih di depan Inna. Belakangan ini dia merasakan sekali akan kehadiran Inna.
Rumah yang selama ini suram, menjadi cerah karena kedatangan Inna, setiap hari
ada saja yang dibuat Inna, seperti memperbaiki kolam ikan di halaman belakang,
walaupun Inna hanya menyuruh-nyuruh saja, namun kan tetap saja atas perintahnya
__ADS_1
sehingga kolam ikan tersebut diperbaiki. Suaranya selalu saja mengisi rumah
tersebut. Mama sangat menyayangi menantu kecilnya ini.
Setelah pamit sama Mama, mobil tersebutpun bergerak meninggalkan rumah mewah
tersebut. Padli ngak membawa sopir, dia memutuskan untuk menyetir sendiri mobilnya.
Yah... ini adalah perjalan pertama mereka berdua di mobil, karena biasanya
mereka selalu membawa sopir, atau paling ngak ada orang lain yang berada di
mobil itu.
Inna : Bang, nanti kalau udah sampai di kampung, Nna boleh ngak minta uang 200 ribu
untuk pegangan Nna?
Padli : (tesenyum geli mendengar permintaan Inna. Padli berpikir positif, mungkin
Inna ngak ngerti ambil uang cash memakai kartu ATM) Boleh, nanti ambil saja
uangnya di dompet abang sebanyak yang Nna perlukan.
Inna : Ya, soalnya Nna terpikir sama bik Surti, dia selama ini selalu membantu kami,
jadi Nna pingin memberinya uang.
Padli : Iya, gak apa apa. Nna, kalau dah sampe kampung kita nanti ngebakso yuk?
Inna : Ayok bang, bakso kak Piah kan, Nna pun jadi pengen ngerasainnya lagi.
Padli : Perlu izin Abah ngak ya? (Padli tersenyum teringat dulu)
Merekapun tertawa bersama.....
(Reader..... tolong vote, like and comment nya ya Pliss....)
Abah sudah mengetahui kedatangan mereka, karena Inna telah menelpon Intan.
(Abah ngak punya Hp dan ngak mau diberi Hp). Kemudian Abah memberitahukan
ke mang Udin, dan mang Udin menceritakan kepada para pelanggan, akibatnya
kedatangan Padli dan Inna menjadi viral di kampung tersebut.
Mobil mereka telah parkir di seberang warung, Padli dan Inna segera turun. Mereka
berjalan bergandengan menuju warung. Inna terlihat cantik memakai busana muslim
dari butik terkenal, sedangkan Padli masih memakai baju koko yang dipakainya
ketika sholat Jum’at tadi. Padli kemudian menyalami semua pelanggan warung,
kemudian dia mengeluarkan oleh-oleh yang dibeli Inna untuk para pelanggan
warung. Inna sudah lebih dulu berjalan pulang ke rumahnya, dia sangat rindu
sama Abah dan Emaknya.
Bang Mandor : Makin cantik saja kulihat si Inna ya Pad, kau kasih apa dia sampai
bisa seperti itu?
__ADS_1
Padli : (tertawa geli) Bang, dari dulu juga dia udah cantik kok bang.
Wak Kocu : Tapi hebat juga kau ya, bisa meluluhkan hati Abah.
Padli : Uwak kan tau sendiri perjuangan ku, sampai pingsan aku disuruh Abah ikut
gotong royong.
Merekapun tertawa terbahak-bahak. Setelah berbasa-basi sebentar, Padli pamit untuk
pulang ke rumah Abah, tak lupa ia membawa oleh-oleh yang akan dibawa ke rumah.
Padli : “Assalamualikum”
Abah : “Waalaikum Salam”
Padli : (Mencium tangan Abah dan Mak Lena) Bah, Mama titip salam sama Abah dan Emak.
Abah : Iya, “Waalaikum Salam”. Apa kabar Emak mu?
Padli : Baik Bah, belakangan ini Mama semakin sehat Bah, mungkin masakan Inna cocok
kali ya Bah sama Mama. (Padli tersenyum)
Abah : Syukur lah, Abah yang sekarang ini masih kurang sehat, tapi ngak apa apa,
sakit karena tua lah. Abah kemaren ada janji untuk pergi ke kota mau ketemu sama emak mu,
tapi sepertinya masih belum bisa. Belum sanggup Abah kalau pergi sejauh itu.
Padli : Bah, Abah harus segera sehat Bah, apa Abah mau Padli bawa ke rumah sakit?
Biar di periksa sakitnya apa, jadi bisa disembuhkan.
Abah : Ngak usahlah Pad, dari dulu Abah ngak pernah ke rumah sakit. Ini nanti juga
baik sendiri. Ini karena kaki Abah, kadang ngilu kalau udara dingin.
Padli merasa sedih akan kondisi Abah, namun dia mengerti karena Abah masih berpikir
secara tradisional, bukannya ngak percaya sama dokter, namun sebisa mungkin
tidak berurusan dengan dokterlah. Padli takut, kalau terlalu mendesak Abah,
malahan Abah semakin ngak mau. Setelah mengobrol sesaat Padli pun pamit mau ke
kamar mandi untuk membersihkan diri. Di ruang tengah tampak Inna dan Emak sibuk
membongkar oleh-oleh yang dibawa mereka. Abah dan Mak Lena sudah tahu bahwa
Inna sudah hamil, karena Inna sudah menelpon Mak Lena melalui hp nya Intan.
Setelah Padli mandi, merekapun mulai makan malam bersama, masakan seafood ala
kampung nelayan. Ada cumi, udang yang disambel oleh Mak Lena, ada juga gulai terong.
Mak Lena memang pandai memasak, Padli makan dengan lahapnya.
Setelah itu, karena waktunya masih belum terlalu malam, Padli pamit mau ke warung untuk
mengobrol dengan mang Udin dan yang lainnya, sedangkan Inna sudah mojok
berduaan di teras bersama Intan.
__ADS_1