ZyaKarin

ZyaKarin
Part 50


__ADS_3

"Kok balik Min?" Tanya Jin yang melihat Jimin sudah berjalan kearahnya.


"Udah ada V tuh." Kata Jimin menjawab pertanyaan Jin.


"V? Sejak kapan tu anak?" Tanya Jin yang keheranan.


"Entah. Gue kesana katanya dia aja yang nganter." Ucap Jimin menjelaskan.


"Oh ya udah deh." Kata Jin tidak mau mengambil pusing.


"Lo ngerasa gak?" Tanya Jimin yang tiba-tiba membuat Jin kebingungan.


"Apa?" Tanya Jin kurang mengerti.


"Kayaknya V suka deh ke adek Lo." Ucap Jimin langsung.


"Masa iya?" Kata Jin yang masih tidak percaya.


"Ya makanya gue tanya. Lo ngerasa gak?" Kata Jimin lagi mengulang pertanyaan pertama.


Jin diam berpikir sejenak. "Gue ngiranya adek gue suka sama Jungkook." Ucap Jin kemudian.


"Jungkook? Dia kan sering bareng sama temennya adek Lo itu." Ucap Jimin yang ingat akan Jungkook.


"Iya juga sih. Ah biarlah, gak tau gue. Ngapain juga nggosipin adek gue." Ucap Jin yang mau berpikir keras sekarang.


Jimin hanya menarik nafas sejenak. Jin kembali berlatih.


----*----


"Lo kalau gak ada tebengan, nebeng ke gue aja. Gue seneng kok. Nebeng tiap hari juga gak papa. Mau keliling dunia juga ayok." Ucap V sembari tersenyum.

__ADS_1


"Masalahnya gue yang gak mau." Celetuk Zya tanpa basa-basi.


V tertawa kecil melihat tingkah laku Zya yang terus menolaknya tapi semua itu bisa V atasi dengan caranya sendiri.


"Oke sekarang kita mau kemana?" Tanya V memberikan Zya pilihan padahal ia tau kalau Zya hanya ingin pulang. Tapi tidak semudah itu. V sudah merencanakan sesuatu untuknya.


"Ya pulang lah, Lo mau bawa gue kemana?" Tanya Zya yang sedikit kesal. Walaupun ia harus berterima kasih pada akhirnya karena telah mengantarnya pulang.


"Pulang ke rumah gue ya?" Kata V menggoda Zya.


"Turunin gue disini!" Ucap Zya, kali ini benar-benar kesal.


"Eh nggak-nggak canda, galak banget." Kata V sembari sesekali melihat ke arah Zya.


"Bodo." Ucap Zya yang tidak peduli.


Tawa V terdengar lirih. Entah apa yang menurutnya lucu, pikir Zya. Zya tidak banyak bicara selama perjalanannya. Ia fokus melihat jalanan. Takut kalau V melaju ke arah yang berbeda dengan arah rumahnya. Dan benar saja, tidak lama kemudian Zya merasakan jika mereka berjalan ke arah lain.


"Ke suatu tempat, udah Lo ikut aja. Gue gak mungkin nyulik Lo." Jawab V dengan sedikit tersenyum.


"Tapi amanah Abang gue kan ---" Perkataan Zya terhenti ketika V menatap Zya dengan tatapannya yang tajam.


"Sstt jangan banyak bicara, gue suka denger suara Lo." Ucap V sembari tersenyum penuh makna.


Gleg. Zya menelan ludahnya. Perkataan V sukses membuat bulu kuduk Zya merinding. Zya lalu teringat dengan kejadian saat V mengantarnya pulang dimalam hari setelah dari acara fashion show mama Stella. Kejadian itu membuatnya tidak mau menaiki mobil V lagi. Tapi apa boleh buat? Kini ia terjebak kembali bersama V.


Ternyata V pergi kesebuah tempat yang dinamakan bukit bintang. Tempatnya lumayan tinggi. Kalau dari atas, kota yang mereka tinggali bisa terlihat. Perjalanan menuju bukit bintang ini tidak terlalu jauh atau hanya memakan waktu sekitar setengah jam lebih bila tidak macet. V dan Zya turun dari mobilnya. Melihat pemandangan yang indah dibawah sana. Diseberang tempat mereka berdiri ada seperti sebuah cafe kecil yang indah. Dihiasi lampu-lampu yang menyala jika malam tiba. Tapi karena ini masih siang, tentu saja lampu itu tidak hidup. Yang Zya tau, disana adalah tempat pemuda-pemudi yang sedang berpacaran yang ingin menikmati indahnya pemandangan sembari duduk berdua dan menyantap makanan atau sekedar minuman.


Tak berselang lama, Zya melihat seperti seseorang yang ia kenal. Ya itu adalah Stella dan Jungkook. Sesekali Zya memfokuskan kembali pandangannya, takut ia salah lihat. Tapi itu benar-benar Stella dan Jungkook. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba Zya merasa lemas dan tak ada tenaga. Wajahnya sedikit menampakkan kekecewaannya. V bisa melihatnya dengan jelas. Ini adalah sesuatu yang mudah baginya. Membuat Zya menjauh dari Jungkook tanpa harus dengan kekerasan, seperti yang Stella lakukan. V tersenyum kecil menandakan rencana awalnya yang berhasil.


"Zya Lo mau kesana?" Tanya V sembari menunjuk cafe itu.

__ADS_1


"Hm? Nggak." Jawab Zya singkat.


"Terus kenapa Lo lihat ke cafe itu terus?" Tanya V pura-pura tidak tau apa yang Zya lihat.


"Gak papa. Gue mau pulang, Lo masih lama gak disini?" Ucap Zya langsung dengan dalih mengajak V untuk kembali.


"Hmm, ya udah deh yuk." V menyetujui permintaan Zya.


V dan Zya masuk kembali ke mobilnya. Mereka segera turun dan berhenti diwarung kecil sejenak. V keluar dari mobilnya, sementara Zya menunggunya didalam. V membawakan dua minuman untuk dirinya dan Zya. Ia tau mungkin Zya haus setelah melihat pemandangan yang kurang bagus tadi.


"Nih minum dulu." Ucap V sembari menyodorkan botol minuman kepada Zya.


"Makasih." Zya menerima botol minuman itu. Lalu meminumnya.


V juga meminum botol minumannya sembari melihat ke arah Zya. Ya, hanya untuk ingin melihat Zya meminum minumannya. Untungnya Zya sadar kalau V melihat ke arahnya.


"Lo gak pakek makeup kan?" Tanya V tiba-tiba yang menyadari kalau Zya sadar jika dirinya dilihat olehnya.


"Gue gak bisa makeup." Jawab Zya datar.


"Zya Lo mau gak jadi pacar gue?" Tanya V lagi. Ini adalah kedua kalinya ia menyatakan rasa suka nya pada Zya, tapi lagi-lagi Zya menolaknya dengan jelas.


"Nggak." Jawab Zya tanpa basa-basi.


"Hhf tapi gue gak bakal nyerah." Ucap V sembari menarik nafas dalam-dalam.


Zya hanya diam tak menjawab perkataan V. V pun melajukan mobilnya kembali. Entah kenapa, ini masih belum cukup baginya. Ia masih ingin berlama-lama bersama Zya. Sayangnya waktunya masih belum tepat. Ia akan secepatnya membuat Zya luluh padanya dengan cara apapun.


Mereka sudah sampai di depan rumah Zya.


"Makasih ya." Ucap Zya. Zya dengan cepat melepas sabuk pengamannya, takut hal yang tidak ia inginkan terjadi lagi.

__ADS_1


V hanya mengangguk sembari tersenyum melihat tingkah Zya yang dengan secepat kilat melangkah keluar tanpa menunggu jawaban dari V. Ia tau Zya takut dengan kejadian malam itu, tapi itulah caranya untuk memikat hati yang keras seperti Zya. Ia yakin, Zya bisa ditaklukkan tapi dengan cara yang sedikit berbeda. V melajukan kembali mobilnya menyusuri jalanan menuju rumahnya. Sepanjang jalan, tak habis-habisnya bayangan Zya selalu terpikir dibenaknya. 'Sedikit lagi, gue pasti bisa' batin V.


__ADS_2