ZyaKarin

ZyaKarin
Part 24


__ADS_3

Hari ini Zya memutuskan untuk masuk sekolah. Tidak peduli larangan dari abangnya lagi. Sudah dua hari ia tidak masuk sekolah, sahabatnya pun sudah mulai mengkhawatirkan nya. Terlebih lagi, Zya dapat kabar dari Violet bahwa Jimin mencarinya kemarin. Zya memakai seragamnya dengan rapi dan sepatunya.


"Dek!" Terdengar abangnya yang sedang berteriak dibalik pintu kamar Zya.


"Iya bang?" Jawab Zya dengan terburu-buru untuk turun. Betapa kagetnya Zya ternyata abangnya hanya usil saja memanggilnya agar cepat keluar. Jin sudah ada dimeja makan dan menyantap sarapannya.


Zya menggelengkan kepalanya, sudah tidak heran lagi dengan kelakuan makhluk satu ini. Zya pun turut ikut sarapan bersama abangnya.


"Dek lo gak mau bareng gue aja?" Tanya Jin disela-sela sarapannya.


"Gak usah. Gue kan naik motor." Jawab Zya.


"Lo naik mobil gue deh, biar gue yang naik motor lo." Kata Jin lagi.


"Nggak nggak, gue lebih nyaman naik motor gue." Ucap Zya menolak.


"Tapi lo udah gak pusing lagi kan?" Tanya Jin lagi, masih belum percaya kalau adiknya ini sudah betul-betul fit.


"Nggak." Jawab Zya pasti.


"Ya udah gue jaga lo dari belakang." Zya mengangguk setuju. Zya tau kekhawatiran abangnya terhadap dirinya, jadi ia pun mengizinkan Jin untuk berada dibelakangnya nanti.


Setelah selesai dengan sarapannya. Jin dan Zya segera berangkat dan tak lupa juga berpamitan kepada Momy. Seperti yang sudah disepakati sebelumnya, Jin akan menjalankan mobilnya tepat dibelakang motor Zya. Jin hanya ingin memastikan agar adiknya itu selamat sampai sekolah.


Setibanya disekolah, Jin memarkirkan mobilnya begitu juga Zya. Disana mereka sudah tidak bertegur sapa lagi, bagaikan dua orang yang tidak saling mengenal. Zya melihat Jin bukan seperti abangnya yang dirumah tapi lebih seperti seorang laki-laki yang memiliki kepribadian yang dingin. Zya berjalan pelan, menuju kelasnya. Di koridor, ia tidak sengaja bertemu dengan Stella kemudian ia dan Stella berjalan bersama. Tidak sengaja mereka melihat Jimin yang berjalan berlawanan arah. Zya memperhatikan kakak kelasnya itu. Tapi ternyata Jimin melewati Zya begitu saja. Stella yang melihat akan hal itu menjadi geram.


"Kemaren dia nyariin lo. Sekarang berpapasan sama lo, tu orang malah cuek. Apa sih maunya?" Ucap Stella terlihat kesal.


"Udah La biarin aja." Kata Zya santai.


"Pokoknya lo jangan sampai berurusan lagi ya sama kakak kelas itu. Gue rasa lo bakal diseret ke masalah lagi." Zya hanya diam tidak menjawab perkataan Stella dan melanjutkan perjalanannya menuju kelas.


Setelah sampai dikelas, mereka disambut oleh Violet yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Aaa sahabat guee akhirnya masuk juga." Violet memeluk Zya pelan. "Gimana? Lo masih ada yang sakit?"


"Udah nggak kok." Ucap Zya sembari tersenyum.


"Gue kangen nih."Kata Violet yang terlihat senang.


"Mmm sama gue juga." Kata Zya.


"Iya Zya, gak ada lo kayaknya ada yang kurang gitu." Kata Stella.


"Betul banget." Ucap Violet.


Mereka akhirnya duduk dan berbincang-bincang. Menceritakan segala hal yang sudah mereka lewati tanpa adanya Zya. Tak lupa juga membahas beberapa pelajaran yang sudah ketinggalan oleh Zya.


Tiba-tiba Stella merasa ingin ketoilet. Tanpa basa-basi ia langsung pergi keluar kelas dan berlari. Violet dan Zya yang melihatnya cukup dibuat kaget. Saat Stella pergi, Violet memberikan sebuah pesan yang dititipkan kepadanya.


"Zya, tadi Jimin datang ke gue." Ucap Violet tiba-tiba.


"Hm? Maksudnya?" Zya masih tidak mengerti ucapan Violet.


"Dia ngasih pesan katanya mau ketemu lo nanti sepulang sekolah. Ada yang mau dia bicarain." Lanjut Violet memberi penjelasan.


"Kenapa gak bilang langsung ke gue?" Ucap Zya seperti sedikit kecewa.


"Karena dia lihat lo lagi sama Stella katanya. Lo tau sendiri kan Stella anaknya kayak gimana?" Zya mengangguk mengerti.


"Dia minta ketemu dimana?" Tanya Zya lagi.


"Ditaman depan sekolah." Ucap Violet dengan pasti.


"Oh oke deh. Nanti coba gue temuin." Jawab Zya dengan senang hatu.


"Lo gak mau ajak gue?" Tanya Violet.


"Hmm nggak deh. Gue bisa sendiri kok." Ucap Zya. Meskipun sebenarnya ia tidak mau sendirian menemui kakak kelas itu, tapi Zya tau mungkin ada sesuatu yang penting atau lebih ke privasi. Zya juga tidak ingin sahabatnya ini terlalu terjerumus kedalam kehidupannya.


"Hmm ya udah deh." Ucap Violet dengan pasrah.


"Makasih ya." Kata Zya dengan senyumnya yang lebar.


"Iya sama-sama." Ucap Stella sembari tersenyum. "Zya gue boleh bilang sesuatu gak?"

__ADS_1


"Apa? Bilang aja." Ucap Zya sedikit penasaran.


"Kalau gue lihat-lihat lo ada sedikit kemiripan sama Jimin." Ucap Violet mengeluarkan semua uneg-uneg dipikirannya.


"Apa sih lo? Gak jelas banget." Kata Zya masih tidak percaya.


"Boleh gue buka kacamata lo?" Zya pun diam membiarkan Violet membuka kacamatanya. "Gue sebenarnya gak percaya ini sih Zya. Tapi gue rasa, Jimin itu kakak kandung lo deh."


"Gue harus nemuin bukti dulu." Zya memakai kacamata nya kembali.


"Kenapa lo gak coba lepas kacamata aja disekolah ini. Asli lo cantik banget Zya." Violet pun baru pertama kali melihat Zya yang melepas kacamatanya. Walaupun Zya sudah terlihat cantik dengan kacamata itu, tapi ada sesuatu yang beda ketika Zya melepas kacamata itu.


"Nggak Vi, gue udah nyaman pakek kacamata ini." Ucap Zya.


"Ya udah deh." Violet pun tidak lagi memaksa Zya.


----*----


Saat beristirahat. Zya, Violet dan Stella pergi kekantin. Zya melihat kearah lapangan dan menemukan abangnya yang sedang bermain voli bersama teman-temannya.


"Tumben ada yang main Voli pas jam istirahat gini." Ucap Zya pelan.


"Oh itu, gue denger-denger sekolah kita bakal ngadain pertandingan Voli nanti." Ucap Stella yang mendengar gumaman Zya.


"Oh ya?" Tanya Zya sedikit kaget.


"Iya." Jawab Stella.


"Tapi gue kok gak denger apa-apa?" Tanya Violet yang merasa heran.


"Gue dengernya diem-diem sih. Gak tau deh itu isu atau gimana." Stella lalu menjelaskan.


"Lo suka banget ya nguping-nguping gitu." Kata Violet julid.


"Bukan gue, kuping gue denger sendiri. Lagian siapa suruh ngomongnya keras-keras." Protes Stella.


"Emang lo denger dari siapa La?" Tanya Zya yang ikut penasaran.


"Gue denger tadi pagi pas ada kakak-kakak kelas lagi ngobrol." Jawab Stella.


Mereka melanjutkan perjalanannya kekantin kemudian membeli beberapa makanan. Violet mengajak kedua sahabatnya itu untuk makan diluar kantin sambil menonton permainan voli dilapangan. Kedua sahabatnya pun setuju dan mereka segera mencari tempat yang teduh untuk menonton kakak kelasnya yang sedang bermain voli.


Zya fokus melihat abangnya yang bermain. Jujur Zya sendiri pun terpukau dengan permainan yang dibawakan oleh abangnya itu. Tidak percaya bahwa abangnya sangat mahir dalam permainan ini. Zya juga melihat Jimin yang fokus bermain. Tanpa ia sadari V juga ada disana. Ketika kedua pasang mata itu bertemu, Zya sedikit kaget membuat dirinya tersedak. Seseorang mengulurkan botol minum dan langsung Zya terima. Zya meminum air botol itu tanpa tau siapa yang memberinya. Kedua sahabatnya melihat Zya dengan tatapan kaget sekaligus heran.


"Makasih ya." Zya melihat kesamping kirinya, ada Jungkook yang sedari tadi menatapnya dengan senyumannya. Zya sedikit terbatuk lalu mengalihkan pandangannya.


"Sama-sama. Lain kali hati-hati kalau makan." Ucap Jungkook kemudian.


"Iya." Ucap Zya dengan malu, sehingga terlihat merah tomat dipipinya.


"Kemarin-kemarin gue gak kelihatan lo disekolah. Lo sakit?" Tanya Jungkook.


"Iya, cuma kecapekan aja kok." Jawab Zya dengan tersenyum.


"Ooh." Ucap Jungkook tenang.


"Kak, kakak yang ikut extra lukis itu kan?" Violet tiba-tiba menyambar.


"Iya, lo ikut extra itu juga kan?" Ucap Jungkook mengingat-ingat wajah Violet.


"Iya." Jawab Violet dengan senang. Ia takut Jungkook mengabaikan pertanyaannya.


"Jadi lo kenal sama dia Vi?" Tanya Zya kepada Violet.


"Nggak sih, cuma tau aja." Jawab Violet dengan apa adanya. Karena Violet rasa ia juga tidak pernah berkenalan dengan Jungkook sebelumnya.


"Iya, gue juga baru ngomong sama dia sekarang. Lukisan lo bagus." Ucap Jungkook menyambung.


"Makasih, tapi masih bagusan lukisan lo. Punya lo kan selalu dikoment baik sama guru, punya gue masih ada kritikannya." Ucap Violet yang senang, ternyata masih ada yang bilang kalau lukisan miliknya terlihat bagus.


"Gak papa, menurut gue itu udah bagus kok." Kata Jungkook.


"Berarti lo pinter lukis dong?" Tanya Zya penasaran dengan Jungkook.


"Hmm lumayan lah." Jawab Jungkook tidak mau terlalu sombong.

__ADS_1


"Nggak Zya, dia beneran jago banget nglukisnya." Bantah Violet.


"Kalau gitu lo juga bisa ngdesain dong?" Ucap Stella tiba-tiba yang sedari tadi hanya menyimak.


"Mm bisa." Kata Jungkook.


"Boleh liat gak?" Tanya Stella yang penasaran.


"Boleh, bentar ya gue ambil dulu." Jungkook pergi meninggalkan Zya dan teman-temannya. Ia pergi kekelasnya mengambil satu buah buku yang terdapat beberapa lukisan desain yang ia buat.


"Lo usil banget sih La, nyuruh dia buat ambil buku segala." Protes Zya merasa tidak enak kepada Jungkook.


"Gue bukan usil Zya, tapi gue beneran mau lihat aja. Kebetulan mama gue lagi nyari desain baju terbaru. Mungkin dia punya desain yang bagus." Zya hanya bisa diam mendengarkan penjelasan Stella. Tak lama kemudian Jungkook datang dan membawa sebuah buku ditangannya.


"Nih, coba deh lo liat-liat." Jungkook memberikan buku itu kepada Stella. Stella dengan senang hati mengambil buku milik Jungkook. Mereka bertiga melihat satu persatu desain hasil karya Jungkook.


"Waaah bagus banget." Violet yang pertama kali memuji hasil desain milik Jungkook.


"La ini bagus." Kata Zya.


"Tunggu dulu gue mau lihat yang lain." Ucap Stella yang maaih belum puas melihat-lihat.


"Bagus-bagus La, lo pasti bingung milihnya." Ucap Violet dengan pasti.


"Nggak kok." Jawab Stella tenang. Ia tau betul selera mamanya.


"Eh eh La gue saranin yang ini. Fix ini." Violet tiba-tiba menghentikan gerakan tangan Stella.


"Sama, gue setuju." Zya pun ikut menyetujuinya.


"Hmmm kalau gue pinjam ini boleh gak?" Tanya Stella agak sedikit ragu-ragu.


"Boleh. Emang mau lo buat apaan?" Tanya Jungkook yang penasaran.


"Mama gue punya butik, dia pengen ada sesuatu yang baru dibutiknya. Mungkin gambaran lo ini bisa bantu mama gue." Jawab Stella dengan penjelasannya.


"Oh ya udah lo bawa aja." Kata Jungkook dengan senyum tipisnya.


"Makasih ya, nanti janji gue balikin." Jungkook mengangguk setuju.


Tidak terasa mereka lama mengobrol. V melihat semua kejadian itu. V akui Jungkook lebih unggul darinya dalam mendekati Zya. Bahkan teman-teman Zya pun ikut senang ketika bersama Jungkook. V sedikit merasa kesal dengan dirinya. Pesan yang ia kirim kepada Zya juga tak kunjung Zya balas. V dengan emosinya melakukan smash yang sangat keras sehingga hampir mengenai Jimin. Beruntungnya Jimin segera menghindar mengetahui situasinya.


Zya dengan jelas melihat perbuatan V. Setelah itu mereka menyudahi permainan ini. Jin dan teman-temannya pergi kekantin untuk beristirahat.


----*----


Sepulang sekolah, Zya berjalan dengan pelan menuju tempat motornya yang diparkir. Pikirannya sedang tidak stabil. Detak jantungnya bertambah cepat. Waktu yang terus saja berjalan, membuatnya telah sampai ditaman depan sekolah. Satu harapan yang terlintas, semoga ia datang lebih dulu daripada Jimin. Tapi harapan itu tidak terkabulkan. Zya melihat Jimin sedang berdiri menunggunya. Jelas, Zya mengenalnya walau hanya dilihat dari belakang saja.


Zya berjalan kearahnya. Tepat berada dibelakangnya. Keraguan menyelimuti dirinya. Bagaimana caranya ia akan menyapa laki-laki ini. Masih dengan pikirannya.


"Eh lo udah datang?" Tiba-tiba Jimin membalikkan badannya dan membuat Zya kaget.


"I iya." Ucap Zya gugup saking kagetnya.


"Duduk disitu dulu yuk." Jimin mengajaknya untuk duduk sembari mengobrol.


"Kakak mau ngomong apa ya?" Tanya Zya tidak berani berkata lebih panjang lagi.


"Belakangan ini gue gak lihat lo disekolah. Lo sakit? atau Angel ---" Zya segera memutus kata-kata Jimin.


"Gak ada hubungannya sama kak Angel kok. Gue murni sakit karena kecapekan aja." Ucap Zya menjelaskan.


"Ooh gue sempet khawatir sih. Takutnya ini gara-gara Angel." Kata Jimin terlihat ia sedang menunduk. "Gue boleh minta akun sosmed lo? Ata nomer kontak lo gitu? Nanti kalau lo ada apa-apa bisa hubungin gue."


"Hmm." Zya berpikir sejenak. Tidak ada salahnya juga kalau ia bertukar akun sosmed dengan Jimin. Dengan begitu ia bisa lebih tau siapa Jimin sebenarnya. Zya kepikiran apa yang dikatakan Violet tadi pagi. "Boleh. Ini nama sosmed gue @Z2*****"


"Pantesan aja gue cari pakek kata kunci nama lo gak muncul. Ternyata lo pakek nomer." Jimin segera mencari akun sosmed yang Zya sebutkan.


"Iya. Itu tanggal lahir gue." Ucap Zya. Zya berharap angka itu bisa membantunya bertemu dengan keluarganya.


"Cantik tanggalnya. Gue udah kirim pesan ke lo." Puji Jimin sembari tersenyum.


"Makasih." Ucap Zya membalas senyuman Jimin.


Jimin tidak kepikiran untuk menanyakan tanggal lahir adiknya. Sampai sekarang pun ia tidak tau tanggal lahir adiknya. Cukup sulit, Jimin hanya mempunyai foto masa kecil adiknya dan sedikit ciri-cirinya. Sudah pasti adiknya itu tumbuh menjadi gadis yang cantik sekarang. Melihat Zya, Jimin jadi teringat akan adiknya. Perasaan yang memiliki sebuah ikatan dekat dirasakan oleh Jimin dan Zya. Tapi mereka masih ragu satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2