Warung Kopi Abah Sholeh

Warung Kopi Abah Sholeh
INNA HAMIL


__ADS_3

Mama memesan kepada Rina yang jadi perawatnya, agar membeli test pack, dan


mengajarkan kepada Inna bagaimana cara memakainya. Dan seperti yang telah


diduganya, hasilnya positip. “Alhamdulillah... Alhamdulillah” ucap Mama


berulang-ulang.


Inna memeluk Mama, “ Nna hamil ya Ma, tapi Nna takut Ma “, ucapnya sedih.


Mama memeluk Inna sambil tertawa, “Nih anak, bukannya malah senang, kok jadi sedih


sih, ngak usah takut ya sayang, sini Mama mau cium dulu”, Mama mencium Inna


dengan rasa sayang. Mama menelpon Padli, dia ingin dialah yang pertama kali mengabari


kabar gembira ini kepada Padli.


Sore itu, Padli segera bergegas pulang ke rumah, semua urusan kantor yang masih


menumpuk di tinggalkannya. Dia mau membawa Inna segera ke dokter untuk


melakukan pemeriksaan. Perasaannya begitu gembira, tak sabar rasanya untuk


sampai ke rumah dan mmeluk Inna. Ya, Inna, ibu dari anak-anakku. Hahahah....


Setelah sampai ke rumah, Padli langsung ke kamar Mama, dia melihat Inna di samping


Mama, kemudian Padli memeluknya dan menciuminya. Mama tersenyum bahagia


melihatnya.


Dokter mengatakan bahwa Inna positif hamil, janinnya masih berumur 4-5 minggu,


sepertinya ketika pertama kali mereka berhubungan intim sewaktu di Bali, Inna


langsung hamil, karena memang waktu itu adalah masa suburnya.


Dokter juga mengatakan kondisi Inna dan janinnya sehat. Dokter hanya memberikan kepada


Inna obat berupa Vitamin dan penambah darah saja. “Dok, apa kami masih boleh


berhubungan intim?” tanya Padli. “Boleh kok, gak apa apa, Cuma jangan terlalu


lasak ya”, kata dokter sambil tersenyum.


Sore itu setelah sampai di rumah, Inna mendapat banyak pesan dari Padli, ngak boleh


ini, itu, mengangkat yang berat-berat seperti pot bunga, menggeser sepeda motor


Irvan, Padli juga memberitahukan kepada para ART agar melarang Inna untuk


bekerja. Hal ini malah membuat Inna stress, dia mau ngapain kalau begini.


Malam harinya setelah mereka bersiap-siap untuk tidur. “ Bang, jadi kita gimana nih,


Nna masih bolehkan peluk-peluk abang”? tanya Inna polos. “Ya boleh lah, cuma


Inna ngak boleh banyak bergerak, biar abang aja yang ngelakukannya” tanya Padli


tersenyum nakal. “Jadi abang aja ya yang peluk Nna”? tanya Inna lagi. “ Iya,


sini biar abang peluk” ujar Padli. Padli memeluk Inna dari belakang, mereka


tidur berbarengan di kasur. Dia mencium rambut Inna yang wangi dan tangannya

__ADS_1


terselip ke dalam daster Inna dan mengelus-elus buah dada Inna. Inna terkesiap


kegelian, dia meronta-ronta dan membalikkan badannya menghadap Padli. Padli


mencium bibir mungil Inna dan akhirnya merekapun melakukan ritual yang tidak


bosan-bosannya mereka lakukan.


Waktu berjalan dengan cepat, dan tak terasa akan memasuki bulan Ramadhan. Kesehatan


Mama belakangan ini semakin membaik, dari hasil pemeriksaan dokter, jantung


Mama semakin kuat, dokter menyarankan agar Mama melakukan terapi untuk


bergerak. Mendengar itu Padli merasa sangat senang, dia membayangkan kalau


Mamanya sehat kembali, maka dia akan membawa Mamanya berlibur bersama Inna.


Mama mulai mencoba untuk banyak bergerak, dia sudah tidak lagi berbaring terus,


melainkan meminta Rina perawat pribadinya untuk memapahnya ke kursi roda,


sehingga dia bisa keluar dari kamar dan melihat-lihat sekeliling rumah. Di


dapur dia melihat Inna sedang memasak.


Mama : Sedang apa kamu sayang?


Inna : Ini Ma, lagi masak semur untuk bang Padli.


Mama : Kamu ngak usah terlalu capek ya sayang, kan ada bik Ratna yang bisa


memasaknya.


Inna


biasanya Nna yang masakin.


Mama : Tapi itukan sewaktu kamu belum hamil sayang. Lagian dulu kan Padli pegawai


kamu di warung, kan kamu yang jadi boss nya. Harusnya dialah yang memasak untuk


mu kan?


Inna : (tersenyum geli membayangkan ketika Padli memasak) bang Padli itu bisanya


masak mie Ma, mie-hun, mie-tiaw, mie kuah. Kalau masak yang kayak gini seperti


semur dan gulai dia ngak bisa Ma, waktu diajarin juga dia ngak mau belajar.


Mama : Hahaha... gitu ya, nanti kalau ada kesempatan kita suruh dia masak mie untuk


kita ya.


Inna : Iya Ma, Nih... Ma, dah selesai kok, ini bukan kerjaan berat kok Ma, lagian


bang Padli kalau makan semur biasanya dia minta ditambah pakai mie. Kalau bik


Ratna yang buat ngak pakai mie. Nanti malam kita makan sama-sama ya Ma.


Mama melihat Inna yang bergerak sangat luwes di dapur, dan sepertinya tata letak


dapur juga sudah berubah. Barang-barang yang letaknya tinggi dan sering di


gunakan sudah di pindah ke bagian bawah. Dan disitu juga ada tangga bangku

__ADS_1


untuk menjangkau bagian atas Kitchenset. Badan Inna memang ngak tinggi, jadi


dia menyesuaikan tata letak peralatan dapur agar sesuai dengan postur tubuhnya.


“Sepertinya Inna sudah bisa beradaptasi”, pikir Mama. Bagi seorang wanita, berkuasa


untuk mengatur rumahnya sendiri adalah bukti bahwa dia seorang istri.


Malam itu selepas maghrib, Inna sedang duduk santai menonton tv bersama Mama.


Inna : Ma, ntar lagi kan bulan puasa, kalau disini biasanya ngapain Ma?


Mama : (Muka Mama terlihat sedih) Disini ngak ada bedanya Nna, palingan juga kita


sahur bersama-sama, dan saat berbuka puasanya masing-masing. Padli ngak pernah


buka puasa dirumah, kalau Irvan biasanya ambil makanan terus dibawa ke


kamarnya.


Inna : Bang Padli kan selalu pulang malam, jadi ngak bisa berbuka di rumah. Kalau


gitu kita bertiga aja Ma, buka puasa bersama, nanti si Irvan biar Nna yang


maksa agar mau berbuka bersama-sama.


Mama : Atau Nna, kita ajak saja semua ART disini untuk berbuka bersama, di ruang


makan, kan disitu ada meja makan besar jadi kan bisa muat semuanya.


Inna : Iya Ma, rasanya kalau berbuka puasa itu maunya rame-rame, biar meriah dan


beda dari biasanya. Soalnya waktu dikampung dulu Nna biasanya begitu sama Abah


dan Emak. Kadang-kadang kami mengajak bik Surti dan Intan untuk berbuka


bersama.


Mama : Iya, memang enak kalau bisa begitu.


Mama membayangkan kehidupan kampung yang sangat erat tali silaturahminya antar


sesama masyarakat. Kalau di kampung pasti suasananya sangat meriah.


Mama : Nna, kamu senang ngak disini? Apa kamu ngak rindu sama kampung?


Inna : Iya Ma, Nna senang kok disini, Nna bebas kok mau ngapa-ngapain disini, tapi Nna


juga rindu sama Abah dan Emak, tapi kasian bang Padli, sepertinya bang Padli


sangat sibuk dengan urusan kantornya.


Mama : Ngak apa apa, kalau hanya 2-3 hari saja, Padli pasti bisa ambil cuti


sebentar, nanti biar Mama yang bicara sama dia. Sini biar kamu Mama peluk.


(Sepertinya Mama mulai candu memeluk Inna)


Hal tersebut disampaikan Mama kepada Padli dan Padli menyetujuinya, maka diputuskan


Jum’at besok setelah selesai sholat Jum’at mereka berangkat ke kampung dan akan kembali


pada hari Senin paginya. Mendengar hal tersebut, Inna sangat bergairah, dia


sangat senang membayangkan akan bertemu kembali dengan Abah dan Emaknya.

__ADS_1


__ADS_2