
Zya sedang bersiap-siap untuk pergi ke pemakaman ibunya. Sementara Jimin dan ayahnya sudah menunggu di ruang depan. Zya menghampiri mereka ketika sudah siap.
"Ayah aku sudah siap." Ucap Zya memberitahu ayahnya.
"Kalau gitu ayo kita berangkat." Kata ayah kemudian.
Mereka memakai satu mobil yang di kemudikan oleh Jimin. Jimin menyetir dengan sangat hati-hati, sementara Zya memberitahukan arah jalan kepada Jimin. Dengan cepat mereka telah sampai di tempat tujuan. Zya dan keluarganya turun dari mobil. Zya memimpin jalan mereka menuju tempat pemakaman ibunya.
"Ayah, kak Jimin ini makam ibu." Ucap Zya setelah berhenti berjalan. Dan tepat di depannya adalah makam yang ia maksud.
Ayah dan Jimin berlutut. Sekilas mereka membaca tulisan di batu nisan yang masih terlihat jelas. Ayah mulai terisak. Teringat kembali kenangan-kenangan indah bersama istrinya. Kenangan yang akan terus melekat di dalam hatinya. Jimin pun juga mulai terdengar isakannya. Zya memegang pundak ayah dan kakaknya.
"Jadi sudah lama ya." Ucap ayah sembari melihat kembali tulisan di batu nisan tersebut.
"Iya ayah." Jawab Zya lirih.
Jimin menaruh sebuah bunga didekat batu nisan sang ibu. Menurut ayahnya, ini adalah bunga kesukaan ibu mereka. Hari terlihat sangat mendung. 'Sepertinya hujan akan turun' batin Zya. Zya menatap ke arah Jimin memberikan kode bahwa hujan akan segera turun. Jimin mengangguk paham.
"Ayah, sepertinya hujan akan turun. Ayo kita kembali ke mobil. Ayah bisa mengunjungi ibu lagi nanti." Ucap Jimin. Melihat ayahnya tak kunjung merespon, "Ayah ingat? Akhir-akhir ini ayah gampang masuk angin, ayo kita kembali." Lanjut Jimin lagi sembari menarik tangan ayahnya pelan.
"Benar ayah. Kita takut ayah kenapa-kenapa kalau kehujanan." Kata Zya membenarkan ucapan Jimin.
Ayah diam sejenak.
"Kalian pergilah dulu ke mobil, ayah akan menyusul nanti." Ucap ayah kemudian.
Zya menatap ke arah Jimin, melihat reaksi yang akan Jimin berikan. Jimin terlihat menarik nafas sebentar.
"Baiklah ayah, aku dan Zya akan tunggu di mobil." Ucap Jimin dengan penuh pertimbangan.
__ADS_1
Zya sempat menolak perkataan Jimin, tapi Jimin menarik tangan Zya sehingga Zya mengikuti Jimin yang pergi meninggalkan ayahnya sendiri.
"Kak kok dibiarin sih?" Protes Zya ditengah mereka berjalan.
"Udah biarin aja. Mungkin ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan ke ibu tanpa harus kita dengar. Lo tenang aja kita tunggu di mobil dan kalau hujan turun ayah masih belum balik-balik juga, kita samperin ayah." Ucap Jimin menjelaskan.
Zya hanya mengangguk setuju setelah mendengar penjelasan dari Jimin. Setelah di pikir-pikir mungkin benar juga apa yang dikatakan Jimin. Mereka berjalan dengan pelan. Sesekali Zya menengok ke belakang, melihat ayahnya yang masih tak kunjung berdiri dari tempatnya.
---*---
"Sayang bagaimana kabarmu? Pasti kau sangat bahagia di tempat barumu. Maaf aku datang terlambat. Kau benar, anak perempuan kita tumbuh sangat cantik. Kau tau? Dia sangat mirip denganmu. Senyumannya sama dengan kakaknya, Jimin. Apa kau juga merindukanku? Ah aku sangat merindukanmu." Ayah berhenti sejenak, air matanya keluar dengan sangat deras. "Aku akan memenuhi janjiku kali ini. Apa pun kondisinya, aku akan selalu berbahagia dengan anak-anak kita. Sangat disayangkan, kamu sudah tidak disini padahal aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu. Tapi tidak apa, ini adalah takdir yang Tuhan berikan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku akan sering mengunjungimu nanti." Ayah berhenti lagi memandangi langit yang sudah mulai terlihat gelap, padahal ini masih sore hari. "Sayang, langit sudah gelap. Haruskah aku kembali? Yah aku akan kembali." Ayah mengusap air matanya. Ia menarik nafas lega. Setetes air jatuh dari atas. Itu adalah air hujan. Ayah menyadari akan hal itu, kemudian berdiri. "Jaga dirimu baik-baik di sana. Tunggu aku sampai waktunya tiba. Aku akan kembali, anak-anak sudah menungguku di mobil." Ucap ayah lalu tersenyum. Setelah itu ayah bergegas pergi dari tempat pemakaman istrinya. Hujan masih turun dengan rintik-rintik.
Jimin dan adiknya menunggu di luar mobil.
"Kak ayo kita susul ayah, sebelum hujannya semakin deras." Ucap Zya yang terlihat khawatir karena sebentar lagi, hujannya pasti turun dengan lebat.
"Dek lihat." Ucap Jimin sembari menunjukkan arah.
"Dek, Lo tunggu sini. Kalau hujannya mulai besar, Lo langsung masuk ya. Gue samperin ayah dulu, takut gak keburu." Ucap Jimin lalu dengan cepat pergi dari tempat Zya.
"Oke kak." Ucap Zya setuju.
Zya masih melihat Jimin dan ayahnya dari kejauhan. Jimin masih berusaha agar cepat sampai ke ayahnya. Dan tepat disaat hujan mulai turun dengan deras, Jimin sudah mendapatkan ayahnya. Mereka langsung memakai payung bersama. Zya juga melihatnya dengan jelas. Ia langsung masuk ke mobil sebelum dirinya juga basah karena hujan yang turun cukup deras. Zya masih bisa melihat kakaknya dan ayahnya dari kaca mobil. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di mobil. Dengan cepat Jimin membukakan pintu mobil untuk ayahnya. Mereka segera pergi dari sana.
---*---
"Dek Lo ngapain?" Tanya Jimin yang menghampiri Zya.
"Gue lagi ngerjain PR gue." Jawab Zya sembari menulis dibukunya.
__ADS_1
Jimin datang mendekat dan sekilas melihat PR yang Zya kerjakan.
"Mau main game gak habis ini?" Tanya Jimin menawarinya. Sebenarnya ia sedang bosan.
"Main game? Game apaan?" Tanya Zya. Zya tidak pernah bermain game selain game dilaptopnya. Dan game itu sudah merasa membosankan untuknya.
"Ada. Gue punya beberapa game diruangan komputer. Lo mau?" Tanya Jimin lagi memastikan.
"Boleh. Tunggu bentar lagi ya." Ucap Zya dengan semangat.
"Ok." Jimin duduk disamping Zya sembari meminum minuman yang ia bawa sendiri.
"Oke, sudah selesai." Ucap Zya sedikit mengagetkan Jimin yang tadinya hanya diam melamun.
"Kok cepet banget?" Tanya Jimin dengan heran.
"Iya dong. Yuk." Zya segera menutup bukunya dan langsung berdiri mengajak Jimin untuk beranjak.
Jimin mengangguk dan mengikuti Zya.
"Lo ke sana dulu. Gue mau ambil minum sama cemilan. Ada yang mau Lo minum?" Ucap Jimin sembari menawarkan minuman kepada Zya.
"Hmm ada susu gak?" Tanya Zya.
"Kayaknya ada. Nanti gue ambilin." Ucap Jimin sembari mengingat isi kulkasnya.
"Kalau gak ada, apa aja deh boleh pokoknya yang manis." Kata Zya memberi clue.
"Siap." Ucap Jimin.
__ADS_1
Zya segera pergi keruangan komputer yang Jimin maksud sementara Jimin pergi ke kulkas yang letaknya di ruang keluarga. Jimin mengambil keranjang kecil disamping kulkasnya lalu memasukkan beberapa cemilan dan minuman yang ingin ia bawa. Tak lupa juga, susu pesanan Zya. Awalnya Jimin bingung, karena stok susu yang ia punya ada tiga varian, yaitu coklat, strawberry, dan vanila. Akhirnya Jimin memilih untuk mengambil varian strawberry. Ia ingat kata ayahnya, adiknya suka dengan Strawberry.