ZyaKarin

ZyaKarin
Part 25


__ADS_3

Zya membuka laptopnya, segera pergi ke akun sosmed nya. Sudah tiga hari ia tidak membuka akun sosmednya. Banyak notifikasi yang muncul dan beberapa pesan dari sahabatnya juga Jungkook. Ditengah kesibukannya, hp nya berdering menampilkan nomer yang tidak dikenal sedang menelfonnya. Zya ragu untuk mengangkat telfon itu. Sampai pada akhirnya hp itu berhenti berdering. Zya mencoba meraih hp nya dan melihat nomer itu. Sudah lima kali orang itu menelpon Zya. Zya baru ingat, kalau ada yang mengiriminya pesan dengan nomer yang juga tidak ia kenal. Zya segera membuka pesan itu dan ternyata itu dari V. V memberikan tanda tangan dibawah pesannya yang bertuliskan namanya. Zya memeriksa nomer yang barusan menelfonnya dan hasilnya nomer itu sama. Itu artinya V yang barusan menelfonnya. Zya membalas pesan V dengan singkat. Selanjutnya ia menaruh kembali hp nya dan mengubah hp nya menjadi silent. Zya benar-benar tidak mau diganggu saat ini.


Zya kembali fokus ke layar laptopnya. Membuka pesan milik Jimin dan membuka beranda akun Jimin. Zya melihat beberapa fotonya dan statusnya. Tidak banyak foto di akun Jimin yang membuat Zya kembali pasrah. Zya keluar dari akun sosmednya lalu memilih mendengarkan musik sembari menutup matanya hingga ia tertidur.


----*----


Di mading sekolah terdapat siswa siswi yang berkerumunan. Zya yang baru datang penasaran apa isi dimading itu. Sepertinya menarik semua siswa siswi untuk melihatnya. Zya berdiri dibelakang tidak ikut memasuki kerumunan itu.


"Bakal ada pertandingan Voli antar sekolah. Dan sekolah kita terpilih untuk mengikuti pertandingan itu." Zya menoleh dan melihat Jimin disampingnya. Zya langsung memberi jarak antara mereka. Zya melihat sekeliling takut Angel memperhatikannya.


"Lo kok disini?" Tanya Zya.


"Kenapa? Ini kan sekolah gue juga. Lo gak usah takut, Angel jam segini belum datang kok." Zya mengangguk paham. "Lo dateng ya kepertandingan nanti."


"Gue usahain ya." Ucap Zya.


"Ya udah, gue ke kelas dulu." Ucap Jimin lalu pergi.


Zya pun hendak pergi juga ke kelasnya. Namun seseorang memanggilnya lagi.


"Zya!" Terdengar suara yang berat. Zya membalikkan badannya. Dan benar saja itu adalah V.


"Apa?" Tanya Zya.


"Lo kenapa sih susah banget bales pesan gue?" Ucap V seperti anak kecil yang merengek.


"Karena saat itu lo ganggu gue." Jawab Zya dengan jujur.


"Emang lo sibuk apaan?" Tanya V lagi yang membuat Zya tidak ingin menjawabnya.


"Bukan urusan lo." Satu kalimat ini mampu menghentikan V.


"Perasaan gue ini kakak kelas lo, jadi harusnya lo panggil gue kak. Jangan samain gue sama Jungkook." Protes V tiba-tiba.


"Iya kak. Puas lo?" Ucap Zya.


"Nah gitu bagus." Zya memutarkan bola matanya dan hendak pergi meninggalkan V tapi tangannya ditarik oleh V. "Eh mau kemana?"


"Ke kelas lah." Zya melepaskan genggaman V dengan sedikit keras membuat V tidak lagi menyentuhnya.


V akhirnya membiarkan Zya meninggalkannya. V tau ini bukan saatnya, terlihat mood Zya sedang buruk ketika berbicara dengan V. V membuka pesan dan menulis pesan kepada Zya untuk melihat pertandingannya nanti karena V adalah bagian dari pertandingan itu.


----*----


"Zya! Kita harus dateng kepertandingan itu. Pokoknya lo harus temenin gue." Violet berteriak senang.


"Apa sih Vi, excited banget." Ucap Zya yang malu ketika melihat ada beberapa pasang mata yang melihat mereka.


"Iya dong, ada kakak ganteng itu juga yang bakal mewakili kelas kita." Ucap Violet senang.


"Maksud lo Jin?" Tebak Zya.


"Iya. Sebenarnya namanya itu siapa sih? Kok malah dipanggil Jin, kayak nama makhlus halus." Ucap Violet.


"SeokJin." Jawab Zya membuat Violet kaget.


"Lo tau Zya?" Tanya Violet dengan penasaran.


"Eh nggak gue cuma nebak aja iseng." Ucap Zya mencari alasan.


"Jadi itu bukan nama dia?" Tanya Violet dengan kecewa.


"Bukan mungkin." Kata Zya sembari tersenyum kecil.


"Emang kapan pertandingannya?" Stella ikut menanyai soal itu.


"Hari minggu tapi bukan disekolah kita La." Ucap Violet yang sepertinya ia sudah membaca dengan teliti poster dimading.


"Terus dimana?" Tanya Stella lagi yang masih asik memakan degan nya.


"Di sekolah lain, gue lihat tadi cuma gak hafal nama sekolahnya. Kayaknya gak jauh dari rumah lo La." Jawab Violet dengan rinci.


"Oohh, nanti kita lihat bareng-bareng ya?" Kata Stella.


"Oke." Violet terlihat senang. Kedua sahabatnya akan menemaninya untuk menonton pertandingan itu.


Zya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Violet yang sangat ceria hari ini. Zya mengambil ponselnya dan membuka pesan. Ada satu pesan untuknya dari V, Zya membuka pesan itu dan membacanya sekilas. Zya menjawabnya dengan cepat. Mungkin V akan senang dengan jawaban Zya yang menyetujui bahwa Zya akan datang kepertandingan itu.

__ADS_1


Disamping itu Angel tengah sibuk memanfaatkan bakatnya. Ia ingin Jimin melihat seberapa besar rasa sukanya terhadap Jimin, tidak peduli jika nanti Jimin masih tetap akan menolaknya. Angel tengah sibuk membentuk cheerleader. Bakat terpendam Angel biasanya akan digunakan ketika sekolahnya akan melakukan pertandingan dengan sekolah lain. Tak lupa juga Angel membuat slogan untuk sekolahnya. Angel bangga dengan dirinya yang juga termasuk perwakilan sekolah yang akan menyemangati teman-temannya nanti. Sementara Zya bukanlah siapa-siapa disekolah ini bahkan hanya murid biasa yang tidak terlalu terpandang.


"Eh La, lo denger itu? Kayak suara teriakan-teriakan gitu bukan sih?" Ucap Violet tiba-tiba.


"Iya gue denger." Kata Stella.


"Lihat yuk." Mereka melihat keruangan Angel yang sedang latihan.


"Waah bagus banget." Puji Violet setelah melihat koreografi mereka.


"Biasa aja kalik." Protes Stella.


Zya melihat Angel yang sedang latihan dengan semangat. Angel sekilas melirik Zya kemudian membuang mukanya.


"Ih sombong banget. Baru juga jadi kayak begituan udah bangga." Ucap Stella yang melihat tingkah Angel ketika melirik Zya.


"Udah lah La, biarin aja." Ucap Zya lalu mengajak kedua sahabatnya untuk pergi dari sana. Zya merasa tidak enak ketika Angel memandanginya seperti itu.


----*----


Angin sepoi-sepoi menggoyangkan pepohonan dipinggiran jalan, membuat dedaunan kering saling berjatuhan. Zya melajukan motornya, menghempas dedaunan dipinggir jalan. Cafe cemara adalah tujuannya saat ini. Ia memiliki janji dengan Violet disini. Zya sudah sampai dicafe tersebut, membuka helm nya membuat sebagian orang takjub dengan kecantikan Zya saat ia tidak memakai kacamatanya. Zya segera memakai kacamatanya kembali dan segera masuk ke dalam cafe. Pandangan sepasang mata yang tidak ia inginkan.


Dengan cepat, Zya menemui Violet yang sudah menunggunya sembari meminum minuman yang sudah ia pesan. Tak lupa juga Violet juga sudah memesankan minuman avocado untuk Zya.


"Lo udah lama Vi?" Tanya Zya ketika sudah sampai di meja Violet.


"Nggak kok. Nih minuman lo, udah gue pesenin." Ucap Violet lalu memberikan minuman kegemaran Zya.


"Makasih ya." Zya segera meminum avocadonya, terasa segar dimulutnya.


"Zya ini buat lo." Violet memberikan secarik kertas yang sudah terdapat tulisan disitu.


"Ini apa Vi?" Zya mengambilnya dengan hati-hati dan mulai membacanya.


"Ini alamat rumah bapak-bapak yang ada difoto lo itu." Kata Violet menjelaskan.


"Lo yakin ini?" Tanya Zya masih ragu.


"Iya. Sebenarnya lo coba aja, seingat orang tua gue itu alamat rumahnya. Gak tau deh kalau mereka pindah lagi." Ucap Violet membuat Zya mengerti.


"Hmm makasih ya Vi. Lo udah banyak bantuin gue. Nanti gue coba deh." Ucap Zya menghembuskan nafasnya.


"Iya Vi. Tapi gue bingung Vi." Ucap Zya dengan raut wajahnya yang berubah sedikit meredup.


"Kenapa lagi Zya?" Tanya Violet yang penasaran.


"Disatu sisi gue gak mau tinggalin keluarga gue yang sekarang. Meskipun mereka bukan keluarga asli gue tapi mereka udah ngrawat gue dengan baik sampai sekarang. Rasanya gue jahat banget ya, tinggalin mereka." Ucap Zya dengan penuh kebimbangan.


"Lo gak usah sedih Zya. Emang sih gue gak bisa ngasih solusi apapun ke lo. Tapi-- kalau emang lo gak mau tinggalin keluarga lo yang sekarang, kenapa lo mau cari keluarga asli lo?" Violet mencoba mengerti perasaan Zya.


"Itu amanah ibu gue Vi, Momy yang ngasih tau gue kalau gue harus cari keluarga gue nantinya." Ucap Zya.


"Ibu lo? Berarti--" Ucap Violet dengan hati-hati.


"Ibu gue udah gak ada Vi waktu gue masih kecil. Dan akhirnya gue diadopsi oleh momy gue. Gue aja udah gak begitu ingat wajah ibu gue. Gue cuma selalu berdoa aja dipemakaman ibu gue." Kata Zya yang pada akhirnya membuat Violet mengerti situasi yang Zya hadapi.


"Oh, sorry ya Zya gue gak tau." Ucap Violet tidak enak hati.


"Gak papa Vi." Kata Zya sembari memaksakan senyumnya.


"Gue bantu sebisa gue ya. Apapun keputusan lo nantinya semoga itu yang terbaik buat lo." Violet menggenggam tangan Zya memberikan kekuatan pada Zya.


"Sekali lagi makasih ya Vi." Ucap Zya.


"Iya sama-sama. Udah dong sedih-sedihannya." Violet berusaha membuat Zya kembali tertawa lagi meskipun ia tau masih ada beban dipikiran Zya. Zya pun mengambil keputusan agar tidak memikirkan hal itu saat ini.


Setelah selesai mengobrol dengan Violet banyak hal. Mereka pun memutuskan untuk kembali kerumah masing-masing. Tapi Zya tidak langsung kembali, ia berencana akan mengunjungi alamat yang baru saja Violet berikan padanya. Zya cukup penasaran dan ingin secepatnya ia mengetahui keluarganya.


Zya tau betul letak alamat ini, tidak begitu jauh dari sekolahnya. Zya segera melajukan motornya kesana. Sesampainya disana, Zya sibuk mencocokkan alamat yang ia bawa. Pada akhirnya Zya menemukan rumah itu. Rumah dengan nomor 56. Dengan sedikit ragu, Zya menekan tombol bel rumah itu.


Zya menunggu dengan sabar, sembari mengosok-gosokkan tangannya yang mulai dingin akibat gugup. Terdengar suara pintu berderet yang dibuka. Zya melihat kearah pintu. Keluar seorang wanita paruh baya menghampiri Zya. Zya sudah berpikir, mungkinkah ayahnya sudah menikah lagi?


"Iya? Mau cari siapa?" Sapa wanita itu dengan lembut.


"Ee-- ini." Zya bingung akan bertanya apa. Untungnya Zya ingat, ia membawa foto keluarganya yang lama. Zya segera menunjukkan foto itu pada wanita didepannya. "Ibu pernah lihat orang ini?" Tanya Zya dengan penuh harap.


"Oh gak pernah saya dek." Kata wanita itu.

__ADS_1


"Katanya ini rumahnya bu." Ucap Zya berhati-hati.


"Sebentar ya." Wanita itu memanggil suaminya. "Yaahhhh sini sebentar."


"Iya tunggu." Seseorang dengan badan yang besar terlihat kekar berjalan keluar. "Ada apa mi?"


"Ini, ada yang cari orang." Ucap wanita itu dan memperlihatkan foto yang Zya bawa.


"Oh gak tau saya dek." Ucap lelaki itu.


"Tapi katanya rumahnya disini yah." Kata wanita itu berusaha memberi petunjuk.


"Mungkin penghuni sebelumnya. Saya juga pindahan kesini dek, udah dua tahun disini." Ucap lelaki itu kemudian.


"Oh iya dek, bisa jadi itu. Ini foto lama ya?" Kata wanita itu yang juga ingat bahwa dulunya ia pindahan kesini.


"Iya bu." Ucap Zya sembari tersenyum sedikit kecewa.


"Foto saya pas muda gak kayak gitu dek, ini mah terlalu ganteng kalau sama saya." Zya dan wanita itupun tersenyum mendengar kata-katanya.


"Oh ya udah pak bu, terimakasih. Kalau gitu saya permisi ya, maaf sudah mengganggu." Ucap Zya dengan sopan. Membuat kedua suami istri itu tersenyum.


"Iya sama-sama. Gak mau masuk dulu dek?" Wanita itu mencoba menawarkan Zya.


"Nggak bu, saya buru-buru soalnya." Ucap Zya penolak penawaran itu dengan hati-hati.


"Oh ya sudah." Katanya lagi.


Zya segera menaiki motornya lagi dan berjalan dengan pelan menyusuri perumahan disana. Tidak tau apa yang Zya cari. Ia hanya iseng saja mengamati perumahan satu persatu sampai pada akhirnya ia sampai dijalan utama lagi.


Jimin menyapanya dipinggir jalan. Zya segera memberhentikan motornya dan turun dari motornya.


"Lo habis dari mana?" Tanya Jimin kemudian.


"Habis keliling aja, nyari alamat." Ucap Zya.


"Oh udah ketemu?" Tanya Jimjn lagi.


"Udah kok. Tapi kayaknya gue salah alamat deh." Kata Zya sedikit kecewa.


"Duduk sini dulu." Zya mengikuti Jimin yang mengajaknya untuk duduk dikursi pinggiran jalan. "Emang lo nyari alamat siapa?"


"Keluarga gue." Ucap Zya berharap ini bisa jadi titik terangnya.


"Coba sini gue lihat alamatnya." Zya merogoh saku jaketnya, tapi kertas itu tidak ia temukan. "Ada gak?" Tanya Jimin dengan tidak sabar.


"Kayaknya jatuh deh dijalan." Ucap Zya yang masih coba mencari.


"Ya udah gak papa." Ucap Jimin yang melihat Zya sedikit khawatir.


"Kakak sendiri kok jalan kaki?" Tanya Zya yang kemudian duduk kembali.


"Iya, rumah gue deket dari sini." Ucap Jimin. "Oh ya temenin gue makan es krim yuk." Jimin mengeluarkan dua buah eskrim dari kantong plastiknya. Ada rasa coklat dan stowberry. "Nih, lo pilih yang mana?"


"Gue yang ini aja." Zya memilih rasa strawberry.


"Maaf ya gak ada rasa alpukat." Ucap Jimin sembari tersenyum.


"Hm?" Zya kaget ketika Jimin mengatakan alpukat kegemarannya.


"Lo kan suka alpukat." Kata Jimin sembari memakan eskrim nya.


"Darimana kakak tau?" Tanya Zya penasaran.


"Tiap lo ke cafe cemara, lo pasti pesen minuman alpukat. Disekolah juga." Zya merasa Jimin diam-diam memperhatikannya. Hal itu membuat Zya tersipu malu.


"Kakak kerja di cafe itu?" Tanya Zya agar ia tidak terlihat canggung.


"Iya kadang." Ucap Jimin enteng.


"Kadang?" Zya masih tidak mengerti perkataan itu.


"Iya. Cafe itu milik ayah gue. Jadi kadang gue bantu-bantu disana." Zya hampir tersedak mendengar ucapan Jimin. Zya tidak berpikir sebelumnya kalau Jimin adalah penerus cafe itu. "Lo gak papa kan?"


"Gak papa kok." Ucap Zya memberi isyarat.


"Kalau lo mau, kapan-kapan gue traktir ya dicafe itu." Ucap Jimin dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Nggak usah, makasih." Zya berusaha menolaknya.


"Nggak papa. Gue janji, kalau nanti tim sekolah kita menang tanding voli. Gue bakal traktir lo disana. Lo mau ajak temen-temen lo juga gak papa. Anggap aja ini hadiah buat lo dan temen-temen lo karena udah nyemangatin tim gue. Gue gak ada maksud apa-apa kok, gue cuma pengen kita berteman dan gak ada perselisihan." Zya tidak menjawab dan hanya tersenyum saja. Tidak menyangka bahwa Jimin akan mengucapkan janji itu. Satu hal yang Zya tau bahwa Jimin tidak akan pernah mengingkari janjinya ketika ia sudah berjanji. Zya tau tentang itu dari abangnya, Jin. Pertemanan mereka juga amat dekat. Jimin berharap ia dan Zya bisa berteman walaupun tidak dekat. Zya pun menghargai pertemanan yang Jimin inginkan. Dilihat dari wajahnya, Zya dapat mempercayai Jimin dengan mudah.


__ADS_2