
Mama memesan kepada Rina yang jadi perawatnya, agar membeli test pack, dan
mengajarkan kepada Inna bagaimana cara memakainya. Dan seperti yang telah
diduganya, hasilnya positip. “Alhamdulillah... Alhamdulillah” ucap Mama
berulang-ulang.
Inna memeluk Mama, “ Nna hamil ya Ma, tapi Nna takut Ma “, ucapnya sedih.
Mama memeluk Inna sambil tertawa, “Nih anak, bukannya malah senang, kok jadi sedih
sih, ngak usah takut ya sayang, sini Mama mau cium dulu”, Mama mencium Inna
dengan rasa sayang. Mama menelpon Padli, dia ingin dialah yang pertama kali mengabari
kabar gembira ini kepada Padli.
Sore itu, Padli segera bergegas pulang ke rumah, semua urusan kantor yang masih
menumpuk di tinggalkannya. Dia mau membawa Inna segera ke dokter untuk
melakukan pemeriksaan. Perasaannya begitu gembira, tak sabar rasanya untuk
sampai ke rumah dan mmeluk Inna. Ya, Inna, ibu dari anak-anakku. Hahahah....
Setelah sampai ke rumah, Padli langsung ke kamar Mama, dia melihat Inna di samping
Mama, kemudian Padli memeluknya dan menciuminya. Mama tersenyum bahagia
melihatnya.
Dokter mengatakan bahwa Inna positif hamil, janinnya masih berumur 4-5 minggu,
sepertinya ketika pertama kali mereka berhubungan intim sewaktu di Bali, Inna
langsung hamil, karena memang waktu itu adalah masa suburnya.
Dokter juga mengatakan kondisi Inna dan janinnya sehat. Dokter hanya memberikan kepada
Inna obat berupa Vitamin dan penambah darah saja. “Dok, apa kami masih boleh
berhubungan intim?” tanya Padli. “Boleh kok, gak apa apa, Cuma jangan terlalu
lasak ya”, kata dokter sambil tersenyum.
Sore itu setelah sampai di rumah, Inna mendapat banyak pesan dari Padli, ngak boleh
ini, itu, mengangkat yang berat-berat seperti pot bunga, menggeser sepeda motor
Irvan, Padli juga memberitahukan kepada para ART agar melarang Inna untuk
bekerja. Hal ini malah membuat Inna stress, dia mau ngapain kalau begini.
Malam harinya setelah mereka bersiap-siap untuk tidur. “ Bang, jadi kita gimana nih,
Nna masih bolehkan peluk-peluk abang”? tanya Inna polos. “Ya boleh lah, cuma
Inna ngak boleh banyak bergerak, biar abang aja yang ngelakukannya” tanya Padli
tersenyum nakal. “Jadi abang aja ya yang peluk Nna”? tanya Inna lagi. “ Iya,
sini biar abang peluk” ujar Padli. Padli memeluk Inna dari belakang, mereka
tidur berbarengan di kasur. Dia mencium rambut Inna yang wangi dan tangannya
__ADS_1
terselip ke dalam daster Inna dan mengelus-elus buah dada Inna. Inna terkesiap
kegelian, dia meronta-ronta dan membalikkan badannya menghadap Padli. Padli
mencium bibir mungil Inna dan akhirnya merekapun melakukan ritual yang tidak
bosan-bosannya mereka lakukan.
Waktu berjalan dengan cepat, dan tak terasa akan memasuki bulan Ramadhan. Kesehatan
Mama belakangan ini semakin membaik, dari hasil pemeriksaan dokter, jantung
Mama semakin kuat, dokter menyarankan agar Mama melakukan terapi untuk
bergerak. Mendengar itu Padli merasa sangat senang, dia membayangkan kalau
Mamanya sehat kembali, maka dia akan membawa Mamanya berlibur bersama Inna.
Mama mulai mencoba untuk banyak bergerak, dia sudah tidak lagi berbaring terus,
melainkan meminta Rina perawat pribadinya untuk memapahnya ke kursi roda,
sehingga dia bisa keluar dari kamar dan melihat-lihat sekeliling rumah. Di
dapur dia melihat Inna sedang memasak.
Mama : Sedang apa kamu sayang?
Inna : Ini Ma, lagi masak semur untuk bang Padli.
Mama : Kamu ngak usah terlalu capek ya sayang, kan ada bik Ratna yang bisa
memasaknya.
Inna
biasanya Nna yang masakin.
Mama : Tapi itukan sewaktu kamu belum hamil sayang. Lagian dulu kan Padli pegawai
kamu di warung, kan kamu yang jadi boss nya. Harusnya dialah yang memasak untuk
mu kan?
Inna : (tersenyum geli membayangkan ketika Padli memasak) bang Padli itu bisanya
masak mie Ma, mie-hun, mie-tiaw, mie kuah. Kalau masak yang kayak gini seperti
semur dan gulai dia ngak bisa Ma, waktu diajarin juga dia ngak mau belajar.
Mama : Hahaha... gitu ya, nanti kalau ada kesempatan kita suruh dia masak mie untuk
kita ya.
Inna : Iya Ma, Nih... Ma, dah selesai kok, ini bukan kerjaan berat kok Ma, lagian
bang Padli kalau makan semur biasanya dia minta ditambah pakai mie. Kalau bik
Ratna yang buat ngak pakai mie. Nanti malam kita makan sama-sama ya Ma.
Mama melihat Inna yang bergerak sangat luwes di dapur, dan sepertinya tata letak
dapur juga sudah berubah. Barang-barang yang letaknya tinggi dan sering di
gunakan sudah di pindah ke bagian bawah. Dan disitu juga ada tangga bangku
__ADS_1
untuk menjangkau bagian atas Kitchenset. Badan Inna memang ngak tinggi, jadi
dia menyesuaikan tata letak peralatan dapur agar sesuai dengan postur tubuhnya.
“Sepertinya Inna sudah bisa beradaptasi”, pikir Mama. Bagi seorang wanita, berkuasa
untuk mengatur rumahnya sendiri adalah bukti bahwa dia seorang istri.
Malam itu selepas maghrib, Inna sedang duduk santai menonton tv bersama Mama.
Inna : Ma, ntar lagi kan bulan puasa, kalau disini biasanya ngapain Ma?
Mama : (Muka Mama terlihat sedih) Disini ngak ada bedanya Nna, palingan juga kita
sahur bersama-sama, dan saat berbuka puasanya masing-masing. Padli ngak pernah
buka puasa dirumah, kalau Irvan biasanya ambil makanan terus dibawa ke
kamarnya.
Inna : Bang Padli kan selalu pulang malam, jadi ngak bisa berbuka di rumah. Kalau
gitu kita bertiga aja Ma, buka puasa bersama, nanti si Irvan biar Nna yang
maksa agar mau berbuka bersama-sama.
Mama : Atau Nna, kita ajak saja semua ART disini untuk berbuka bersama, di ruang
makan, kan disitu ada meja makan besar jadi kan bisa muat semuanya.
Inna : Iya Ma, rasanya kalau berbuka puasa itu maunya rame-rame, biar meriah dan
beda dari biasanya. Soalnya waktu dikampung dulu Nna biasanya begitu sama Abah
dan Emak. Kadang-kadang kami mengajak bik Surti dan Intan untuk berbuka
bersama.
Mama : Iya, memang enak kalau bisa begitu.
Mama membayangkan kehidupan kampung yang sangat erat tali silaturahminya antar
sesama masyarakat. Kalau di kampung pasti suasananya sangat meriah.
Mama : Nna, kamu senang ngak disini? Apa kamu ngak rindu sama kampung?
Inna : Iya Ma, Nna senang kok disini, Nna bebas kok mau ngapa-ngapain disini, tapi Nna
juga rindu sama Abah dan Emak, tapi kasian bang Padli, sepertinya bang Padli
sangat sibuk dengan urusan kantornya.
Mama : Ngak apa apa, kalau hanya 2-3 hari saja, Padli pasti bisa ambil cuti
sebentar, nanti biar Mama yang bicara sama dia. Sini biar kamu Mama peluk.
(Sepertinya Mama mulai candu memeluk Inna)
Hal tersebut disampaikan Mama kepada Padli dan Padli menyetujuinya, maka diputuskan
Jum’at besok setelah selesai sholat Jum’at mereka berangkat ke kampung dan akan kembali
pada hari Senin paginya. Mendengar hal tersebut, Inna sangat bergairah, dia
sangat senang membayangkan akan bertemu kembali dengan Abah dan Emaknya.
__ADS_1