
Setelah melalui rangkaian pegelaran adat, kini tibalah saatnya acara Akad Nikah yang
akan dilaksanakan di panggung pesta, lapangan kampung. Hari itu Minggu jam 9.00
WIB, Abah telah bersiap dengan kemeja Batik dan peci hitamnya. Tuan kadi juga
telah hadir lengkap dengan membawa segala macam berkas-berkas administrasi
untuk pernikahan. Inna juga hadir dengan gaun pestanya, dia terlihat sangat
cantik, dengan kalung berlian teruntai di dadanya. Panduan busana muslim dari
butik terkenal menambah pesonanya. Panggung besar tersebut telah penuh dengan
orang-orang yang akan menyaksikan ritual suci tersebut.
Tak lama kemudian, Padli datang dengan mengendarai mobil sedan hitam yang disopiri
Mang Parno. Dia berjalan di iringi Irvan dan Yitno, langsung menuju atas panggung
tempat dilaksankannya Akad Nikah. Dengan busana baju koko, dan peci hitam,
walaupun dari bahan yang terbaik, namun tidak terkesan mewah, malahan serasi
dengan kulitnya yang putih.
Abah dan Padli duduk bersila dan berhadap-hadapan, dan disampingnya telah hadir
tuan kadi dan para saksi-saksi yaitu Irvan dan Andi.
Abah terlihat gugup, kemudian menenangkan diri sebentar sambil memejamkan matanya,
setelah itu dia pun menarik napas dalam-dalam Kemudian Abah mengucapkan :
“Nur Fadli Pahlevi bin Ahmad Pahlevi, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan
Inna Pertiwi binti Ismail Sholeh dengan mas kawin sebuah cincin emas dan seperangkat
alat sholat dibayar tunai”
Kemudian dijawab Padli :
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Inna Pertiwi binti Ismail Sholeh dengan mas kawin
sebuah cincin emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai”
Sah.. sah... para saksi dan pengunjung beramai-ramai mengucapkan kata sah. Ternyata
cukup sekali saja Padli mengucapkan Ijab kabul tersebut.
Mak Lena yang berada di sisi Inna langsung mencium kening Inna, air mata menetes di
pipi Inna, dia sangat terharu dan sekarang dia telah sah menjadi istri dari Padli.
Cincin emas bertahtakan berlian disematkan di jari manisnya Inna, kemudian dia menyalami
Padli dengan mencium tangannya, setelah itu mereka berduapun menyalami Abah dan
Mak Lena. Setelah mendengar peraturan perundang-undangan tentang perkawinan
yang disampaikan oleh tuan kadi, kemudian mereka menanda tangani buku nikah.
Maka sah lah mereka sebagai suami-istri dimata hukum. Doa pun dilantunkan oleh
Ustad Bambang. Jaringan televisi menyiarkan acara mereka secara langsung dari
lapangan kampung. Sampai disini selesailah acara akad nikah tersebut.
Padli dan Inna duduk berdampingan di pelaminan, kemudian beberapa wartawan tampak
mengabadikan momen tersebut. Tak lama kemudian, tampak rombongan Bapak Gubernur
memasuki area pesta, mereka disambut oleh Yitno dan Pak Erik sebagai perwakilan
__ADS_1
dari tuan rumah. Mereka menyalami Padli dan Inna, kemudian Bapak Gubernur
menyampaikan sepatah dua kata kepada para mempelai yang kemudian disambut
hangat oleh penonton dengan bertepuk tangan. Kemudian acara pun dilanjutkan
dengan menyajikan lagu-lagu rohani yang dibawakan oleh rombongan para remaja
mesjid tingkat kecamatan dan kabupaten.
Intan naik kepanggung, dia bernyanyi dengan diiringi gitar solo mang Udin.
Dalam mimpi kulihat bayanganmu
Yang semakin jauh dari pandanganku
Seandainya kau tahu isi hatiku
Yang slalu mencintamu dan sayangimu
Kasihku rindu aku untukmu
Kasihku aku cinta padamu... oh..oh
Andai kau ada disisi ku
Temani malam ini ku sendiri
Kekasih rinduku untukmu
Setulus hati aku cinta padamu... oh..oh
Suaranya mengalir lembut dan penuh perasaan, pandangannya berkaca-kaca terarah
kepada Padli.
(https://www.youtube.com/watch?v=MGwl4MQ_qPw)
henti-hentinya datang dan menyalami mereka. Acara berlangsung hanya sampai
pukul 5 sore, karena setelah itu, mereka akan segera berangkat ke Bali untuk
berbulan madu.
Selama resepsi pernikahan tersebut, Padli berkesempatan mengobrol dengan Inna.
Padli : Nna, capek ya?
Inna : Iya bang, Nna ngak bisa tidur tadi malam.
Padli : Sama, abang juga. Untung ada Irvan yang menemani ngobrol.
Inna : Tadi malam Nna teringat sama Mama, Mama hanya melihat acara dari televisi
aja, ngak ikut merasakan pesta ini bang.
Padli : Iya, tapi abang tadi malam udah nelpon Mama kok, kata Mama Nna sangat cantik
waktu khataman Qur’an kemaren.
Inna : Nna gugup bang waktu itu, untungnya setelah mulai membaca Qur’an, gugupnya
dah hilang.
Padli : Mama menunggu kedatangan kita di rumah, tapi sebelum itu kita istirahat dulu
di Bali ya Nna.
Inna : Bali?
Obrolan mereka terputus karena beberapa tamu sudah mulai berdatangan untuk bersalaman
dengan mereka.
__ADS_1
Jam 5 Sore, selesailah acara tersebut, Padli dan Inna bersiap-siap menuju Bandara
untuk selanjutnya terbang menuju Bali. Yitno berencana malam itu juga akan
segera kembali ke kota bersama Irvan, karena dia akan kembali bekerja setelah sekian lama
libur selama pestanya Padli. Sedangkan Andi, dia masih ingin tinggal sebentar
di kampung, menemani Abah dan Emak. “Abah dan Emak pasti kesepian sepeninggalannya
Inna”, pikir Andi
Padli menyalami Abah dan Mak Lena, tak lupa juga dia menyalami Andi dan Ningsih serta
semua penduduk kampung yang berada disekitanya. Mak Lena menangis menciumi
Inna, seakan-akan tak rela anak gadis satu-satunya pergi meninggalkannya. Tadi
malam dia banyak berpesan kepada Inna;
Mak Lena : Na, Kau jangan membantah kata-kata suamimu ya!
Inna : Kalau misalnya Nna ngak setuju dengan kata bang Padli, gimana mak?
Mak Lena : Kau katakan saja alasannya, tapi jangan membantahnya. Dan juga, sebisa
mungkin setiap pagi kau harus menyiapkan sarapan untuk suamimu, jangan kau
biarkan dia sarapan diluar. Itu pantang ya Nna. Terus kalau dah nikah nanti,
kalian itu udah halal, jadi kalau dia menyentuhmu ngak apa apa, malahan ibadah
untukmu. Kamu mengertikan maksud emak?
Inna : Iya Mak, tapikan Nna malu mak. (Inna tertunduk malu)
Mak Lena : Malu dan haram kalau sama orang lain, tapi kalau suami sendiri ngak apa
apa. Malahan kamu bisa durhaka kalau menolaknya.
Inna : Iya Mak.
Setelah berganti baju, Padli dan Inna berangkat menuju bandara dengan mengendarai
mobil yang di sopiri oleh mang Parno, selama di perjalanan keduanya terlihat sangat
lelah, Inna tertidur di jok belakang dengan bersender ke bahu Padli. Padli
membiarkannya saja karena dia tahu Inna sangat lelah menghadapi acara dari pagi
sampai sore hari itu, tanpa ada istirahat sama sekali.
Setibanya di bandara mereka menyempatkan diri untuk makan. Inna terlihat sangat
ketakutan, ini adalah pertama kalinya dia menaiki pesawat terbang. Padli butuh waktu
sedikit lebih lama untuk membujuk Inna agar mau menaiki pesawat terbang itu dan
setelah Inna berhasil dibujuk maka pesawat jet mewah milik perusahaan Padli
tersebut langsung terbang menuju Bali.
********************
Hai
readers.....
Bantu saya untuk share ya, dan jangan lupa untuk vote, like dan koment nya kalau suka
dengan cerita ini...
Terima kasih....
__ADS_1