ZyaKarin

ZyaKarin
Part 58


__ADS_3

"Gue mau mandi dulu." Ucap Jimin lalu berdiri.


"Oke." Jawab Zya.


Jimin sudah beranjak dari meja makan. Tinggal Zya seorang disana. Zya berjalan ke arah dapur. Ternyata sudah ada dua orang disana yang sedang sibuk memasak. Mereka melihat ke arah Zya sebentar lalu tersenyum.


"Salam nona." Sapa salah satu art tersebut.


Zya tersenyum dan menghampiri mereka. "Tante lagi masak apa?" Ucap Zya. Ia juga bingung harus memanggil apa kepada kedua art ini.


"Masak buat makan malam keluarga nona nanti." Jawab salah satu dari mereka.


"Apa ada yang ingin nona masak? Biar kami buatkan." Kata salah satu dari mereka lagi.


"Ee tidak. Lanjutkan saja. Aku akan pergi melihat-lihat." Jawab Zya sedikit bingung. Karena tidak ada yang Zya inginkan sekarang.


"Baik nona." Ucap art itu.


'Ramah sekali' batin Zya. Zya kemudian pergi dari arah dapur ke ruang depan. Di depan juga ada dua orang yang sedang melakukan berbagai aktivitas seperti bersih-bersih. 'Oo jadi ini art yang dimaksud kak Jimin tadi. Setiap pagi dan sore mereka akan datang. Tapi kenapa harus begini?' batin Zya bertanya-tanya. Zya kembali ke kamarnya mengambil laptopnya untuk menghibur dirinya sembari menunggu Jimin atau ayahnya. Tujuan Zya adalah ke taman mini dekat kolam renangnya. Suasananya terlihat sangat santai disana jadi ia ingin menikmati suasana itu. Setelah sampai di taman mini itu, Zya duduk disalah satu kursi yang terbuat dari rotan. Ia segera membuka laptopnya dan betapa terkejutnya dia ketika WiFi nya memancarkan sebuah sinyal. Zya mencoba untuk menghubungkannya tapi ia harus menulis kata sandinya. Zya mencari seseorang yang dekat dengannya. Ia menghampiri salah satu art yang sedikit dekat tempatnya dengan tempat Zya berada.


"Maaf Tante. Apa Tante tau sandi WiFi disini?" Ucap Zya pelan.


"Oh iya, sandinya *********." Jawab art tersebut.


"Terimakasih." Ucap Zya sembari tersenyum.


"Sama-sama." Jawab art tersebut sembari tersenyum juga.


Zya kembali lagi ketempat laptopnya berada. Ia menulis sandi yang diberikan oleh salah satu art tersebut. Dan benar saja, WiFi nya terhubung. Zya kegirangan dan mulai membuka sebuah apk untuk melihat drakor. Sudah lama Zya ingin melihat sebuah drakor yang sudah ia incar sebelumnya.


"Dek Lo lagi ngapain?"


Kaget. Sontak Zya melihat ke arah sumber suara. Jimin dengan handuknya yang di kibas-kibaskan di kepala sedang melihat ke arahnya. Zya sedikit tersenyum.


"Nonton drakor." Ucap Zya.

__ADS_1


"Oh. Ayah udah datang tuh. Yuk kumpul." Ucap Jimin.


"Oh oke." Zya segera menutup laptopnya dan mengikuti ajakan Jimin.


Diruang keluarga, Ayahnya sedang duduk bersantai.


"Hai ayah." Sapa Jimin.


"Hai ayah." Zya juga mengikuti Jimin dengan suara yang pelan.


"Eh kalian." Ayah tersenyum senang. "Bagaimana nak apa kamu senang berada di rumah ini?" Tanya ayah kepada Zya langsung.


"Ya ayah." Jawab Zya.


"Ee bagaimana dengan kamarmu? Apa kamu suka? Ayah tidak tau apa yang kamu suka setelah tumbuh dewasa seperti ini." Ucap ayah penuh ke khawatiran dengan apa yang sudah ia siapkan.


"Aku menyukainya ayah." Jawab Zya dengan senyuman manisnya.


Ayah mengangguk sembari tersenyum.


"Ayo. Ayah sudah rindu dengan ibumu." Ucap ayah tak berhenti memberikan senyumannya kepada Zya. "Oh iya boleh ayah minta foto keluarga yang kamu punya? Ayah ingin mencetaknya lagi untuk dipajang diruang keluarga." Kata ayah. Mengingat dirinya tak punya lagi foto itu. Kebanyakan foto sudah habis terbakar ketika musibah itu datang.


"Tentu saja boleh. Nanti aku ambilkan." Jawab Zya.


"Baiklah. Kamu sangat cantik seperti ibumu. Tapi, kenapa kamu memakai kacamata?" Tanya ayah penasaran. Jimin pernah berkata padanya kalau mata Zya juga sebenarnya tidak kenapa-kenapa.


"Ee tidak apa-apa ayah. Aku sudah terbiasa memakainya." Jawab Zya.


"Kamu lebih mirip ibumu ketika tidak memakai kacamata itu." Celetuk ayah pelan.


"Benarkah?" Tanya Zya memastikan. Ia juga terkadang merasa mirip dengan ibunya ketika dirinya melihat foto ibunya yang ia simpan.


"Iya. Tapi kalau kacamata itu membuatmu nyaman, tidak apa-apa. Ayah tidak akan memaksamu untuk melepas kacamatanya." Ucap ayah kemudian.


Zya berpikir sejenak. Lalu membuka kacamatanya.

__ADS_1


"Kalau ayah kangen ibu, ayah bisa lihat aku." Ucap Zya lagi.


Mata ayah berlinang air mata. Kerinduan yang ia simpan sendiri selama puluhan tahun, sudah tidak terbendung lagi. Kalau ia bisa kembali ke saat dimana ia masih bersama istrinya, ia tak akan membiarkan istrinya itu pergi sendirian. Ia akan terus bersama istrinya apapun yang terjadi.


"Ayah menangis?" Tanya Jimin yang melihat dengan jelas air mata yang jatuh.


Ayah segera mengusap air matanya yang keluar tanpa ia sadari. "Tidak. Tidak apa-apa. Ini adalah air mata kebahagiaan." Kata ayah menenangkan anak-anak nya.


"Ayah pasti rindu dengan ibu kan?" Tanya Jimin lagi merasa sedih.


"Tentu saja." Jawab ayah.


"Aku akan melepas kacamata ini dan memakainya jika perlu saja." Ucap Zya kemudian menyimpan kacamatanya.


"Terimakasih nak." Ayah mengelus rambut Zya lembut.


"Maaf ayah aku datang terlambat." Kata Zya pelan.


"Maafkan ayah juga yang sudah berhenti mencari kamu. Tapi kakakmu, selalu berusaha mencari keberadaan mu." Kata ayah menjelaskan.


"Aku janji akan jadi anak yang baik untuk ayah." Ucap Zya lagi.


"Ahh sudahlah. Ayo kita makan. Makanannya sudah siap." Ayah segera mengakhiri pembicaraan mereka yang semakin larut dalam kesedihan. Ia ingat akan janjinya kepada istrinya dulu bahwa ia akan membawa kehidupan yang bahagia kelak.


"Baik ayah." Ucap Zya bersamaan dengan Jimin.


Mereka berjalan bersama kemeja makan. Beberapa art sudah menunggu mereka disana. Mereka sedikit membungkukkan badannya memberi tanda hormat kepada sang ayah. Ayah tersenyum menerima penghormatan itu. Para art kembali ke belakang untuk membereskan sisa-sisa kotoran di dapur.


Ini pertama kalinya Zya diperlakukan bak seorang putri dikerajaan di rumah Jimin. Mungkin ini hanya terjadi dirumah Jimin. Ia juga tak menyangka bahwa art disini melakukan hal seperti itu. Yang ia tau, art biasa seperti dirumahnya. Tapi art disini sangat berbeda. Mereka memakai baju yang rapi seperti seragam.


"Gak usa kaget. Disini memang seperti itu." Bisik Jimin. Namun ayahnya berhasil mendengar perkataan Jimin kepada Zya.


"Ibumu adalah seorang bangsawan, dan ayah menyiapkan ini untuk ibumu kelak jika kita bisa berkumpul lagi. Ibumu sangat dijaga oleh keluarganya. Dirumahnya juga hampir persis seperti ini. Jadi, ayo kita makan." Ucap ayah ketika melihat ekspresi Zya.


"Baiklah ayah." Zya sedikit kaget ketika mendengar kalimat terakhir dari ayahnya. Ia pikir ayahnya akan bercerita panjang, ternyata tidak.

__ADS_1


Jimin yang melihat tingkah ayahnya hanya bisa tersenyum sembari menyiapkan makanan di piringnya.


__ADS_2