ZyaKarin

ZyaKarin
Part 53


__ADS_3

Zya membuka pintu kamar abangnya, berharap abangnya sudah berada di kamarnya.


"Abang.." Panggil Zya dari luar sembari membuka pintu itu.


Harapannya menjadi kenyataan. Jin benar-benar ada di kamarnya. Ia sedang memerhatikan layar ponselnya. 'Tapi tadi gue telfon kok gak diangkat' batin Zya ketika melihat abangnya yang sibuk dengan ponselnya. Zya berjalan ke arah abangnya yang sembari berbaring.


"Bang, kok gak angkat telpon Zya tadi?" Tanya Zya yang sudah duduk di ranjang milik abangnya.


"Kok masih disini? Bukannya Lo harus pulang." Ucap abangnya dengan nada sedikit ketus.


"Ini kan rumah Zya juga." Jawab Zya dengan sabar.


"Kata siapa? Ini rumah gue." Kata Jin lagi.


"Abang marah? Jadi Zya gak boleh tinggal di sini?" Ucap Zya sembari menunjukkan wajahnya yang cemberut.


Tiba-tiba Jin bangun dan langsung memeluk Zya. "Lo gak bakal tinggalin Abang kan?" Tanya Jin dengan wajah yang sedih.


"Gue ----" Zya tidak bisa meneruskan kata-katanya, sementara matanya mulai berkaca-kaca. "Besok adek ikut kak Jimin bang, tapi gue juga bakal sering nginep di sini kok." Lanjut Zya sembari menenangkan Jin dengan pelan.


"Jadi ini hari terakhir lo di sini?" Tanya Jin yang sudah melepaskan pelukannya.


Zya hanya mengangguk. "Nggak, nantik gue datang lagi kok. Abang jangan marah ya ke momy. Zya masih adek Abang." Ucap Zya dengan wajah yang memohon.


"Lo tau juga kan soal ini? Udah lama?" Tanya Jin memastikan.


Zya mengangguk lagi.


"Kenapa Lo gak bilang ke gue?" Tanya Jin lagi, kesal.


"Gue gak mau bikin Abang sedih. Lagian gue seneng punya Abang kayak Lo. Gak ada Lo, gak rame." Kata Zya sedikit memberikan kata-kata penyemangat untuk Jin.


"Bentar lagi juga rumah ini bakal sepi gak ada Lo." Ucap Jin. Zya pasti tau tidak akan ada lagi orang yang ia goda lagi setelah ini dirumahnya.


"Gue bakal sering-sering nginep kok. Pokoknya Lo Abang gue yang paling the best." Ucap Zya sembari tersenyum dan memberikan dua jempolnya.


"Gue antar Lo besok ya ke rumah Jimin." Ucap Jin dengan permintaannya.


"Boleh banget." Kata Zya dengan senang.


"Ya udah sana geh tidur. Gue juga mau tidur, capek habis jalan kaki dari cafe." Ucap Jin menyuruh Zya agar pergi dari kamarnya.

__ADS_1


"Abang jalan kaki?" Tanya Zya kaget memastikan kata-kata yang ia dengar dari abangnya.


"Ya iyalah. Gak ada yang cegah gue, gak ada yang nyamperin gue juga. Jahat emang." Jawab Jin kesal.


"Bukannya momy udah cegah Lo?" Ucap Zya mengingat hal tadi.


"Cegah apaan? Orang ditahan juga sama Daddy." Kata Jin lagi.


"Makanya gak usa sok-sokan marah." Kata Zya sembari cekikikan.


"Lah emang gue kecewa kok." Ucap Jin yang masih tak mau kalah.


"Ya udah deh tidur dah. Gue balik ke kamar." Kata Zya yang mengakhirinya.


"Tutup lagi tuh pintu." Ucap Jin yang mengingatkan Zya.


Zya kembali ke kamarnya, tak lupa juga ia menutup pintu kamar abangnya. Zya mengeluarkan ponsel nya. Mengetik beberapa kata untuk Jimin.


*Message from Zya to Jimin*


Z : Kak, bang Jin udah pulang ternyata. Tadi gue samperin ke kamarnya.


Z : Nggak kok. Eee besok katanya mau ikut nganterin gue ke rumah.


J : Ya udah gak papa. Lo istirahat geh, udah larut malam juga.


Z : Oke.


J : See you.


Z : See you too.


Zya menaruh ponselnya acak di samping tempat tidur nya. Ia menutup matanya dan segera terlelap tidur.


---*---


"Zyaaaaa!!" Violet baru saja datang dan langsung menemui Zya yang sedang dikerumuni beberapa teman kelasnya.


Tentu saja perihal tentang Zya yang sebenarnya adalah adik kandung dari Jimin dengan cepat menyebar di kalangan sekolahnya. Entah siapa yang sudah memberikan informasi itu lebih dulu. Padahal Jimin belum datang dan Jin pun baru datang bersama Zya.


"Eh minggir-minggir." Violet sedikit mendorong teman-teman nya agar ia bisa duduk di dekat Zya.

__ADS_1


"Zya Lo beneran adik nya Kak Jimin? bukan Kak Jin?" "Kok bisa Zya?" "Iya, cerita dong Zya." "Wah pasti seru nih ceritanya." "Cerita dong Zya." "Iya Zya cerita." Ucap mereka yang penasaran.


"Stoooopppppp!!!!" Violet menghentikan celotehan-celotehan yang tidak ada habisnya itu. "Kalian berisik tau. Gimana Zya mau cerita kalau kalian berisik banget." Sontak teman-temannya yang lain terdiam memahami kata Violet.


"Zya Lo mau cerita?" Tanya Violet kepada Zya yang menatap Zya dengan serius.


"Kayaknya rumit deh Vi." Ucap Zya dengan pikiran yang campur aduk.


"Gak papa Zya kita dengerin kok." "Iya Zya, kita dengerin." "Gue penasaran nih." "Sama gue juga penasaran." Ucap mereka berceloteh kembali.


Violet memasang wajah galaknya sembari menaruh telunjuk tangannya ke dekat mulutnya. Dengan cepat mereka memahami gerak-gerik Violet. Tiba-tiba seseorang masuk ke kelas mereka dan menerobos masuk ke dalam gerombolan yang sedang memenuhi bangku Zya.


"Eh minggir-minggir kalian." Ucap salah satu dari orang itu.


"Angel?" Kata Zya lirih ketika melihat orang itu yang hampir berada didepannya.


"Mau apa Lo Ngel?" Ucap Violet langsung tanpa basa-basi dengan nada yang tidak mengenakkan.


"Heh gini-gini gue kakak kelas Lo ya. Sopan dikit dong panggil gue kak." Kata Angel menaikkan nada suaranya.


"Dih najis." Ucap Violet seperti meremehkan.


"Lo ya?!" Salah satu teman Angel baru saja ingin menyentuh Violet tapi tangannya langsung dihentikan oleh Angel.


"Zya, Lo beneran adiknya Jimin?" Tanya Angel. Kini suaranya sedikit pelan.


"Kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa?" Ucap Zya yang terlihat muak dengan Angel saat ini.


"Jawab aja apa susahnya sih?!" Kata Angel sedikit emosi.


"Denger ya siapa pun kakak gue, gue gak akan pernah setuju kalau dideketin sama cewek macam Lo." Ucap Zya dengan ketus. Sekilas ia melihat raut wajah Angel yang mengalami perubahan. Mungkin ia sudah berhasil membuat Angel marah, tapi ia tau Angel tidak mungkin melakukan suatu hal pada dirinya sekarang.


"Oh Lo berani sekarang?" Kata Angel dengan penekanan.


Zya tersenyum penuh makna. Senyumannya ini adalah senyuman yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Zya terlihat bukan Zya yang dulu tapi nyaris tidak ada perubahan. Perubahan itu hanya sesekali ia perlihatkan.


"Maaf kak Angel, pintu keluar disebelah sana. Silahkan." Ucap Zya dengan manis dan suaranya yang lembut.


Angel yang melihat perubahan sikap Zya yang tidak seperti biasanya memilih untuk pergi dan mencari cara lain. Mengingat dirinya pernah berurusan dengan Zya sangat hebat sehingga sedikit membuatnya malu.


Violet sedikit tertegun dengan sikap Zya yang mulai memperlihatkan perubahan yang baik. Ia senang jika sahabatnya ini sudah tidak rapuh seperti dulu lagi. Sudah bisa mengusir Angel dengan kata-katanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2