WAY OF ETERNITY

WAY OF ETERNITY
Ch 40. Babak Utama III


__ADS_3

**


“cepat tutup hidungmu dia menggunakan racun ditangannya” salah satu penjaga berkata kepada temannya. Keduanya langsung menutup hidung dengan telapak tangan mereka, tanpa mencurigai kalau telapak tangan mereka juga telah terkontaminasi racun setelah menyentuh batu roh yang diletakkan oleh Xiao Quan.


Keduanya mundur kebelakang dan memasang kuda – kuda. “kau ingin bermain – main dengan kami bocah kecil, kau mungkin tidak tahu kalau ditempat ini membuat beberapa luka atau mematahkan beberapa tulang tidak akan menjadi masalah bagi kami” salah satu penjaga berkata dengan senyum simpul penuh kesombongan.


Xiao Quan menanggapi dengan ekspresi yang dingin” kakak senior...  jangan mengigau dikala sadar, terkadang keserakahan lebih membahayakan dari pada pedang”


Keduanya bingung dengan maksud dari ucapan Xiao Quan .


Xiao Quan mulai melepaskan serangan, kedua penjaga itu menyadari kalau kemampuan Xiao Quan hanya berada di tingkat ketujuh sementara mereka da ditingkat kesembilan, “anak ini tidak tahu apa yang terbaik baginya, biarkan ia bersenang – senang dahulu sebelum kita mengajarinya bagaimana cara berkelahi” salah satu penjaga berujar kepada temannya


Serangan demi serangan yang diluncurkan Xiao Quan tidak ada yang mengenai penjaga itu, mereka terus mengelak hingga sampai dua puluh jurus, namun semakin lama secara perlahan keduanya merasakan penurunan kultivasi, kemampuan gerakan mereka menjadi terbatas serta pengelihatan mereka juga terganggu.


“dia telah meracuni kita”


“tapi bagaimana ia melakukannya? ”


Kedua penjaga itu saling menatap kebingungan, mereka tidak menyangka kalau mereka telah masuk kedalam jebakan yang telah disiapkan oleh Xiao Quan.

__ADS_1


Keduanya merasa lutut mereka mulai kehilangan tenaga menyebabkannya terus bergetar hingga keduanya ambruk kelantai. Lidah mereka kelu tidak bisa lagi berbicara, Semakin banyak mereka menggunakan Qi, kesadaran mereka semakin buruk.


Xiao Quan mendekati keduanya dengan tatapan dingin, “ kakak senior, bukankah tadi kalian yang mengatakan kalau membuat beberapa luka  atau mematahkan beberapa tulang disini tidak akan menjadi masalah, bagaimana jika aku mencoba kan untuk kalian”.


keduanya bergidik mendengar perkataan Xiao Quan. menyaksikan ekspresi wajah Xiao Quan yang datar, mereka seakan – akan melihat dewa kematian yang akan menjemput mereka. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, jangankan untuk mengangkat senjata bahkan untuk berbicarapun lidah keduanya menjadi kelu membisu.


Xiao Quan mengangkat kakinya dan menginjak tulang kering sebelah kanan salah satu dari keduanya, “Kraaakkk” terdengar suara retakan tulang yang remuk, tidak ada suara yang keluar dari mulut penjaga itu namun  ekspresi meringis kesakitan yang tak tertahankan terlihat diwajahnya.


“untuk mendapatkan keseimbangan ada baiknya yang kiri juga harus mendapatkan hal yang sama”, Xiao Quan kemudian menginjak kaki sebelah kiri, pria itu meronta lemah hingga tak tahan lagi dengan kesakitan yang dia alami, penjaga itupun akhirnya pingsan.


Sementara itu penjaga yang masih sadar ketakutan melihat Xiao Quan yang tidak segan – segan melumpuhkan temannya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya gelengan kepala pelan yang bisa ia lakukan.


***


Di arena utama, pertandingan terus berlanjut, kali ini yang bertarung adalah Feng Han dengan  Wei Ying. Keduanya memiliki keahlian dalam menggunakan pedang. Ayunan pedang mereka terlihat berirama dan berusaha saling mengalahkan, kecepatan gerak mereka juga terus meningkat. Tusukan demi tusukan terjadi dengan sangat cepat namun belum ada yang mengenai salah satu dari keduanya.


Benturan demi benturan  memaksa keduanya mundur beberapa langkah kebelakang beberapa kali, dengan nafas yang mulai memburu Wei Ying mulai mencari cara cepat mengalahkan Feng Han.


Dibangku penonton, komentar dari para murid terus berkembang, ada yang mendukung Feng han, ada pula yang mendukung Wei ying. Teriakan demi teriakan terdengar menggelegar disaat –saat terjadi bentrokan serangan.

__ADS_1


Wei ying mengalirkan Qi kedalam pedangnya sehingga dengan cepat merubah Aura pedang. Warna yang agak kemerahan muncul menunjukkan Wei ying memiliki akar roh elemen Api.


Tak mau mengambil resiko, Feng Han juga memasukkan Qi kedalam pedangnya membuat aura kuning langsung terlihat oleh mata membuktikan ia memiliki akar roh elemen angin.


Kedua senjata diayunkan dan langsung berbenturan beberapa kali, ledakan – ledakan kecil terjadi. Serangan beruntun dan bergantian memaksa pedang milik Feng han mulai terlihat retakan kecil dibilahnya.


‘jika seperti ini terus senjataku akan hancur, aku harus mencari cara menghadapinya selanjutnya” batin Feng han.


Tidak sampai lima kali benturan , akhirnya pedang milik Feng han hancur berkeping – keping dan ia juga mengalami rebound dari ledakan Qi dari dalam pedangnya yang hancur.


Tidak mau memberikan waktu untuk Wei Ying, “jarum angin” Feng Han melakukan perubahan Qi, ia menembakkan beberapa jarum angin dari tangannya. Tetapi Wei Ying dengan mudah mengatasinya. Ia bahkan membalas serangan Feng Han dengan meningkatkan kecepatan serangannya menjadi dua kali lipat.


Satu sabetan pedang diluncurkan oleh Wei Ying disertai dengan serangan telapak tangan sesudahnya, Feng han menghindari pedang dan menyambut serangan telapak tangan Wei Ying yang penuh dengan energi.


“ boooommm” ledakan terjadi mementalkan keduanya mundur kebelakang dan terjungkal keluar arena.


Mata penonton melotot menyaksikan adegan menegangkan itu dan akhirnya semuanya kecewa karena keduanya pada akhirnya keluar dari arena.


“disebabkan kedua peserta sama – sama keluar dari arena, maka keduanya dinyatakan kalah” Penatua Liu Kang mengumumkan hasil pertandingan.

__ADS_1


Cemoohan keluar dari mulut para penonton yang menyaksikan pertandingan.


__ADS_2