
Jin baru saja sampai rumahnya dengan sedikit mengendap-ngendap. Ia terlambat untuk pulang, hari sudah gelap. Jin melihat handphone miliknya, banyak panggilan dari Zya. Jin melupakan sesuatu hingga ia harus melewati pintu belakang rumahnya.
"Hayooo dari mana aja lo bang?" Ucap Zya sembari cekikikan.
"Diem lo! Eh udah sembuh lo?" Jin menyadari Zya yang memergokinya sudah terlihat lebih ceria daripada kemaren.
"Yaa bisa abang lihat sendiri." Ucap Zya.
"Bagus deh. Momy Dady dimana?" Tanya Jin pelan.
"Ada di ruang tv." Kata Zya mengingat.
"Belum makan malam?" Tanya Jin lagi.
"Belum lah, semuanya lagi nungguin lo. Lo kemana sih bang bikin Momy panik aja." Kata Zya menjelaskan.
"Iya abang lupa ngabarin nih." Kata Jin lagi.
"Kebiasaan kan lupa mulu." Protes Zya.
"Eh mau tolongin gue gak?" Tanya Jin dengan penuh harap.
"Ogah ah." Zya sudah mau beranjak, tapi tangannya segera ditarik oleh Jin.
"Plisss lo tega amat sama abang lo sendiri. Lo gak inget pas semalem sakit." Mohon Jin.
"Ya udah deh, apaan?" Kata Zya pasrah.
"Nih lo bawa tas gue keatas ya, trus ambilin gue handuk sama baju piyama yang udah gue gantung didepan lemari. Buruan ya, gue mau mandi dikamar mandi bawah aja. Udah gatel banget nih." Dengan cepat Jin menjelaskannya kepada Zya.
"Yee siapa suruh baru pulang." Ucap Zya sewot.
"Ya udah sono, cepetan." Jin mendorong sedikit tubuh Zya agar ia jalan.
"Iya iya ribet amat." Celetuk Zya.
Zya segera jalan dengan santai menuju kamar abangnya. Sesampainya dikamar Jin, Zya segera menaruh tas abangnya dan mengambil handuk juga baju piyama yang abangnya pesan tadi. Zya segera menuruni anak tangga. Tanpa disadari Momy melihatnya.
"Sayang, hati-hati turun tangganya." Ucap Momy yang melihat Zya menuruni anak tangga dengan cepat.
"Iya mom." Zya terkejut sesaat mendengar suara momy nya.
"Kamu bawa baju siapa? Kok kayaknya punya abang kamu." Tanya Momy yang melihat Zya sudah turun.
"Iya mom, abang yang minta barusan." Kata Zya sedikit tidak enak. Padahal Jin sudah memberitahunya agar jangan sampai ketahuan.
"Abangmu mana?" Tanya Momy penasaran.
"Lagi mandi dikamar mandi." Zya menunjuk ke kamar mandi yang berada dibawah.
"Oh sudah pulang? Syukur lah, Momy mau panggil bi Iyem dulu buat nyiapin makan malamnya." Ucap Momy lalu pergi.
"Iya mom." Kata Zya.
Zya melihat raut wajah Momy yang tidak bersahabat, sepertinya akan ada sedikit omelan nantinya. Zya segera kekamar mandi dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Bang, nih handuk sama bajunya." Ucap Zya. Terlihat tangan yang menjulur keluar untuk mengambil handuk dan baju itu.
"Makasih ya." Ucap Jin kemudian.
"Bang kayaknya Momy marah deh." Zya mencoba memberi tau abangnya, apa yang Zya lihat tadi.
"Iya." Jawab Jin singkat.
Zya kembali keruang tv dan duduk bersama Dady nya.
__ADS_1
"Dad, momy marah ya sama abang?" Tanya Zya pada Dady nya yang membalas dengan senyuman.
"Nggak kok, Momy cuma khawatir aja tadi." Jawab Dady dengan lembut.
"Tapi kok expresi momy tadi gak seperti biasanya?" Ucap Zya lagi.
"Biarin ajalah nanti juga membaik sendiri." Zya melihat Dady nya yang cukup tenang. Akhirnya Zya pun hanya mengangguk saja.
"Dad, momy mana?" Tiba-tiba Jin datang dengan handuk yang masih dikepalanya.
"Kamu ini, dari mana saja? Pulang sampe larut gini." Ucap Dady langsung.
"Iya maaf Dad, tadi Jin cuma latihan voli disekolah sama anak-anak." Kata Jin sembari meminta maaf.
"Kenapa gak ngabarin dulu?" Tanya Dady lagi.
"Jin lupa Dad." Jawabnya dengan senyumnya yang masam
"Ya udah sana, Momy mu ada didapur. Kamu tau kan apa yang harus dilakukan?" Kata Dady membuat Zya yang mendengarkannya jadi penasaran maksud dari perkataan dady yang terakhir.
"Iya dad, makasih ya." Jin segera pergi kedapur. Jin melihat momy nya yang ada disana bersama bi Iyem. Momy sedang menyiapkan piring-piringnya.
"Emang apa dad, yang bakal abang lakuin ke momy?" Tanya Zya kemudian, setelah Jin sudah pergi.
"Kamu liat aja tuh." Dady menyuruh Zya untuk mengintip agar tau apa maksud dari pertanyaannya.
Zya segera pergi dan bersembunyi melihat dari jauh. Zya melihat Jin yang terus meminta maaf kepada momy, sementara momy tidak menghiraukan kata maaf dari abangnya. Baru kali ini Zya melihat abangnya yang terlihat amat kasihan. Abangnya terus memohon pada momy nya. Zya baru akan menghampiri mereka tapi dengan cepat Jin memeluk momy nya dari belakang sehingga momy pun diam. Jin seperti berbisik pada momy nya dan itu membuat momy berbalik menghadap Jin dan memaafkannya. Melihat hal itu membuat hati Zya tersentuh. Seperti perasaan rindu pada ibunya. Zya masih melihat abangnya yang memeluk momy sembari mengajaknya bercanda hingga momy tertawa. Tak terasa air mata Zya menetes dipipinya. Tiba-tiba tangan Dady menepuk bahu Zya, membuat Zya tersadar dan langsung menghapus air matanya.
"Sudah lihat kan?" Tanya Dady dengan tatapan lurus kedepan melihat ibu dan anak yang sedang bersenang-senang.
"Iya dad." Ucap Zya.
"Begitulah momy sangat menyayangi Jin. Dulu saat kamu tidak ada dan Dady sering sekali keluar kota membuat momy nya merasa kesepian. Hanya Jin lah temannya dirumah ini. Sampai pada akhirnya Jin menginginkan adik perempuan. Dan momy mengandung adiknya, tetapi suatu kecelakaan terjadi. Jin tidak sengaja menendang perut momy nya dan hal itu membuat Jin kehilangan adik perempuannya. Jin sangat sedih saat itu hingga membuat ia depresi. Momy selalu menemaninya, tapi Jin selalu menyalahkan dirinya. Hingga momy mengadopsi kamu. Dan Jin kembali ceria. Jin tidak ingat apapun saat itu, hingga ia mengira bahwa kamu benar-benar adik perempuan yang ada dikandungan momy nya." Zya mendengarkan perkataan Dady nya dengan seirus. Begitu besarnya kasih sayang momy untuk Jin, tapi Zya pun tidak pernah merasa kekurangan kasih sayangnya dikeluarga ini. Zya mencium tangan Dady nya.
"Terima kasih Dad, Zya sangat bahagia menjadi bagian dari keluarga Dady, Momy, dan abang Jin. Zya janji bakal jadi adik perempuan Jin yang baik. Meskipun misalnya nanti Zya akan bertemu dengan keluarga Zya sendiri, Zya akan tetap bersama Dady, Momy, dan abang." Ucap Zya dengan sepenuh hatinya.
Zya merasa bersalah jika ia meninggalkan keluarga ini. Kasih sayang yang sudah keluarga ini berikan pada Zya tidak akan mampu membalasnya dengan apapun itu. Zya mulai berpikir bagaimana nanti kalau Jin tau yang sebenarnya dan bagaimana nanti kalau Zya sudah bertemu dengan keluarganya yang sesungguhnya? Ini adalah pilihan yang sulit dan Zya tidak mau melukai perasaan siapa pun termasuk abangnya yang selama ini juga sudah merawat Zya dengan baik.
----*----
V baru saja sampai dirumahnya dan segera melepas sepatunya. Melihat garasi rumahnya yang penuh dengan mobil, sudah pasti mami papi nya ada dirumah. V segera masuk, dan mendengar percakapan yang tidak menyenangkan.
"Sekarang papi mau tanya. Buat apa kamu ikutan bela diri itu? Emang bisa ngasilin duit? Hah? Kamu, hp aja gak bisa dijaga sok-sok an mau ngelindungin orang!" Ucap Papi tegas pada Jungkook yang sudah duduk dikursi dengan wajah yang sedikit menunduk.
"Pi udah pi, lagian kan cuma hp aja bisa beli lagi." Ucap Momy berusaha memihak pada Jungkook.
"Gak bisa gitu dong mi, ni anak selalu gak mau dengerin apa kata papi. Papi pengennya kamu itu nerusin perusahaan papi aja, belajar yang rajin, yang sungguh-sungguh! Bukan latihan ini itu, olahraga apalah itu!" Kata Papi lagi.
"Tapi kan itu kegemaran dia pi, liat tuh piala dia juga banyak menangin segala bidang." Mami nya tetap tidak mau kalah.
"Alaahh! Pokonya papi gak mau tau, mulai sekarang kamu dilarang latihan-latihan lagi! Mau jadi apa kamu? Anak berandal? Yang suka berantem-berantem sana sini!" Bentak papi nya.
"Kooki kamu yang sabar ya, papi kamu emang gitu gak usah dimasukin kehati." Mami duduk disamping Jongkook dan mengelus punggung Jungkook untuk menenangkannya.
"Oh ya satu lagi, masalah hp papi gak mau tau. Papi gak bakal kasih uang buat beli hp baru." Kata Papinya lagi.
"Kalau papi gak mau ngasih! Biar mami aja yang ngasih. Mami juga bisa beliin hp yang besar buat Jungkook, lebih besar dari pada punya papi!" Kali ini suara maminya terdengar lebih keras dari pada sebelumnya.
"Up to you!" Papi pergi kekamarnya.
"Kooki dengerin kata mami. Apapun yang kamu suka, kamu lakukan dan apapun yang kamu gak suka jangan kamu lakukan. Ada mami disini yang akan terus support kamu." Mami mengangkat wajah Jungkook yang sudah dipenuhi dengan air matanya. Mami juga menghapus air mata Jungkook dengan pelan. Jungkook sudah berusaha untuk menahan air mata ini tapi hatinya tetap saja terasa sakit. Disaat seorang ayah yang harusnya menjadi pahlawan dan tempat berlindung untuk Jungkook, malah tidak pernah memikirkan sedikit pun perasaan Jungkook.
V masuk dengan pelan, melihat adiknya yang sudah selesai disidang oleh ayahnya. V juga merasa dirinya bersalah. Harusnya ia dengan cepat mengembalikan hp itu pada Jungkook, tapi sudah terlambat.
"V? Kamu kemana aja jam segini baru pulang?" Tanya mami yang menyadari V datang. V tidak segera menjawab pertanyaan maminya. Ia menuju Jungkook.
__ADS_1
"Ini hp lo, tadi ketinggalan dikantin." V menyodorkan hp Jungkook. Jungkook mengambil hp itu.
"Makasih ya." Jungkook berdiri dan hendak pergi kekamarnya. "Jungkook keatas dulu mi." Katanya lagi.
"Iya sayang." Jawab mami nya. V melihat Jungkook yang terlihat amat sedih.
"V nyusul kooki dulu mi." Ucap V kemudian.
"E eh, kamu belum jawab pertanyaan mami. Kamu dari mana aja jam segini baru pulang?" Mami menarik baju V.
"Habis latihan voli mi." Ucap V dengan cepat.
"Kenapa gak ngabarin dulu ke adikmu?" Tanya Mami kemudian.
"Tadi sepulang sekolah V udah nyari Jungkook mi tapi gak ketemu. Mungkin Jungkook pulang lebih awal jadi V gak ketemu Jungkook mi." V menjelaskan.
"Ya udah, kamu temenin adikmu itu. Kasihan dia dimarahin abis-abisan sama papi kamu gara-gara kamu pulangnya larut gini." Ucap mami menjelaskan.
"Iya mi." Jawab V pelan lalu naik keatas.
V tau ia salah. Ia segera menaruh tasnya dan langsung kekamar Jungkook. V belum mengganti bajunya, juga belum membersihkan dirinya. V mengetuk pintu kamar Jungkook.
"Kooki, gue masuk ya?" Tidak ada jawaban. V akhirnya membuka pelan pintu kamar Jungkook. Terlihat Jungkook sedang berbaring dikamarnya. V menutup kembali pintu itu dengan pelan dan menghampiri Jungkook. V langsung ikut merebahkan dirinya disamping Jungkook dan memeluk Jungkook.
"Gue minta maaf ya. Gara-gara gue, lo jadi diomelin sama papi." Ucap V dengan tulus.
"Gak papa kok bang." Jawab Jungkook.
"Apapun yang papi bilang, jangan lo masukin kehati. Gue sebagai abang lo akan terus dukung lo kok." V mencoba menenangkan Jungkook yang masih berkaca-kaca.
"Makasih bang." V masih merasa Jungkook cuek dengan jawabannya.
"Kalau gue jadi papi, gue bakal bangga banget punya anak kayak lo. Udah pinter bela diri, pinter disekolah juga, dapet banyak piala, ---"
"Tapi itu semua sampah dimata papi." Ucap Jungkook memotong obrolan V.
"Lo jangan gitu. Ada mami sama gue yang bangga sama lo." Ucap V kemudian.
"Gue rasa papi lebih sayang sama lo gak kayak mami yang sayang sama gue dan lo. Sebenarnya apa sih yang membedakan gue sama lo di mata papi. Semua yang gue lakuin, selalu salah dimata papi. Tapi lo, apapun yang lo lakuin pasti benar dimata papi. Lo yang pulang larut aja, gue yang disalahin." Jungkook melepaskan uneg-uneg didalam hatinya. V mendengarkan apa yang Jungkook katakan.
"Yang penting masih ada mami yang sayang sama lo." Ucap V masih mencoba tenang.
"Lo bisa bilang gitu, karena lo gak ada diposisi gue." Kata-kata Jungkook menusuk ke dalam hati V.
"Nggak, lo gak boleh bilang gitu. Meskipun gue gak ada diposisi lo tapi gue juga bisa rasain apa yang lo rasa." V juga mulai meneteskan air matanya. "Dengerin gue." V memegang pipi Jungkook dan memaksanya agar melihat dirinya. "Apapun yang terjadi, gue adalah orang pertama yang bakal selalu dukung lo dan gue adalah orang yang paling sayang sama lo. Kemana pun lo pergi, gue akan ada dibelakang lo."
Keduanya pun berpelukan dan menangis bersama. Jungkook melepaskan rasa sakitnya, V bisa merasakan itu. Ia menguatkan Jungkook agar tidak memikirkan omongan papinya tadi. Setelah Jungkook merasa tenang, ia segera menghapus air matanya dan berusaha membuat wajahnya kembali ceria . Mereka tersenyum bersama. Sampai pada akhirnya Jungkok menyadari sesuatu.
"Lo kok bau bang? Lo belum mandi ya?" Ucap Jungkook yang merasakan bau-bau tidak sedap didekatnya.
"Hehe iya." V cengengesan melihat Jungkook menyadari akan hal itu.
"Iihh keringetan! Pergi mandi sana lo." Jungkook menutup hidungnya dengan dua jarinya.
"Emang bau ya?" V mencoba mencium badannya.
"Jorok tau." Ucap Jungkook.
"Ya udah deh gue mandi dulu deh." V segera bangun dari tempat tidur Jungkook.
"Ya udah sono." Jungkook mendorong tubuh V pelan menyuruhnya untuk beranjak.
"Heee." V pun keluar dari kamar Jungkook.
Sesampainya diluar kamar Jungkook, V masih penasaran dan mencium badannya lagi.
__ADS_1
"Emang bau sih, ya udah lah gue mandi." Ucapnya kepada dirinya sendiri. V segera mengambil handuk dan pergi kekamar mandi.